
Khanza dan Arif sudah sampai di depan gerbang rumah Khanza, Arif mematikan motornya.
Khanza turun dan berdiri di samping motor Arif, ingin melepas helm di kepalanya, tapi tangannya di tahan oleh Arif. Khanza menatap Arif dengan tatapan bingungnya, tapi Arif hanya memberikan senyum penuh pesonanya.
Arif melepaskan pelan helm di kepala Khanza, menatap dalam pada mata indah gadis yang membuat jantungnya berdetak kencang.
Khanza bingung dengan tingkah Arif yang sedari tadi dia rasa begitu aneh.
'Rif, kalau kamu seperti ini, bisa bisa aku melampaui batas kagumku.'. Batin Khanza.
"Za, Za!" Arif melambaikan tangan di depan muka Khanza, karena Khanza yang dari tadi melamun sampai tidak sadar kalau di ajak bicara. Karena masih tidak ada respon dari Khanza, Arif pun gemas sendiri dan mencubit pipi Khanza.
"Aduh! Sakit tau?" pekik Khanza dengan manjanya sambil memegang pipinya.
"Lagian, ngelamun aja! mikirin apa sih? syukur nggak aku ci ...." ucap Arif menghentikan ucapannya tersadar dengan apa yang ingin di ucapkannya.
Muka Khanza memerah mengerti apa yang ingin di ucapkan Arif, dia teringat kembali kejadian beberapa waktu lalu.
"Siapa yang ngelamun, orang lagi ...." berucap malu-malu karena kedapatan melamun.
"lagi apa? mikirin aku ya?" mencolek dagu Khanza gemas kalau Khanza salah tingkah seperti itu.
"GR, banget! orang lagi mikirin yang lain!" ucap Khanza membuang muka, berusaha menghindar agar tidak ketahuan.
Arif langsung berubah dingin mendengar Khanza memikirkan orang lain, dia teringat kejadian di Cafe X antara Khanza dan laki laki asing.
"Aku pulang dulu!" ucap Arif datar memutar kunci motornya.
"Kok pulang? nggak masuk dulu Rif?" tanya Khanza, Khanza menyadari perubahan Arif.
'Apa aku salah ngomong ya?' tanya Khanza dalam hati.
"Sudah terlalu malam, aku langsung pulang aja." masih dengan muka datarnya.
'Tuh, 'kan! pasti salah ngomong."
"Kenapa mukanya kaya gitu, sih! aku ada salah?" tanya Khanza merasa tidak enak Arif tiba-tiba berubah dingin seperti itu.
"Nggak!" menjawab singkat pertanyaan Khanza, entah kenapa dia begitu emosi mengingat Khanza dengan pria lain.
"Oh baiklah! hati hati di jalan ya? terimakasih sudah di ajak jalan dan di traktir makan," Ucap Khanza memberikan senyumnya.
"sama-sama," ucap Arif dan menyalakan mesin motornya.
'kenapa sih ni anak'
Khanza sungguh bingung di buatnya, tapi mencoba bersikap biasa saja.
"Rif, kalau sudah sampai langsung kabarin aku ya?" Khanza berkata menarik tangan Arif yang ingin melajukan motornya. Arif mentap lama pada tangan Khanza yang memegang lengannya. Mematikan motornya dan menarik tangan Khanza, membawanya ke bibirnya mencium singkat tangan mungil itu. Khanza melepas tangannya salah tingkah. Arif menatap Khanza dan tersenyum padanya meluluhkan emosi yang tadi sudah menguasai dirinya.
"Siap bos! sudah masuk sana, dingin di luar lama-lama," ucap Arif mengangkat tangan hormat.
"Sudah nggak marah lagi 'kan?" tanya Khanza.
"Siapa yang marah coba," ucap Arif tertawa renyah, mengedipkan sebelah matanya.
"Sudah sana, masuk!"
"Setelah kamu pergi, aku baru masuk," ucap Khanza.
"Kamu masuk dulu aja," balas Arif.
"Kamu aja," Khanza juga tidak mau mengalah.
"Masuk! atau, aku nggak pulang-pulang!" Arif dengan nada mengancamnya.
"Iya-iya! aku masuk! kamu selalu menang!" ucap Khanza pasrah kalau sudah Arif keras kepala pasti dia selalu kalah. Arif tersenyum melihat Khanza yang menggerutu sambil berbalik untuk masuk kerumahnya.
