
Arif duduk di tengah antara Vera dan Khanza. Faizal yang duduk di antara Dea dan Khanza. Sedangkan Zia duduk paling pojok bersebelahan dengan Vera.
Mereka memilih menonton film bergenre horor, suasana yang begitu tegang, dentuman musik yang nyaring, di tambah kegelapan di tempat itu menambah seram film yang mereka nikmati.
Khanza ketika ketakutan reflek memegang tangan Arif dengan kencang. untunglah ruangan itu gelap jadi tak ada yang meliha. Arif merasa ada yang memegang tangannya, menengok kesamping, melihat Khanza yang ketakutan Arif menepuk tangan Khanza lembut mencoba menenangkan.
Khanza tersadar dengan apa yang di lakukannya, bergegas menarik kembali tangannya. Arif menggapai tangan Khanza kembali, tapi Khanza dengan cepat memindahkan tangannya ke kantong jaketnya.
Arif merasa kecewa tapi dia kembali menikmati film itu, dengan sesekali melihat ke arah Khanza. Ketika musik berdentum kencang dan sosok yang seram muncul Khanza kembali memeluk lengan seseorang tapi bukan Arif, melainkan Faizal yang ada di sebelah kirinya.
Faizal yang sedang sangat menikmati film itu. Terkejut karena pelukan sangat kencang di lengannya, ketika menengok Faizal menyunggingkan senyumnya, dan melepas tangannya. Memindahkan ke belakang Khanza, menepuk-nepuk bahu Khanza, dan menarik kepala Khanza agar mendekat dan bersandar padanya.
Faizal sangat mengetahui kalau sahabatnya itu begitu takut dengan film genre horor, tapi selalu saja suka menontonya. Khanza sudah terbiasa seperti itu dengan Faizal, karena memang sejak dulu kalau mereka menonton horor di bioskop ataupun di rumah, Faizal akan selalu melakukan hal yang sama.
Arif melihat Faizal dan Khanza merasa gelisah, seperti tersengat aliran listrik. Darahnya mendidih. Tidak bisa fokus pada film itu, terus menatap tajam dengan penuh emosi pada Khanza dan Faizal.
Vera menyadari kegelisahan Arif, dia menawarkan minuman di tangannya pada Arif. Arif menyedot minumannya dari tangan Vera. Arif yang mengangkat sebelah tangannya memegang minuman itu, membuat tangan Arif dan Vera seperti berpegangan dan terlihat jelas saat ada cahaya. Zia menangkap kemesraan itu, Zia merasa iri dan mencoba menarik perhatian Vera, pura-pura ketakutan dan menarik-narik tangan Vera.
Vera sebenarnya heran kenapa Zia bisa takut hanya menonton film horor, padahal Zia dan teman mereka yang lainnya tidak pernah merasa takut kalau menonton horor.
Vera tidak mau ambil pusing dengan sikap Zia mungkin terlalu fokus pikirnya, Vera melepaskan tangannya dari Zia, dan mencoba bergelayut manja di lengan Arif.
Khanza menatap pada arif dan Vera yang terlihat merasa, seperti di hujani anak panah yang menancap tepat di jantungnya. Khanza berdiri menunjuk arah toilet sebagai isyarat kalau dia permisi dulu.
Filmnya sudah selesai tapi Khanza tidak juga menampakkan batang hidungnya untuk kembali. Mereka keluar dan menunggu Khanza di depan pintu masuk bioskop.
"Si cupu kemana sih, kok lama!" ucap Zia.
"Iya, nih!" balas Vera.
Arif hanya berdiri menyandar pada tembok dengan tangan di lipat di dada. Sebenarnya dia khawatir dengan Khanza.
"Biar, aku susulin deh! si Khanza," ucap Dea.
"Kita berdua, yo, De?" balas Faizal, melangkah dengan Dea menyusul Khanza.
"Tunggu! Kalian tunggu disini saja! biar aku saja yang menyusulnya, kebetulan aku mau ketoilet." Arif menahan langkah Faizal dan Dea.
"Ooo ...." ucap Dea dan Faizal cuma ber oh ria. Mengangguk dan mempersilahkan Arif untuk mencari Khanza.
''Aku ke toilet dulu ya, yang?" pamit Arif pada Vera.
"Ya sudah! aku tunggu disni, ya, yang!" balas Vera.
Arif melangkah menjauh dari mereka ke arah toilet yang berada di lantai bioskop itu.
***
Berjalan menuju toilet, Arif melihat Khanza yang sedang duduk dengan anak kecil di bangku dekat toilet, menghamiri Khanza.
__ADS_1
"Za, kamu disini?" ucap Arif menghampiri Khanza.
"Arif!"
"Ini anak siapa?" Tanya Arif, duduk di samping Khanza.
"Ini tadi, sepertinya terpisah sama orang tuanya."
"Pantes kamu lama ke toilet! ya sudah! kita tunggu dulu!"
"Kamu balik aja duluan Rif, takutnya mereka nunggu lama."
"Nanti mereka juga pasti menyusul kalau lama."
