CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-13~Jalan atau kencan.


__ADS_3

Arif masih mengobrol dengan akrabnya dengan keluarga Khanza.


"Rif, ayo ...!" ajak Khanza yang sudah siap dengan memakai hodi dan celana jeansnya.


Arif menengok kebelakang dan terpesona dengan penampilan Khanza, meskipun masih dengan rambut yang di kepang dan kaca matanya. Khanza terlihat begitu manis dan begitu alami.


"Ehemm!"


Arif di kejutkan dengan deheman dari Kakak Khanza, dia beranjak berdiri dan berpamitan dengan keluarga Khanza untuk mengajak Khanza jalan sebentar.


"Permisi, Om, Kak Zay," ucap Arif.


"Iya, hati-hati!" ucap Papa Khanza.


"Jangan lupa pesan saya!" tambah Zay.


"Siap Kak, Assalamualaikum," pamit Arif menyalami keluarga Khanza satu-persatu. Khanza juga mengikuti Arif dari belakang.


"Ma, Pa, Kak Zay, Kak Zihan, Khanza pamit dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam." sahut mereka bersamaan.


Keluarga Khanza yang memang tidak pernah mengekang Khanza, asalkan Khanza tahu dimana batasan dan tahu mana yang baik untuk di lakukakan dan mana yang harus di hindari. Tetapi, meskipun begitu, mereka selalu memantau apa yang di lakukan Khanza.


Khanza walaupun di berikan kebebasan, dia tidak pernah lepas kendali, dia merasa kalau kebebasan yang di berikan keluarganya sebuah tanggung jawab besar yang harus di pikulnya. Dengan begitu, dia selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarganya.


Memberikan prestasi-prestasinya kepada keluarganya. Meskipun teradang sesekali dia mencoba bebas dengan berkumpul dengan teman-teman geng motornya, itu pun kalau dia bersama Faizal sahabatnya.


***


Arif dan Khanza sudah menaiki motor dan membelah jalanan malam yang lumayan padat. Hembusan angin malam yang menusuk membuat Khanza merasa kedinginan. Arif merasakan Khanza gelisah di belakangnya dan bergidik kedinginan. Dia menarik tangan Khanza untuk memeluknya.


Khanza awalnya terkejut, tapi pasrah saja menuruti apa yang di lakukan Arif. Melingkarkan tangannya di perut Arif. Khanza tersenyum dan menempelkan kepalanya di belakang Arif.


'Bolehkan aku nikmati sebentar saja.' batin Khanza.


Arif tak kuasa menahan senyum bahagianya saat Khanza menepelkan kepala di belkangnya, dia menggenggam erat tangan Khanza yang berada di perutnya. Khanza semakin mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di belkang Arif.


Memang sebuah rasa cinta itu tidak bisa di pungkiri, sekalipun kita seribu kali berkata tidak tetapi jika hati yang bicara, semua akan tetap terasa berbeda. Rasa nyaman itu lah yang mungkin sedang di rasa keduanya.


Khanza melupakan sejenak bahwa Arif sudah memiliki seorang kekasih, dan melupakan sejenak apa pandangan orang lain tentang dirinya.


Disinilah mereka, duduk di sudut cafe dengan mengobrol dan bercanda bersama layaknya sepasang kekasih yang di mabuk cinta. Arif ternyata sangat jahil kepada Khanza, sering menggoda Khanza karena suka dengan muka malu-malu Khanza.


Arif sangat suka kalau pipi Khanza berubah berwarna merah dan berakhir di cubit oleh Arif dengan gemasnya, hal itu membuat Khanza selalu merengek dengan manjanya. Hal itu pula, yang tanpa mereka sadari membuat perasaan mereka semakin dalam, dengan gengsi yang dalam juga.


"Rif, kamu jalan sama aku, nggak apa-apakan sama Vera?" Khanza bertanya serius dengan memasukkan satu kentang goreng ke mulutnya


"Uhuk-uhuk!"


