
Arif kesal pada Khanza yang malah memintanya mengantar Vera. Kalau saja bukan karena gadis itu, mungkin sekarang dia sudah memutuskan Vera. Sekarang dia tidak memikirkan reputasinya lagi, melainkan mementingkan perasaan gadis yang di cintainya. Jika saja bukan karena keselamatan Khanza, Arif tidak akan setuju melanjutkan semuanya. Apalagi sekarang Vera semakin terang-terangan menggodanya.
"Rif, Kok kamu sekarang berubah sama aku? apa ada yang lain di hati kamu?"
Pertanyaan Vera malah membuat Arif tertawa, dia tiba-tiba teringat kejadian Vera berdua dengan lelaki di cafe waktu itu.
"Aku harap kamu nggak lupa kejadian di cafe." Arif tak pernah menatap Vera sepanjang perjalanannya. Walaupun Vera bersandar di bahunya, Arif hanya mengabaikan wanita itu.
"Dia bukan siapa-siapaku, Rif. dia cuma teman nggak lebih."
"Sudah sampai, silahkan masuk ke rumahmu," Arif bahkan tak merespon penjelasan dari Vera.
Vera membuka pintu mobil Arif dengan kesal, sifat dingin Arif kepadanya membuatnya yakin kalau Arif sekarang sedang dekat dengan Khanza.
"Hubungan kita di sekolah hanya sebatas popularitas, jadi siapa pun laki-laki bersamamu dan apa pun yang kamu lakukan aku nggak perduli," tegas Arif pada Vera. Walaupun sekarang Arif tidak memutuskan Vera, tapi dia seolah membentengi dirinya dari Vera.
Vera membanting pintu mobil Arif, menghentakkan kaki masuk kedalam rumahnya. Dia begitu kesal dengan Arif.
"Aargghh!" Masuk kedalam kamar, Vera menghamburkan benda yang ada di meja riasnya.
Dia pikir, dia siapa? berani- beraninya ngomong gitu sama aku. Walau pun cuma popularitas, tapi aku nggak terima aku di buat seperti ini. Lihat aja besok!
Mengambil HP-nya, Vera menelpon teman-temannya dan merancakan sesuatu buat Khanza, karena Vera yakin yang membuat Arif seperti itu adalah Khanza.
***
Arif malajukan mobilnya ke rumah Khanza, dia begitu kesal dengan gadis itu. Dia ingin memberi pelajaran padanya. Arif memasuki pelataran rumah Khanza, mengetuk pelan pintu minimalis itu.
Khanza yang kebetulan ingin ke dapur mengambil minum, mendengar ketukan pintu dia langsung membukanya. Dia tersenyum menatap Arif yang menampakkan muka datarnya. Khanza sudah menduga kalau laki-laki ini akan datang kerumahnya.
"Hei? gimana nganterin pacarnya? sukses nggak?" ledek Khanza semakin tertawa melihat muka masam Arif.
Arif menangkup pipi Khanza gemas, dia mendekatkan wajahnya pada gadis yang sudah menertawakannya itu.
"Ehem.... Pacaran jangan depan pintu," tegur Zay dari belakang Khanza.
Arif dan Khanza kembali berdiri tegak, menggaruk kepala mereka yang tidak gatal. Muka keduanya sudah seperti udang rebus.
"Masuk, Rif! Za, bikinin kopi Kakak sama Arif!" Zay mengajak Arif masuk, dan duduk di ruang tamu.
Zihan dan Khanza keruang tamu membawakan dua kopi dan cemilan. Zihan duduk di samping suaminya itu, sementara Khanza duduk di kursi bersebelahan dengan Arif.
"Kalian sudah pacaran?" tanya Zay dingin. Dia meletakkan kopi yang baru di minumnya, tatapan mengintimidasi di layangkan pada dua remaja di depannya.
Arif tersedak kopi yang sesapnya, sementara Khanza menegang mendengar pentayaan Kakaknya itu. Zihan mengulum senyum melihat Adiknya yang tegang dan salah tingkah.
__ADS_1
"I-iya Kak Zay. Maaf nggak izin dulu sama Kak Zay." Arif menatap Khanza yang semakin berkucuran keringat.
