CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-66~Ciuman tanpa rasa cinta


__ADS_3

 


Paparan cahaya bintang dan bulan mulai hilang tertutup awan kelam, angin sejuk mulai berhembus menerpa dua insan yang sedang mengenang kejadian silam. Khanza masih nyaman bersandar pada bahu sahabatnya, dengan memejamkan matanya, dia menikmati suasana taman. Sedangkan Faizal hanya bungkam dengan memainkan poncel di tangan, dia mengupload beberapa foto dengan caption-caption mewakilkan perasaannya.


Kilatan cahaya seperti benang terlihat membelah langit malam. Bunyi guntur mengagetkan Khanza, hingga dia memeluk lengan sahabatnya. menelungkupkan kepala pada lengan kanan Faizal.


"Masih takut petir?" ujar Faizal lembut, dia menyimpan kembali HPnya kedalam saku celana. Mengangkat tangan untuk mengelus kepala gadis manis itu.


Petir itu sekali lagi menggelegar memecah keheningan malam, Khanza semakin mengeratkan pelukannya di tangan lelaki itu.


Perlahan memutar tubuh, Faizal memeluk Khanza sepenuhnya, menempelkan kepala gadis itu di dadanya.


Entah mengapa aku merasa ini adalah pelukan terakhir untuk kita, Za. Jadi izinkan aku untuk menikmatinya.


Faizal mengurai pelukannya, memegang kedua bahu Khanza. Dia menatap sendu pada gadis yang menundukkan kepalanya takut.


"Jangan takut, ya? ada aku disini," ujarnya lembut, mengangkat dagu Khanza untuk menatapnya. Dua pasang mata itu bertemu, saling menyelami ke dalam mata masing-masing. Dalam hening, Faizal meneliti setiap inci wajah Khanza, dengan batin yang terus berbicara.


Mata ini, mata yang selalu kurindu setiap waktu. Wajah cantik ini, wajah yang selalu hadir di setiap lamunanku. Bibir ini ... bibir yang ....


Faizal perlahan mendekatkan wajahnya hingga mengikis jarak antara mereka. Tangannya juga naik menyusuri bahu Khanza hingga menyusup ke belakang kepala. Merasa tidak ada penolakan dari sahabatnya, Faizal menunduk hingga menjangkau bibir ranum gadis itu. Kedua bibir mereka bertemu, menyatu dengan lembut. Di dalam keheningan malam, Khanza memejamkan mata, merasakan setiap sentuhan di bibirnya. Namun, tanpa berniat membalasnya.


Di sebuah taman dengan kerlap-kerlip lampu yang menghias pohon-pohon, seorang Faizal dengan berani memagut bibir sang sahabat yang sudah mempunyai kekasih hati. Hembusan angin dingin, menyapa dua orang yang sedang mesra walau tanpa cinta. Seakan terbawa akan suasana romantis, Faizal melupakan mereka sedang berada di mana.


Aku janji nggak akan macam-macam, jaga diri dan juga hatiku selalu buat kamu.


Khanza menarik diri tiba-tiba hingga ciuman itu terlepas begitu saja, dia teringat akan janji yang di buat pada sang kekasih. "Ini salah, aku salah," lirih Khanza pada dirinya sendiri. Menutup wajahnya dengan kedua tangan, perasaan bersalah langsung menyerang ke relung hati terdalam. Air mata Khanza langsung luruh begitu saja, apalagi saat bayang-bayang wajah Arif melintas di benaknya.

__ADS_1


Faizal terdiam tanpa kata, saat pagutan bibirnya terlepas begitu saja. Dia menyadari kalau Khanza sejak tadi tidak membalas ciumannya, tapi apakah salah jika dia ingin menikmati kebahagiaan di hatinya walau hanya sesaat saja. Apakah dia salah? jika dia menyalurkan perasaannya saat ini, walau dia tau kenyataan tak semanis yang dia inginkan.


Maafkan gue, Rif. Gue sudah lancang menghianati kepercayaan lo sama gue.


Faizal mengusap kasar wajahnya, hingga menjambak rambut pendeknya. "Argh! gue teman apaan," geram Faizal pada dirinya sendiri. Menghela nafas panjang, lelaki itu menatap nanar pada Khanza. "Za, Maafin aku," sesalnya.