"Tapikan ...."
"Pokoknya aku disini temani kamu!" Arif memotong ucapan Khanza, bersikeras ingin tetap menemani Khanza.
Khanza hanya menatap pasrah pada lelaki satu ini, yang begitu keras kepala kalau sudah ada maunya.
"Mama ...." ucap anak itu ingin menangis.
"Hai cantik! siapa namanya?" tanya Arif turun dari bangkunya berjongkok pada anak kecil itu.
"Sely, Ka!"
"Nama yang cantik, pasti kalau besar nanti makin cantik kaya Kak Khanza," ucap Arif mengedipkan matanya pada Khanza.
"Kakak berdua pacaran ya?" ucap Sely.
"Eh, anak kecil sudah ngerti pacaran!" ucap Arif menggelitiki Sely, mereka berdua terus bercanda dan tertawa lepas seperti Adik, Kakak.
Khanza tersenyum melihat tingkah Arif yang begitu cepat akrab dengan anak kecil. Padahal sejak tadi anak itu selalu mencari-cari keluarganya, tapi ketika bersama Arif anak itu tertawa dan melupakan kalau dia sedang terpisah dari keluarganya.
"Sely! kamu disini dek? Kakak Memutari mall ini sama mama cari kamu sayang?" Seorang perempuan datang menghampiri anak yang sedang bersama Khanza dan Arif.
"Ka Paula!" Sely anak kecil itu langsung menghambur kepelukan Kakak perempuannya.
Seorang perempuan paruh baya juga menghampiri mereka.
"Sely! Ya ampun nak! ternyata kamu disini!" Ucap perempuan paruh baya itu.
"Mama!" Sely turun dari pangkuan Kakaknya dan menghambur ke pelukan Mamanya.
"Maaf Bu, Mbak, tadi saya menemukan anak ini menangis sendiri di sini. Katanya menunggu Mama dan Kakaknya, jadi saya temani di sini," ucap Khanza mencoba menjelaskan kepada kedua keluarga Sely.
"Ma, Kak, tadi aku di temenin dua Kakak ini," Sely menunjuk Khanza dan Arif bergantian.
"Terimakasih banyak sudah mau menjaga adik saya! kalau tidak ada kalian kami tidak tau akan seperti apa?" Paula berterimaksih pada keduanya, tapi matanya hanya tertuju pada Arif.
__ADS_1
"Iya nak, Kami sangat berterima kasih pada kalian," ucap mama sely menambahkan.
"Sama-sama Tante, mbak!" ucap Khanza.
"Perkenalkan saya Paula!" Paula mengenalkan diri dan mengulurkan tangannya.
"Khanza," jawab Khanza menjabat tangan Paula.
Paula mengulurkan tangannya kembali kepada Arif dengan senyuman penuhnya.
"Arif," ucap Arif dengan senyumnya, Arif ingin menarik tangannya, Paula tidak mau melepaskan malah bengong menatap Arif.
Khanza menatap tangan Arif dan Paula yang tidak mau lepas, Arif yang menangkap tatapan Khanza langsung kembali menarik dengan paksa, dan menyadarkan Paula.
Paula tersenyum malu kedapatan terpesona dengan Arif.
"Yo Rif! kita balik, yang lain pasti nunggu!" ajak Khanza.
"Mari tante, Paula," pamit Khanza.
"Sely, Kakak balik ya? nanti kita ketemu lagi!" pamit Khanza kepada Sely.
Khanza menarik lengan Arif. Arif memberikan senyum dan lambaian tangan pada Sely, tapi yang membalas justru Paula.
Khanza semakin menarik Arif untuk menjauh, Arif menatap Khanza dengan senyum jahilnya.
"Cieee ... ada yang Cemburu! " Arif menoel hidung Khanza dengan tangan sebelahnya.
"Siapa yang cemburu!" Khanza melepas tangannya. "Aku bilangin Vera ni..!" Khanza mencoba menyembunyikan mukanya yang terasa panas.
"Masa sih! tapi kenapa ni pipi merah," ucap Arif mencubit pipi Khanza.
Pipi Khanza semakin memerah, senyum nya pun tidak bisa di sembunyikannya.
"Apaan sih! GR banget!" Khanza berjalan mendahului Arif.
"Za! Tunggu ...!!" Arif sedkit mengeraskan suaranya.
Arif tersenyum melihat muka malu-malu Khanza, Sedikit berlari menyusul Khanza yang berjalan cepat mendahuluinya.
Khanza semakin mempercepet langkahnya, saat Arif sudah mendekat, tapi tangannya di tarik Arif.
"Kenapa jalannya cepat banget sih!" ucap Arif menarik tangan Khanza.
Khanza membiarkan Arif menggenggam tangannya, memperlambat langkahnya agar Arif bisa mensejajarinya.
Berjalan berdampingan menyusuri mall itu, mereka terlihat seperti sepasang kekasih. Arif masih memegang tangan Khanza dengan erat, tapi dari jauh ada seseorang yang melihat dengan mata tajam pada mereka.
__ADS_1