CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-52~Kembali semula


__ADS_3

Ehemmm!!!


Arif dan Khanza terperanjat kaget, memudurkan kepala mereka hingga jarak bibir keduanya mulai terbentang jauh. Jantung yang seakan mau lompat dari tempatnya, takut kalau yang masuk Orang tua Khanza atau Kakak laki-lakinya. Arif dan Khanza menengok bersamaan pada orang yang beridiri di ambang pintu.


"Sepertinya kita masuk tidak tepat waktu, Rand?" Dea terkekeh melihat wajah tegang dari sahabatnya.


Pasalnya Khanza langsung menghembuskan nafas lega saat mendapati Randra dan Dea yang masuk di rungannya.


"Yo'i, De. Jadi nggak sempat nempel tu bibir!" celetuk Randra begitu saja.


Arif melototkan matanya ke arah Randra, hingga membuat lelaki itu mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Namun, Randra tergelak kencang saat melihat tingkah malu-malu Khanza. Pipi Khanza yang memerah membuatnya semakin gencar menggoda pasangan di depannya.


"Udah berapa kali kena sosor, Za?"


Dea memukul lengan lelaki di sampingnya, bukan hanya Khanza yang memerah saat ini. Tapi, juga dirinya. Teringat ciuman panas yang di lakukan Randra kemarin saat mengantarnya. Dea mendekat ke ranjang Khanza, berdiri di samping gadis yang menutup wajahnya dengan bantal, sebab kalimat frontal dari Randra.


"Sialan lo, Rand! lo pikir gue kaya lo apa? yang selalu sosor -sosor cewe sana-sini."


Deg!


Jantung Dea seakan berhenti dari tempatnya, senyum di wajah itu seketika sirna berganti dengan wajah datar yang menunduk dalam. Ada air mata yang merangsek ingin keluar, sebisa mungkin Dea menahannya. Kata yang keluar dari bibir Arif mampu menghujam jantungnya.


Arif menarik bantal yang menutupi muka Khanza, memberikan senyum tipis pada kekasihnya. Dia sama sekali tidak menyadari kalau ada yang sedih karna kata-katanya. Dia malah sibuk menyampirkan rambut yang menjuntai di wajah Khanza.


Randra yang masih berdiri di ambang pintu, menyadari perubahan mimik muka Dea. Dia berjalan mendekat ke samping gadis bar-bar itu.


"Woi, gue sosor cewe pilih-pilih kali! kecuali cewenya gue sayang baru berani gue," elaknya. Randra memberikan kode mata pada Arif, menunjuk Dea si sampingnya.


Arif memang tidak peka, mulutnya malah semakin menjadi. "Berarti semua cewe, lo, sayang dong, Rand?"


Wajah Randra berubah kikuk, dia mengumpat sahabatnya itu dalam hati. Memang Arif nggak peka banget, jadi sahabat.


Khanza yang sejak tadi memperhatikan Dea, sangat tahu kalau Dea sedang cemburu pada Randra. Khanza tau perasaan sahabatnya itu, terlebih Dea pernah bercerita tentang perasaannya sama Randra.

__ADS_1


"Eh, kalian berdua, kok, bisa di sini?" tanya Khanza mengalihkan pembicaraan nyeleneh Arif, Randra.


"Ini.... Dea kangen katanya sama lo, Za," sahut Randra, menepuk bahu Dea pelan.


Dea baru sadar akan tujuannya menjenguk sahabatnya. "Za, aku kangen." Dea memeluk Khanza. "Kamu sudah nggak apa-apa 'kan, Za?" mengurai pelukannya, Dea memegang bahu sahabatnya meneliti wajah Khanza yang masih menyisakan pucat di bibirnya.


"Hari ini udah boleh pulang, kok, De."


Dea berteriak girang dengan suara cemprengnya. Khanza menggelengkan kepalanya, beruntung Dea sudah melupakan kesedihan yang tadi sempat menghampirinya.


Arif melirik arloji hitam di tangannya. jarum pendek berhenti di angka tujuh. Menatap sang kekasih yang asik tertawa bersama sahabatnya.


"Za, aku pamit ya?"


"Gue sama Dea juga, deh," imbuh Randra.


"Yah, sendirian dong." wajah khanza berubah masam, membuat Arif merasa tak rela meninggalkannya.


"Hmm, apa aku bolos aja, ya?"


