
Berjalan menyusuri lorong sekolah. Arif, Vera, dan Randra menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, Vera selalu merangkul lengan Arif mesra, membuat banyak cewek iri kepadanya. Arif merasa nggak nyaman, tapi karena reputasi dia terpaksa membiarkan saja. Randra tidak perduli pada pasangan di sampingnya, di sibuk tebar pesona, menggoda wanita-wanita yang menatap pada mereka. Arif hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Randra, memasukkan kedua tangan pada saku celananya, Arif berjalan acuh menatap lurus kedepan. Setelah sampai di depan kelas Arif dan Randra, Vera berpisah dari mereka. Arif sudah tidak sabar memasuki kelas, entah kenapa dia selalu ingin melihat Khanza.
Khanza fokus pada buku yang di baca, bahkan dia tidak menyadari kalau Arif sedang bejalan mendekat. Arif merasa cemburu bahkan pada buku yang sedang di baca Khanza. Arif merebut buku itu dari tangan Khanza. Menatap tajam pada Khanza, dia berjalan duduk di bangkunya tanpa mengembalikan buku itu. Membuat Khanza berbalik menengadahkan tangannya.
"Apa?" tanya Arif.
"Bukuku."
"Nggak!"
"Arif, aku belum selesai baca."
Arif tidak memperdulikan Khanza, dia malah menyimpan buku itu kedalam tasnya. melipat tangan di dada, Arif menatap Khanza yang memberenggut kesal.
"Dasar!" Khanza berbalik dengan muka cemberut.
Dea, dan Randra menatap heran pada mereka berdua. Dea menatap Randra yang masih berdiri di samping mejanya. "Rand, Arif kenapa?" bisik Dea.
Randra mengangkat bahunya. Dia juga bingung dengan tingkah Arif akhir-akhir ini.
Apa mereka ....
Selamat pagi anak-anak!
Ibu Eni, guru mata pelajaran Matematika memasuki kelas mereka. Randra kembali duduk ke bangkunya, melupakan apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Ibu Eni menjelaskan panjang lebar angka-angka dan rumus-rumus yang di hitung. Khanza mencatat semua yang di terangkan guru mereka. Sedangkan Dea, menggigit ujung bolpoinnya. Dia pusing melihat angka yang bertebaran di papan tulis. HP Khanza bergetar ada pesan yang minta di buka.
Jangan fokus dengan yang lain kalau aku lagi di hadapanmu.
Khanza menunduk menatap ke bawah meja, membaca pesan itu sembunyi-sembunyi. Apa maksudnya sih? jangan bilang dia cemburu dengan buku?. Khanza menyimpan HP-nya, dia tidak membalas pesan itu. Fokus kembali pada angka-angka di depannya.
Kebiasaan, pasti nggak di bales. Awas aja nanti!
Mata Arif terus menatap pada Khanza. Randra menangkap aneh pada sahabatnya itu.
"Sssst..., Bar-bar." Randra menendang kursi Dea dari bawah meja.
"Apa, sih?. ganggu aja."
"Bar-bar, itu...." Randra menunjuk Arif dengan mulutnya.
"Apa, sih?" Dea masih tidak mengerti dengan maksud Randra.
__ADS_1
"Ih, dasar nggak peka!" ucap Randra sedikit meninggi.
"Randra, Dea!" tegur Ibu Eni.
Mereka berdua terdiam, takut terkena sanksi jika masih ketahuan ribut. Arif menertawakan Randra yang kikuk saat ketahuan Guru. Randra mendorong Arif. Karena Arif duduk tak seimbang, dia jatuh kelantai.
Buk!
Semua murid menertawakannya, termasuk Randra. Dia tertawa puas melihat sahabtnya yang terlihat malu.
"Arif!" geram Ibu Eni.
Arif menunjuk Randra, memberitahukan dengan isyarat kalau Randra yang mendorongnya.
"Arif tuker tempat sama, Dea!" perintah Ibu Eni.
Arif bangkit dari tempat duduknya, melonggarkan dasi yang sedikit membuatnya tercekat. Meminta Dea untuk bertukar tempat dengannya, meskipun degup jantungnya saling bersahutan, Arif tetap memaksa dirinya duduk di samping Khanza. Gadis itu juga terlihat gugup, Khanza menutupinya dengan membaca buku paket Matematika di hadapannya. "De, kita tuker tempat," ucap Arif meminta Dea menyingkir.
