
Di lapangan persegi panjang di sekolah SMA Bhakti Bangsa. Arif, Randra dan Faizal bermain basket bersama, bukan permainan antara tim. Namun, hanya lebih melatih kemampuan mereka. Arif, Randra dan Faizal berlatih menggiring bola dengan menggunakan postur tubuh yang benar. Memaksimalkan gerakan, bagaimana harus merasakan bola dan merespon pergerakan dari bola di tangan mereka.
Arif mendrible bola di lapangan dengan pola Zig-zag hingga mendekati ring. Melompat membawa bola di tangan dan melemparkannya. Teriakan mengiringi jatuhnya bola kedalam ring basket. Para kaum hawa di buat klepek-klepek dengan pesona tiga lelaki di lapangan itu.
"Hai, Rif?" sapa Adit masuk ke lapangan. Dia mencoba berbaur dengan tiga idola sekolah itu.
"Hai, Dit," balas Arif santai. Sedangkan Faizal dan Randra sibuk dengan berlatih berdua.
"Maaf ya, Rif. Masalah kunci gudang kemarin, gue nggak ta_"
"Sudah, nggak usah di bahas lagi," potong Arif. "Yo kita main basket bareng!" ajaknya pada Adit.
Khanza keluar dari ruangan Kepala Sekolah, matanya langsung menangkap para lelaki yang sedang asik bermain basket di lapangan. Khanza menggelengkan kepala melihat mereka, pasalnya mereka bermain dengan memakai seragam sekolah. Merotasikan pandangan ke arah bangku panjang di depan kelas mereka, yang menghadap langsung ke lapangan. Dea_gadis cempreng sekaligus bar-bar, sedang duduk di sana sendiri, menatap pada sahabat dari Arif. Khanza berjalan menghampiri Dea, melempar pant*tnya duduk di samping sahabatnya.
"Jangan di lihatin terus," ejek Khanza. Tersenyum geli melihat Dea yang tak henti memperhatikan pergerakan Randra.
"Eh, Za. Gimana tadi? kenapa di panggil Kepala Sekolah?" tanya Dea. Dia tak menanggapi ejekan dari Khanza.
"Nggak papa, cuma masalah kemarin aja. Sudah selesai juga 'kan," paparnya.
Sementara di lapangan Arif tersenyum menatap ke arah Khanza dan Dea yang juga menatap ke arah lapangan. Arif melambaikan tangannya membuat para kaum hawa berteriak kegirangan. Arif memutar mata jengah saat wanita-wanita di pinggir lapangan meneriaki namanya. Baginya saat ini hanya ada si gadis cupu yang mengisi hari-hari di putih abu-abu.
"Ganteng banget, sih!" pekik wanita di dekat lapangan.
Kebiasaan bagi Randra ketika para wanita berteriak, dia menebarkan aura ke tampanannya. Memberikan kecupan di tangan dan melempar ke arah wanita Randra tersenyum manis. Siapa yang tidak baper ketika seorang playboy sekolah itu mengepakkan sayap ketampanannya. Bahkan seorang gadis bar-bar saja bisa cemburu dengan kedekatan Randra dengan wanita-wanita di sekitarnya.
"Selalu tebar pesona!" gerutu Dea. Kesal, cemburu, marah jadi satu. Apalagi saat Randra tak sekalipun melihatnya menatap pada dia.
"Hahaha, cemburu banget De?" tawa Khanza pecah mendengar kekesalan sahabatnya itu.
"Kamu juga cemburu 'kan?" balas Dea.
"Nggak tu biasa aja," sahut Khanza santai.
__ADS_1
"Masa?" goda Dea menyenggol bahu Khanza. "Yang kemarin nelpon si_"
Ucapan Dea terpotong dengan kedatangan Arif, Randra, Faizal dan Adit.
"Asik banget ngobrolnya, yang?" celetuk Arif langsung duduk di sebelah Khanza. Bahkan dia menyenderkan kepalanya di bahu Khanza.
"Cape ya?" tanya Khanza lembut, menyeka keringat di dahi Arif.
Arif tersenyum lembut pada sang kekasih. Perlakuan Khanza mampu menghangatkan hatinya.
