
Terik panas matahari beradu dengan panasnya gelora cinta sepasang anak remaja. Masih merajut cinta dengan buaian kasih asmara, Arif dan Khanza begitu romantis saat ini. Duduk berdua di ayunan rotan, tangan Arif seakan tak mau lepas melingkar dari perut rata sang kekasih.
Khanza sudah bisa memainkan gitar, bersenadung berdua menyanyikan lagu-lagu romantis yang mereka suka. Gadis itu, sama sekali tidak risih dengan ke jahilan tangan sang kekasih, malah dia berkali-kali sengaja memancing agar Arif terus memanjakannya saat ini.
"Eh, Yang. Kamu tau nggak si Gavriel?" Khanza sekuat tenaga menyembunyikan tawanya.
"Kenapa?" Arif sudah mulai memasang mode cemburunya, sengaja mempererat tangan di perut sang kekasih.
"Dia 'kan ganteng banget," puji Khanza dengan binar bahagia di mata. "Sahabatnya juga si Ezra, sama gantengnya ya–"
"Hmm, Za," potong Arif. "Apa kamu? mau buat aku kesekolah buat hajar itu cowok berdua?" tanya Arif dingin, air muka pemuda itu, sudah dapat di pastikan menahan emosi.
"Pffttt ... Hahahaha!" gelak tawa pecah di bibir Khanza. "Hajar dia kamu bisa-bisa berhadapan sama abangnya yang berjambang, itu lho."
"Siapa lagi, Za?"
"Itu cowok se tampan di Mangatoon dan Noveltoon," terang Khanza.
"Bang Juan?" tebak Arif.
"Nah, berarti benar dia ganteng. Kamu saja sampai tau." Khanza terkekeh geli menyelesaikan kalimatnya, apalagi sekarang Arif semakin menariknya untuk berdempet dengannya.
"Itu gampang, tinggal aku panggil Hanz sama Antonio aja," celetuk Arif.
"Ish, mana bisa!" protes Khanza, "Dia 'kan cuma ada di mimpi si Ruby." Khanza menggelengkan kepala menanggapi candaan sang kekasih.
"Bisa lah ... atau nggak aku minta bantuan Kak Baruna sama Rey aja," ucap Arif semakin ngelantur.
"Yang ada mereka yang berantem," tukas Khanza tertawa renyah.
"Nggak lah. Mereka sudah damai tau? lagian ngapain lama-lama rebutin Kak Sheryl kamu yang plin-plan itu." Arif menekan kata 'Kamu' agar sang kekasih tidak ikut-ikutan plin-plan kaya Kakak sepupunya.
Khanza membalik badan menghadap sang kekasih, mengerutkan dahi, dia bertanya serius, "Masa, sih? sudah damai .... Kok, aku nggak tau ya?"
"Ketinggalan info!" Pemuda itu mencubit gemas hidung gadis cupunya. "Kak Abi sama Nicho juga sudah rujuk, yang!" seru Arif.
"What!" pekik Khanza. "Curang banget mereka, nggak ngundang-ngundang aku." Khanza mencebik kesal.
"Mana bisa, mereka 'kan nikahnya di luar negri," ujar Arif sembari menggelengkan kepala.
"Hehehehe!" Khanza tertawa cengengesan.
"Nanti aku ajak kamu hadir ke pertunangan Suri sama Jared aja deh."
__ADS_1
"Yeee!" seru Khanza. "Aku boleh ajak Bastian sama Indah nggak yang?" tanyanya penuh harap.
"Boleh, tapi ada syaratanya." Arif tersenyum dengan liciknya.
"Apa?" selidik Khanza.
Tanpa pikir panjang Arif kembali mendekatkan dirinya pada Khanza, menautkan benda kenyal untuk menyalurkan segala perasaan yang terus bergelora, membuncah di dalam sukma jiwa. Biarkan mereka membuat sweet momen di waktu-waktu terakhir mereka. Biar dunia tahu kalau cinta memang di luar nalar dan logika.
Setelah puas beradu degup jantung, mereka sama-sama menarik diri dengan deru nafas yang memburu. Saling mengunci dengan netra mata bening yang di kuasai nafsu. Arif menarik Khanza ke dalam pelukannya, mendekap erat sang kekasih tercinta.
"Aku sayang kamu, Za. Aku cinta kamu, sampai kapan pun itu. Aku berjanji tidak akan pernah ada yang lain di hati sampai nanti aku mati," ungkap Arif dengan tegas dan penuh keyakinan yang tulus.
"Aku pegang janjimu, Rif. Aku juga akan selalu mencintaimu sampai ujung waktuku," balas Khanza tidak kalah tulusnya.
***
Jam digital menunjukkan pukul 13:15 Wib. Arif dan Khanza sudah berada di perjalanan menuju bandara. Enggan berpisah dan masih ingin menghabiskan waktu bersama, tapi apa daya ketika waktu sudah memaksa mereka untuk segera mengakhiri semuanya. Setelah makan siang di rumah Arif, Khanza merengek minta ikut mengantar sang kekasih ke bandara.
