
Dering handphone di tangan Khanza berbunyi dan menyadarkan Khanza dari rasa sakitnya.
Dia menatap tidak percaya dengan orang yang sedang menelponnya.
Terus menatap layar handphone yang berdering berkali-kali. Tanpa berusaha ingin menjawabnya atau lebih tepatnya tidak ingin menjawabnya. Khanza menonaktifkan hpnya dan menyimpannya di dalam laci kamarnya. Berganti pakaian dan keluar mencari udara segar di sekitar komplek perumahan. Kebetulan di sana ada sebuah taman, yang biasanya di gunakan orang-orang untuk sekedar bersantai dan jalan-jalan mengisi waktu luangnya.
Khanza hanya berjalan kaki menuju taman, karena memang jaraknya tidak terlalu jauh. hitung-hitung olah raga sore pikirnya.
Di taman ada banyak keluarga kecil yang meluangkan waktu sorenya untuk mengajak anak-anak mereka jalan jalan. Banyak anak muda yang asik berkumpul dengan teman-temannya, bahkan ada juga yang ketaman untuk bermain sosial media. Karena taman disni yang menyediakan free wifi. Mungkin karena itu lah taman itu tak pernah sepi pengunjung.
Khanza mengelilingi taman berjalan sendiri, terkadang dia tersenyum melihat tingkah anak kecil yang memang selalu lucu dengan tingkah-tingkah aneh mereka. Melihat ada yang menjual eskrim dia pun membelinya.
Duduk di bangku taman untuk menghabiskan eskrimnya, sedikit lebih tenang dan tidak terlalu memikirkan lagi tentang apa yang sedang mengganggu pikirannya.
***
Sedangkan di balkon kamarnya Arif yang dari tadi gelisah karena berkali kali telponnya tidak di angkat Khanza.
"Tadi tidak di angkat! sekarang sudah tidak aktif. Apa beneran marah ya dia?" umpatnya dan sudah ingin membanting handphonenya karena kesal, tapi di urungkannya sebab masih sadar kalau di banting akan rusak.
"Apa aku samperin kerumah nya aja ya?"
Arif memutuskan ke rumah Khanza, Mengambil jaket dan kunci motor dia berlalu ke rumah Khanza.
Sesampai nya di rumah Khanza dia di sambut ibu Khanza.
"Eh Nak Arif! masuk dulu nak!" Ibu Khanza membuka lebar pintu untuk menyuruh Arif masuk.
"Nggak usah Tante! cuma mau cari Khanza. Apa Khanzanya ada di rumah Tan?" Arif menyampaikan maksud nya bertamu kerumah Khanza.
"Khanzanya tadi pamit keluar ...! Katanya mau ketaman depan komplek, mungkin sebentar lagi pulang. Tunggu aja di dalam dulu Rif!!"
"Nggak usah Tante! Saya langsung samperin ke taman aja deh Tan. Terimkasih Tante!"
"Oh ya sudah, kalau kamu mau susul Khanza."
"Saya pamit dulu Tan. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam, hati hati ya Rif!"
Arif pun menyusul Khanza ketaman. Sesampainya di taman dia memarkirkan motornya. Berkelililng mencari Khanza dengan berjalan kaki. Sampai dia menemukan Khanza yang sedang duduk, tetapi ada seorang lelaki yang ngobrol dengan Khanza.
Arif memperhatikan lelaki itu dengan tajam,
Arif memutuskan menghampiri Khanza, dan langsung duduk di samping Khanza dengan meletakkan tangannya di bahu Khanza.
"Dicari dari tadi ternyata kamu disini," berucap dengan santai dan menatap tidak suka dengan lelaki yang tadi ngobrol dengan Khanza.
Khanza yang kaget dengan kedatangan Arif yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Dia menatap tangan Arif yang seperti sedang memeluknya. Tidak bisa berkata apa-apa Khanza hanya diam dengan pandangan penuh tanya dengan Arif yang masih menatap lelaki tadi dengan pandangan yang tidak di mengerti oleh Khanza.
"Maaf Mas! Tadi cuma tanya sekitaran komplek dengan Mbaknya!" lelaki tadi yang memang merasa tidak enak karena sepertinya Arif tidak suka dengan kehadirannya, mencoba menjelaskan dan pamit berlalu dari mereka. "Permisi Mas, Mbak." pamitnya.
