CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-63~ku titip dia untukmu


__ADS_3

Belum sempat memejamkan mata, Arif mendapat telpon dari Randra. Mengajak nongkrong bareng di tempat biasa. Tanpa pikir panjang Arif menyambar jaket dan kunci motor, siap meluncur untuk berkumpul teman-temannya.


Langit malam terlihat kelam tanpa adanya bintang, cahaya bulan juga terhalang awan-awan kegelapan. Kilat putih masih sesekali terpancar membelah langit, tapi hujan sudah tidak lagi turun membasahi bumi. Menaiki motor kesayangannya, Arif teringat kembali saat pertama kali berjumpa dengan gadis cupunya. Dengan motor yang sedang di naikinya, dia hampir menabrak mobil Khanza.(chapter-2)


Arif memarkirkan motor di tempat dimana dia sudah berjanji dengan teman-temannya. Randra, Adit serta Faizal sudah berkumpul di sana.


"Hai, bro?" sapa Arif, sembari melakukan high five dan fist bump dengan mereka satu persatu.


"Dari mana, lo? kok lama?" tanya Randra.


"Habis pacaran dia!" tebak Faizal.


"Biasa, bucin baru!" ledek Adit.


"Apaan, sih. Gue dari rumah lah," sangkal Arif.


Terus mengobrol berbagi canda, tawa dan saling mengejek satu sama lain. Faizal tiba-tiba beridiri dari duduknya, mengajak Arif untuk berbicara serius berdua. Sedikit menjauh dari Randra dan Adit kini Faizal dan Arif berbicara empat mata. Faizal mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya.


"Lo, ngerokok, Fa?" tanya Arif penuh selidik.


"Lo mau? ambil aja!" jawab Faizal enteng, dia menyulut sebatang rokok, meletakkan di antara bibirnya, Faizal menghis*p dan menghembuskan asap dari mulutnya.


Arif menggelengkan kepala. "Sejak kapan kamu ngeroko, Fa? perasaan kemarin nggak pernah."


"Ini yang pertama coba, hehe. Ternyata enak juga."


"Lo nggak takut Khanza marah?" pertanyaan itu terlontar dari Arif begitu saja.


"Hahaha, kenapa dia mesti marah. Kalau lo, yang ketahuan ngeroko baru Khanza marah," celetuk Faizal dengan tertawa.


"Dia pasti marah, Fa. Kamu 'kan sahabatnya."


"Gue mau ngomong sesuatu sama lo," ujar Faizal serius mengalihkan topik pembicaraan, menyandarkan punggung di tembok belakang nya, Faizal berulang kali menghissap rokonya.


"Ngomong aja." Arif juga mengikuti Faizal bersandar, dengan tangan yang di silang dj atas dada.


"Rif, gue harap lo, serius berhubungan sama Khanza. Jaga dia, jangan sakitin dia dan tolong bahagiakan dia," ucap Faizal lirih. Namun penuh penekanan.

__ADS_1


"Itu pasti, Fa! Makasih sudah ingatin gue," sahut Arif.


"Gue ikhlasin dia buat lo, karena gue lihat kalian benar-benar saling mencintai. Jadi, gue titip dia sama lo, semoga cinta kalian tetap abadi sampai nanti."


Arif tergelak dengan ucapan 'titip' yang di cetuskan Faizal. "M-memangnya lo, mau kemana, Fa?" tanya Arif menatap Faizal serius.


Faizal tak bergeming, menghissap kembali roko di tangannya, Faizal membuang sisa putung rokok ke tanah. Menghembuskan sisa asap rokok di dalam mulutnya, Faizal Menginjak putung rokok dengan ujung sepatu.


"Jangan suka marah-marah sama dia, Rif. Jangan dikit-dikit di bawa emosi, apalagi sampai nyiksa diri lo, sendiri. kontrol emosi, lo!"


Arif mengernyitkan keningnya, entah kenapa dia merasa ada yang janggal dengan Faizal.


"Oh iya, satu lagi! Jangan buat dia marah. Kalau dia sudah terlanjur marah atau ngambek, lo, yang sabar ya? ngadepin dia, hahaha." Faizal menepuk bahu Arif dengan tawa di bibirnya. Namun, Arif bukannya malah ikut tertawa, dia benar-benar merasa aneh dengan Faizal malam ini.


