
Arif datang dengan muka dingin dan tatapan tidak bersahabatnya, seperti menyimpan kekesalannya sendiri.
"Kenapa muka, lo, bro?" tanya Randra.
Arif tidak menjawab pertanyaan Randra.
"Apa malam ini ada drag? " tanya Arif pada semua orang disana. Semua orang di sana saling pandang.
"Sepertinya tidak ad ...." ucapan Randra di potong seseorang yang baru datang.
"Gue, tantang, lo! satu lawan satu!"
Semua orang menatap pada asal suara tersebut, Seorang laki-laki yang menatap Arif dengan pandangan permusuhannya.
"Kenapa diam? takut?" ucap Faizal.
Laki-laki itu Faiza. Dia sengaja mencari Arif ke base camp-nya. Faizal masih tidak bisa terima dengan perlakuan Arif yang sudah membuat Khanza terluka.
"Siapa yang takut? semoga, lo, tidak menyesal menantang orang yang salah!" balas Arif dengan emosi yang sudah di ubun-ubun tapi berusaha tenang.
"Kita lihat saja! siapa yang akan menyesal!"
"Ada apa dengan kalian?" tanya Randra pada Arif dan Faizal yang melemparkan tatapan saling membunuh satu sama lain. Padahal tadi di sekolah sudah sedikit bersahabat.
Arif dan Faizal tidak lagi menghiraukan sekitar mereka.
"Kalau, Lo, kalah! jangan pernah! dekati Khanza lagi!" Faizal beucap dengan tegasnya.
Randra tidak tahu harus berbuat apa, semakin bingung saat Faizal membawa nama Khanza di antara mereka.
'Apa ini ada hubungannya dengan Khanza?' pikirnya.
"Oke! tapi kalau, lo, yang kalah! jangan! pernah mencoba halangi aku lagi dengan Khanza!" ucap Arif tidak kalah tegas.
"Deal!" kata Faizal menyodorkan tangannya.
"Deal!" Arif membalas jabatan tangan Faizal.
Emosi keduanya begitu jelas terlihat dari tatapan permusuhan yang mereka layangkan.
Brum-Brum-Brum!
Mereka bersiap melakukan balapan motor satu lawan satu, Arif terus membunyikan motornya dengan begitu emosi, Faizal juga tidak mau kalah dengan itu.
Randra merasa ada yang tidak beres dari mereka berdua, semua ini harus di hentikan.
Jika tidak segera di hentikan Randra takut akan ada korban dalam kejadian ini.
'Khanza! hanya dia yang bisa menghentikannya!'
Dia mengirim pesan pada Khanza, memberitahukan kalau Arif dan Faizal sedang adu balap di tempat A.
💌"Za, Arif dan Faizal sedang drag motor satu lawan satu, aku share lokasinya."
***
Khanza terbangun karena sebuah mimpi buruk, dia mencari-cari handphone miliknya yang tadi di lempar sembarang arah saat ibunya masuk ke kamarnya.
Setelah menemukan benda pipih itu, Khanza mengaktifkannya. Melihat begitu banyaknya chat masuk dari Arif, dia memejamkan mata, menetralkan rasa sakitnya. Melihat kembali isi chat-chat di handphone itu, Khanza membuka pesan dari Randra.
Membulatkan mata sempurna. Khanza langsung bergegas berganti baju dan turun ke bawah, Khanza pergi hanya pamit kepada satpam karena semua orang sudah berada di kamar mereka.
Mengemudikan mobil dengan terburu-buru Khanza mendatangi tempat balapan Arif dan Faizal.
"Za, angkat dong, Za!" ucap Randra gelisah melihat Arif dan Faizal yang balapan dengan sengit dan penuh emosi.
Randra mencoba menghubungi Khanza beberapa kali tapi tidak juga di angkat, Randra tidak tenang melihat Arif dan Faizal begitu terbawa emosi mengendarai motornya.
Faizal dan Arif sudah mulai mendekati garis finis, mereka saling mengejar satu sama lain.
Khanza datang dan memarkirkan sembarangan mobilnya, berlari mendatangi Randra yang bediri gelisah dekat garis finis.
__ADS_1
"Rand, dimana mereka?" tanya Khanza ngos-ngosan.
"Mereka!!! di sana!!!" Randra menunjuk dua motor yang sedang melaju kearahnya.
"Sebenarnya ada masalah apa, sih! antara mereka berdua, Za?" tanya Randra pada Khanza.
Tapi tidak mendapat jawaban dari Khanza.
"Arif!!!" Khanza berteriak saat motor Arif sedikit oleng karena bergesekan dengan motor Faizal.
