CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-82~Rapuh tanpamu


__ADS_3

Seorang gadis manis dengan stelan baju tidur pendek, sedang berdiri di balkon kamar. Menatap pada semburat cahaya jingga yang muncul di ufuk timur. Cahaya terang yang memancar secara horizontal pada garis cakrawala, begitu menakjubkan di pandang mata. Menghirup dalam udara segar, gadis itu mencoba menetralkan perasaan rindu yang timbul dengan menggebu-gebu. Khanza menyentuh benda yang melingkar di lehernya, sebuah kalung emas putih berliontin hati. Benda pemberian dari sang pujaan hati, sewaktu mereka masih belum menjadi sepasang kekasih.(Chapter-30)


Kucari kabarmu pada semilir angin pagi yang berhembus menerpa tubuhku. Namun, sepertinya tak ada burung yang berbisik merdu untuk membawa kabar darimu. Kini tak ada yang tersisa, selain kecamuk mimpi tentangmu. Yang aku harap pasti, semoga pagimu tetap seindah lengkungan sudut bibirmu.


Helaian rambut gadis itu, di biarkan menari-nari di terpa hembusan angin pagi. Khanza mencium liontin kalungnya, lalu tersenyum tipis mengingat wajah sang pemilik hati. "Aku merindukamu, sayang," ucapnya seraya merentangkan tangan dan memejamkan mata dengan perlahan. Membayangkan kalau sosok Arif sedang datang memberikan sebuah pelukan hangat untuknya.


"Ehem!"


Deheman seseorang mengangetkan Khanza. Memegang dada, gadis itu mengatur napas, menentralkan rasa kagetnya. Memutar kaki menatap ke belakang, Khanza mendengus dengan rasa kesal. Menggelengkan kepala saat Zay bersandar pada daun pintu dengan tangan terlipat di dada.


"Masih belum ada kabar?" tanya Zay penuh simpati. Sudah satu bulan Arif pergi dan satu bulan juga Adiknya itu terus seperti ini setiap pagi.


Wajah Khanza berubah sendu, menggeleng pelan, gadis manis itu menunduk dengan air mata yang menggenang. "Kamu jahat Rif. Ninggalin aku tanpa kabar kaya gini." Isak tangis Khanza sudah tidak bisa lagi di tahannya.


Zay mendekat pada sang Adik, menariknya ke dalam pelukan. "Kamu yang sabar ya? nanti dia kembali, Kok!" Zay menenangkan Khanza, mengelus pelan helaian rambut yang menutupi kepala gadis manja itu.


"Sampai kapan, Kak? ini sudah sebulan, dia janji cuma dua minggu. T-tapi ...." Khanza tidak bisa melanjutkan kata-katanya, hanya sesegukan sebagai gambaran seberapa sakit hatinya saat ini.


Zay meringis pelan ikut merasakan sakit yang di rasa sang Adik, tapi dia tetap tersenyum meskipun dengan rasa miris. Dia sangat mengerti bagaimana sakitnya hati Khanza ketika sang kekasih hilang tanpa kabar berita.


"Arif jahat, Kak. Jahat! dia nggak ngabarin Khanza," adunya dengan derai tangis pilu tersiksa.


"Mungkin dia masih sibuk, Za." Zay menenangkan sang Adik. "Sudah ya? Ayo ikut Kakak! kita jalan sebentar." Mengurai pelukannya, Zay menarik sang Adik.


"Eh, Kak, mau kemana? Khanza ganti baju dulu."


Zay menghentikan langkahnya, berbalik dan terkekeh melihat sang Adik. "Sudah ganti baju cepat. Kakak tunggu di bawah, dandan yang cantik," tegasnya melepas tangan Khanza, dia berlalu keluar dari kamar gadis manis itu.


"Mau kemana, sih? tumben banget," gumam Khanza, dia masuk ke kamar mandi dengan cepat. Membersihkan badan sekaligus menyegarkan dirinya.


Selang berapa lama, Khanza sudah selesai dengan pakaian lengkap. Perasaannya sudah sedikit membaik, menghela nafas dalam, dia turun ke bawah, mendapati sang Kakak yang sedang duduk menunggunya di ruang keluarga.


"Sudah siap?" tanya Zay.

__ADS_1


Khanza mengangguk. "Kakak emang nggak kerja?" herannya.


"Libur sehari, nggak papa lah," sahut Zay enteng. Melirik arloji silver yang melingkar di pergelangan, Zay berseru dengan semangat, "Ayo!"


Sudah tiga hari Khanza malas masuk sekolah. Arif yang menghilang tanpa kabar selama sebulan, membuat semangat gadis cupu itu meredup. Untunglah dia mempunyai keluarga yang teramat pengertian. Mengikuti langkah kaki sang Kakak, Khanza dan Zay kini memasuki mobil hitam kesayangan Kakak lelakinya. "Mau kemana, sih, Kak?" Khanza bertanya sambil mengaitkan sabuk pengaman.


