CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-43~Perubahan


__ADS_3

Tanpa terasa hari semakin sore, matahari sudah mulai lelah memancarkan sinarnya. Arif melirik benda bulat yang melingkar di pergelangan tangannya, pukul lima lewat tiga puluh menit.


"Aku pulang dulu ya, Za? sudah sore."


"Kok, pulang, sih. Bentar lagi, ya," bujuk Khanza memeluk lengan Arif manja sambil bersandar di lengan lelaki itu.


Arif tersenyum melihat Khanza, sekarang gadis itu sudah mulai berani bermanja-manja dengannya. Arif mengacak gemas rambut Khanza.


"Sejak kapan, sih, manja gini? nggak enak sama keluarga kamu, Za. Aku pulang ya?"


Khanza melepas tangan Arif, mengerucutkan bibirnya, tatapannya berubah sendu. Rasanya sangat berat bagi Khanza untuk berpisah dengan lelaki di hadapannya.


"Besok bisa ketemu lagi, sayang," bujuk Arif mengelus lembut pipi gadis kesayangannya. Dia pun sebenarnya tidak rela untuk berpisah, apa lagi melihat sifat manja Khanza sekarang ini. Rasanya dia selalu ingin bersama gadis manis itu, tapi sebagai lelaki dia cukup tau diri. Meskipun sudah mendapat lampu hijau dari keluarga Khanza, dia tidak mau menyalah gunakan kepercayaan itu semaunya.


Khanza memejamkan matanya, merasakan sentuhan hangat dari orang yang di cintainya. Sekarang dia sudah terbiasa dengan perlakuan romantis dari Arif, bahkan dia cenderung bermanja untuk selalu di perhatikan lelaki itu. Saat kecupan hangat mendarat di kepalanya Khanza membuka mata, tersenyum pada lelaki di hadapannya.


"Aku suka kamu manja gini, Za. Aku pulang dulu, ya?" Arif bangkit berdiri mengambil kunci mobil yang terletak di atas meja juga menyambar jaket yang tadi di sampirkannya di sofa.


Muka Khanza bersemu merah, dia mengikuti langkah kaki Arif menuju pintu utama rumah itu.


"Rif, sudah mau pulang?" Tegur Papa Khanza yang baru datang. Mama Khanza yang mengeluarkan belanjaannya dari bagasi mobil pun menengok ke pintu.


"Eh, Om. Arif pamit pulang dulu, Om. Sudah sore," pamit Arif menyalami Papa Khanza.


"Ya sudah, Hati-hati di jalan."


Arif beralih menghampiri Mama Khanza di mobil, menyalami wanita paruh baya itu dan pamit kepadanya. Sebelum Arif memasuki mobilnya dia melambaikan tangan pada Khanza yang sedang berada di rangkulan Papanya.


Khanza dan kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah saat Arif sudah benar-benar pergi dari sana. Khanza membantu ibu dan Kakak iparnya memasak untuk makan malam nanti. Meskipun ada pembantu di rumah itu tapi mereka terbiasa menyediakan sendiri makanan mereka.


"Za, Arif sudah pulang?" tanya Zay, yang mengambil minuman di kulkas.


"Sudah, Kak. Tadi nggak pamit sama Kakak, takut mengganggu katanya."


"Owh." Zay kembali ke ruangan kerjanya setelah membawa sebotol air mineral dingin.


***


Ke esokan paginya. Khanza sudah selesai menyisir rambut panjangnya, hari ini Khanza tidak mengepang rambut seperti biasanya. Dia mencoba berubah demi orang tercintanya, di mulai dari gaya rambut dan sedikit bedak tipis menghiasi wajah manisnya. Arif, lelaki itu sudah mengirim pesan kepada Khanza kalau dia sudah di jalan untuk menjemputnya. Menunggu di depan halaman rumahnya, Khanza membolak-balikkan halaman buku pelajarnnya. Kebiasaan Khanza jika dia membaca buku dia terlalu fokus hanya pada buku itu, dia tidak menyadari kalau Arif sudah tiba menjemputnya.


Mobil putih Arif terparkir di halaman rumah Khanza. Dia menggelengkan kepala saat gadis itu hanya fokus pada bukunya.

__ADS_1


"Kebiasaan," gerutu Arif.


Dia membuka pintu mobilnya, menghampiri Khanza yang masih tidak menyadari keberadaannya. Arif menarik buku yang menutupi wajah gadis itu, bukannya Khanza yang terkejut melainkan Arif terperangah tak percaya melihat perubahan pada Khanza. Meskipun masih memakai kaca matanya tetapi Perubahan Khanza cukup signifikan bagi Arif.


"Arif, ngagetin!" pekik Khanza.


Arif tersadar dari tatapan terpesonanya, dia tidak bisa berkata apa-apa. Meskipun berkali-kali melihat Khanza berdandan dan membuka kepang rambunya, tapi bagi Arif melihat Khanza ke sekolah seperti ini adalah pertama kalinya.


"Diam aja dari tadi? kamu marah aku baca buku?" tanya Khanza menatap bingung pada lelaki di hadapannya.


"Eh, nggak, sayang. Kamu cantik, Za," puji Arif.


