
Sementara di pagi itu.
Vera keluar dari mobilnya, dia sudah merencanakan sesuatu dengan teman-teman geng centil. Dia tidak terima dengan Arif yang mengabaikan hubungan mereka hanya karna seorang gadis cupu yang dari awal masuk ke sekolah sudah menabuh genderang perang pada mereka. Langkahnya terhenti saat melihat mobil putih terparkir di halaman itu, dia bersembunyi di balik mobil lain untuk mengintip.
Arif dan Khanza keluar dari mobil itu dengan saling melemparkan senyum mereka.
"Sudah Aku duga," gumam Vera memilin ujung roknya. Amarah dan senyum sinis tercetak jelas pada wajah gadis itu. "Kita lihat saja, apa sebentar lagi kalian masih bisa tertawa?"
Dia terus memperhatikan dua orang, ralat sekarang sudah tiga orang karena Randra datang menghampiri mereka. Randra yang menggoda Khanza membuat Arif begitu cemburu padanya. Vera semakin tidak suka melihat pemandangan di depannya pasalnya Arif tak pernah menampakkan cemburu kepada dirinya.
Sepeninggal mereka bertiga, Vera kembali menghubungi teman-temannya.
Gimana Tia? sudah dapat kunci gudangnya?
Beres, tinggal nangkep tikusnya.
Sip! gue bakalan nangkep itu tikus. Kalian tunggu aja di gudang.
Vera mematikan telponnya, mengikuti dari jauh tiga orang yang sedang menjadi pusat perhatian di lorong sekolah. Keadaan Arif yang sedang mendiamkan Khanza membuat Vera dengan leluasa melancarkan aksinya. Vera menunggu di dekat pintu kelas Khanza, mengeluarkan HPnya untuk mengirimi pesan pada gadis itu untuk menemuinya. Belum sempat mengirim pesan dia sudah melihat Khanza yang berlari keluar dengan penuh air mata.
"Datang sendiri tanpa di pancing." Senyum iblis tercipta dari bibirnya. Saat Khanza mendekat dia menarik tiba-tiba tangan gadis itu.
"Eh, Ummp!" Vera membekap mulut Khanza dengan sapu tangan yang sudah di berikan obat bius. Vera dan kawan-kawan sudah merencanakan ini dengan matang, mereka mengetahui kalau Khanza pemegang sabuk hitam dala ilmu bela diri. Tak mau ambil resiko gagal, jika Khanza dengan mudah mengalahkan mereka jadilah mereka memakai obat bius agar dengan mudah menaklukkan gadis cupu itu.
Vera menyeret tubuh Khanza di bantu sony yang ikut bersekongkol dengan mereka. Sony selalu menurut dengan pacarnya Tia, apa pun yang di perintahkan wanita itu dia selalu melakukannya.
"Kecil-kecil berat juga ni si cupu," ujar sony mencoba menggendong tubuh Khanza.
"Lo, itu laki apa banci, sih, son? masa gendong itu aja nggak kuat?" sindir Vera.
"Laki, lah. Em_"
"Sudah, ayo cepat bawa. Sebelum ada yang melihat," potong Vera.
__ADS_1
Vera mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, dia bertugas mengawasi kalau saja ada orang yang bisa memergoki mereka. Lorong sekolah yang sudah sepi memudahkan mereka untuk membawa tubuh Khanza tanpa ada yang melihat.
Sesampainya di ujung lorong itu, Vera dan sony langsung masuk kedalam ruangan pengap, gelap, dan penuh debu itu. Barang-barang yang berserakan serta beberapa rak buku yang berdiri di ruangan itu sangat nampak jelas kalau ruangan ini begitu tidak terurus. Sebuah gudang sekolah yang letaknya di ujung lorong, jauh dari jangkauan para siswa. Bahkan hampir tak ada yang yang mendekat ke arah sana. Kunci gudang itu di serahkan guru kepada Adit salah satu teman Randra, Arif dan juga Sony, ia adalah ketua osis di sekolah itu. Karena seringnya memerlukan barang atau menaruh barang rusak jadilah Adit di percaya memegang kunci itu. Tia dengan di bantu Sony meminjam kunci pada Adit dengan beralasan mencari barang yang mereka perlukan.
"Ikat aja tangannya!" perintah Tia pada Sony.
Sony meletakkan tubuh Khanza di pojok ruangan itu, mengambil tali yang di serahkan Vera, Sony mengikat tangan Khanza ke belakang. Khanza bangun sebelum Sony selesai mengikat tangannya.