Arif tersenyum tipis pada Khanza. "Nanti, aku telpon, ya?"


Khanza membalas senyum Arif seraya mengangguk mengiyakan. Ketiga orang itu pun pergi beriringan keluar dari ruangan bernuansa putih itu. Berpapasan dengan Zay dan Mama Khanza, mereka menyalami keduanya seraya pamit pergi dari sana. Arif dan Randra bertukar kunci kendaraan mereka. Arif memakai mobil putih miliknya, sedangkan Randra memakai motor kesayangannya membonceng wanita bar-bar yang sudah berdamai dengan dirinya.


***


Pihak sekolah menepati janjinya, menindak tegas murid-murid yang sudah kelewat batas. Tadinya geng centil dan Sony mau di keluarkan dari sekolah. Namun, atas pertimbangan dari semua pihak guru, mereka hanya di berikan skorsing selama dua minggu kedepan.


Orang tua mereka yang sudah kepalang malu atas perbutan anaknya, memilih memindahkan saja anak mereka dari sekolah itu. Mereka rasanya sudah tidak punya muka berhadapan dengan staf guru di sana. Terutama Ayah Vera, dia tidak habis pikir kenapa anaknya bisa berbuat seperti itu. Mengirim Vera keluar negri adalah keputusan terbaik bagi keluarganya.


Geng centil dan Sony menginjakkan kaki di sekolah untuk yang terakhir kalinya. Sebelum benar-benar pergi dari tempat itu, Mereka berpapasan dengan Arif, Randra, Dea dan Adit.


"Arif?" panggil Vera.

__ADS_1


Arif tak menghiraukan mereka, dia terus melangkah melewati begitu saja.


"Arif, aku mau bicara sebentar," cegah Vera.


Arif menghentikan langkahnya, tanpa berbalik dia mengucapkan kata yang sejak kemarin ingin sekali di ucapakannya.


"Kita PUTUS!!!" Arif melebarkan langkahnya meninggalkan tempat itu.


Vera membelalak sempurna, tubuhnya merosot kebawah. Hampir saja Vera terduduk jika saja tidak di pegangi Tia dan Sofi. Air matanya ikut luruh sebagai tanda sakit yang bergemuruh. Arif menorehkan sembilu di hati Vera. Bukan sakit karena putus dengan Arif, tapi cara lelaki itu mengakhiri segalanya terlalu sulit untuk di terima. Arif memutuskan Vera bahkan tanpa melihat dan menyebut namanya. Teman-temannya menuntun Vera kembali ke mobil. Meninggalkan sekolah SMA Bhakti Bangsa dengan penuh cerita tawa dan luka.


***


Jam dinding menunjukkan angka 11:30 menit. Sudah satu jam Khanza menghabiskan waktu di kamar kesayangannya. Satu jam lalu dia sudah pulang dari rumah sakit, di minta memperbanyak istirahat agar tubuhnya bisa fit kembali. Jadilah sekarang dia terkurung di kamar dengan berteman HPnya.


Khanza bersugut kesal saat tak kunjung mendapat telpon dari Arif. "Kenapa belum telpon, Sih? harusnya sudah jam istirahat 'kan?" ngeselin banget, awas aja nanti aku diamin lagi, baru tau rasa," Khanza menggerutu dengan layar telpon menyala, foto Arif terpampang jelas di sana. "Arif ngeselin!!!" teriaknya.


Tak berselang lama, Arif menelpon Khanza. Dia langsung mengangkat telpon itu.


Kemana aja, sih? katanya mau telpon, kenapa baru sekarang nelponnya? pasti habis tebar pesona sama cewe-cewe, awas aja besok kalau aku sudah bisa ke sekolah!


Arif terkekeh geli mendengar ocehan Khanza.


Cerewet banget, sih. yang.


Malah di bilangin crewet lagi, aku matiin aja deh.


Jangan, dong, Za. Tadi banyak tugas, 'kan kemarin bolos. Baru aja istirahat, langsung nelpon kamu.


Nggak percaya, kamu pasti cuma alesan aja.


Tanya aja, Dea, Randra, sama Faizal.


Udah deh, aku tanya Dea dulu.

__ADS_1


Khanza langsung mematikan telponya begitu saja, dia menghubungi Dea menanyakan kebenaran ucapan Arif.


__ADS_2