CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-44~Hilangnya Khanza


__ADS_3

Arif mempercepat langkahnya membuat Khanza dan Randra saling pandang. Randra menggelengkan kepala, menyusul lelaki itu. Khanza juga berjalan cepat menyusul Arif, dia segera menenangkan lelaki itu setelah memasuki kelasnya.


"Hei, coba lihat aku." Khanza menyentuh pelan bahu Arif. Lelaki itu langsung menelungkupkan wajahnya ke meja, berbantalkan tangan sebagai penyangga.


"Rif," panggil Khanza sekali lagi.


Arif bangun perlahan, matanya memerah, sangat nampak jika dia sedang memendam amarahnya. Khanza merasa bersalah pada Arif, pasti dia begitu tersiksa menahan emosinya.


"Jangan ganggu aku, Za," ucapnya datar.


"Dengerin aku dulu."


"Lebih baik kamu duduk, Za."


"Ta_"


"Jangan ganggu aku!" bentaknya.


Khanza terperanjat, dia bahkan sampai mundur satu langkah. Hati Khanza rasanya tergores mendengar bentakan Arif, rasa perih menjalar di sekujur tubuhnya membuat kedua matanya berair. Khanza berbalik, berlari keluar dari kelas itu meninggalkan Arif yang menatap kepergiannya.


"Keterlaluan lo, Rif!" tegur Randra yang sejak tadi menyaksikan kemarahan Arif, dia berlari keluar menyusul Khanza.


"Shit!" umpat Arif. " Kenapa gue sampe bentak dia, sih." Arif juga keluar mencari Khanza.


Arif dan Randra mencari Khanza kesekeliling sekolah tapi tidak menemukan gadis itu dimana-mana. Berkali-kali mengumpat menyesali perbuatannya, Arif terus bertanya pada teman-temannya. Sialnya tidak ada satu pun yang melihat Khanza.


"Gimana Rand?" tanya Arif pada sahabatnya yang juga ikut mencari Khanza.


Randra menggelengkan kepalanya lemah, keringat bercucuran di dahinya. Saat dia mengejar Khanza keluar dari kelas, gadis itu sudah tidak terlihat lagi walaupun hanya sekedar bayangannya.


"Argh!" Arif menjambak kasar rambutnya. Rasanya kepalanya ingin pecah saat ini. "Dimana kamu, Za?"


"Keterlaluan, Lo, Rif. Emang harus ya? sampai bentak gitu," sindir Randra, ia menyandarkan tubuhnya di tembok belakang sekolah itu, matanya tak berhenti melihat Arif yang terlihat frustasi. "Kendalikan emosi, lo. Jangan sampai rasa cemburumu membuatnya bepaling dari, lo, Rif."


"Rand, Lo, makin nambah gue pusing tau nggak. Lo, tau gue 'kan, Rand? kelemahan gu_"

__ADS_1


"Sampai kapan, lo gini terus. Berubah, Rif. Berubah!" Randra mengguncang bahu sahabatnya itu, kali ini dia benar-benar geram dengan Arif.


Tubuh Arif lemas tersandar pada tembok di belakangnya. Kepalanya teramat pusing saat ini, rasanya dia ingin sekali menghukum kebodohannya sendiri. Khanza gadis itu tidak terlihat batang hidungnya sampai saat ini, padahal jam istrirahat sudah hampir tiba. Sejak pagi Khanza menghilang entah kemana, bahkan dua jam pelajaran di lewatkannya. Arif tak berhenti mencoba menghubungi poncel Khanza tapi tak kunjung ada jawaban dari gadis itu. Dea yang awalnya ikut mencari Khanza tapi di minta Randra untuk kembali ke kelas saat jam pelajaran tiba. Dea di minta mengabari mereka jika saja Khanza sudah kembali ke kelas.


Bel istirahat pun sudah tiba tetapi Khanza masih tidak juga kembali. Dea menghampiri dua lelaki yang hanya berdiam diri dengan wajah kusut.


"Gimana, Rand? masih belum ketemu?" tanya Dea sembari menyodorkan dua botol air mineral kepada Randra dan Arif.


"Dea. Kita sudah cari ke sekeliling sekolah, De. Tapi Khanza masih belum ketemu." Randra membuka penutup botol itu, meneguk kasar air mineral itu sampai habis.


