
Senja kini datang menyapa dengan warna jingga yang begitu cerah. Warna yang menggambarkan ketengan dan kenyamanan, kini siklus pergantian siang menuju malam terjadi dengan begitu menakjubkan. Di tengah-tengah danau dua pasangan kekasih sedang menikmati sunset yang begitu indah. Dengan menaiki perahu danau, Arif dan Randra membawa kekasih mereka masing-masing.
"Kita selfi dulu, yang?" ajak Khanza.
"Boleh," sahut Arif semangat.
Khanza mengeluarkan handphone Arif. "Pakai HP punya kamu aja ya?"
Mengambil beberapa foto dengan background danau lengkap dengan sunset di belakang mereka. Pasangan itu terlihat begitu romantis. "ish, kamu kok, nggak senyum, sih, yang," protes Khanza.
"Kamu kecepatan ambilnya," elak Arif.
"Sekali lagi, deh," usul Khanza.
Mengarahkan kembali kamera depan, Arif dan Khanza membuat beberap gaya. Dari gaya romantis sampai gaya saling mengejek, bahkan terselip gaya saling ngambek.
Khanza dan Arif melihat kembali hasil foto-foto mereka. Memilih satu foto mesra, gadis itu menjadikannya sebagai walpaper dari layar poncel Arif.
"Awas kalau ganti!" ancamnya.
"Siap, bos," tegas Arif.
Randra dan Dea pun tidak mau kalah, mereka juga mengabadikan momen dengan tangkapan layar poncel. Berfose romantis membelakangi matahari yang sedang tenggelam. Dea beberapa kali protes saat Randra beberapa kali usil mengacaukan foto mereka. "Ish, Rand. Yang benar dong," sungut Dea.
"Iya, ini sudah benar," bela Randra.
"Benar, apaan. Ngeselin gini mukanya, jelek tau?" komentar Dea.
Randra mengambil handphone di tanganDea. Mengangkat benda canggih itu dan mengarahkan layar ke depan mereka.
Cup!
Satu kecupan lembut mendarat di pipi Dea.
"Nah, ini baguskan hasilnya." Randra menunjukkan hasil fotonya pada Dea yang masih terpaku memegang pipinya. Tersenyum jahil, lelaki itu mendekatkan wajah ke telinga sang kekasih. "Kenapa diam? mau lagi?"
"Ish, Rand. Malu ... nanti Arif sama Khanza lihat." Dea mendorong pelan wajah Randra.
Randra terkekeh sambil mendekatkan kembali wajahnya. "Berarti kalau nggak ada yang lihat mau, dong?" bisiknya, kembali menggoda sang kekasih.
Tuk!
Satu pukulan mendarat di kepala pemuda itu. "Dasar!" kesal Dea.
__ADS_1
"Sakit, Yang!" adunya manja, sambil mengelus pucuk kepala yang tadi di pukul Dea.
"Biarin!" Dea menjulurkan lidah ke arah Randra.
"Ish, aku gigit itu lidah baru tahu rasa."
Baru saja Dea, ingin menanggapi sang kekasih. Teriakan Arif yang mengajak mereka menepi kini terdengar menggema di tempat itu. Memutuskan untuk kembali ke daratan, Randra mengayuh pelan perahu kayu itu.
"Hati-hati!" seru Arif, mengulurkan tangannya pada Khanza, membantu sang kekasih untuk turun dari perahu kecil.
"Bantuin, Rand!" pekik Dea.
"Eh, aku pikir, bisa sendiri," ujar Randra.
"Ih, punya pacar, nggak ada romantis-romantisnya," gerutu Dea.
"Ya sudah, sini aku bantuin?" Randra mengulurkan tangannya. Namun, bukannya di sambut oleh Dea, dia malah di abaikan.
"Telat!" Berhasil keluar dari perahu, Dea melengos berjalan melewati Randra begitu saja.
"Yang!" panggi Randra geram.
Arif dan Khanza hanya bisa menggelengkan kepala, mereka pikir setelah jadian dua orang itu akan berhenti bertengkar. Ternyata sama saja, selalu ada adu mulut antara keduanya. Tapi, tetap romantis layaknya pasangan pada umumnya.