"Khanza!" panggil Arif.
Khanza membalikkan tubuhnya.
"Ada apa Rif?" jawab Khanza, membalikkan badan kembali menghadap Arif.
"Selamat malam, mimpi indah!" ucap Arif melambaikan tangannya di temani dengan senyuman sejuta pesonanya.
"Selamat malam, hati-hati di jalan! jangan ngebut! langsung pulang, sampai rumah langsung telpon aku awas kalau nggak!" ucap Khanza panjang lebar.
"iya bawel! sana cepet masuk!" ucap Arif mengibaskan tangannya, menyuruh Khanza masuk.
__ADS_1
sesampainya Khanza di depan pintu, Khanza berbalik dan melambaikan tangan pada Arif.
Arif membalas lambaian tangan Khanza dengan senyumnya dia menyalakan motornya, berlalu pergi meninggalkan Khanza di depan pintu.
Setelah Arif pergi Khanza pun juga masuk kedalam rumahnya, dengan perasaan berbunga-bunga sehingga senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Melewati ruang keluarga, tanpa menyadari kalau masih ada keluarganya yang menunggunya.
"Za, sudah pulang? Arifnya nggak di ajak masuk?" tanya Mama Vina, melihat kearah pintu, mencari keberadaan Arif.
"Eh mama, semuanya, masih di luar?" Khanza malah balik bertanya karena tidak menyangka kalau keluarganya masih di luar.
"Masih, 'lah! Nungguin orang kencan ...!" Ucap Zay menggoda Khanza.
"Siapa yang kencan, sih!" ucap Khanza tersipu malu dengan muka yang berubah merah.
"Malu-malu, Cieee....!!!" ucap Zay yang memang suka sekali kalau urusan menggoda adiknya.
"Kak Zay ngaco! aku masuk dulu ke kamar ya?"
Khanza yang memang sudah sangat malu, memilih masuk kedalam kamarnya. Berjalan melewati kelurganya dengan tertunduk, pipi merah seperti tomat menahan senyumnya. Khanza langsung masuk ke kamar mandi, menggosok gigi dan mencuci mukanya. Melihat diri di cermin, Khanza menyentuh bibirnya, merasa tidak percaya kalau ciuman pertamanya sudah terjadi dengan seseorang yang begitu dia kagumi.
***
Sementara di bawah keluarga Khanza masih berkumpul di ruang tamu.
"Adik, kamu tu sayang! malu-malu gitu!" ucap Zay pada Zihan istrinya.
"Bukannya kamu, yang suka malu-malu Mas?" balas Zihan.
"Nggak 'lah! Kamu yang dulu kaya gitu, malu- malu tapi mau! ha-ha-ha!" ucap Zay tertawa kencang karena mengingat waktu dia pacaran sama Zihan dulu.
"Siapa yang ngajak kenalan tapi gemetaran?" Balas Zihan pada Zay.
"Adik kalian yang jatuh cinta, kaliannya malah ribut," Ucap mama Khanza menggelengkan kepala.
"Kaliankan dulu sama! pendekatan aja perlu bantuan mama," ucap Mama Khanza malah balas menggoda keduanya.
"Siapa yang di bantu Mama! orang usaha sendiri," ucap Zay membela diri.
"Yang, mau pendekatan siapa? eh, malah mama di suruh ketemu sama mama Zihan, biar kamu bisa ikut, 'kan?" ledek mama Vina.
"Sudah-sudah! kenapa pada bahas malu-malu sih? kita masuk ke kamar, yo, Ma?" Papa Khanza berdiri mengajak istrinya masuk kekamar. menghentikan perdebatan anak dan ibu itu.
Khanza sudah selesai dari aktifitas bercermin di kamar mandi, mengganti baju dengan baju tidur dan merebahkan diri di tempat tidur. Beberapa kali melihat poncelnya, menunggu Arif menghubunginya.
"Kok, lama, sih? perasaan waktu tadi jemput tiba-tiba sampai aja! apa dia lupa ya? atau jangan-jangan ...."
Khanza menggelengkan kepalanya agar tidak berpikiran yang tidak-tidak.
'apa aku telpon aja, ya? tapikan malu," ucap khanza berbicara sendiri dengan telpon di genggamannya.
Menggeser layar handphone beberapa kali, tapi ragu dan malu.
"Telpon nggak ya? telpon aja deh!"