Cittt!
Faizal yang sudah sangat dekat dengan garis finis menghentikan motornya mendadak karena mendengar teriakan Khanza, dia menatap Khanza yang seperti cemas tapi bukan untuknya tapi untuk Arif.
Arif sampai di garis finis dan di sambut teriakan semua orang, Khanza dan Randra menghampiri Arif.
"Kamu tadi nggak papa?" tanya Khanza khawatir.
Arif melepas helmnya dan menatap Khanza dalam, dia tersenyum karena Khanza menghawatirkannya.
"Sial ...!!!" Faizal mengumpat saat dia mendapati Khanza menghampiri Arif dan mengkhawatirkannya.
Faizal melajukan motornya dan berhenti tepat di samping Arif.
Khanza melihat Faizal dan ingin menghampirinya, tapi tangannya di tarik Arif. Faizal turun dari motornya, menarik Khanza.
Terjadi tarik-menarik antara mereka berdua. Arif langsung emosi juga turun dari motornya menghampiri Faizal.
"Gue menang! lo, ingat janji, lo, kan!" Arif menunjuk Faizal dan menarik kembali tangan Khanza.
"Tapi gue nggak rela! kalau Khanza dekat sama lo!" ucap Faizal kembali menarik Khanza.
Semua orang menatap keduanya bergantian, banyak pertanyaan di benak mereka. Tapi seolah ada tontonan drama gratis mereka hanya menikmatinya tanpa ada yang berkomentar. Khanza dan Randra yang paling pusing dibuatnya.
"Stop ...!!!" Khanza berteriak menarik kedua tangannya.
"Sebenarnya janji apa?! apa yang kalian maksud!?" Khanza menatap keduanya bergantian, yang sama sekali tidak memberikan jawaban. Mereka hanya mentatap tajam siap untuk meledakkan emosinya.
Randra menghampiri mereka, ingin bersuara menjelaskan semuanya tapi di tahan Arif.
"Sebernya ..., kami membuat perjanjian, kalau aku menang maka Faizal tidak boleh melarangku mendekati kamu. Dan ..., kalau aku kalah maka aku tidak boleh mendekati kamu, Za," ucap Arif sedikit ragu-ragu.
Khanza terperangah di buatnya, merasa tidak percaya dengan apa yang di lakukan kedua temannya. Khanza meneteskan air mata dan menutup mulutnya, sedikit ingin terjatuh kebelakang, tapi Randra dengan cepat menahannya.
"Za!" ucap Randra menahan tubuh Khanza.
"Ka ... kalian! Fa, kamu tega menjadikan aku taruhan!" ucap Khanza menatap tajam Faizal. "Dan .... Ka ... kamu juga Rif, Tega!" Khanza berucap dengan lirihnya, langsung berbalik dan berlari pergi dari sana, memasuki mobil yang tadi terpakir asal-asalan.
Mereka bertiga mengejar Khanza, mengetuk-ngetuk pintu mobil Khanza.
"Za, bukan Za! aku bisa jelasin Za!" ucap Faizal.
"Za! please Za! dengerin kita dulu!" ucap Arif.
"Za, kita bisa bicarakan baik-baik, Za!" ucap Randra.
Tidak ada respon dari Khanza, dia malah melajukan mobilnya dengan kencang.
Arif berlari ke motornya mengejar Khanza, Faizal juga ikut berlari ke motornya.
"Gue ikut!" ucap Randra menghadang motor Faizal.
Mereka berdua juga ikut mengejar mobil Khanza.
***
"Za, berhenti Za!" Arif berteriak di samping mobil Khanza dengan motornya.
"Za, ayolah! dengerin dulu!"
"Za, berhenti Za!"
__ADS_1
Tidak ada respon sama sekali dari Khanza, Arif nekat menghalangi mobil Khanza dengan motornya, untung saja Khanza dengan cepat menginjak remnya.
Cittt!
Khanza terhuyung kedepan, kepalanya menghantam setir mobilnya. untunglah tidak terlalu keras, dan tidak meninggalkan luka atau lebam pada keningnya.
"Za, buka Za!"
"Za, dengerin dulu Za!"
"Za, please buka dulu!" Arif mengetuk kaca mobil Khanza dengan penuh kecemasan.
Khanza membuka pintu mobilnya dengan perlahan dan turun dari mobilnya, dia merasa tidak tega dengan Arif yang sedari tadi memohon kepadanya.
Arif mundur perlahan saat Khanza mendorong pintu mobilnya, Sekarang Khanza berdiri di depannya dengan muka basah oleh air mata. Arif langsung memeluk Khanza, dia merasa begitu takut kalau Khanza tidak bisa memaafkannya.