Arif juga melakukan hal yang sama, dia menyisakan sedikit air itu untuk menyegarkan wajahnya. Menumpahkan air ke mukanya, Arif mengusap kasar menggunakan satu tangannya.


"Sebenarnya apa yang terjadi, sih?" tanya Dea.


Arif tak bergeming, rasanya saat ini dia tidak bisa mencerna apa-apa. Randra yang tahu sejak awal permasalahannya mencoba menceritakan pada Dea.


"Gue rasa semarah-marahnya Khanza nggak bakal hilang kaya gini, deh, Rand. Apa lagi sampai bolos di jam pelajaran."


"Iya juga ya, De. Lagian Khanza sudah sering berantem sama Arif," imbuh Randra.


Arif mentap pada Dea dan Randra bergantian, dia membenarkan dalam hati ucapan Dea. Menghilang tanpa kabar, apalagi sampai meninggalkan jam pelajaran itu bukan sifat Khanza. Tapi yang jadi pertanyaan di benaknya dimana gadis itu saat ini, tiba-tiba saja perasaan Arif menjadi tidak enak.


"Gue rasa nggak mungkin juga Khanza sampe menghilang, Rif," bantah Dea. Dia yakin ada yang nggak beres dengan sahabatnya itu.


"Tunggu!" Randra mengagetkan Dea juga Arif.


"Tadi, gue lihat Geng centil dari arah gudang di ujung sekolah. Apa...?"


"Jangan, asal nuduh dulu, Rand," potong Dea. "Lagian, Vera 'kan nggak tau kalau Arif sama Khanza dekat," tambahnya.


"Mungkin dia memang nggak tau. Tapi dia sering mergokin kita berduaan," tutur Arif sendu, dia menerawang kembali saat dia mengantar Vera kemarin. Vera begitu terlihat kesal kepadanya, dia juga sempat menanyakan orang ketiga di hubungan mereka. "Kemarin juga Vera sepertinya ma_" ucapan Arif terpotong saat telpon Dea berbunyi.


"Khanza!" pekik Dea, melihat layar telponnya. Dia segera menggeser layar telponnya.


Hallo, Za?

__ADS_1


To-tolong....


tut-tut-tut!


Hallo, Za. Za!


Dea panik belum sempat Khanza menyelesaikan kalimatnya tapi sambungan itu sudah terputus.


"Kenapa, De?" tanya Arif.


"Khanza, Khanza!"


"Khanza kenapa, De?" tanya Randra tak sabaran.


"Di-dia minta to-tolong."


"Apa?!" pekik Randra dan Arif bersamaan.


"Dimana dia, De?" Arif mengguncang bahu Dea.


"Gue nggak tahu, Rif. Dia cuma bilang 'tolong' sambungannya terputus."


Randra langsung merebut HP di tangan Dea. Dia menghubungi berkali-kali nomor Khanza, tapi tak kunjung di jawab. Randra mengumpat berkali-kali, sekarang mereka bertiga terlihat panik dan kacau.


"Ini semua gara-gara gue, kalau aja tadi gue. Arrgh!" Arif ingin melampiaskannya dengan menonjok tembok di depannya. Dengan Cepat Randra mencegah Arif.


"Ini bukan saatnya menyalahkan diri sendiri, Rif. Sekarang saatnya kita mikirin nemuin Khanza dimana?" cetus Randra.


Arif sudah tidak bisa berpikir lagi, otaknya terasa panas. Kepalanya saat ini ingin sekali pecah.


"Gue yakin masih seputaran sekolah, Rand. Kejadian dia ngilang cepat banget 'kan? mana nggak ada yang sempat lihat lagi," tutur Dea.


"Gue yakin Vera." Arif mengepalkan tangannya kuat. Tatapannya saat ini penuh dengan Amarah.


"Kita periksa di gudang ujung sekolah!" ajak Randra.

__ADS_1


Mereka bertiga berjalan menuju ke gudang ujung sekolah. Sekolah saat ini sepi karena jam istirahat sudah usai. Mereka bertiga kembali membolos di jam pelajaran. Arif yang berjalan lebih dulu sangat tidak sabaran untuk sampai ke tempat itu. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Khanza, Arif tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.


Za, maafkan aku, Za. Kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu aku nggak akan bisa maafin diriku sendiri, Za.


__ADS_2