Memantapkan diri menghubungi Arif, tapi handponenya berbunyi tanda ada notif pesan, benar saja Arif lebih dulu mengirimi dia pesan.
Menggeser layar poncelnya dengan senyum bahagia, dan jantung yang sudah menari-nari di dalam sana.
π"Assalamualaikum."
Arif begitu sampai di rumah langsung mengirimi Khanza pesan.
π"Sudah sampai rumah Rif?"
Balas Khanza dengan cepat, karena memang sejak tadi dia menunggu Arif mengabarinya.
π"Baru sampai Za, kamu belum tidur Za?"
π"Masih nunggu pesan seseorangπ"
Arif membaca pesan Khanza dengan muka datarnya, merasa tidak suka dengan Khanza yang mengatakan kalau menunggu pesan seseorang, padahal yang di maksud Khanza adalah dia.
π"Oh, aku ganggu dong? maaf yaπ?"
Khanza sadar ada perubahan dari balasan Arif.
π"Nunggu pesan kamu 'lah! πsiapa lagi?"
Arif tersenyum menghembuskan nafaslega dengan jawaban Khanza.
__ADS_1
π"Sudah tidur sana! 'kan sudah malam, nggak baik cewe begadang! sudah dapat pesan dari yang di tunggukanπ"
π"Iya bawel! ini mau tidur, kamu juga tidur sana!"
π"Oke sayangπ, Kamu langsung tidur Za! jangan main game lagi! apalagi nonton bola."
bluss!
Khanza menutup mukanya denga bantal, saat mendapat pesan sayang dari Arif.
π"Oke bos! sampai ketemu besok ya?"
π"mimpi indah ya? byee!"
π"bye!"
Khanza mengakhiri pesannya dan mencium benda pipih itu berkali-kali, memejamkan mata dengan perasaan yang tak bisa di gambarkan bahagianya.
Arif juga membaca pesan terakhirnya dengan senyum mengembangnya, meletakkan hpnya dan ingin merebahkan diri. Tapi ada satu chat masuk kembali, dia pikir itu dari Khanza, bergegas dia membuka pesan tanpa membaca siapa pengirimnya.
π"Sayang kemana saja, sih? nggak balas- balas chatku, di telpon juga nggak di angkat, padahal online!"
Ternyata pesan dari Vera, Arif lupa kalau dia memang tidak membalas, dan tidak mengangkat telpon Vera berkali kali.
π"πππππ Maaf ya? tadi aku ada banyak urusan, ini aja baru sampai rumah."
Arif terpaksa membalas pesan Vera, mencoba mencari alasan karena dia mengabaikan kekasihnya.
π" Ya sudah nggak papa, besok jemput aku ya sayangπ"
π"Oke, Sana cepat tidur, mimpi indah ya, jangan lupa mimpiin aku sayang."
π"Kamu juga cepat tidur yang, pasti aku selalu mimpiin kamuπ"
π"Ini mau tidur, dah ya sampai besok byee, love youπππ"
π"love you tooπ"
Arif membaca pesan terakhirnya dengan menghela nafas panjangnya, meskipun membalas pesan Vera dengan manisnya, tapi pikirannya masih tertuju pada Khanza.
Memandangi foto Khanza yang di ambilnya diam-diam sewaktu di cafe tadi, dan terbayang kembali kejadian di parkiran cafe bersama Khanza.
'kenapa aku bisa lepas kendali sama gadis cupu itu sih? kenapa juga aku selalu marah kalau dia sama orang lain, bahkan dengan dia menyebut orang lain saja, aku sudah tidak senang! nggak mungkinkan aku jatuh cinta sama gadis cupu itu?'
Hati dan pikiran Arif berperang mencoba melawan perasaan cinta yang tanpa dia sadari tumbuh dan berakar di dalam hati. Terus terbayang dengan pertemuan pertamanya dengan Khanza, senyum yang selalu di berikan Khanza menari-nari di benaknya, membuat dia juga tersenyum sendiri mengingat senyum manis gadis cupu itu. Ingatan itu seperti film yang berputar di bayangan Arif.
Berkali-kali menguap menandakan kantuk sudah mendatanginya, meletakkan kembali poncel ke nakasnya, Arif perlahan memejamkan mata dan berselancar di dunia mimpi.
.*Foto Khanza di poncel Arif.
*stttt....Arifnya mau bobo dulu ya...
*Khanza juga mau mimpi indah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote yaπππππ