"Masa, gue duduk sama si kadal?"
"Cepet De, nanti Ibu Eni marah lagi."
Dea akhirnya menyingkir, mengalah pada lelaki itu. Arif menyisir rambut dengan kedua tangannya, mendudukkan diri di sebelah Khanza. Melirik pada gadis yang fokus dengan bukunya itu. Khanza merasa dari tadi Arif selalu memperhatikannya, lantas balas menoleh pada Arif dengan tersenyum simpul. Melihat senyum dari gadis pujaan hatinya, Arif tak kuasa jika tidak membalasnya, deretan gigi putih di tunjukkannya pada Khanza.
"Eh, Bo-boleh, Kok," jawab Khanza gugup.
Arif menahan tawanya, melihat Khanza yang salah tingkah. Dia mengedipkan sebelah matanya kepada Khanza, membuat gadis itu tersenyum bahagia. Menopang dagu dengan tangan Kanannya, Khanza menatap terpesona pada lelaki yang sudah membuatnya jatuh cinta.
Jantungku, bisa-bisa serangan jantung aku. Kenapa sekarang dia makin tambah ganteng, sih?. Seyum itu juga ....
"Geser!" perintah Dea.
"Enak aja, kamu aja ke sana," balas Randra.
"Tinggal geser aja napa, sih."
Suara ribut di belakang menyadarkan lamunan Khanza.
"Randra!" tegur Ibu Eni sekali lagi.
Randra bergeser terpaksa ketempat duduk Arif. Menatap Dea dengan tatapan permusuhannya. Dea juga membalas tatapan tajamnya pada Randra.
__ADS_1
Arif terus tersenyum menatap seseorang di sampingnya. tangannya meraba mencari tangan Khanza, menggenggam erat tangan gadis yang selalu mengacak-acak hatinya itu.
Jantung Khanza berdetak hebat, saat jemarinya tertaut di bawah meja. Sekali lagi dua pasang mata mereka tenggelam dalam tatapan penuh cinta. Arif semakin mengeratkan genggamannya, seolah tak rela jika harus melepas Khanza walau hanya sedetik saja.
Randra mendekatkan dirinya pada Dea. "De, lo merasa ada yang aneh nggak sama mereka berdua?" bisik Randra.
Dea menatap pada Randra, dia merasa tak percaya. Ini pertama kalinya Randra memanggil nama dan berbicara lembut padanya. Jarak mereka yang sangat dekat, bahkan bahu mereka juga bersentuhan. Membuat jantung Dea berdetak tak karuan. Keringat bercucuran keluar dari dahinya.
"De, lo kenapa? sakit?" tanya Randra meletakkan tangannya di dahi Dea.
Jantung gue.... Jantung gue....
"Nadia, kalau lo sakit kita ke UKS aja." Randra Khawatir, melihat wajah Dea yang pucat.
Dia manggil nama lengkap gue, astaga.... ini bukan mimpikan?
Randra bangkit dari duduknya saat tak kunjung mendapat jawaban dari gadis itu. Dia menarik tangan Dea untuk pergi ke UKS.
"Eh, mau kemana?" tanya Dea.
"UKS."
"Gue, nggak papa kok."
"Nggak papa apanya, pucat gitu."
"Gue, nggak papa, kok. Cuma pusing dikit aja, nggak usah, deh."
"Beneran, nih?" tanya Randra memastikan.
Dea menggangguk pasti. Randra mengambil air mineral di dalam tasnya, memberikannya pada Dea. Dea meminum air itu, di bantu Randra.
"Ehemmm, kayanya bakalan ada yang jadian nih," sindir Arif.
Dea tersedak mendengar sindiran Arif.
"Sialan, lo, Rif." Randra melempar tutup botol yang di tangannya ke arah Arif.
__ADS_1
"Randra, Arif!" tegur Ibu Eni bersiap mengomel lagi, tapi bunyi bel istirahat menghentikannya. Dengan itu dia hanya memberikan sedikit wejangan pada dua murid laki-lakinya itu.