Arif hanya membalas dengan anggukannya,sedangkan Khanza yang membalas dengan senyum manisnya membuat Arif mengeratkan tangannya di bahu Khanza.
Khanza semakin bingung dengan tingkah Arif. Menatap Arif dan mengerutkan dahinya. Maksud hati Ingin bertanya tapi di urungkannya karena takut salah atau menyinggung Arif.
Setelah lelaki tadi benar benar menjauh, Arif menarik tangannya dan salah tingkah sendiri.
"Maaf ....!" ucap nya
Khanza hanya diam karena tidak mengerti.
"Maaf untuk semuanya!" Arif menunduk lesu.
"Maksudnya semua nya apa?" Khanza betanya karena memang tidak mengerti apa yang sedang di maksud Arif.
__ADS_1
Arif Mengangkat kepala dan menatap dalam ke mata Khanza, menarik nafas dalam dan mencoba menjelaskan apa maksud dia sebenarnya.
"Maaf untuk tadi di parkiran sekolah, Maaf untuk tadi yang sama Vera, dan maaf untuk .... Yang barusan tadi aku lakuin," Menyelesaikan kata-katanya dan masih tenggelam dalam tatapan mata Khanza.
Khanza yang memang merasa tatapan tulus dari Arif, menarik nafas dalam dan seolah tak percaya kalau Arif bisa meminta maaf kepadanya. Memalingkan muka menatap kedepan.
"Pertama, aku tak mempermasalahkan yang tadi di parkiran, karena aku sadar diri kalau memang aku hanya seorang gadis cupu dan sangat tidak pantas jika berteman dengan kalian yang penampilannya jauh dari aku. Jadi .... Wajar kalau kamu malu jika harus dekat dengan aku. Aku tidak akan mempermasalahkannya." memejamkan mata dan menarik nafas dalamnya sekali lagi, menetralkan rasa sakit yang kembali hadir di dalam dada.
"tidak se ...." Arif mencoba menjelaskan tapi di potong Khanza.
"Kedua, kamu dengan Vera tidak ada urusannya denganku, tidak ada sangkut pautnya dengan aku. Kamu dekat dengan siapa pun itu, dan melakukan apa pun itu aku rasa bukan urusan aku, jadi untuk apa minta maaf," ungkap Khanza.
Arif sudah bingung dengan ucapan Khanza. Dia semakin merasa bersalah dengan ucapan Khanza, mengusap kasar mukanya dia mencoba berbicara tapi selalu di potong Khanza.
"Za ....!" ucap Arif.
"Ketiga, Masalah yang tadi ....! Aku tidak tau kalau kamu tiba-tiba datang dan berada disini. Entah sengaja kesini atau cuma kebetulan. Yang jelas lelaki tadi, cuma sekedar bertanya tentang komplek ini karena memang dia orang baru disini." mengangkat kepala dan ingin berdiri tapi langsung di tahan Arif.
"Za, aku tadi kerumah kamu! Kata Mama kamu, kamu pergi ketaman. Akhirnya aku memutuskan menyusul kesini dan tidak sengaja melihat lelaki yang cari perhatian ke kamu. Sepertinya bertanya itu ini cuma alasan dia," ucap Arif menjelaskan maksud kedatangannya dan masih memegang tangan Khanza.
Khanza berbalik menatap Arif, menghela nafas dan duduk kembali.
"Jangan menuduh orang sembarangan!" Ucap Khanza.
"Serius Za! dia cuma modus sama kamu!" Arif tidak mau mengalah.
"Terserah kamu aja deh! orangnya juga sudah pergi, lagian tau namanya aja nggak," Khanza berucap sambil memalingkan mukanya karena percuma kalau Arif sudah seperti itu pasti akan kekeh dengan ucapannya.
"Maksud kamu? mau berkenalan dengan orang tadi? dan aku ganggu gitu?" Dengan bibir di kerucutkan dan nada di buat seolah merajuk.
"Eh .... Bukan gitu maksud aku Rif!"
"Terus apa maksudnya? emang aku ganggu kan?" pura pura ingin pergi.
