CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-67~Deg-deg!


__ADS_3

Debaran jantung tak karuan rasa, jiwa gelisah tiada tara. Arif mengumpat, besugut kesal merutuki dirinya sendiri. Rasa khawatir tak henti mendera di hatinya.


"Shit! sial! harusnya gue, tadi ikut mereka aja." Arif memukul stir kemudi beberapa kali, merotasikan pandangan menyapu pinggir jalan, dengan tangan yang tak lepas menggenggam handphone. Dia terus mencari sosok teman dan kekasihnya.


"Kamu dimana, Za?" lirihnya saat telpon itu tak kunjung mendapat jawaban. Arif juga sempat menelpon teman-teman geng motornya, tapi Faizal dan Khanza masih belum sampai di sana.


Caption-caption Faizal membuatnya gila, sekarang dia yakin kalau lelaki itu tidak baik-baik saja. Faizal sengaja memberikan isyarat tentang kepergiannya, tapi entah dia mau pergi ke mana?


Maksud dia 'nitip' Khanza dari kemarin apa sih? pakai acara bilang 'pamit' tapi mau pergi kemana? semoga bukan pergi seperti yang gue pikirkan.


"Argh! Sial-sial-sial!" Arif kembali mengumpat saat terjebak macet di ramainya jalanan malam minggu kelam meski sedang turun hujan. "Harusnya gue pakai motor, tadi," kesal Arif.


Di saat Arif sibuk menyalahkan dirinya sendiri, sebuah notif pesan dari temannya masuk. Memberitahukan kalau Faizal dan Khanza sedang ada di lokasi balapan. Tanpa berpikir panjang Arif langsung melajukan mobilnya dengan kencang.


Begitu mendapat telpon dari Arif. Randra langsung memacu motornya ikut mencari Faizal dan Khanza. Dia juga sama gilanya dengan sahabatnya, begitu membaca caption-caption dari Faizal.


Gila banget si Faizal, maksudnya nulis-nulis kaya gitu apa coba? jangan bilang dia mau mati? eh, emang orang mau mati itu bisa ngerasa ya?


"Tau deh, gue! mungkin gue cuma parno aja," gumam Randra mengusir pikiran jeleknya. Memutar gas lebih dalam, Randra menembus hujan tanpa perduli ke dinginan.


***


Menggigit bibir bawah, Faizal teringat kembali ciuman bersama sahabatnya tadi sewaktu di taman. Bibir yang lembut, manis dan memabukkan seakan membawanya terbang menembus awan. Faizal terkekeh geli, sampai-sampai tidak memperhatikan lagi jalanan di depan.


Putaran teakhir kini sedang berlansung, setengah jalan lagi Faizal akan keluar sebagai pemenang, dari balapan liar yang di adakan. Sorak-sorai pendukung Faizal sudah riuh di garis akhir, Khanza pun ikut tersenyum melihat motor sahabatnya sudah terlihat di ujung belokan.


Bayangan Khanza semakin mengganggu konsentrasinya, slide kenangan demi kenangan kebersamaan yang pernah mereka lalui terus berputar di ingatan Faizal. Senyum, canda, tawa bahkan tangis pilu dari sahabatnya menari-nari di pelupuk matanya.

__ADS_1


Indah memang waktu kita bersama dulu. Namun, siapa tahu cinta di hatiku membuat semuanya menjadi pilu. Inginku menjauh darimu, tapi hatiku sulit berpisah denganmu. Inginku melepaskanmu. Namun, aku tak bisa membuat kamu untuk pergi dari hatiku. Inilah cinta yang aku rasakan, tapi terlalu sulit aku ungkapkan. Hingga semuanya berakhir menyakitkan. Tiada kata yang mampu ku ucapkan, selain menangis dalam beribu rasa kepiluan. Kupatahkan hati atas cinta yang terus bertahta di jiwa ini. Menyendiri dengan air mata yang menemani. Satu harapanku agar kamu bahagia bersama lelaki yang kamu percaya bisa memberikan kebahagiaan untukmu. Satu kesalahanku mencintaimu, walau aku tau kamu bukanlah untukku. Meskipun menanti semuanya tetap akan menjadi seperti ini, jadi izinkan ku pergi membawa cinta di hati ini.