"Za, maaf! aku bukan bermaksud membuat kamu sebagai barang taruhan! Aku hanya terbawa emosi dengan Faizal! please maafkan aku Za! aku tidak bisa tenang kalau kamu marah sama aku Za. Maaf atas semua perlakuanku selama ini kepadamu, aku selalu membuatmu kecewa," ucap Arif masih memeluk Khanza dengan penuh ketulusan.
Khanza masih mematung dengan tangisnya, tidak membalas memeluk Arif, ataupun menolaknya.
"Za, kamu pasti sangat marah sama aku, karena kejadian sore tadi. Aku tidak bermaksud mengiyakan ucapan Vera, tapi aku tidak tahu harus seperti apa menghadapi Vera kalau sampai dia marah."
"cukup! aku sudah tidak ingin mengungkit masalah itu lagi, mungkin sebaiknya kita tidak usah berteman di sekolah ataupun di luar lagi Rif," Khanza menarik paksa dirinya dari pelukan Arif.
"Za, aku tidak bisa kalau harus berhenti berteman dengan kamu!"Arif menarik tangan Khanza.
"Lebih baik seperti itu Rif, aku tidak mau kejadian sore tadi terjadi lagi. Membuat kamu dan Faizal akan semakin bermusuhan."
"Semuanya memang salahku, seharusnya aku menjelaskan kepada Vera. bukannya mengiyakan tuduhannya kepadamu!" Arif tertunduk lesu mengingat betapa bodohnya dia.
"Wajar kalau Faizal membenciku, karena menyakiti orang sebaik dirimu. Tapi aku mohon Za, jangan marah lagi! apalagi memutuskan pertemanan kita, kita luruskan sama-sama ke Vera ya?"
"Sudah sering kali aku katakan! mana mungkin aku bisa marah sama kamu Rif. Tapi, ini keputusan terbaik memang sebaiknya kita tidak mengenal dari dulu. Tidak usah di perpanjang masalah dengan Vera, semoga kamu bahagia dengannya Rif."
Khanza berbalik dan kembali masuk kedalam mobilnya meninggalkan Arif yang berdiri mematung menyesali kesalahan yang sudah di perbuatnya.
"Argh!" Arif mengusap kasar wajahnya dan menendang bebas pada udara. Kepala serasa ingin pecah memikirkan ucapan Khanza.
Melajukan mobil di tengah kesepian malam, Khanza menangis dalam diamnya.
"Aku rasa ini jalan terbaik! aku harus bisa menjauh dari Arif, ini demi kebaikanku," ucap Khanza sendirinya.
Setelah sampai di rumah Khanza langsung masuk ke kamarnya, berjanji pada dirinya sendiri agar tidak menangis lagi.
Khanza mengotak-atik handphonenya, mencoba mencari sesuatu, yang bisa mengalihkan perhatiannya. dia teringat kalau ada aplikasi novel online, karena dia sangat suka membaca. Dia mencari-cari cerita yang bisa menghiburnya.
Khanza pikir novel yang bergenre fantasi atau action akan membuatnya melupakan tentang Arif.
Dia menemukan cerita bergenre Fantasi dari penulis barbakat Adi kusma yang bejudul "Pendekar Elang Putih". Ceritanya cukup menarik dengan tokoh yang bernama Mahesa dan ilmu tapak naga darinya. Serta sedikit bumbu romantis di dalamnya.
"Yah! sudah selesai, padahal masih mau baca, semoga cepat updet lagi!" ucap khanza menutup hpnya.
Khanza sudah merasa sedikit tenang, dia memejamkan matanya mengistirahatkan jiwa raga yang sepertinya begitu terguncang hari ini.
jangan lupa mampir ke novel(Meadow, Love, Revenge,The sea,di balik malaikat berjas putih, Marriage order, Love is Not Based on bibit bebet bobot but Lillahita'alaa, Reingkarnasi cinta si cantik rubby, Fell in love with my arogan fiance, Siking of love, Pendekar elang putih, Tersimpan dalam kenangan, Senior, The mafia queen, You are special, Bukan cinta terlarang, True love, Future husband, Mine, Cinta yang bicara, Abang ketemu gedhe, Ceo dingin, Aku berhasil merubahnya, Para bintang, We need Happiness, Neira,Nona senja dan tuan pagi, Best friend forever,Muse,Husband from hell,dan My little wife)
.
.
.
.
Mohon maaf kalau masih banyak typo🙏🙏🙏🙏
__ADS_1