Khanza langsung menahan dan menarik tangan Arif.
Tanpa melepas genggaman tangan mereka tapi masih sama-sama berdiam diri, sampai Arif teringat dengan buku PR yang tadi di berikan Khanza.
"Za .... Terimkasih PR yang sudah kamu kasih ke aku. Pasti kamu yang membuatnya untukku kan. Aku tidak tau kalau tadi kamu tidak menyelamatkan aku, mungkin aku bakalan di hukum."
Masih menggenggam tangan Khanza dan berbalik menghadap Khanza sehingga mereka beradu pandang untuk yang kesekian kalinya.
"Nggak usah di pikirin! selama aku bisa bantu aku akan selalu membantu orang lain!" Khanza sudah memutuskan kontak mata dan melepas tangan mereka karena takut akan semakin jatuh kedalam pesona Arif.
"Za, kalau kamu memang tidak marah sama aku, kenapa kamu tidak mengangkat telponku berkali kali dan menonaktifkan hp kamu?" tanya Arif.
"Eh itu ....! h... hpnya ketinggalan di kamar mungkin lowbet?" Khanza Mencoba mencari alasan.
"Oh kirain sengaja!" ucap Arif.
"Kita pulang yo? udah sore banget ini!" Khanza beranjak berdiri dan di iringi Arif.
Sebelum pergi Arif kembali bertanya dengan Khanza.
"Beneran nggak marah kan Za?"
"Mana mungkin aku bisa marah sama kamu!" Khanza menjawab dan langsung berjalan meninggalkan Arif.
Arif yang tersenyum mendengar ucapan Khanza, menyusul Khanza bejalan dan mencoba mensejajarkan jalannya.
Mereka pulang bersama dengan Arif yang terlebih dulu mengantar Khanza ke rumahnya.
"Aku langsung pulang ya Za? salam aja sama Om dan Tante!" pamit Arif.
"Oke Rif, nanti aku sampaikan sama Mama Papa. Kamu hati hati ya?" ucap Khanza.
__ADS_1
"Bye Za, aktifin hp lo ...!" dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Iya bawel ...." Khanza tersenyum melihat tingkah Arif yang memang sangat berbeda jika mereka hanya berdua.
Arif menyalakan motornya dan berlalu dengan melambaikan tangannya.
Khanza berteriak sambil membalas lambaian tangan Arif.
"Hati hati ....!!!" teriak Khanza.
Motor Arif pun sudah tidak terlihat lagi, barulah Khanza memasuki rumahnya dengan semangat dan senyum yang kembali ceria.
"Ehem sudah kembali senyum aja nih? Tadi aja ada yang nggak semangat gitu!" Goda Mama Khanza.
"Apaan sih Ma? tadikan cape balik dari sekolah!" mencoba mengelak tetapi muka Khanza sudah berubah merah, karena ucapan sang ibu.
"Iya deh iya .... Mama percaya ....!" masih dengan senyum menggoda sang Ibu.
"Khanza ke kamar dulu Ma?" Khanza yang berlalu ingin menaiki tangga, berbalik kembali menatap sang Ibu.
"Tadi Arif titip salam buat Mama sama Papa!" ucap Khanza.
"Waalaikumsalam, Arifnya nggak mampir Za?" tanya sang Ibu.
"Nggak Ma! katanya kesorean, Khanza ke kamar dulu ma!" berlalu setelah mendapat anggukan kepala dari sang Ibu.
Khanza masuk ke kamar dan langsung mencari Hp yang tadi di taruhnya di laci.
Mengaktifkan Hp dan membuka banyaknya panggilan dari Arif, ada beberapa chat dari teman-temannya.
Khanza membaca chat, membalas satu satu chat dari temannya. Sampai pada chat spam dari Arif yang isinya "tes dan Khanza" berpuluhan kali.
Khanza tersenyum dan membalas chat Arif.
💌 "Spam chat🙄"
Lama menunggu balasan dari Arif, Khanza pun masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya, karena hari sudah menjelang malam.
*Arif💕
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Like, komen dan vote ya!!!
__ADS_1
Kritik dan saran nya ya,maaf masih banyak typo🙏