Arif langsung tersedak mendapatkan pertanyaan dari Khanza.


'Apa Khanza sudah tau kalau aku dan Vera .... Tapi, darimana dia tahu semuanya?"


dipikirnya darimana Khanza tau kalau dia sama Vera pacaran, dan sekarang bahkan Arif tidak ingat dengan Vera, apalagi memikirkan kalau Vera akan marah dengan dirinya.


Khanza refleks berdiri menghampiri Arif, menepuk pundak Arif dan menyodorkan minumannya ke Arif.

__ADS_1


Arif langsung meminumnya dan mengernyitkan dahinya kerena rasa asam yang masuk ke lidahnya, Arif merasa ada yang berbeda dengan minumannya melihat isi gelas yang di minumnya. Khanza menyadari kalau dia salah mengasih minuman.


"Maaf Rif, itu minumanku! habisnya aku refleks lihat kamu keselek gitu!" ucap Khanza.


"Hahaha! nggak papa, kok. lumayan enak juga bekas kamu! padahal aku nggak suka jus jeruk," ucap Arif dengan tawanya renyahnya dan kerlingan sebelah matanya.


Blusss!


Ucapan Arif sukses membuat pipi Khanza semerah tomat. Arif yang melihat pipi Khanza merah langsung mencubit kedua pipinya gemas, dan semakin menggoda Khanza.


"Ini .... coba cicipin lagi! pasti sudah manis, bekas bibir aku," ucap Arif menggoda Khanza.


"Apa'an, sih!"


Khanza tak kuasa menyembunyikan senyum bahagianya meskipun dengan sikap malu-malunya dia tetap mengambil dan meminum jus yang di sodorkan Arif.


"Gimana, maniskan?" tanya Arif, dengan dagu yang di angkat dan mengedipkan sebelah matanya.


Khanza mengalihkan pandangannya menatap sekitar cafe, dia sudah salah tingkah sendiri.


"Manis, sih! tapi sayang sudah ada yang punya. Takut di keroyok sekolah!" ucap Khanza asal, sambil menghabiskan sisa jus jeruknya.


Arif langsung terdiam dengan ucapan Khanza. Mengalihkan pandangannya menyuap sisa kentang gorengnya, menyaring arti dari ucapan tersebut.


Menatap Khanza kembali dengan wajah seriusnya. Menarik nafas panjang dan menghembuskan secara perlahan. Arif menyusuri tangan Khanza yang berafa di atas meja, menggenggam lembut dengan penuh perasaan. Arif mencoba mencari kata-kata yang pas untuk mengungkapkan semuanya.


Khanza mentap penuh tanya pada Arif yang tiba-tiba menarik tangannya dan berubah serius. Jantung Khanza sudah mau lompat dari tempatnya. Khanza diam dengan perasaan yang tidak tenang karena hatinya bergejolak dengan perlakuan Arif yang sukses membuat dia baper sendiri.


"Za, Sebelumnya .... Aku mau minta maaf sama kamu! mungkin sifatku di sekolah sering membuatmu marah. Aku memang sudah pacaran sama Vera, tapi jujur dari lubuk hatiku yang paling dalam aku merasa nyaman kalau aku bersama kamu. aku mencoba selalu menghindar sama kamu di sekolah karena aku takut kamu akan bermasalah sama Vera dan teman gengnya, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu. Lagi pula, kalian sudah ada masalahkan? gara-gara kemarin kamu nolongin Dea!" ucap Arif mencoba menjelaskan kenapa dia menghindar dari Khanza di sekolah, tetapi tidak menjelaskan bahwa dia cukup gengsi dengan pandangan orang lain terhadap Khanza.