"Pppffttt...." Zihan dan Zay sudah tidak bisa menahan tawanya.
"Kakak izi'in kalian pacaran, tapi harus dalam batas wajar. Terutama kamu, Rif. Jaga Khanza yang benar!" tegas Zay.
Khanza dan Arif melempar pandangan mereka, Khanza tidak menyangka kalau Kakaknya itu dengan mudah memberikan izin pada Arif. Padahal dia selalu di kekang keras bergaul dengan lelaki yang baru di kenal selama ini. Teman lelakinya hanya beberapa dan yang di percaya Kakaknya juga hanya Faizal. Entah kenapa Zay begitu menaruh kepercayaan pada Arif yang baru di kenalnya itu, bahkan rasa percayanya melebihi pada Faizal teman kecil Khanza.
"Te-terima kasih, Kak. Aku akan jaga kepercayaan Kak Zay," ucap Arif tersenyum pasti.
Zay tersenyum menatap Arif dan Khanza, menyesap kopi terakhirnya. Dia mengajak istrinya masuk kedalam, meninggalkan pasangan muda yang baru memulai kisah cinta mereka. Zay dan Zihan begitu mengerti perasaan anak muda di usia mereka. Bagi Zay, Arif sosok lelaki yang bertanggung jawab. Dia selalu izin langsung pada Zay dan keluarganya jika mengajak Khanza keluar. Dari sana dia bisa menilai kalau Arif lelaki baik-baik yang bisa dia percaya. Zay juga tahu Khanza sosok perempuan yang bisa menjaga dirinya dengan baik.
Sepeninggal Zay dan Zihan, Khanza beralih tempat duduk di samping Arif. Dia tertawa bahagia karena sudah mendapat izin dari Kakaknya itu.
"Gimana rayu Kak Zay, sih? Kok, bisa, main setuju aja?" tanya Khanza.
"Adiknya aja bisa di rayu, apa lagi Kakaknya."
"Apa'an sih. Tapi batas wajar, Rif," sindir Khanza.
"Iya, wajar kalau nggak khilaf." Arif tertawa melihat muka Khanza yang bersemu merah.
"Kamu, sering khilafnya," celetuk Khanza menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Arif menajamkan matanya, ucapan Khanza bisa saja di dengar orang lain di sana. Khanza tertawa melihat muka panik Arif yang menatap sekelilingnya.
"Boleh," jawabnya semangat.
Mereka berdua bermain game di ruang keluarga. Khanza duduk bersandar di bawah kursi yang Arif duduki, sedangkan Arif melipat kakinya di belakang Khanza. Sepuluh menit bermain mereka masih sportif tapi senyum jahil terpancar dari bibir Arif. Dia mengganggu Khanza beberapa kali membuat gadis itu merengek manja.
"Kok, curang, sih." Khanza menggigit tangan Arif yang menutupi matanya.
"Aww! Galak banget, sih." Arif mengibaskan tangannya. Bekas gigitan Khanza membekas jelas di sana, Arif kembali mencubit pipi chubby gadis itu dengan gemas.
"Nah, kalah 'kan. Rese banget, sih," gerutu Khanza. Dia berbalik mengambil stick game milik Arif, kembali duduk melipat kaki sedikit lebih maju dari kursi di belakangnya.
Arif menatap kesal pada Khanza. "Balikin, Za," pintanya.
Khanza tak bergeming, dia sibuk memainkan stick yang di ambilnya dari Arif. Lelaki itu menghembuskan kasar nafasnya, beranjak turun kebawah merebut kembali sticknya. Tepat di belakang Khanza, Arif mengkukung tubuh mungil itu. Mereka masih tidak menyadari kalau posisi mereka begitu dekat satu sama lain.
"Yes, victory!" Arif mengecup singkat pipi gadis dalam pelukannya.
Khanza tergelak, menengadahkan wajahnya menatap lelaki yang sedang mengukung tubuhnya. Arif juga tidak bergeming, dia baru menyadari posisi mereka saat ini sangat dekat, bahkan detak jantung keduanya beradu membuat irama nada cinta. Waktu serasa berhenti berputar, mengunci pada tatapan masing-masing, Arif perlahan mendekatkan wajahnya. Stick game di tangan perlahan di letakkannya di lantai. Khanza memejamkan matanya, deru nafas menerpa wajah keduanya. Sedikit lagi penyatuan bibir itu bertemu.