Air mata Faizal luruh seketika bersama hujan yang kembali melanda. Kilatan petir seolah mengoyak jiwa yang sedang patah karena cinta. Sakit, sedih, luka, semua terasa menyerang secara bersama. Di kala sahabat yang kita cinta, kini telah bersama dengan pujaan hatinya. Hanya do'a sebagai penguat rasa, di kala hati sedang kecewa. Pandangan Faizal mengabur seiring derasnya air yang mengalir dari pelupuk mata. Mencengkam erat setang, Faizal memperdalam putaran gas di tangan kanan, hingga motor melaju semakin kencang membelah hujan yang turun deras membasahi jalan.


***


Rintik hujan kembali turun di tempat trek, Khanza dengan sigap berlari mencari tempat berteduh. "Hujan lagi," gerutunya. Mengeluarkan poncel di tas, Khanza mengernyit heran saat banyaknya panggilan tidak terjawab dari kekasihnya.


"Arif, kenapa nelpon berkali-kali?" Khanza menggeser tombol hijau di poncelnya mencoba menghubungi kembali lelaki itu. Namun, belum sempat terhubung, Fatih menghampirinya dengan membawakan payung hitam untuk Khanza.


"Pakai ini, Za," ujar Fatih menyerahkan payung di tangannya.


"Makasih, Fat," tutur Khanza, mengambil payung di tangan temannya.


"Gimana kabar lo, Za? lama kita nggak ngumpul lagi? pasti lo, sibuk banget ya?" cecar Fatih dengan pertanyaannya.


"It's okey! Eh, Za, lelaki yang kemarin sempat betantem sama gue siapa?"


Belum sempat Khanza menjawab, sinar lampu menyilaukan menyorot langsung pada matanya. Mengerjap perlahan, dia menatap pada arah cahaya itu, sebuah mobil putih yang sangat dia kenali pemiliknya.


"A-arif!" gumamnya pelan. Tubuh Khanza menegang kaku, hanya bisa menelan saliva yang tercekat pada tenggrokan.


Gawat! bisa-bisa dia ngamuk lagi.


Menggeser posisinya menjauh dari Fatih, Khanza mencoba tersenyum saat pintu mobil itu perlahan terbuka.


Apa yang harus aku lakukan! semoga nggak marah! semoga nggak marah!

__ADS_1


Turun dari mobil dengan tergesa-gesa, lelaki itu bahkan lupa memakai payung. Dia langsung menghampiri Khanza dengan panik, memeluk erat sang kekasih. Arif berkali-kali mencium pucuk kepala gadis itu, menunjukkan betapa khawatirnya dia saat ini.


Fatih hanya diam tanpa bergeming di tempatnya, memperhatikan dua orang di depannya dengan penuh tanda tanya.


"K-kamu kenapa, yang?" gumam Khanza di dada Arif.


Menghela nafas lega, Arif melepas pelukannya. Matanya menyapu sekitar mencari sosok Faizal yang sedari tadi membuatnya gelisah.


"Faizal mana?" tanyanya penuh nada Khawatir.


"Faizal mana, Za?" ulangnya, dia menguncang bahu Khanza.


Ciitt .... Bruak!


Sebuah dentuman benda padat menghantam trotoar pinggir jalan. Kuda besi berwarna hijau tergeletak di pinggir aspal. Semua mata menatap terkejut pada satu arah.


Cengiran kuda di layangkan Randra pada semuanya. Saking terburu-burunya, dia bahkan sampai menabrak trotoar pinggir jalan. Melepas motornya, Randra membiarkan kendaraan itu tidur dengan posisi miring di atas aspal. Berlari ke arah Arif dan Khanza yang masih syok akibat dirinya.


"Mana Faizal?" Randra langsung bertanya entah pada siapa.


Khanza segera tersadar. " K-kalian kenapa sejak tadi menanyakan Faizal?" selidik Khanza.


"Faizal lagi track di sana!" Fatih yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara, dengan santai dia menunjuk seseorang yang sedang mengendarai motor dengan kencang.


Arif, Khanza, dan Randra menatap sejurus pada titik yang sama. Muka ke tiganya langsung menengang dan berteriak secara bersamaan.


"Faizal!!!!"

__ADS_1


Deg ... deg ... deg ....


__ADS_2