"Tidak usah minta maaf Rif, aku tidak akan pernah bisa marah sama kamu. Aku mengerti dengan posisi kamu di sekolah! lagi pula ... aku sadar diri, siapa aku di sekolah. Apalagi pandangan orang lain terhadapku. Aku hanya seorang cewe cupu yang sebenarnya tidak pantas jika harus berteman dengan orang yang populer seperti kamu. Di tambah, sekarang kamu sudah berpacaran dengan Vera yang sepadan buat kamu. Bahkan seharusnya aku tidak disini bersama kamu," ucap Khanza dengan mata memerah menahan sesak dan sakit yang terasa begitu menusuk di dada.


Menarik tangan dari genggaman Arif mencoba berdiri untuk pergi dari sana. Arif dengan sigap menarik tangan Khanza. Tidak mau melepaskan meskipun Khanza berulang kali menariknya.


"Za, dengerin dulu!"


"Maaf, Rif!" Khanza masih berusaha menarik tangannya.


"Za, bukan begitu! kamu jangan salah paham, Za! ucap Arif merasa bersalah karena Khanza ternyata mengetahui segalanya.


"Aku cukup tahu diri, Rif. Lepas! aku mau pulang," ucap Khanza meneteskan air matanya. Khanza menarik kembali tangannya tapi Arif masih tidak mau melepasnya.


"Za, please jangan buat aku kacau lagi! aku sudah sangat kacau saat kamu tidak mengangkat telponku. Aku mohon jangan marah! kalau kamu mau pulang biar aku antar," ucap Arif menatap Khanza dengan muka lesu dan memelas agar Khanza tidak pergi.


Khanza berhenti menarik tangannya, dia tidak tega dengan Arif yang memohon seperti itu. Karena benar yang di katakan Arif, begitu banyak panggilan dan pesan darinya hari ini. Khanza duduk kembali dan mengikuti kemauan Arif.


"Sudah aku katakan kalau aku tidak akan pernah bisa marah sama kamu Rif. Aku tidak akan pernah bisa marah sama teman-temanku! orang sepertiku sangat sulit mendapatkan teman apalagi sahabat," ucap Khanza setelah duduk, dan sekali lagi mencoba melepaskan genggaman tangan Arif.


Ada rasa seperti di tusuk ribuan jarum ketika Khanza mengucapkan kata teman. Baru saja Khanza merasakan kebahagiaan dengan perlakuan Arif dia harus menerima kenyataan kalau semuanya hanya sebatas pertemanan.


Menarik tangannya dari genggaman Arif, dia takut kalau dia tidak bisa mengontrol perasaannya lagi. dia takut kalau perasaan kagum yang selama ini ada akan berubah menjadi perasaan yang lebih dari sebatas mengagumi.


Arif tetap tidak mau melepaskannya, dia takut kalau Khanza akan pergi, dan dia akan semakin merasa bersalah atas semunya.


"Za, meskipun di sekolah aku selalu menghindar! tapi percayalah, aku akan selalu menjadi teman bahkan sahabat kamu, sekali lagi maaf, Za? mungkin memang kamu tidak pernah bisa marah sama siapa pun, tapi mata kamu tidak bisa berbohong Za, aku selalu membuat kamu kecewa, maaf!" ucap Arif dengan wajah tertunduk dan muka yang benar-benar merasa bersalah. Hanya kata maaf untuk kesekian kalinya karena memang tidak tahu harus berbuat apa.


"Ya, sudah! kita pulang yo, Za! aku antar kamu pulang."

__ADS_1


Arif merasa Khanza hanya diam akhirnya memutuskan untuk mengajaknya pulang. Beridiri menarik tangan Khanza yang masih di genggamnya.


Khanza pasrah tidak tahu harus apa lagi. ingin berkata, tapi takut jika dia tidak bisa menahan air mata yang sejak tadi tertahan, memutuskan diam dan cuma mengikuti Arif yang menariknya keluar dari cafe itu.


Arif masih tidak melepaskan tangan Khanza sampai ketempat parkir, untunglah parkirannya terlihat begitu sepi dan hanya ada mereka berdua disana.