"Sudah ikut, aja! pasti kamu suka, kok," tukas Zay dengan senyuman mengembang. Menyalakan mesin mobil, Zay menginjak gas pelan.


Sepanjang perjalanan Khanza dan Zay hanya diam. Gadis manis itu terus memandang ke luar jendela dengan gejolak pikiran yang terus-terusan berputar memenuhi otaknya.


Sayang ... kamu dimana sekarang? bagaimana kabar kamu? aku merindukan kamu, Rif. Apa kamu di sana juga merindukanku? kenapa kamu nggak ada kabar sama sekali, apa kamu di sana sedang ....


Menghapus air mata yang kembali membasahi pipi, Khanza benar-benar tidak bisa mengontrol lagi diri. Cinta sudah mengobrak-abrik kehidupannya, jika kemarin dia tertawa bahagia dengan keromantisan, sekarang dia menangis dengan perpisahan.


Ting!


Bunyi pesan masuk dari ponsel Zay, membuat dua saudara itu sontak sama-sama menoleh. Khanza ingin mengambil benda canggih yang tergeletak di dashboard mobil itu, tapi Zay dengan segera mengambilnya lebih dulu.


Tidak mau ambil pusing, Khanza memilih melengos kembali menatap keluar jendela mobil. Dia baru menyadari kalau ini jalan ke arah bandara. "K-Kak .... I-ini K-kan, k-ke Bandara!" gagap Khanza.


"Kakak mau jemput rekan bisnis Kakak sebentar, nggak papa 'kan?"


"Owh ... iya Kak." Ada guratan kekecawaan di wajah gadis manis itu. Namun, dia berusaha menutupinya dengan sebuah tarikan bibir membentuk senyum terpaksa.


Selang berapa lama mereka sampai di bandara, setelah keluar dari mobil, Zay menelpon seseorang. Memberitahukan kalau dia sudah sampai di sana. Dengan langkah gontai, Khanza mengikuti sang Kakak masuk ke dalam.


"Kak Zay!" teriak seseorang dari belakang.


Tubuh Khanza langsung menegang kaku, "Suara itu?" batin Khanza. Berbalik dengan cepat dia mencari asal suara yang memanggil nama Kakaknya. "A-Arif!"


Khanza langsung berlari ke arah Arif, menghambur memeluk lelaki yang selama sebulan menghilang dari pandangannya. Menumpahkan semua air mata di dada sang kekasih. Dia sepertinya tidak menyadari kalau ada dua orang paruh baya di samping Arif.


"Hai Om, Tante!" seru Zay menyalami dua orang di samping Arif.

__ADS_1


"Zay ya?" tebak Ayah Arif.


"Iya Om."


"Ini pasti Khanza." Bunda Arif menebak gadis yang masih memeluk anak lelakinya dengan erat.


"Ehem ... sudah dulu kali, pelukannya," sindir Zay, pada sepasang kekasih yang saling melepas rindu itu.


Khanza dan Arif mengurai pelukan mereka. "Kamu jahat!" rengek Khanza manja, dia memukul dada Arif dengan kencang.


"Au! Maaf sayang." Tanpa malu Arif memanggil sang kekasih dengan sebutan sayang di depan keluarganya.


"Yah, Bund! kenalin ini Khanza!" seru Arif mengenalkan Khanza pada kedua orang tuanya.


Khanza langsung terpaku menegang, baru menyadari kalau ada orang tua Arif sejak tadi di sana. Semburat merah langsung muncul di kedua pipinya, dengan senyum canggung menahan malu, dia mengulurkan tangan pada Bunda Arif. "Tan–"


"Panggil Bunda aja," potong Bunda Arif. Dia menarik Khanza ke pelukannya. "Calon mantu Bunda," celetuknya.


"Bunda, nggak sabar banget pingin punya mantu, mereka masih sekolah Bun," sahut Ayah Arif.


Melepas pelukan mereka, Khanza benar-benar sangat malu saat ini. Dengan degup jantung yang hampir meledak Khanza mengulurkan tangan pada Ayah Arif.


"Cantik banget, putri Ayah," puji lelaki paruh baya itu. Dia mengusap pelan pucuk kepala gadis itu.


"Iya, dong, Yah. Pacar siapa dulu!" celetuk Arif tanpa malu.


"Sekolah yang benar," cibir Zay.


"Siap Kak, tapi sambil pacaran," canda Arif, yang sukses mendapat jeweran di kuping oleh Bundanya.


"Awas macam-macam sama putri Bunda!" seru sang Bunda semakin mengencangkan jewerannya hingga Arif meringis minta ampun.


Sontak semuanya tertawa lepas dalam balutan kebahagiaan. Tanpa perduli dengan tontonan orang yang berlalu lalang.

__ADS_1


__ADS_2