
Khanza dan Faizal sedang berada di sebuah cafe X, setelah kejadian tadi mereka memutuskan mengobrol di sebuah cafe. Faizal juga sudah menceritakan bahwa dia akan tinggal kembali di kota ini, dan akan menempati rumah mereka yang dulu lagi. Hal itu membuat Khanza sangat senang, sebab dia bisa mempunyai sahabat seperti dulu lagi.
"Fa, ini beneran kamu, kan, Fa?" tanya Khanza.
"Ya, iyalah! ini aku Za, siapa lagi?" jawab Faizal.
"Aku cuma berasa mimpi Fa, melihat kamu kembali di sini. Apalagi bisa bersama-sama lagi sama kamu," ucap Khanza dengan mata berkaca-kaca merasa terharu.
Faizal melihat mata Khanza memerah menahan tangis. Memegang tangan Khanza di atas meja dan menggenggamnya.
"Aku akan selalu bersamamu Za, sekarang dan hari-hari yang akan datang," ucap Faizal.
Air mata Khanza mulai menetes. Khanza terharu, merasa begitu bahagia dengan kebersamaannya bersama sahabat lamanya. Khanza beranjak dari bangkunya dan memeluk Faizal.
Seseorang yang baru saja datang dan duduk di dekat pintu masuk. Memanggil pelayan dan memesan makanan dan minuman untuknya. Selesai memesan dia memperhatikan sekitar, matanya terfokus pada seorang perempuan yang sangat di kenalnya. Beranjak berdiri ingin menghampiri perempuan itu, tapi di urungkannya. Dia baru menyadari kalau perempuan itu tidak sendiri, perempuan itu duduk bersama laki-laki.
Arif bertanya-tanya siapa lelaki yang bersama Khanza, apakah mungkin dia pacar Khanza.
Arif kembali duduk dan terus memperhatikan mereka yang mengobrol dengan seriusnya. Faizal memegang tangan Khanza dan Khanza memeluk laki-laki itu. Arif menggenggamkan tangannya, rahangnya mengeras menatap pada dua orang itu. Entah kenapa dia begitu tidak suka melihat Khanza dengan laki-laki lain. Apalagi sekarang Khanza memeluk laki-laki itu.
Arif masih memperhatikan dengan muka datar juga tatapan elangnya. Dia ingin tahu siapa laki-laki itu, meskipun sekarang dia terlihat sangat gelisah tapi dia tetap berada di tempat itu.
"Za, jangan nangis dong! aku nggak bisa lihat air mata kamu Za!" ucap Faizal menghapus air mata Khanza dengan tangannya, membuat seseorang di belakang mereka semakin tidak suka.
"Ini Air mata bahagia Fa!_" ucap Khanza.
Pelayan datang membawakan pesanan mereka, Khanza kembali duduk ke tempatnya. Menikmati makanan dengan bersenda gurau, tertawa bersama. Khanza yang terlihat begitu bahagia, tertawa begitu lepas, membuat Arif semakin tersulut emosinya sendiri.
Arif sudah tidak tahan dengan pemandangan di depannya, dia mengambil handphone di sakunya mencoba menghubungi Khanza.
Handphone Khanza berdering, Khanza melihat ada panggilan masuk dari Arif. Khanza teringat kembali dengan kejadian di taman tadi, sampai- sampai dia ingin menabrak orang lain di jalan. Untung orang tersebut Faizal, jika bukan Faizal entah apa yang terjadi. Khanza menolak panggilan tersebut, menyimpan kembali benda itu. Sesaat terdengar kembali handphonenya berbunyi.
"Angkat aja Za, siapa tahu penting? nggak papa, ko!" ucap Faizal.
Khanza kembali menolak panggilan tersebut, dan menonaktifkan handphonenya. Bukan karena takut Faizal terganggu, tapi karena dia masih begitu sakit dengan perasaannya sendiri.
"Nggak, penting juga! cuma orang iseng," Khanza menjawab asal.
Arif semakin geram karena telponnya beberapa kali tidak di jawab, di tambah dengan omongan Khanza yang di dengarnya.