"Mau apa kalian?" Khanza langsung menendang Sony sampai dia terjungkal ke belakang. Tapi dengan cepat Zia, Sofi dan Ifa memegangi tangan Khanza.
Khanza tidak bisa bergerak karena tangannya di tahan kuat oleh tiga orang, lagi pula tenaganya masih lemah karena obat bius yang di berikan Vera.
"Kuat juga, lo, cupu." Sony bangun di bantu Tia. Dia memegangi perutnya yang terasa sakit karena tendangan Khanza, bahkan dia terbatuk-batuk menahan sakitnya. Sony mengangkat tangannya untuk memukul Khanza.
"Sayang, jangan kotori tanganmu untuk menampar perempuan," cegah Tia. dia mengusap manja lengan pacarnya itu, beralih menatap tajam pada Khanza.
Plak!
Satu tamparan dari Tia mendarat di pipi Khanza. "Ini untuk pacarku dan ini untuk...."
"Ini akibatnya kalau kamu berani merebut Arif dari aku!" Vera melepas cengkramannya dia menampar sekali lagi pipi Khanza.
Tanpa mereka duga Khanza bisa menyentak tangannya membuat Zia, Sofi dan Ifa terjungkal kebelakang. Dengan cepat dia menjambak rambut Vera, menarik kencang sampai Vera meringis kesakitan. Tapi itu tidak berlangsung lama, Sony dan Tia segera mengikat tangan Khanza kebelakang.
"Beraninya main keroyokan!" sindir Khanza menatap tajam pada mereka. Sudut bibirnya yang sudah meneteskan darah segar tak membuatnya gentar. "Sini kalian satu lawan satu," tantangnya.
Mereka meladeni tantangan Khanza, tapi bukan dengan satu lawan satu. Melaikan dengan keroyokan, mereka semakin membully Khanza tanpa ampun. Menggampar berkali-kali, dan menjambak rambut Khanza yang terurai tak lantas membuat mereka puas. Vera menghantamkan kepala Khanza pada tembok hingga membuat Khanza lemah tak berdaya.
"Kita tinggalkan dia," ucap Sony pada geng centil.
"Berdo'a lah kalau ada yang bisa menolongmu," bisik Vera di telinga gadis itu.
Setelah puas melihat Khanza tak berdaya, mereka meninggalkan Khanza terlungkup di lantai yang penuh debu itu.
__ADS_1
"Kunci pintunya!" perintah Tia pada Zia, Sofi dan Ifa.
Mereka berlalu dari tempat itu bahkan tanpa rasa bersalah atau rasa takut sedikit pun. Di saat mereka kembali mereka sempat berpapasan dengan Randra yang sedang berputar mencari Khanza.
"Randra?" sapa Sony.
"Hai, Son, Geng centil," balas Randra.
"Mau kemana, Rand?" tanya Vera.
"Itu.... Kalian ada lihat Khanza, nggak?"
Pertanyaan Randra membuat mereka memandang satu sama lain. Tapi Tia dengan cepat mengendalikan keadaan agar Randra tak menaruh curiga.
"Eh, nggak lihat si cupu tuh. Emang kenapa, Rand?" pura-pura Tia.
"Nggak, papa. Ya sudah aku mau cari Khanza dulu." Randra berlalu meninggalkan mereka tanpa curiga.
Tia, Vera, dan Sony menyunggingkan senyum iblisnya.
"Selamat mencari si cupu sampai mamp*s" celetuk Vera.
Mereka melanjutkan langkah kaki mereka kembali ke kelas.
Sementara Khanza, dengan sisa kekuatan yang ada dia mencoba menghubungi Dea sahabatnya.
Hallo, Za?
To-tolong....
Khanza tidak bisa melanjutkan kalimatnya kesadarannya mulai terenggut sirna, Hp Khanza terkatuh dari tangannya. Sebelum benar-benar menutup mata Khanza menyebut nama orang tercintanya dengan mulutnya.
"A...Rif."
__ADS_1
Kamu di mana, Rif? tolong aku, Rif. Tolong temukan aku dan bawa aku pergi dari sini, Rif.
Khanza sudah menutup matanya dengan sempurna, kesadaran sudah tidak lagi menemaninya. Di ruangan gelap tanpa cahaya, udara pengap di sana membuatnya susah mendapatkan oksigen untuk bernafas.