Hanya isakan pilu yang terdengar dari gadis itu, membuat hati Faizal teriris ngilu. Dia menarik Khanza kembali ke dalam pelukannya. "Maafin aku, Za. Maaf," lirihnya penuh penyesalan.


Khanza hanya mengangguk, dia masih enggan membuka tangan dari wajahnya meski berada di pelukan Faizal. Bagaimana pun ini salahku, harusnya aku bisa menolaknya. Tapi, aku malah menerima semuanya, mengingkari janji yang sudah kubuat pada Arif. Maafkan aku, Rif. Maafkan aku .... Khanza tidak berhenti meminta maaf dalam hatinya. Penyesalan itu benar-benar sangat menyerang ulu hatinya.


Sebuah notif pesan masuk ke HP Faizal. Segera membuka kunci, dia membaca pesan dari Fatih, salah satu teman geng motor dia dan Khanza.


 


Kapan lo, kesini? Kita sudah ngumpul di lokasi. Ada trek\-trekan yang akan di adakan anak\-anak.


 


 


***


Tidak butuh waktu lama untuk Faizal dan Khanza sampai ke lokasi, hanya sepuluh menit perjalanan dalam keheningan malam dalam rasa kecanggungan. Rintik hujan menetes perlahan, jatuh satu persatu membasahi tandus tanah. Khanza berlari mencari tempat berteduh, masuk ke dalam base camp tempat biasa mereka berkumpul bersama.


"Khanza!" seru Fatih, dia langsung mendekati gadis itu. "Gdue kaangen lo, Za. kemana aja? nggak pernah lagi nongkrong bareng kita." Fatih ingin memeluk Khanza, tapi Faizal dengan segera menghalanginya dengan tubuhnya.


"Gue juga kangen sama lo," Faizal menepuk pundak Fatih.

__ADS_1


"Sialan lo, Fa!" umpat Fatih.


Gelak tawa terdengar di tempat itu. Khanza menyalami temannya satu-satu, sambil melempar canda tawa melepas rindu.


"Fa, lo, sudah gue daftarin tadi di trek," ujar Aldi, salah satu dari kumpulan remaja itu.


"Sip! sudah lama juga, gue nggak ngerasain balapan," ungkap Faizal.


"Tapi, lo tetap jagonya, Fa!" seru Fatih memuji sahabatnya itu.


"Yo'i," sahut yang lainnya bersamaan.


Seiring berjalannya waktu, hujan mulai teduh di luar sana. Hanya menyisakan gerimis yang membasahi jalan. Sebelum menaiki motor untuk balapan, Faizal memberikan pesan pada Khanza.


"Za, gue boleh pesan nggak sama kamu?"


"Pesan apa, Fa?"


"Kalau gue pergi, kamu jaga diri baik-baik ya? dengerin selalu nasehat-nasehat Arif, jangan buat dia kecewa dan yang terpenting jangan nangis lagi apa pun nanti yang terjadi."


"Siap, Fa. Aku jaga diri, kok. Aku juga nggak bakalan lupa sama nasehat Arif. Ini juga sudah nggak nangis lagi," terang Khanza dengan senyuman lebar di bibirnya.


"Anak pintar," puji Faizal, mengacak lembut rambut Khanza.


"Sudah sana pergi," usir Khanza mendorong Faizal, karena di tengah jalan sudah berkumpul kerumanan orang menanti balapan.


Faizal berjalan ke motornya dengan beriringan dengan Khanza. Rauman motor sudah membisingkan telinga. Faizal memberikan senyum termanis ke arah sahabatnya, sebelum dia memacu motor pada jalanan sepi, tempat biasa mereka mengadakan trek-trekan liar di jalan.

__ADS_1


1 ... 2 ... 3 .... Go!


Faizal memacu motor dengan begitu kencang, saling salip-menyalip dengan yang lain. Dua putaran telah berlalu dengan Faizal, yang menjadi urutan nomor satu. Sorak-sorai pendukung lelaki itu, menggema di garis finis, tapi balapan tinggal satu putaran lagi.


__ADS_2