Mencoba mengirim pesan kepada Khanza, tapi cuma centang satu. Yang berarti handphone Khanza sudah tidak aktif, dia mencoba menelpon lagi, ternyata memang hp Khanza tidak aktif lagi.
Dia beranjak berdiri dan keluar dari cafe tersebut tanpa menyentuh makanannya, hanya minuman yang dia habiskan.
Pergi dengan emosi memuncak. mengendarai motornya dengan sangat kencang, entah kenapa dia begitu emosi. Hanya karena Khanza yang tidak mengangkat telponnya atau Khanza bersama seorang laki-lak. Dia pun tidak mengerti kenapa dia bisa seperti ini.
Khanza dan Faizal masih berada di cafe itu. Khanza yang memang tidak menyadari kalau sejak tadi ada Arif yang memperhatikannya, masih bercanda bersama, sejenak melupakan rasa sakit yang di rasanya.
"Fa, kamu mau sekolah dimana nanti?" tanya Khanza.
"Aku lupa memberi tahu kamu, kalau Aku bakalan sekolah di sekolah kamu," ucap Faizal sambil menyuap makanannya.
__ADS_1
"What! Beneran, kan, Fa? kamu nggak bohongkan?" ucap Khanza terkejutnya, sampai dia tidak sadar kalau suaranya membuat pengunjung cafe menengok ke arahnya. Khanza tersenyum dengan sekitarnya mencoba meminta maaf.
Faizal menggelengkan kepalanya karena kelakuan Khanza.
"Makanya ... nggak usah pakai toa!" ucap Faizal tertawa. Dan sukses mendapat lemparan tisu dari Khanza.
"kamu serius, kan, Fa?" mencoba bertanya kembali.
"Ya, serius Khanza ...! Besok sudah masuk kok, nanti kita bareng besok ya?" ucap Faizal.
Khanza berdiri ingin berteriak kegirangan, tapi di tarik Faizal, karena dia tau apa yang akan di lakukan Khanza lagi.
Khanza tersadar dengan apa yang ingin dia lakukan, cuma tersenyum ke arah Faizal, berterimakasih karena sudah menghentikannya, jika tidak dia akan malu kembali.
"Sudah yo! kita pulang Za!" ajak Faizal.
"Ay ...." tidak jadi mengatakannya karena teringat sesuatu. "Tapi tunggu dulu, kamu benerankan satu sekolah sama aku Fa? nggak ngefrank aku kan?" tanya Khanza masih tidak percaya.
"Ngapain ngefrank kamu, hah? kurang kerjaan aku!" ucap Faizal menoel hidung Khanza, gemas kalau sudah Khanza bawel begini.
"Yee ....!" Khanza melompat kegirangan. tapi terhenti karena sadar semua orang menatapnya lagi.
"Kebiasaan! ayo pulang!" ajak Faizal menarik tangan Khanza keluar dari cafe, Khanza mengikuti langkah Faizal, dan hanya memberikan senyuman dan menundukkan kepalanya kepada orang-orang.
Berlalu pergi dari sana, menaiki mobil Khanza untuk pulang kerumah mereka.
"Fa, kamu masih belum cerita kenapa kamu bisa jalan kaki dan hampir tertabrak?" ucap Khanza bertanya setelah memasuki mobil.
"Tadinya .... Aku mau cari kado buat kamu! Minta turunin di seberang jalan dan berjalan kaki untuk ketoko baju bola. Eh, belum juga sampai ada mobil yang ugal-ugalan mau nabrak aku, untung aja yang mau nabrak cantik kalau nggak ...." ucap Faizal sengaja menggantungkan kalimatnya.
"Kalau nggak, apa?" tanya Khanza karena penasaran. menghadapkan mukanya ke arah Faizal.
"Sudah aku ajak gelut dia" ucap Faizal tertawa keras.
Khanza menghela nafasnya, dan menatap kembali kedepan. Merasa tidak lucu dengan ucapan Faizal, karena dia merasa bersalah hampir saja menabrak orang.
"Gelut sama aku juga nggak papa!" ucap Khanza ketus.
"Nggak berani kalau nantangin kamu. Sudah jelas kalah aku! kamu kan pemegang sabuk hitam."
