
Mengangkat tangan dan melayangkan pada Arif. Zay bukannya memukul, dia malah memeluk Arif dengan gelak tawa yang pecah dari bibirnya.
"Hahaha, Tegang banget Dek," Ledek Zay menepuk-nepuk bahu Arif yang masih di pelukannya.
Arif terperanjat kaget, mendapati pelukan dari Zay. Pasalnya sangat jelas terlihat kalau Kakak dari Khanza itu sangat marah kepadanya. Apa maksudnya ini? apa tadi dia hanya bercanda? Mengerjap beberapa kali, Arif coba mengumpulkan kembali nyawa yang sempat melayang karena ulah lelaki di depannya.
"Ma-maksud Kak Zay?"
Zay mengurai pelukan, memamerkan deret gigi putih. "Kamu pikir saya akan beneran mukul kamu? emang saya laki-laki apa'an, mukul anak kecil," ujarnya. "Sudah lanjutin makan kamu! Kakak maafin kamu, kok."
Alis Arif mengkerut dalam dia masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Kakak dari Khanza itu. "Ta-tapi.... Tadi Itu?" tanyanya ragu.
"Kakak ngerti, kok. Kakak sudah maafin kamu, lagi pula si Khanza mau-mau aja jadi selingkuhan kamu, ya..., terima sendiri lah akibatnya," ujarnya. " Tapi, kita selidiki kasus ini, Rif. Orang kaya mereka nggak bisa di biarin, bahaya buat yang lain. Ini aja untung nggak kenapa-kenapa 'kan?" tekan Zay pada Arif.
"Tapi, Khanza belum sadar, Kak." Wajah Arif berubah sendu mengingat Khanza yang masih tak sadarkan diri. "Aku bakalan usut tuntas kasus ini, aku janji, demi Khanza!" tegasnya.
"Besok Kakak akan temui kepala sekolah kalian," desis Zay menghembuskan nafas kasar, dia geram atas apa yang terjadi pada adiknya. Melirik jam yang sudah menunjukkan pukul lima sore dia mengajak Arif kembali ke ruangan Khanza. "Kita kembali ke ruangan Khanza, yuk!"
Mereka kembali ke rungan rawat inap Khanza. Arif bernafas lega, Zay tak menyalahkannya atas kejadian ini. Meskipun begitu, dia masih tidak tenang kalau orang yang di sayangi masih belum sadar dari tidur panjangnya. Mengenai Vera besok dia akan mengambil tindakan bersama Kakak dari Khanza.
Berjalan menyusuri lorong rumah sakit, Zay dan Arif sampai di depan ruangan Khanza. Mereka bertemu dengan Faizal yang juga berniat masuk ke dalam.
Buk!
Satu tamparan mendarat di wajah Arif. Faizal langsung memukul Arif tanpa aba-aba.
"Nyesal gue biarin Khanza sama lo!" cebik Faizal. Melayangkan tangannya sekali lagi, tapi Zay mencegat tangan Faizal
"Apa-apa'an, sih! Ini rumah sakit!" hardik Zay.
"Masalah itu jangan di selesaikan dengan kekerasan, pikirin baik-baik, kalian itu masih muda!"
Arif memegang sudut bibir yang mengeluarkan darah, menatap Faizal tajam, Arif melengos masuk ke dalam begitu saja. Meninggalkan Faizal dan Zay yang masih berdiri di sana.
"Arif!" gumam Khanza, namun masih bisa di dengar pemuda itu.
"Khanza, kamu sudah sadar?" Arif berjalan cepat menghampiri kekasihnya itu. Memeluk sang pujaan hati dengan erat Arif mencurahkan perasaannya yang sedang campur aduk. Hanya sebentar, karena dia cukup tau diri kalau di tempat ini masih ada keluarga Khanza
"Hei? kamu nggak papa?" tanya Arif lembut membelai pipi Khanza. Menatap sendu, rasa bersalah kembali menyeruak di dada, mengingat dia telah membentak Khanza sampai gadis itu pergi dan hilang dari pandangannya.
Khanza mengangguk, dia masih mengingat samar-samar Arif panik menggendongnya keluar dari gudang itu. Pandangan Khanza tertuju pada sudut bibir, yang masih mengeluarkan darah segar, tangan Khanza terangkat menyentuhnya. Bola mata coklat Arif menembus sampai ke jantung hati Khanza, rasanya dia sangat merindukan tatapan mata itu.
"I-ini kenapa?" mengusap pelan bibir Arif.
Arif meringis merasakan perih di sudut bibirnya.
"Sakit?" tanya Khanza lembut.
__ADS_1
Arif mengangguk, sudut bibir Arif terangkat membentuk senyuman tipis. Bibir Arif terbuka untuk mengucapkan sesuatu tapi terkatup kembali saat pintu ruangan itu terbuka tiba-tiba. Mereka tersentak menjauh dan menarik tangan dari pipi keduanya.
"Ehemm, ini rumah sakit, Dek," sindir Zay, tersenyum jenaka, menatap sepasang kekasih yang malu-malu di depannya.
Faizal menampakan dirinya dari bekang punggung Zay, melayangkan tatapan tak suka pada Arif.
"Kak Zay, Faizal?" sapa Khanza, semburat merah terlihat dari wajah pucat gadis itu.
"Sudah sadar, Dek?" tanya Zay, menghampiri dua orang itu. Khanza hanya mengangguk, melengkungkan bibirnya membentuk senyuman.
"Kalian sudah kembali? eh, ada Nak Faizal juga," tegur Mama Khanza yang baru keluar dari kamar mandi.