"Lo, nggak salah makan 'kan tadi?" tanya Arif meneliti setiap inci wajah Faizal.


"Nggak, lah," elak Faizal.


"Lo, cinta sama Khanza?" tanya Arif to the point.


"Ya, nggak, lah! Kita gelud dulu, kalau lo, mau ambil Khanza dari gue. Nggak bakalan gue serahin dia buat siapa pun." Kilatan amarah langsung terlihat dari mata Arif.


Sekali lagi Faizal tertawa kencang, menepuk bahu Arif pelan dia berujar, "Percaya gue sama lo. Sekali lagi gue tegasin buat lo, Rif. Jaga dia baik-baik, jangan sakiti dia, gue percayain dia sama lo." Faizal menghela nafas dan menghembuskannya secara kasar, sebelum dia meninggalkan Arif dia kembali berujar, "Akhirnya gue tenang jika harus pergi!" celetuknya, langsung meninggalkan Arif dengan ke bingungannya.


"Apa maksud, anak itu, sih," gumam Arif. Dia teramat bingung sejak tadi. Kalimat-kalimat Faizal terdengar begitu ambigu di telinga Arif. "Apa maksudnya 'nitip' sama 'Pergi' coba," gerutu Arif sendiri. "Memangnya dia mau pergi kemana?" Arif menatap pada Faizal yang sudah berbaur kembali bersama Randra dan Adit. "Tau deh. Terserah dia aja pusing gue mikirinnya," pasrah Arif.


Arif berjalan kembali menghampiri ke tiga temannya itu. Melewati malam dengan saling melempar candaan, Arif sejak tadi memperhatikan Faizal.


Kok gue merasa Faizal beda banget ya? kaya ada yang aneh, tapi aku tak tau itu apa? perasaan gue juga tiap lihat ini anak kaya nggak enak.


Hatinya terus berkecamuk, Arif sangat bingung karena Faizal yang tiba-tiba terus menggiring opini kalau dia mau pergi, tapi setiap di tanya pergi kemana? dia tidak pernah menjawabnya. Tanpa terasa malam semakin larut, cuaca pun semakin dingin karena sisa hujan lebat tadi siang. Mereka berempat memutuskan untuk pulang, mengakhiri kebersamaan yang nyaman itu.


Arif dan Adit berpencar karena rumah mereka tidak searah sedangkan Randra dan Faizal berkendaraan beriringan. Di tengah perjalanan Faizal tiba-tiba saja menanyakan hubungan Randra dengan Dea.


"Rand, gimana lo sama, Dea?" teriak Faizal dari motornya.


"Ya gitu, baik-baik aja," Randra juga membalas berteriak.

__ADS_1


"Kalian sudah pacaran?"


"Belum. Kenapa, Fa? tumben lo kepo? apa lo nakโ€“"


"Saran gue, mending lo cepat-cepat pacaran deh sama Dea. Jangan di gantung gitu anak orang, kasian!"


Randra seperti kehilangan kata-kata, dia merasa aneh saja, tiba-tiba Faizal bicara bijak.


"Lagian nih, ya. Gue lihat dia itu cinta banget sama lo, ngarep banget dia sama lo. Lo juga cinta 'kan sama dia?"


Lagi-lagi Randra tak berkutik, hanya bisa mengangguk lemah di balik helm yang terpasang di kepalanya.


"Nah kalau sama-sama cinta ngapain di tunda, Rand!" Faizal menggelengkan kepala dengan kekehan yang tak lepas dari bibirnya.


"Satu lagi deh nasehat gue, eh permintaan deh. Berhenti jadi playboy, Rand. Sekarang lo, 'kan sudah nemuin cinta sejato lo?"


"G-gue u-usaha'in, deh, Fa," sahut Randra ragu.


Randra juga merasakan ada yang berbeda dan aneh pada Faizal. Lelaki itu banyak tertawa dan begitu cerewet sejak tadi, padahal kemarin-kemarin dia tidak banyak bicara. Tidak ingin berpikiran jauh, Randra menghela nafas kasar.


Sampai di persimpangan mereka berpisah jalan, setelah saling berpamitan Randra dan Faizal akhirnya pulang ke rumah masing-masing.


.


.


.


.


.


.


.


Maaf ya ceritanya sekenanya, entah mengapa aku merasa tak dapat feelnya๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2