
Di parkiran salah satu pusat perbelanjaan di kota itu, Arif dan Khanza turun dari motornya.
"Sini, aku lepasin!" ucap Arif melepaskan helm di kepala Khanza.
"Terimakasih," tutur Khanza dengan senyum manisnya. Khanza membenarkan rambutnya yang berantakan dengan tangan.
"Sudah cantik!" puji Arif, membuat Khanza tersipu malu.
"Kita masuk yuk!" ajak Arif.
Mereka memasuki mall itu, Arif berjalan sedikit lebih dulu dari Khanza. Banyak wanita menatap memuja pada ketampanan Arif yang penuh kharisma, mereka memberikan senyum termanis untuk Arif.
"Kita kemana dulu?" tanya Khanza menyisipkan tangannya di lengan Arif.
Arif menatap Khanza dengan penuh tanda tanya. Mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, baru Arif menyadari kalau sejak tadi banyak pasang mata yang menatapnya.
"Kamu maunya kemana?" tawar Arif lembut, dengan senyum sejuta pesonanya Arif menyingkirkan helaian rambut yang menjutai di muka Khanza.
Jangan tanyakan bagaimana Khanza saat ini, perasaan bahagianya sudah tidak bisa di gambarkan lagi.
"Kita ke resto aja yuk!"
"Apa pun yang kamu mau!" kata Arif mengacak rambut Khanza gemas.
Berjalan dengan bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih, mencari tempat yang cocok untuk makan.
***
Sepakat makan pada salah satu resto di pusat perbelanjaan itu, Khanza dan Arif mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk. Khanza melihat dua orang yang sedang asik menyantap makanannya.
"Kak, Sheryl!" pekik Khanza.
"Siapa, Za?" tanya Arif.
"Itu, sepertinya Kakak sepupuku, dengan tunangannya. Kita samperin aja yuk!" terang Khanza menarik tangan Arif. Arif hanya menurut pada Khanza.
"Kak Sheryl! Kak Baruna!" sapa Khanza kedua orang itu.
"Kha-Khanza!" ucap Kak sheryl menatap pada kami.
"Hai, Kak!"
"Ini beneran Khanza?" tanya Kak Baruna ragu.
"Iya, Kak!"
"Wah, Kakak sampai pangling lo!" ucap Kak Sheryl yang kaget melihat perubahan Khanza.
"Cantik ya, Sayang?! Biasanya 'kan ...." ucap Baruna menggantung kata-katanya, takut kalau Khanza tersinggung.
Sheryl menatap pada lelaki yang hanya diam di samping Khanza. "Dia siapa, Za?" tanya-nya.
"Kenalin Kak, aku Arif temannya Khanza," ucap Arif menjabat tangan Baruna dan Sheryl.
"Oh .... Arif yang di ka_" Belum sempat Sheryl menyelesaikan ucapannya tapi sudah di potong oleh Khanza.
"A .... Boleh kita gabung di sini, Kak?" tanya Khanza sengaja memotong ucapan Sheryl.
"Boleh, Silahkan!" jawab Baruna.
__ADS_1
"Boleh dong!" ucap Sheryl mempersilahkan Khanza dan Arif duduk.
Mereka berempat duduk berhadapan, Baruna memanggilkan waiter untuk Khanza dan Arif.
"Kalian mau pesan apa?" tanya Baruna.
"Kamu mau pesan apa, Za?" tanya Arif melihat Khanza.
Khanza dan Arif membolak-balik buku menunya mencari makanan yang cocok untuk seleranya.
"Yang ini aja gimana?" ucap Khanza menunjuk makanan di menu.
"Udang steam dua, sama jus jeruk dua," tutur Arif menyebutkan pesanannya pada waiter.
"Anak jaman sekarang romantis ya, sayang," celetuk Sheryl menatap pada Arif dan Khanza.
"Iya, cocoklah kalau pacaran," sahut Baruna menanggapi Sheryl.
