CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-34~Kembali kesekolah


__ADS_3

Arif meninggalkan Khanza dengan penuh emosi. Ingin rasanya dia meluapkan semua amarahnya di sini, tapi dia masih ingat kalau ini bukan sekolahnya. Mengambil barang-barangnya di ruang ganti, bergegas untuk pergi dari sekolah Wisley. Saat Arif melangkah dari ruangan itu ada seseorang memeluknya dari belakang.


Arif mengira orang di belakangnya adalah Khanza, dia diam mematung membiarkan pelukan yang semakin erat di perutnya.


"Kamu kenapa selalu menghindari aku akhir-akhir ini?"


Pertanyaan itu menyadarkan Arif kalau yang memeluknya bukanlah Khanza.


"Ve-vera!" gumam Arif. Arif melepas pelukan Vera dan berbalik, tapi matanya menangkap seseorang yang berdiri tidak jauh darinya.


"Jawab aku, Rif!" teriak Vera mengguncang lengan Arif.


Arif sama sekali tidak bergeming matanya menatap Khanza yang sedang berada di pelukan Faizal.


"Apa aku ada salah sama kamu, Rif?" tanya Vera lagi saat tak mendapat jawaban sepatah kata pun dari kekasihnya itu.


"A-aku..., la-lagi banyak urusan, Ver!" Arif mengabaikan begitu saja Vera, mencari Khanza yang sudah pergi dengan Faizal.


Vera menghentakkan kakinya ke lantai karena merasa di abaikan Arif. senyum sinis keluar dari bibir wanita itu. "Kamu jahat, Rif. Jangan mentang-mentang kamu ganteng bisa seenaknya sama aku. Kita lihat saja nanti."


Setelah bayangan Arif tidak terlihat lagi, Vera juga pergi dari tempat itu menemui teman-temannya.


***


Khanza mundur perlahan saat melihat seseorang yang di carinya sedang berpelukan dengan kekasihnya. Air mata sudah tak tertahan keluar dari mata indahnya. Khanza berbalik untuk pergi dari tempat itu.


Buk!


"Auu!" ringis Faizal saat tubuhnya di hantam tubuh Khanza. "Kha-Khanza...." gumamnya melihat Khanza yang menangis terisak.


"Fa..., kamu...."


"Aku di sini untukmu, Za." Faizal membawa Khanza kepelukannya, memberikan ketenangan pada gadis manis itu.


Seperti bendungan yang ambrol, Tangis Khanza pecah dalam pelukan sahabatnya. Suara isakan itu begitu terdengar pilu, Faizal membiarkan Khanza menangis hingga puas. Baru setelah itu, ia menggandeng sahabatnya duduk di bangku taman sekolah. Matahari hampir menyelesaikan tugasnya, jarum waktu di pergelangan Faizal sudah menunjukkan pukul 5 sore. Sebuah pemandangan yang tak lajim saat laki-laki dan perempuan duduk berdua di taman itu. Keduanya terlihat seperti bunga dan kumbang pada sebuah taman kamboja. Tapi sayangnya bunga itu sekarang layu di tangkainya.


Khanza bersandar pada bahu Faizal. Ada yang tersangkut pada tenggorokannya, sehingga dia sulit untuk mengeluarkan suaranya. Khanza merasa malu, juga merasa bersalah. Di saat ia seperti ini, Faizal selalu hadir tanpa di minta. Memberikan bahunya untuk di sandari Khanza yang sedang rapuh. tapi Khanza tidak pernah mau mendengarkannya.


"Terima kasih, Fa," hanya itu yang terucap dari Khanza.

__ADS_1


Faizal tersenyum penuh empati, ia bisa merasakan ada sesuatu yang berat menimpa sang sahabat. Faizal menduga, mungkin masalah Khanza dengan Arif benar-benar membuatnya sedih. Faizal tidak ingin bertanya. Jika tiba waktunya, Khanza akan bercerita sendiri. Meski Faizal dan Khanza bersahabat dekat dari dulu, Faizal tidak pernah mamaksa jika Khanza tidak ingin bercerita.


"Kamu selalu ada untukku, Fa." Khanza mengangkat kepalanya menatap penuh haru pada Faizal.


"Aku akan selalu ada bersamamu, Kapan pun kamu butuh, Za." Faizal tersenyum mengusap pelan rambut Khanza. "Sudah yo, kita pulang!" ajaknya.


Bangun dari duduknya, Faizal menarik tangan Khanza untuk mengikutinya. Tapi Khanza sama sekali tidak bergeming dari tempat itu. Mata Khanza menatap sendu pada satu arah, Faizal mengikuti arah tatapan Khanza. Faizal melepas genggaman tangannya pada Khanza saat mata elang seseorang menatap pada tangan mereka berdua.