Ceklek!
__ADS_1
Suara pintu kamar dari atas terbuka, Arif yang menyadari itu langsung menarik diri dan duduk kembali ke atas kursi. Khanza membuka mata saat tubuh hangat yang memeluknya menjauh. Wajah Khanza merah merona, apalagi mendapati Arif mengatur nafasnya yang memburu. Khanza beralih duduk di samping lelaki itu, dia tertawa saat menyadari wajah gugup Arif.
"Kenapa? takut ketahuan Kak Zay?" tanya Khanza.
Arif mengangguk perlahan, sedetik berikutnya mereka tertawa lepas bersama menyadari kelakuan mereka. Arif mengacak pelan rambut Khanza, melihat wajah gadis itu dia teringat kembali apa yang membawanya kerumah ini.
"Za, kamu tau nggak? tadinya aku kesini mau menghukum kamu karena kamu sudah memaksaku mengantarkan, Vera."
Wajah Arif berubah serius. Arif menceritakan kekesalannya saat mengantar pulang Vera yang terus menempel kepadanya.
Mendengar kekesalan Arif. Khanza kembali tertawa, membuat Arif gemas sendiri pada Khanza. Dia menggelitiki Khanza tanpa ampun sebagai hukuman karena sudah memebuatnya kesal hari ini.
"Ampun.... Ampun!" teriakan Khanza menggema di ruangan itu. Arif menutup mulut Khanza dengan tangannya.
"Jangan teriak, di kira aku apa'in lagi."
"Mmmpphh." Khanza mencoba melepas tangan Arif.
Arif melepas tangannya pelan, saat di rasa Khanza sudah tenang. Menatap mata indah wanita di hadapannya. Arif menuntun tangannya mengusap pelan pipi chubby Khanza. "Aku sayang kamu, Za. Aku serius berhubungan sama kamu." ucapnya lembut.
Khanza menatap sendu wajah lelaki di hadapannya, dia terbawa perlakuan hangat dari Arif. Sentuhan yang di berikan lelaki itu begitu nyaman bagi dirinya.
"Aku juga sayang kamu, Rif. Kita sama-sama menjaga hubungan ini ya?" Khanza terbawa suasana romantis yang tercipta, merebahkan kepalanya di bahu Arif. Tenang dan damai saat berada di samping lelaki itu. Dia bahkan lupa kalau masih ada masalah yang akan menghadang mereka jika Vera mengetahui semuanya.
Arif menggenggam tangan Khanza, mengecup berkali-kali tangan wanita yang begitu di sayanginya itu.
"Za, kamu mau nggak penuhi permintaan aku?"
Khanza bangun dari senderannya menatap pada manik mata coklat lelaki itu.
"Apa kamu mau merubah penampilanmu di sekolah?" tanya Arif.
"Apa kamu malu, punya pacar cupu kaya aku?" Mata Khanza memerah, entah kenapa dia merasa tersinggung saat Arif memintanya merubah penampilannya.
"Bukan gitu, sayang. Aku cuma nggak mau orang lain memandang rendah kamu lagi di sekolah."
"Boh_"
"Za, maaf kalau aku menyinggung perasaan kamu, tapi aku cuma nggak kuat kalau ada orang lain memandang rendah kamu, Za. mungkin dulu aku memang sering menghina kamu. Tapi saat mengatakan itu, aku juga sakit, Za. Apalagi sekarang, aku nggak akan terima kalau ada orang lain yang menghina kamu."
Khanza menarik nafas panjangnya, memejamkan mata, mencoba mencerna maksud lelaki itu.
Khanza mengangguk pelan pada Arif. " Aku akan coba, tapi pelan-pelan, ya."
Arif memeluk perempuan di hadapannya. "Kamu selalu mengerti aku, Za. Jangan paksa berubah total, pelan-pelan saja ya."
__ADS_1
Khanza menarik dirinya dari pelukan Arif, sekali lagi di mengangguk mengiyakan permintaan lelaki itu. Entah kenapa dia tidak bisa menolak permintaan Arif.