Sebelum meninggalkan danau, Khanza menatap sekali lagi pada cahaya senja. Menghela nafas dalam dia merasaya bersyukur hari ini bisa bersama dan menghabiskan waktu kembali bersama sang kekasih hati.
Faizal ... kamu ibarat senja yang selalu kunanti kehadirannya walau hanya sementara dan aku hari ini bersyukur karena masih mempunyai Arif dalam kegelapan malam.
Tetesan bening keluar dari sudut mata Khanza, jatuh membasahi bumi di bawah langit senja. Arif dengan sigap membawa sang kekasih ke dalam pelukannya, tanpa Khanza membuka suara atau bercerita, Arif sudah tahu kalau kekasihnya itu sedang merindukan sang sahabat yang kini telah tiada. Memberikan usapan lembut di kepala yang tertutup rambut, lelaki itu berharap bisa menjadi obat bagi sang kekasih yang sedang terluka.
Kini senja perlahan hilang, berganti langit malam dengan cahaya bulan dan pendar ribuan bintang. Setelah Khanza merasa tenang, dia mengajak Arif untuk segera pulang.
***
Jam digital menunjukkan pukul 19:30. Dua pasangan romantis itu belum mau mengakhiri kebersamaan mereka. Arif mengajak sang kekasih dan dua sahabatnya untuk makan di sebuah cafe resto favoritenya.
Memarkirkan mobil dan motor, empat orang itu masuk secara beriringan. Khanza dan Dea langsung terperangah saat nuansa kental lautan menyapa mata mereka. Warna lampu yang biru seakan membuat mereka berada di dalam kapal selam. Tanpa sadar Khanza bergumam memuji keindahan tempat itu.
"Yang, ayo kita duduk!" Arif menarik lembut tangan sang kekasih.
Mendaratkan bokong di sebuah kursi putih, lagi-lagi dua orang wanita itu di buat takjub dengan meja yang di desain berbentuk aquarium lengkap dengan ikan-ikan kecil di dalamnya.
"Ikannya cantik banget, yang," puji Khanza.
__ADS_1
Arif tersenyum tipis, melihat Khanza seperti itu membuatnya gemas sendiri. Memanggil waiter dia meminta Khanza, Randra dan Dea memilih menu makanan seafood yang mereka sukai. Setelah menyebutkan pesanan, dua pasang kekasih itu menunggu sambil mengobrol dengan riang.
"Jendelanya oval gitu?" tunjuk Dea. "Berasa di laut ya, Rand?" oceh Dea.
"Hm," sahut Randra. Sepertinya lelaki itu masih ngambek dengan sang kekasih karena sempat di abaikan tadi.
"Eh, kita selfi dulu, yuk!" Ajak Dea.
Mengeluarkan poncel, Dea memotret kebersamaan mereka berempat. Beberapa foto yang di ambilnya, dia menyadari kalau Randra hanya cemberut dan diam sejak tadi.
"Kamu kenapa, Rand? sakit?" tanya Dea.
"Hm," sahut Randra singkat.
Dea mendekatkan kursinya pada Randra. Raut wajah khawatir kini begitu kentara di muka gadis bar-bar itu, menempelkan punggung tangan di kening dan leher sang kekasih, Dea mengernyitkan alis tebalnya.
"Nggak panas. Memang apa yang sakit, Rand?"
Randra mengambil tangan Dea, meletakkannya di dada bidangnya. "Ini yang sakit," ujarnya, sambil memasang wajah sendu yang di buat-buat.
Hembusan nafas lega keluar dari bibir Dea, replek tangannya memukul dada lelaki itu. "Kirain, beneran sakit. Taunya cuma bohongan," gerutu Dea.
"Ini beneran sakit, yang. Kamu sih, tadi mengabaikan perhatianku."
Oke ... babak baru adu mulut akan di mulai lagi. Khanza dan Arif terkekeh melihat tingkah dua orang di depan mereka. Bukannya melerai, mereka malah menonton dan menikmati pertunjukan komedi romantis itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
โ๏ธMaaf jika ceritanya agak kurang dapet feelnya. Maaf juga jika masih ada kesalahan dan typo dalam penulisan.๐๐
__ADS_1
โ๏ธJika berkenan, tinggalkan like, komen, bintang 5,favorite dan votenya ya๐๐๐
โ๏ธSalam cinta dan damai dari saya๐๐๐