
Dea memasuki rumahnya dengan segenap rasa bahagia. Senyum mengembang terukir indah dari bibirnya, semburat merah tercetak jelas dari kedua pipi Dea. Ciuman pertamanya sudah terjadi dengan lelaki yang selama ini di kaguminya. Ini benar-benar seperti mimpi bagi gadis cempreng itu. Setiap hari bertengkar dengan Randra membuatnya masih tak percaya jika sekarang mereka bisa sedekat itu. Bahkan dia sejenak mampu melupakan Khanza yang masih terbaring lemah tak berdaya.
"Ehem! tumben di antar cowo, De? pacarnya ya?" goda Bunda Ara pada anak gadisnya.
"Eh, Bunda, ngagetin aja. Itu tadi, temen kok, Bun," sanggah Dea malu-malu.
"Teman apa teman, nih?" ledek Bunda Ara.
"Temen, Bund. Sudah, ah! Dea mau mandi dulu sudah lengket."
"Oh, iya, De. Gimana teman kamu? sudah siuman?"
Dea menunduk lesu, bayangan Khanza yang terbaring lemah kembali muncul di benaknya. "Do'a 'kan ya Bun, semoga Khanza cepat siuman," lirihnya lesu. "Dea ke kamar dulu," pamitnya setelah mendapatkan anggukan dari Bundanya. Dea menapaki tangga untuk sampai ke kamarnya, membuka pintu minimalis itu, Dea melemparkan tubuhkan ke atas kasur. Air mata perlahan luruh membasahi pipi, dia tidak menyangka teman cupunya mendapat bullyan sampai harus di rawat di rumah sakit.
Maafkan aku, Za. Aku terlambat menolongmu, semoga mereka mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya.
Dea bangkit, memasuki kamar mandi untuk merendam dirinya dengan air hangat sekaligus menenangkan isi pikirannya yang begitu kacau hari ini. Meskipun ada secercah bahagia tapi rasanya tidak etis jika dia bisa bahagia di saat sahabatnya terluka.
***
Melirik jam hitam yang melingkar di tangannya Arif semakin di landa kecemasan. Sudah pukul enam sore tapi Khanza belum juga membuka matanya. Rasa bersalah serta Khawatir bercampur menjadi satu, semenit pun rasanya Arif enggan untuk beranjak dari tempat itu. Papa Khanza dan Zihan sudah kembali ke rumah untuk mengambil barang yang mereka perlukan.
"Rif, bisa kita bicara sebentar?" Zay menepuk pundak anak lelaki yang sedang duduk di samping ranjang adiknya.
Arif menatap Zay sebentar lalu beralih lagi pada Khanza.
"Biar Tante yang menjaganya di sini." Mama Vina mengerti dengan ke khawatiran Arif pada anaknya.
Arif beranjak berdiri mengikuti Zay dari belakang. Mulutnya terbungkam melihat kekasihnya seperti itu. Rasanya ada bagian dari dirinya yang ikut meraskan sakit dari Khanza.
__ADS_1
Zay membawa Arif ke kantin rumah sakit, dia tahu kalau sejak tadi Arif tidak makan dan minum walau hanya seteguk. Duduk di salah satu meja, Zay memesan dua porsi makanan dan minuman untuk mereka.
"Di makan dulu, Rif."
Arif mengangguk, mengambil sendok dan garpu. Dia memasukkan makanan ke mulutnya, cacing di perutnya memang sejak tadi berdemo meminta di isi.
"Rif, sebenarnya Khanza mempunyai masalah apa di sekolah, sampai dia bisa di bully seperti ini?"
Petanyaan Zay cukup menohok jantung Arif, rasanya dia ingin menenggelamkan dirinya saat ini. Tapi bagaimana pun Zay harus tahu masalah sebenarnya, cepat atau lambat Arif harus menjelaskan pada Kakak laki-laki Khanza. Meletakkan alat makannya Arif meneguk jus jeruk untuk membasuh tenggorokannya, sebelum membuka suara Arif menarik nafas panjang untuk mengisi paru-parunya.
"Aku tak tau harus memulai cerita dari mana Kak Zay. Yang jelas setelah aku mengatakan semuanya, aku harap Kak Zay tidak marah apalagi membenciku."