"Iya, Nih. Bahas apa'an, sih?" timpal Randra duduk di samping Dea.
"Nasib kita jomblo, Dit!" Faizal menepuk bahu Adit di sampingnya.
"Lo, aja kali yang jomblo, gue udah punya kali," protes Adit.
"Ish, ngenes banget dong, gue," desis Faizal yang mendapat gelak tawa dari semua teman-temannya.
"Kamu, sih, Za, duluan pacaran sama Arif. Padahalkan aku mau nembak kamu," celetuk Faizal dengan tawanya.
Arif langsung terdiam, wajahnya seketika berubah dingin. Rasa cemburu, marah, emosi berkumpul menjadi satu di dalam di dada. Namun, janji untuk berubah pada Khanza membuat wajahnya merah menahan Amarah.
Khanza menyadari akan perubahan Arif, hanya senyuman yang bisa di berikannya pada kekasihnya itu. Menarik tangan Arif,
Khanza menggenggam dan membawanya ke pangkuannya. Setidaknya hal itu bisa meredakan amarah yang menghampiri lelaki itu.
"Awas, Fa! di amuk baru tau rasa, lo," ledek Dea.
"Iya, De. Belum ngerasain babak belur kaya, Sony dia," timpal Randra terkekeh senang.
"Ma-maksud lo, apa, Rand?" tanya Adit yang tak tahu menahu tentang itu.
"Kemarin si Sony habis di gebukin, Arif," jawab Faizal.
__ADS_1
"Pantas, tadi wajah Sony babak belur," ucap Dea.
"Faizal, Randra, jadi kalian tau?" tanya Khanza penuh selidik.
Faizal dan Randra saling melempar tatapan.
"Iya, Za. Mereka datang buat ingetin aku," sahut Arif santai. "Nggak usah bahas mereka lagi! Kita ke kantin aja yuk," ajak Arif.
Melupakan semua masalah yang berlalu mereka ingin mengukir cerita mereka dengan penuh canda dan tawa. Memang benar kata orang di luar sana kalau masa SMA adalah masa dimana penuh drama, penuh raalita dan masa yang penuh cerita cinta. Mereka hanya ingin menikmati waktu berharga di masa-masa remaja sebelum di makan usia, mencari sebuah jati diri untuk mengukir sebuah sejarah yang kelak menjadi pelajaran di masa tua nanti. Arif, Khanza, Randra, Dea, Faizal dan Adit hanya segelintir remaja yang menikmati saat-saat muda mereka. Masih banyak remaja di luar sana yang mempunyai cerita yang di kemas dalam sudut pandang mereka masing-masing.
***
Enam Remaja itu kini berada di kantin. Duduk bersama dalam satu meja dengan gelak tawa dan canda. Arif yang terlalu posesif dengan Khanza selalu menjadi sasaran empuk dari Faizal dan Randra. Mereka berulang kali menggoda Khanza, membuat Arif selalu cemburu meskipun tahu teman-temannya hanya menggodanya.
"Lo kapan jadian sama Dea, Rand?" tanya Arif menyerang balik Randra.
"Iya kapan, lo jadian Rand?" Khanza mengulang pertanyaan Arif.
"Emang mereka belum pacaran?" sela Adit dengan kebingungannya.
"Kalau lama, nanti gue serobot bau tau rasa lo, Rand!" celetuk Faizal yang langsung mendapat timpukan tisu gulung.
"Sialan lo, jomblo!" umpat Randra.
Dea tak bisa berkata apa-apa, hanya wajah merah dengan degup jantung berdebar menahan rasa. Iya Rand, kapan lo nembak gue? Hanya bisa bertanya lewat hati. Dea pun sebenarnya menunggu saat-saat Randra mengungkapkan perasaan cinta kepadanya.
"Awas nyesal lo, Rand, kalau lama-lama," gertak Arif.
"Ngomong apa'an sih kalian," sangkal Randra.
"Jangan menghindar, deh, Rand," sahut Adit serius.
Namun, bel masuk berbunyi hingga menghentikan pembicaraan para remaja itu. Setelah membayar semua makanan Arif mengajak teman-temannya untuk kembali ke kelas.
__ADS_1