Setelah sampai di samping motornya barulah Arif melepaskan tangan Khanza dengan lembut. Mengambil helm ingin memasangkan di kepala Khanza.


Bukannya memasangkan helmnya Arif tenggelam dalam manik mata indah Khanza. Arif dan Khanza saling tenggelam dalam tatapan mata mereka.


Arif tanpa sadar mendekatkan mukanya perlahan pada Khanza, mendaratakan bibirnya tepat di bibir pink Khanza.


Ciuman pertama bagi Arif maupun Khanza, Arif melakukannya begitu lembut dan penuh perasaan.


Khanza yang terbawa suasana dengan perlakuan Arif hanya memejamkan matanya. Tidak berusaha menolak ataupun membalas sama sekali, sampai Arif menarik diri kembali, dan memasangkan helmnya ke kepala Khanza.


Khanza diam mematung merasa syok dengan apa yang baru saja terjadi. Ciuman pertama yang di ambil oleh seorang yang begitu di kagumi. Jantungnya sudah tidak beraturan, entah apa yang di rasanya, ada rasa bahagia tapi juga sekaligus sedih, seperti minum kopi, ada rasa pahit tapi begitu nyaman di nikmati.


"Maaf, aku sudah lancang!" ucap Arif mengusap sudut bibir Khanza dengan lembut, menatap penuh rasa bersalah pada gadis manis di depannya.


Arif tidak mengerti kenapa dia bisa melakukan seperti itu, dia tidak bisa mengontrol dirinya saat melihat Khanza yang hanya mendiamkannya seperti itu.


Entah dorongan dari mana dia berani melakukannya, padahal dia sama sekali tidak pernah melakukannya. sekalipun dengan pacar dan mantan mantannya, dan ini juga untuk yang pertama kali baginya


Jantung dan darah Arif bekerja seperti di luar kendali, dia sangat gugup dan tak tau harus berbuat apalagi karena sudah berani melakukannya dengan Khanza, apalagi dengan Khanza yang saat ini hanya diam saja.


Arif memasang helm di kepalanya dan menaiki motornya, memutar kunci untuk menghidupkan motornya.


"Sudahlah Rif, anggap aja tidak pernah terjadi apa-apa!" ucap Khanza langsung menaiki motor Arif dan duduk di belakangnya. Arif yang terdiam mencerna apa maksud dari Khanza.


"Ayo jalan!" ucap Khanza menepuk bahu Arif dan melingkarkan tangannya di perut Arif.


Arif tersadar dari lamunannya, menatap dengan bahagia tangan Khanza yang melingkar di perutnya.


memutar kunci dan menghidupkan motornya.


Sebelum menjalankan motornya Arif menatap Khanza di kaca spionnya.


Muka Khanza memerah saat melihat bayangan Arif yang menatapnya lewat kaca spion. Mereka bertatap muka melalui kaca spion dan saling melemparkan senyuman.


Khanza yang merasa salah tingkah langsung menenggelamkan mukanya di belakang Arif, jantung Arif yang sejak tadi berdetak begitu kencang bahkan di rasakan oleh Khanza.


Membelah jalanan yang sepi, Angin malam yang berhembus begitu menusuk ke dalam tulang membuat Khanza semakin mengeratkan pelukannya, Arif tidak bisa melepaskan senyum bahagianya. Memperlambat jalan motornya, melepas sebelah tangannya dari motor dan menggegam sebelah tangan Khanza di pahanya.


Meskipun jalanan sepi, Arif tak berniat cepat sampai kerumah, ingin menikmati semua rasa nyaman ini.


Mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang di mabuk cinta, lupa akan status Arif yang sudah memilik Vera sebagai pacarnya. Sama-sama terbuai dengan suasana menikmati kenyamanan sementara.



.


.


.


*Aku yang nulis aku yang Baper🤔🤔

__ADS_1


__ADS_2