"Ucapanmu membuat saya ingin memukulmu saat ini juga, Rif." Zay terkekeh, dari awal dia sudah menduga kalau ini bersangkutan dengan cinta. "Ceritalah!" perintahnya.
Arif memejamkan matanya, sekali lagi menghirup udara dalam-dalam dan menghebuskannya secara kasar. Apa pun yang terjadi dia sudah siap menerima ke marahan Zay.
"Sebenarnya jauh sebelum aku berhubungan dengan Khanza, aku sudah mempunyai pacar di sekolah, Kak. Dia cewek Most wanted yang cukup berkuasa." Arif melirik Kakak dari kekasihnya itu, Zay menganggukkan kepalanya sebagai isyarat agar Arif melanjutkan cerita.
"Kenapa kamu tidak mutusin dia aja sebelum sama Khanza?" tanya Randra penuh selidik.
"Tadinya aku berniat memutuskan Vera, tapi Khanza melarangku. Katanya tunggu waktu yang tepat, dia nggak mau ada permusuhan di antara kami."
"Ckckck, anak itu selalu saja," Zay berdecak sebal, menggelengkan kepala dengan kelakuan Adik perempuannya itu.
"Maafkan Arif, Kak. Aku sudah salah dalam hal ini, aku juga sudah lalai Menjaga Khanza," sesalnya tertunduk lesu.
"Kalau saya sekarang marah dan minta kamu menjauhi Khanza, bagaimana?"
Arif menatap wajah serius Zay sesaat, dia kembali menunduk memejamkan mata dan meyakinkan dirinya kalau semua ini memang pantas di dapat atas kesalahannya.
__ADS_1
"Silahkan Kak Zay mau marah atau menghukum aku, memukul pun akan kuterima, Kak. Tapi untuk menjauhi Khanza mohon maaf, Kak. Aku tidak bisa," tegas Arif.
"Kalau gitu, mau saya pukul dimana?" Zay menatap tajam pemuda di depannya, membuat nyali Arif menciut.
Mencoba menyakinkan dirinya sekali lagi, Arif berdiri menghampiri Zay dan berdiri di dekat Kakak dari kekasihnya itu.
"Silahkan Kak Zay mau pukul dimana saja, aku siap!"
Zay tertegun menatap pemuda pemberani di depannya. Menatap Arif dari atas sampai bawah, Zay tersenyum sinis.
"Kamu pikir saya bisa memukul kamu di sini? yang ada saya bakalan di keroyok masa," ucap Zay mengedarkan penglihatannya.
Arif mengangkat kepalanya, menatap pada lelaki yang sudah di anggap seperti Kakaknya itu. Sesaat mata mereka bertemu, tatapan laser yang di layangkan Zay lebih mendominasi, membuat Arif menunduk dan menelan ludahnya kembali.
"Kita cari tempat sepi, biar Kakak bisa melakukan sepuasnya." Arif sangat yakin dengan keputusan yang di ambilnya.
"Baik lah! kamu yang minta, jadi jangan salahkan saya," sahut Zay enteng. "Tapi habiskan dulu makanan kamu, biar punya banyak tenaga."
Zay kembali pada makanannya. Belum sempat menyuap kembali, Zay di kagetkan dengan tantangan pemuda itu.
"Aku sudah kenyang, Kak. Kenapa tidak sekarang saja kita berangkatnya," tantang Arif.
Berani juga ini anak nantangin.
Zay meletakkan sendoknya kembali, menggeram menahan emosi. Dia berdiri menatap meremehkan pada Arif.
"Sepertinya kamu sangat tidak sabaran. Baiklah, saya lakukan di sini saja." Zay mengangkat tanganya, mengayunkan pada pemuda di hadapannya.
Arif menghentikan nafasnya, memejamkan mata bersiap menerima pukulan dari Kakak lelaki Khanza, apa pun itu akan dia terima asalkan jangan di minta menjauhi Khanza.
__ADS_1
Bayangan Khanza melintas di benaknya. Aku pantas mendapatkannya, Maafkan aku Khanza, Maafkan aku.