"Bukan kalah! tapi mengalah. Kamu 'kan selalu begitu. Kamu pikir aku nggak tahu kalau kamu juga pemegang sabuk hitam," ucap Khanza. Faizal hanya tertawa dengan ocehan Khanza. Meredakan tawanya dan berubah serius.
"Za, apa yang kamu pikirkan, sih, sampai bawa mobil seperti itu?" Akhirnya pertanyaan yang sejak tadi ingin di tanyakan Faizal keluar juga.
"Nggak apa-apa! cuma lagi mikirin pelajaran aja, ko!" ucap Khanza mengalihkan pandangan keluar jendela, mencoba menutupi semuanya karena belum siap bercerita.
"Aku kenal kamu Za, kamu nggak pandai berbohong. Pasti ada sesuatu yang begitu berat kamu pikirkan sampai kamu seperti itu, dan aku yakin bukan soal sekolah apalagi pelajaran. Itu bukan Khanza yang aku kenal., Aku siap kalau kamu mau berbagi cerita, Za," mengakhiri ucapannya dan menggenggam tangan Khanza.
Khanza menoleh menatap tangannya yang di genggam Faizal, dan menatap Faizal dalam diam.
Faizal juga menatap Khanza, memberikan senyum termanisnya. hanya sesaat karena Faizal harus fokus mengemudi.
__ADS_1
"Nggak papa! kalau kamu masih belum mau cerita sekarang. Apa pun yang terjadi, aku akan selalu mendukungmu Za, bahuku selalu siap menjadi sandaran untukmu," ucap Faizal.
"Terimakasih Fa, kamu memang sahabat terbaikku. Sekarang saja kamu bisa datang menenangkanku, meskipun kamu tidak tau apa masalahku tapi kamu selalu ada untukku."
Khanza menarik nafas dalam dan menghembuskannya kembali.
"Maaf Fa! aku masih belum bisa bercerita sama kamu, nanti lain waktu aku pasti akan bercerita sama kamu, dan terimakasih bahumu selalu menjadi sandaran ternyaman untukku," ucap Khanza dengan air mata yang sedari tadi di tahan akhirnya tumpah kembali.
"Apa pun maslah kamu! tolong jangan menangis Za, aku tidak bisa melihat kamu menangis. Sakit hati abang neng lihat neng gelis nangis gitu!" ucap Faizal mencoba bercanda, dan mendapat tamparan di bahunya. muka Khanza berubah senyum mendapat candaan Faizal, meskipun masih ada air mata yang keluar dari bola mata indahnya.
"Auuu ...! sakit neng," ucap Faizal sambil tertawa karena sudah berhasil membuat Khanza sedikit senyum, dan mendapatkan tamparan kedua dari Khanza.
Sekali ini dia beneran meringis dan sedikit mengusap bahunya, karena Khanza memang menamparnya dengan kencang, tapi dia bahagia karena sekarang Khanza bukan hanya senyum tapi tertawa.
Khanza menghapus sisa air matanya, masih tertawa dan ingin menapar bahu Faizal kembali tapi Faizal dengan cepat menghindar, Khanza berpura-pura sedih kembali.
"Ya, Sudah! Ini tampar aja terus biar kamu bahagia," ucap Faizal memasang bahunya karena melihat Khanza memasang muka masamnya.
Khanza kembali tertawa kecang sampai memegang perutnya.
"Sakit perutku Fa, kamu itu ya! memang selalu bisa membuatku tertawa, meskipun kamu selalu rela sakit demi aku," ucap Khanza masih dengan tawa yang sedikit mereda.
Faizal yang melihat Khanza sudah tertawa bahagia hanya tersenyum menanggapinya.
'Aku akan selalu membuatmu bahagia Za, meskipun dengan berkorban sakit. Aku akan rela asal kamu bahagia. Tawamu adalah sebuah vitamin bagiku. Tapi maaf, aku akan selalu mencari tahu apa masalahmu, apalagi yang sampai membuat kamu seperti tadi, sepertinya kamu sangat terpuruk seperti itu'
Terus mengemudi dengan pikiran yang melayang entah kemana, hingga mobil sudah memasuki jalanan komplek perumahan mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
*Jangan lupa, like, komen,vote dan bintang 5 ya guys🙏🙏🙏🙏🙏💕💕💕❤❤