Muka Khanza berubah merah merona, panggilan sayang dan pujian Arif sukses membuat perasaannya menghangat sepagi ini.


Khanza masuk kedalam mobil putih Arif dengan senyum mengembangnya. Mata Arif tak lepas memandang Khanza, dia mengikuti Khanza masuk kedalam mobil.


"Kok, sekarang kamu pakai mobil terus, Rif?" pertanyaan Khanza membuyarkan Arif dari lamunannya.


"Eh, I-itu biar aku bisa lihat wajah cantik kamu," gombal Arif.


Muka Khanza bersemu merah, sepagi ini sudah mendapat gombalan berkali-kali dari Arif. "Apa'an, sih. Padahal aku suka kamu naik motor lo, Rif."


"Sudah yo, berangkat. Nanti terlambat," ucap Khanza mengalihkan pembicaraan. Dia begitu salah tingkah menghadapi lelaki romantis itu.


Sebelum Arif memutar kemudinya, dia menatap dalam wanita di sampingnya. Memberikan senyum termanisnya pada Khanza. "Cantik, Cantik banget. Makasih Za, sudah mau berubah demi aku."


Khanza tak bisa mengeluarkan kata-kata, mukanya memanas, perasaannya campur aduk rasanya. Khanza hanya bisa mengangguk dan memalingkan mukanya menatap keluar jendela. Pujian Arif membuatnya terbang melayang dalam Khayalan.


Keluar dari komplek perumahan Khanza, Arif mengemudikan pelan mobilnya. "Za, Faizal kemana? kok ngga terlihat ya?" pertanyaan Arif memecah keheningan di mobil itu.


Khanza memalingkan wajahnya, menatap wajah Arif yang fokus ke depan. "Pulang ke kampung halaman Neneknya, katanya sih neneknya sakit."


Arif menatap Khanza sebentar, dan kembali fokus pada kemudinya. "Dia nelpon kamu?" ada nada tidak suka dari pertanyaan Arif.


Khanza tersenyum menanggapi Arif, dia tau kalau lelaki itu sedang cemburu. "Papa yang kasih tau, kemarin keluarga Faizal pamit ke rumah sekalian titip rumah."


Arif menggaruk belakang kepalanya, dia merasa cemburunya terlalu berlebihan pada Khanza. Tapi bagaimana lagi, perasaan emosi selalu muncul begitu saja saat dia merasa ada yang dekat dengan Khanza.


"Maaf, Za." hanya kata itu yang bisa di ucapkan Arif.


Khanza tertawa, entah kenapa ekpresi Arif seperti itu sangat lucu baginya.

__ADS_1


"Kok, ketawa, Za?"


"Lucu, aja. Ternyata kamu itu cemburuan, aku pikir kamu cuek orangnya." Khanza menatap Arif dengan senyumnya.


"Aku cuma cemburu sama kamu, Za."


"Benarkah?"


Arif mengangguk pasti. Dia memarkirkan mobilnya di halaman sekolah. Sebelum turun dia menatap gadis itu, menarik napasnya dan menghembuskannya. "Jangan buat aku cemburu, ya?" ucap Arif lembut.


Mereka keluar dari mobil bersama, setelah Khanza menyakinkan Arif kalau dia akan berusaha menjaga diri agar Arif tidak cemburu.


"Wow, Khanza?" sapa Randra menghampiri mereka.


"Hei, Rand!" balas Khanza tersenyum.


Randra meneliti penampilan Khanza dari atas sampai bawah. Dia beralih menatap Arif yang berdiri di samping Khanza.


"Hati-hati lo, Rif. Bisa-bisa bakalan banyak yang naksir Khanza."


"Sialan lo, Rand."


"Gue, boleh daftar naksir nggak, Za?" Randra semakin menggoda sahabatnya.


"Boleh, kalau lo, mau gue gantung!" Arif menjawab datar candaan Randra, sangat nampak kecemburuan di wajahnya. Membuat Randra semakin gencar menggodanya.


Randra mendekatkan dirinya pada Khanza. "Galak," bisiknya.


Arif menarik kasar Khanza menjauh dari Randra, tatapan mata laser di layangkannya pada sahabatnya. Membuat Khanza dan Randra tertawa menanggapi kecemburuan lelaki itu.


"Sudah, dia cuma bercanda!" Khanza membelai lembut lengan Arif, menenangkan lelaki yang emosi itu, meskipun Randra hanya bercanda tapi Arif menanggapinya terlalu serius.


"Slow bro! becanda doang, serius banget," ejek Randra.


Arif hanya diam, dia meninggalkan Khanza dan Randra lebih dulu.


"Kamu, sih, Rand. Jadi marah 'kan," gerutu Khanza.


"Siapa suruh cemburuan." Randra menyusul sahabatnya itu, di ikuti Khanza yang juga menyusul mensejajarkan langkahnya dengan Arif.


Memasuki lorong sekolah, semua mata memandang takjub pada Khanza. Terutama para lelaki yang menatap tak berkedip pada Khanza. Arif yang sudah terlanjur emosi kini semakin tak suka melihat Khanza menjadi pusat perhatian. Dia melebarkan langkahnya, sebelum emosinya meledak disini.

__ADS_1


__ADS_2