CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-50~Kemarahan Arif


__ADS_3

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Arif menepikan motornya di pinggir jalan sepi.


"Kenapa, Rif?" tanya Faizal menghentikan motor di samping Arif.


"Gue mau cari Sony, lo mau ikut?"


"Eh, bukannya tadi kata Kak...."


"Gue nggak tenang kalau nggak balas itu orang, Fa." potong Arif.


"Tapi, Rif. Ke_"


"Kalau lo nggak mau ikut, biar gue sendiri aja!"


Arif kembali melajukan motornya tanpa menunggu Faizal.


"Keras kepala banget, sih, itu anak! Heran gue, kok Khanza bisa cinta sama dia, ya?" gerutu Faizal sendiri. Dia mengeluarkan HPnya menghubungi Randra, memberitahukan kalau singa siap menerkam mangsanya.


Faizal menyusul Arif, setelah memutus telponnya dengan Randra. Namun, Faizal sudah kehilangan jejak Arif.


"Sial! kemana lagi, tu, anak?!" umpat Faizal. Dia kembali menghubungi Randra.


Rand, gue kehilangan jejak.


Ke tempat drag biasa aja. Kita ketemu di sana, Biasanya Sony nongkrong di tempat itu.


Oke.


Faizal kembali membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Memasuki gang-gang kecil yang di penuhi polisi tidur, demi cepat sampai pada tempat yang di tuju.


Faizal dan Randra datang bersamaan, berlari cepat menuju kerumunan orang-orang di tempat itu. Randra dan Faizal berjengkit kaget melihat Arif yang berada di atas tubuh Sony, dia memukul Sony tanpa ampun. Sedangkan Tia sudah terduduk gemetar di tanah menyaksikan kebrutalan Arif. Orang-orang di sekitarnya hanya menonton bahkan ada yang berteriak kegirangan menikmati pertujukan itu. Randra dan Faizal menarik pergelangan Arif segera menghentikan perkelahian itu.


"Sudah, bro!" cegat Randra. Dia menarik Arif untuk menjauh dari tubuh Sony yang sudah babak belur.


"Lepas!" Arif menyentak tangannya. Tapi, Randra dan Faizal semakin mempererat pegangan mereka di kedua lengan Arif.


"Sudah cukup, Rif. Dia sudah...."


"Nggak! dia harus tau akibatnya sudah berani menyakiti Khanza." Wajah Arif merah padam, serta kilatan matanya tajam menandakan Arif siap menghabisi lawannya.


"Kalau, Khanza lihat lo, gini. Pasti dia marah, Rif," Randra mencoba menasehati Arif.


"Yang ada dia sedih, Rif. Dia masih di rumah sakit, apa kamu tega." tambah Faizal.


Benar saja, tubuh Arif melemah. Emosi yang tadinya membara perlahan padam, kilatan mata elang itu sudah tertutup membayangkan wajah kekasih yang sendu jika melihatnya seperti itu. Arif membuka mata, menatap kembali Sony yang memegangi sudut bibirnya serta Tia yang menangis tersedu memeluk kekasinya itu.

__ADS_1


Arif menarik kerah baju Sony. "Kalau sampai sekali lagi kalian menyakiti Khanza, gue nggak bakalan kasih ampun! Termasuk lo Tia! meskipun lo cewe, jangan harap lepas dari gue," ancamnya, dia melepas kasar cengkraman tangannya. Berbalik membawa langkah kakinya menjauh dari tempat itu, bahkan dia meninggalkan Faizal dan Randra di sana.


Faizal berjongkok menatap Sony dan Tia bergantian, rasanya dia ingin sekali memukul keduanya. Namun, melihat wajah hancur Sony, Faizal tau kalau lelaki di hadapannya sudah cukup mendapatkan balasannya.


"Sekali lagi lo ganggu Khanza, bukan cuma Arif yang bikin lo kaya gini!" desis Faizal menunjuk wajah Sony.


"Gue, nggak nyangka Son, lo bisa tega sama cewe! Mulai sekarang gue nggak mau lagi temenan sama kalian." Randra menepuk bahu Faizal, memberikan isyarat untuk pergi dari sana. Membiarkan Tia dan Sony yang entah akan menyesali perbuatannya atau tak menggubris ancaman-ancaman mereka.


***


Sepeninggal Arif dan Faizal, Papa Khanza kembali ke rumah sakit membawakan baju ganti untuk istrinya. Melihat Khanza yang sudah baik-baik saja, Papa Khanza menyuruh Zay untuk pulang menemani istrinya yang sedang hamil di rumah. Namun, sebelum kepulangan Zay, kepala sekolah dan dua orang guru Khanza datang menjenguk anak muridnya. Mereka mengecam keras pembullyan yang sudah terjadi di sekolah mereka, meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Khanza dan keluarga atas kelalaian sekolah dalam hal ini. Mereka juga membawa rekaman sisi tv sebagai bukti perbuatan tak bertanggung jawab dari beberapa anak muridnya.


"Semua sudah ada bukti, Pak. Sekarang kami serahkan pada kalian sebagai keluarga Khanza, mau mengambil jalur hukum atau tindakan lainnya," terang Kepala sekolah kalau saja keluarga Khanza mau melaporkan masalah ini ke polisi.


Hening sejenak, Papa Khanza dan Zay masih mengamati vidio dimana Khanza di bully habis-habisan dengan 5 murid perempuan dan 1 murid laki-laki.


"Bagaimana, Zay?" tanya Papa Khanza pada anak lelakinya.