"Tante." sapa Faizal menyalami Mama Khanza.
Zay berdiri di samping Arif, sedangkan Faizal berdiri di seberang mereka. Mama Vina masih sibuk dengan aktifitasnya hingga tak menghiraukan ke empat orang itu.
"Za, kamu nggak papa 'kan? apa ada yang sakit? kalau aja aku tadi sekolah pasti ini nggak akan terjadi!" Faizal menatap Arif dia sengaja menyindir lelaki itu.
Zay segera menyela, dia tidak mau kalau ada keributan di tempat itu.
"Kok, bisa kalah, Dek? biasanya juga urusan beginian doang gampang buat kamu," ejek Zay, dia berusaha menetralkan suasana tegang antara Faizal dan Arif. Padahal dia tau dari penjelasan dokter kalau adiknya di beri obat bius, hingga dia tidak bisa memberikan perlawanan.
"Apa'an sih, Kak. Orang mainnya keroyokan!" dengus Khanza.
"Siapa, Za?!" tanya Faizal dan Arif bersamaan.
Khanza dan Zay menatap bergantian dua pemuda itu. Wajah serius mereka membuat Khanza menjawab ragu.
"Ge-geng ce-centil, di ba-bantu Sony!" ujar Khanza takut, bukan takut karna mereka, tapi takut dengan reaksi di keduanya.
Benar saja Faizal mengumpat. "Shit! mereka mau cari gara-gara!" sugut Faizal menghentakkan kaki geram.
Sementara Arif bungkam, tangannya mengepal erat. Matanya penuh kilatan amarah yang siap meledak. Sedari tadi hanya ada dugaan tetang orang di balik kejadian ini, tapi dengan Khanza yang memberitahukan langsung ini membuat emosi Arif tersulut. Tanpa sepatah kata, Arif berbalik dan keluar dari ruangan itu. Khanza dan Zay berkali-kali memanggil Arif agar menghentikan langkahnya. Tapi, pemuda itu tak menghiraukannya.
"Kak Zay, tolong cegat Arif Kak," mohon Khanza.
Zay keluar menyusul Arif, dia seperti dejavu dengan sifat pemuda itu.
***
Tinggal lah Faizal dan Khanza di ruangan itu, Faizal meneliti raut wajah khawatir Khanza.
"Segitu sayangnya kamu sama dia, Za?" decaknya pelan, ada nada tidak suka saat Faizal mengucapkan kalimatnya.
Kening Khanza tertaut dalam, dia meneliti wajah Faizal dengan seksama. Sesaat terdiam Khanza kemudian tergelak keras di tempatnya. Dia merasa lucu saja kalau Faizal masih bertanya tentang perasaannya.
"Aku rasa kamu tau jawabannya, Fa." Khanza masih terkekeh menampilkan deret giginya.
__ADS_1
Faizal mentap tawa renyah dari sahabatnya, meskipun ada rasa sesak mengetahui Khanza terlalu mencintai Arif. Tapi melihat tawa gadis itu, dia tak kuasa tidak menarik sudut bibirnya.
"Iya deh, iya.... Nasib aku yang jomblo." celetuk Faizal. "Eh, tunggu dulu, Za. emang kamu sudah pacaran sama Arif?" selidiknya.
Terkekeh sekali lagi, Khanza mengangguk pasti sebagai jawaban atas pertanyaan sahabatnya. Semburat merah di pipinya semakin meyakinkan Faizal kalau Khanza sangat bahagia.
"Ah, mana PJ nih?" goda Faizal berusaha tertawa. Entah mengapa ada rasa bahgia sekaligus luka mendengar kabar baik dari bibir sahabatnya.
"Iss..., apa'an, sih, Fa!"
Faizal terus meledek Khanza, sampai tawa mereka memenuhi ruangan itu.
Ceklek!
Faizal dan Khanza menengok bersamaan ke arah pintu yang di buka. Zay kembali membawa Arif dengan wajah di tekuk, mereka kembali mendekat ke ranjang pembaringan Khanza. Faizal meminta maaf kepada Arif karna telah memukulnya, mengajak lelaki itu bercanda biar moodnya kembali ceria. Gelak tawa dari empat orang di ruangan itu menandakan keadaan sudah baik-baik saja. Hingga senja tiba Arif pamit bersama Faizal.
"Aku pulang dulu. Jangan lupa makan obat, banyakin istirahat. Besok aku kesini lagi," pamit Arif pada gadis pujaan hatinya.
"Hati-hati! jangan ngebut." Khanza menarik tangan Arif untuk mendekat kepadanya. Arif yang mengerti maksud Khanza mendekatkan kepalanya.
"Jangan suka marah-marah," bisik Khanza.
Arif menaikkan sudut bibirnya, mengedipkan sebelah mata pada Khanza.
"Kalian bikin yang jombo ngiri aja," celetuk Zay, yang mendapat umpatan dari Faizal.
Arif dan Faizal pamit sekali lagi pada semuanya, menyalami Zay dan Mama Khanza yang sudah selesai dari aktifitas di kamar mandinya.
Arif pulang dengan membawa motor Randra, dan di iringi Faizal yang juga membawa motornya.
.
.
.
.
.
✍️Ketika tangan tak bisa berjabat dan kaki tak bisa melangkah mendekat. Hanya hati yang mampu berbisik meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah terbesit. Lewat kumpulan abzad ini saya ingin merangkai kata untuk mewakilkan saya sekeluarga.
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
MINAL AIDIN WAL-FAIZIN
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
__ADS_1
Amel sekeluarga🙏🙏🙏