Arif berjalan menghampiri mereka berdua, berdiri tepat di depan Khanza. "Pulang sama aku," pintanya lembut.


Khanza menatap mata Arif yang berubah pilu, begitu jelas terlihat kalau lelaki di depannya begitu kacau. Ingin rasanya Khanza memeluknya saat ini juga.


"Nggak mau? Ya sudah!" Arif memutar tubuhnya.


"Tunggu!" pekik Khanza menghentikan langkah Arif.


"Fa, aku pulang sama Arif ya?" ucap Khanza pelan, ada bersalah pada sahabatnya itu.


Faizal mendekatkan kepalanya pada Khanza. "Tenangin dulu tu macan Kamu," bisik Faizal dengan tawa tertahan.


"Siap boss!" balas Khanza berbisik dan tersenyum pada Faizal.


Khanza dengan cepat menjauhkan tubuhnya dari Faizal, memberikan senyum kikuk pada lelaki yang terus menatapnya.


"Fa, aku duluan ya? kamu bawain mobil aku, ya?" pamit Khanza, dia melempar kunci mobil pada Faizal.


"Hati-hati!" teriak Faizal saat mereka berjalan menjauh meninggalkan Faizal.


Gue ikhlasin Khanza buat lo, Rif. Karena gue tau Khanza sepertinya begitu mencintai lo. Tapi, gue tetap nggak akan diam kalau lo, nyakitin Khanza.


"Woi, ngelamunin apa, lo!" tegur Randra mengagetkan.


"Eh, Rand. Itu...." Faizal menunjuk pasangan yang berjalan menjauh.


"Sudah baikan?"


"Entahlah. Kita pulang yuk! sudah sore," ajak Faizal.


Mereka meninggalkan sekolah wisley, meskipun dengan kekalahan yang mereka bawa. Mereka tetap terima dengan lapang dada.

__ADS_1


***


Khanza berjalan canggung di samping Arif yang hanya diam dengan muka datarnya. Meskipun emosi Arif sudah mereda, tapi dari matanya masih tersirat kekecewaan pada Khanza.


"Kita makan dulu ya, Za?" ucap Arif memasangkan helm pada Khanza.


Khanza menatap dalam pada manik mata Arif, rasa rindu dan rasa bersalah menyatu. Air mata menetes di pipi Khanza.


Tangan Arif terangkat menghapus lembut tetesan air mata itu. "Jangan nangis lagi!"


"A-aku...."


"Nanti aja kita bahasnya ya? kita makan dulu, kasian cacing di perutku," Arif tersenyum lembut pada Khanza.


Perasaan Khanza kembali menghangat, senyum yang ia rindukan kini kembali hadir di wajah tampan Arif. Khanza menghapus kasar air matanya dan mengembangkan senyumnya. Ia menaiki motor Arif dan memeluk lelaki itu dari belakang. Wangi yang begitu di rindukan Khanza, meskipun Arif habis berkeringat tapi bau parfumnya tidak luntur. Khanza menempelkan kepalanya di bahu Arif menyalurkan rasa rindu yang tertahan dalam beberapa hari ini.


Arif tersenyum penuh Arti saat tangan yang ia rindukan kini kembali berada di perutnya.


Rasa ini, begitu beda saat tadi Vera yang melakukannya. Maafkan aku, Za. Aku terlalu larut dalam emosi yang membakar hati, sampai aku lupa kalau semakin aku menjauh maka akan semakin banyak yang mendekati.


Hari semakin sore, mereka meninggalkan sekolah Rubby dan Ken, dengan kembali berdamai dengan perasaan.


Dari dalam mobil, Vera menatap sinis dua orang yang begitu mesra itu. Dia tidak terkejut kalau Khanza dan Arif bersama, karena sejak kemarin Vera sudah curiga dengan tatapan kekasihnya yang terus tertuju pada gadis cupu itu.


"Kalian berani bermain di belakangku, Awas aja nanti!"


Tin-tin-tin!


Bunyi klakson mobil mengagetkan Vera. Ia membuka kaca mobil mendapati Faizal yang membawa mobil Khanza.


"Ada masalah, Ver?" tanya Faizal.


"Eh, Fa. Nggak ada, kok!"


"Oh, Kira'in."


"Gue, duluan, ya?" pamit Vera.


Faizal hanya mengangguk pasti menatap kepergian mobil itu menjauh. Faizal mengikuti mobil Vera keluar dari halaman sekolah itu.

__ADS_1


Randra yang membawa motor Faizal juga sudah pulang beriringan dengan yang lainnya.


__ADS_2