Blusing!
Pipi Khanza dan Arif bersemu merah. Khanza merasa kalau Sheryl sedang menggodanya. Arif menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal, begitu salah tingkah dengan ucapan pasangan di depannya.
Sheryl dan Baruna pun hanya tersenyum melihat dua pasang anak muda yang terlihat malu-malu.
Sambil menunggu pesanan datang mereka berempat menggobrol bersama, Khanza teringat kalau akan ada pertandingan di sekolahnya. Dia berniat mengundang Sheryl dan Baruna.
"Kak Sheryl dan Kak Baruna, nanti datang ya, ke Wisley International School. Ada pertandingan antar pelajar," ucap Khanza mengundang mereka berdua.
"Kapan, Za?" tanya Sheryl.
"Tiga hari lagi. Pokoknya harus datang!" tegas Khanza memaksa.
"Tapi, Kamu juga harus datang ke acara pernikahan kami. Dua minggu lagi, loh. Arif juga harus datang. Kasihan Khanza tidak ada pasangan. Awas saja tidak datang seperti acara pertunangan!" ucap Sheryl balik memaksa sekaligus mengancam Khanza.
Sheryl yang sering mendengar cerita Khanza yang begitu mengagumi Arif, begitu suka menggoda dua anak muda di depannya.
"Iya, Kak Sher," jawab Khanza dengan pipi merahnya.
Arif menatap Khanza dengan senyumnya. "Pasti Kak! Pasti aku temani dia." Khanza juga mentap Arif dengan senyum malu-malunya.
"Ehem .... Kode tuh, Rif." Baruna berdehem mengagetkan dua anak muda yang saling mengunci tatapannya.
Arif dan Khanza kelabakan mengalihkan pandangannya. Sheryl dan Baruna menahan tawanya melihat mereka yang selalu salah tingkah.
"Za, aku ketoilet dulu," ucap Arif dengan senyumnya, Dia merasa begitu salah tingkah di hadapan Sheryl dan Baruna yang terus-terusan menggoda mereka.
Arif berlalu meninggalkan mereka setelah mendapat anggukan dari Khanza. Khanza tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya.
"Kalian sudah jadian?" tanya Sheryl tiba-tiba.
"Nanti aku ceritakan, Kak. Malu ada Kak Baruna," jawab Khanza berbisik.
"Oh ... oke. Kalian main rahasia-rahasiaan sama aku nih?" sindir Baruna menatap Khanza dan Sheryl bergantian.
"Ini urusan perempuan, sayang," ucap Sheryl lembut.
Poncel Baruna berdering tanda ada panggilan masuk, segera mengangkat telponnya sedikit menjauh. Semenit kemudian Baruna kembali menghampiri dua wanita cantik yang sedang asik mengobrol.
"Kita pulang, yuk. Reza sudah marah-marah menunggu kita di rumah sakit," ucap Baruna mengajak Sheryl pulang lebih dulu.
__ADS_1
"Khanza, kami pulang duluan ya," pamit Sheryl.
"Makanan dan minumannya biar aku yang bayar. Nikmati saja kebersamaan kalian sekarang. Kapan lagi bisa kencan romantis berdua dan tidak ada yang mengganggu," tambah Baruna, sengaja menggoda gadis remaja di depannya.
Khanza begitu salah tingkah dengan ucapan Baruna. Hanya bisa mengangguk pada pasangan romantis yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan itu. Sheryl dan Baruna pergi meninggalkan Khanza di dalam resto itu.
Khanza duduk menunggu Arif yang entah kenapa begitu lama pamit ke toilet. Dia memainkan poncelnya membalas chat teman-temannya.
"Lho, Za! Mana Kak Baruna dan Kak Sherylnya?" tanya Arif mengejutkan Khanza.
"Arif!" Khanza mengelus dadanya terkejut. "Sudah pulang, