CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-55~Melankolis


__ADS_3

Menatap diri di cermin, Arif menipiskan senyumnya. Pantulan penampilannya sangat puas di pandang mata. Kini Arif menyambar jaket dan kunci mobil. Namun, ringtones HP di atas kasur membawa tangannya mengangkat sebuah panggilan Vidio call dari Bunda tercinta.


Seperti biasa, Arif selalu mendapatkan telpon maupun Vidio call dari sang Bunda setiap harinya. Meskipun jauh dari orang tua, Arif selalu di pantau. Ayah Arif diam-diam mengirim orang mengawasi pergerakan anak laki-laki mereka satu-satunya. Selama ini Ayahnya tak pernah mendapatkan laporan aneh-aneh tentang Arif, membuat mereka tidak menaruh rasa khawatir berlebihan.


Arif menggenggam erat poncel yang sudah terputus panggilannya, menghembuskan nafas kasar, wajah Arif berubah sendu. Rasa rindu akan kedua orang tua yang jauh di sana membuatnya bersedih. Melangkah lemas keluar dari rumah, Arif menaiki mobil untuk menjemput Khanza. Sepanjang perjalanan Arif menekuk muka, teringat kembali wajah sang Ibunda tercinta.


***


Khanza memoleskan bedak tipis di wajah, menempelkan lip gloss berwarna peach lembut di bibirnya. Pantulan bayangan di cermin, membuatnya mengembangkan senyum di bibir ranumnya. Khanza mengepang kembali rambutnya, setelah perdebatan panjang antara dirinya dan Arif yang memintanya untuk kembali pada penampilan cupu, akhirnya Khanza mengalah. Kembali mengepang rambut, tapi tetap berdandan dengan make up tipis.


Arif kembali meminta Khanza berpenampilan cupu, karena dia takut tidak bisa mengendalikan amarahnya jika sang kekasih di goda orang lain. Khanza awalnya menantang, dia sudah merasa nyaman dengan penampilannya. Dengan tampil seperti perempuan normal Khanza merasa dia lebih banyak mempunyai teman. Tapi ancaman Arif membuatnya takut, dia lebih memilih mengalah dari pada lelaki itu terus-terusan berulah di sekolah. Ancaman Arif masih terngiang di telinga Khanza.


'Jangan salahkan aku, kalau aku menghajar cowok yang berani menggodamu.'


Terdengar begitu serius dan dingin, bahkan Arif sempat mendiamkan Khanza beberapa saat. Jika saja tidak di turuti kemauannya, mungkin hari ini Khanza tidak di izinkan masuk sekolah oleh lelaki itu.


Khanza menutup kembali pintu kamarnya, bersiap turun ke bawah menunggu Arif yang sudah mengabarinya kalau lelaki itu sudah hampir sampai di komplek perumahannya.


"Mama!" seru Khanza memanggil Mamanya.


"Nyonya di luar, Non. Tadi, mengantar Tuan pergi ke kantor," beritahu Bibi.


"Makasih, Bi," ucap Khanza, dia melangkah keluar mengahampiri sang Mama. Khanza mendapati, Papanya sedang mengecup singkat pucuk kepala Mama Vina. "Papa, kok cepat berangkatnya?" tanya Khanza seraya mengulurkan tangannya.


"Anak, Papa, sudah rapi. Papa ada meating pagi, sayang. Menggantikan Kakak, kamu. Dia mau mengantar Istrinya chek up kandungan," terang Papa Khanza. "Kamu di jemput Arif, 'kan?" Papa Khanza mencium pucuk kepala anak gadisnya.


"Iya, Pa," balas Khanza singkat.


"Ya sudah, Papa berangkat dulu."


"Hati-hati, Mas!" seru Mama Vina.


Papa Khanza_mengangguk dan tersenyum kepada dua wanita kesayangannya itu. Melambaikan tangan, Papa Khanza melajukan mobilnya keluar halaman.

__ADS_1


Tak beselang lama, pemuda dengan celana abu-abu dan jaket bomber hitam memarkirkan mobilnya di luar pagar. Wajah sendu lelaki itu kini berubah menjadi senyum hangat ketika melihat sang kekasih mengobrol dengan Mamanya.