Arif sebenarnya berat mengiyakan, karena takut tidak bisa melihat kesedihan Khanza ketika dia melangkah untuk pergi meninggalkan kekasihnya. Namun, apa daya ketika jurus ngambek ala gadis cupu sudah beraksi. Dia hanya menghela nafas berat seraya pasrah menghadapi tingkah gadis manis itu.
Dengan tangan yang terus menggenggam, Khanza bersandar pada bahu sang kekasih. Di antar sopir pribadi keluarga Arif, mereka menempuh perjalanan 30 menit menuju bandara. Randra, Dea dan Kak Zay sudah menunggu mereka di sana.
Arif memutuskan menelpon Kakak lelaki dari sang kekasih. Dia hanya khawatir jika nanti Khanza sedih ketika dia harus benar-benar pergi. Setidaknya kalau ada Zay, dia bisa sedikit tenang, karena ada yang bisa menenangkan Khanza.
"Kak Zay!" seru Arif langsung menyalami lelaki yang sudah di anggap seperti saudaranya sendiri itu. "Pusing nggak, Kak? dengar mereka berantem terus," canda Arif sembari menunjuk dua pasangan di samping Zay.
"Dari pada, lo, mesra-mesraan mulu," sindir Randra. "Habis di apain lo, Za? pakai di bawa kerumah segala," selidik Randra penuh sindiran.
Semburat merah tercetak jelas di kedua pipi gadis itu. "Apa-apaan sih, Rand! kita cuma beresin barang buat di bawa doang," kilah Khanza, tapi gelagatnya yang gugup dan tersipu malu membuat tiga orang yang di sana menaruh curiga.
"Beresin satu koper doang masa sampai siang, kecuali beresinnya pakai adegan ehemm ...," sindir Dea ikut menggoda.
"Sudah-sudah .... semua sama aja. Kalian pikir Kakak nggak tau, Kakak juga pernah muda kali," celetuk Zay dengan gelak tawa menggelegar.
Arif dan Randra menggaruk tengkuk kepala mereka. Lalu tergelak tertawa mengikuti lelaku tertua di sana, sedangkan Dea dan Khanza hanya bisa tersenyum menahan malu.
Menghentikan tawa mereka saat, pemberitahuan pesawat Arif akan segera berangkat. Zay berdehem mengubah wajahnya serius. Menepuk bahu Arif, dia mengucapkan, "Jaga diri di sana, Kakak cuma bisa mendo'akan semoga bunda kamu cepat sembuh."
"Makasih, Kak," tutur Arif berubah sendu.
"Kita juga akan selalu bantu mendo'akan, Rif," imbuh Dea.
"Maksih, De." Arif beralih menatap Randra. "Rand ... gue titip Khanza di sekolah, ya?" Menatap lembut sang kekasih yang ternyata hanya menunduk. Mencengkram pelan dagu Khanza, Arif mengangkat wajah yang sudah basah dengan air mata. Menghela napas panjang, Arif memejamkan matanya sejenak. Mendaratkan ciuman penuh ketulusan di dahu sang kekasih, pemuda itu mencoba tegar saat ini. "Aku pergi dulu," lirihnya dengan kesedihan tertahan.
__ADS_1
Khanza mengangguk pelan. "H-hati-hati!" Hanya itu yang bisa di ucapkannya, karena air mata semakin menglir deras di pipi.
Arif menyerahkan tangan Khanza yang sejak tadi di genggamnya kepada Zay. "Kak ... aku titip Khanza ya? maaf sudah buat dia menangis," tutur Arif dengan senyuman di paksa.
Zay merangkul bahu sang Adik. Mengangguk pada Arif sambil menepuk-nepuk lengan pemuda itu.
Arif mengelus rambut sang kekasih untuk terakhir kali, tanpa malu dia mengutarakan isi hati di depan semuanya. "Aku cinta kamu, Za."
Setelah mengucap perpisahan untuk terakhir kali, pada keempat orang itu. Dengan langkah berat, dia meninggalkan orang-orang yang di sayanginya. Beberapa langkah, Arif kembali menengok untuk sesaat, sebelum kembali menapakan kaki untuk benar-benar pergi. Buliran air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya keluar tanpa di minta.
.
.
.
.
.
✍️ Terima kasih buat para Author yang selalu menyemangati saya dalam berkarya.
(Cover cinta si cupu dan Reinkarnasi Cinta Ruby sudah di ganti ya😊😊)
-Gavriel dan Ezra dalam novel Fell In Love With My Arogan Fiance.(By. Lina)
-Juan dalam novel Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot.(By. Oot Nasrudin)
-Hanz, Antonio dan Ruby dalam novel Reinkarnasi Cinta Ruby. (By. Diar rochma)
-Baruna, Rey dan Sheryl dalam novel Marriage Order. (By. Viviani)
-Abi dan Nicho dalam novel Mine. (By. Rizky Rahm)
-Suri dan Jared dalam novel Shameless Prince. (By. Quin)
-Indah dan Bastian dalam novel Bastianku. (By. Ratu Fitria)
✍️ Silahkan di baca karya-karya para Author keceh.😊😊😊
__ADS_1