"Menurut, Zay. Ini sudah kelewat batas, Pa. Apa kita ambil jalur Hukum saja?" usulnya.


"Pa, Kak." Khanza membuka suaranya dari atas ranjang pembaringan.


"Jangan lapor polisi, Pa, Kak. Kasian masa depan mereka." mohon Khanza.


"Sepertinya kami tidak akan mengambil jalur hukum, Pak. Semuanya kami serahkan ke sekolah saja bagaimana yang baiknya." Papa Khanza memberikan keputusan bijaknya.


Zay mangangguk setuju dengan keputusan Lelaki paruh baya yang di panggilnya Papa itu.


"Baiklah, Pak. Jika itu kepetusan keluraga Khanza. Besok kami akan memanggil orang tua anak-anak di vidio itu, pihak sekolah akan menskors bahkan kalau perlu mereka akan kami keluarkan dari sekolah." tegas kepala sekolah.


"Semua keputusan kami serahkan pada sekolah, Pak. Apa pun itu," ujar Zay.


Setelah bicara panjang lebar, Kepala sekolah dan dua guru Khanza pun pamit pulang. Mereka sudah mengambil keputusan tindakan apa yang akan mereka lakukan pada anak murid yang terlewat nakal itu.


Zay juga pamit, menuntun langkahnya kembali pada rumah di mana ada istrinya yang sedang menunggu dengan janin di dalam perutnya.


***


Arif, Randra dan Faizal sedang berada di pinggir jalan sepi, mereka memarkirkan motornya berjejer dan duduk di atasnya. Arif menyulut sebatang rokok untung menenangkan pikirannya, menghemsbuskan asap dari mulut dan hidung ke udara Arif sudah merasa lebih tenang sekarang. Randra dan Faizal hanya diam memperhatikan lelaki yang sedang berjuang mengalahkan emosi di kepalanya.


Telpon Arif berdering, ada nama Khanza yang tertera di sana. Menggeser tombol hijau Arif menempelkan benda pipih itu di kupingnya.


Hallo?


Za, belum tidur?

__ADS_1


Arif bertanya lembut pada gadis di seberang sana, dia menghis*p kembali sisa rokok di tangannya, menghembuskannya kasar hingga terdengar oleh Khanza.


Rif, kamu merokok? dan itu juga ada suara motor, apa kamu masih belum pulang?


Arif terperanjat, tidak tau menjawab apa tebakan Khanza tepat sasaran.


Aku nggak suka ya, yang, kamu ngeroko. Apalagi sekarang aku lagi di rumah sakit, kamu malah asik-asikan di jalan, atau jangan-jangan lagi sama ce_


Aku sama Faizal dan Randra, Za. jangan mikir macam-macam. Kalau nggak percaya? atau mau bicara sama mereka?


Iya aku percaya. Tapi, aku tetap nggak suka kamu ngeroko, terus kenapa masih kelayapan sih!


Iya, iya.... Ini rokoknya di buang. Ini juga mau pulang sayang.


Pokoknya kalau kamu ketahuan ngerokok lagi aku nggak mau ngomong lagi sama kamu. Terus ngapain pulang, nggak usah pulang sekalian.


tut-tut-tut!


Khanza memutus pangilannya sepihak. Membuat Arif mengeryit heran, pasalnya baru kali ini dia mendengar Khanza secerewet itu apalagi sekarang pakai acara ngambek segala. Arif berkali-kali menghubungi Khanza kembali tapi berkali-kali juga di tolak gadis itu.


"Shit?" umpat Arif memukul jok motornya.


"Kenapa, Rif?" tanya Randra.


"Gue ketahuan belum pulang sama ngeroko, do'i ngambek," jawab Arif frustasi.


"Rasa'in lo, Rif. Syukur nggak ketahuan habis ngehajar anak orang, bisa-bisa di putusin, lo!" ledek Faizal.


"Mulut, lo ya, Fa. Bukannya bantuin malah bikin gue ngeri," ringis Arif membayangkan kemarahan Khanza kalau sampai tahu dia habis menghajar Sony.


Ekspresi Arif mengundang gelak tawa dari dua temannya.


"Tadi aja ada yang brutal banget ngehajar anak orang, sekarang gara-gara do'i marah sudah frustasi gitu," sindir Randra.


"Khanza itu kalau marah ngeri lho, Rand. Bisa-bisa di diamin satu minggu si Arif," celetuk Faizal.


"Seneng 'kan, kalian ngeledek gue!"


Faizal dan Randra malah semakin kencang menertawakan Arif yang masih sibuk mencoba menghubungi Khanza. Memang teman sialankan? bukannya membantu malah semakin senang melihat Arif frustasi seperti itu.


"Argh! gue pulang deh. Lagian tumben banget Khanza bisa crewet gitu, udah kaya si Dea aja," celetuk Arif, dia menaiki motornya meninggalkan dua temannya begitu saja.


Kalimat Arif membuat Randra terdiam, dia jadi teringat gadis yang tadi di ciumnya di mobil. Ada rasa aneh yang bersemayam di dirinya saat membayangkan wajah gadis cempreng itu. Senyum tipis terukir di wajah Randra kala nama Dea memenuhi pikirannya.


"Kita juga cabut, yo, Rand." tepukan di bahu Randra menyadarkannya dari bayangan tentang Dea. Menganggukkan kepala, Randra memutar kunci motor bersiap pergi dari tempat itu. Berpisah di tengah jalan, mereka pulang ke rumahnya masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2