"Pagi, Tante," sapa Arif menyalami Mama Vina.


"Eh, Nak, Arif." balasnya.


"Pagi, Za?" sapa Arif memberikan senyumnya pada Khanza. Dia berdiri di antara Khanza dan Mamanya itu.


"Wah, ganteng banget, anak siapa ini," puji mama Vina.


Arif teringat kembali sang bunda, wajahnya kembali menunduk murung. Mama Khanza yang menyadari itu, merasa kalau dia ada salah berbicara.


"Maafin, Tante. Pasti Tante salah ngomong tadi," ucap Mama Vina mengusap lembut bahu Arif di sampingnya.


"Tante, nggak salah, kok. Arif hanya kangen Bunda," lirihnya.


"Kan, ada Tante. Anggap aja tante Bunda kamu."


"Iya, Rif. Anggap aja Mama, juga orang tua kamu. Iya 'kan Ma?" imbuh Khanza.


"Tan," ujar Arif ragu.


"Iya, sayang," sahut Mama Vina.


"Boleh ... Arif, pe-peluk Tante?"


"Sini, kamu 'kan juga anak Tante," ujar Mama Vina.


Arif menghambur memeluk Mama dari Khanza itu. Rasa rindu pada Bundanya di tuangkan lewat pelukannya bersama Mama Vina. Sudut matanya sampai mengeluarkan setetes air, apalagi saat Mama Vina mengelus punggung Arif dengan penuh ketulusan rasa sayang. (wajar ya kalau Arif melankolis karena orang tua)


Khanza meneteskan air mata, merasa terharu menatap kekasih yang sedang memeluk Mamanya itu. Walau pun Arif selama ini terlihat biasa saja jauh dari orang tuanya, Khanza yakin selalu ada rindu dari hatinya, hanya saja Arif mencoba menutupinya.


Mama Vina, ikut terharu. Sejak pertama melihat Arif, dia menaruh empati saat kekasih anaknya itu bercerita orang tuanya di luar kota. Dia bangga pada Arif, karena walaupun tanpa pemantauan orang tua, tapi pemuda itu tak pernah berulah macam-macam.

__ADS_1


Arif menarik dirinya sampai pelukan mereka terlepas. Menghapus sudut mata yang memancarkan air.


"Ah, maaf, Tan. Arif jadi melankolis gini," tutur Arif menyunggingkan senyumnya.


"Wajar, Nak. Mulai, sekarang anggap aja, Tante, orang tua kamu."


"Makasih, Tan, sekali lagi," tutur Arif.


Arif menarik nafas dalam dan menghembuskannya, perasaan rindu akan Bunda tercinta sedikit terobati berkat Mama Khanza.


"Kalian kapan berangkat, nanti terlambat, lho," ujar mama Vina.


Khanza melirik arloji yang bertengger di tangannya. Benar saja jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit.


"Kami berangkat, ya, Ma," pamit Khanza menyalami Mamanya.


Arif juga ikut menyalami Mama Vina. "Arif pamit, ya, Tan." Mencium tulus punggung tangan wanita paruh baya itu, Arif memejamkan matanya merasakan usapan lembut di kepalanya.


Arif dan Khanza memasuki mobil bersama, sebelum pergi Arif menatap dalam wajah Mama Vina. Memberikan senyum tipis pada wanita paruh baya itu.


Mobil sudah keluar dari jalanan komplek, berbaur masuk di jalan raya. Hening! hanya itu yang terjadi di dalam mobil. Pagi ini pikiran Arif benar-benar tertuju pada orang tuanya yang jauh di sana.


Khanza mencoba membuka suara mengajak bicara Arif. "Rif, gi-gimana Vera?" tanya Khanza ragu.


Arif menatap sekilas pada Khanza. "Sudah di putusin," jawab Arif enteng kembali pada jalan di depannya.


"Ka-kapan?"


"Kemarin sayang, dia juga udah keluar dari sekolah," tegas Arif.


"Kok, nggak cerita di telpon?"


"Nggak, penting!"

__ADS_1


"Tapi, 'kan, aku mau tau," rengek Khanza.


Arif menghembuskan nafas pasrah, menceritakan tentang pindahnya Vera dan waktu dia memutuskan Vera begitu saja.


__ADS_2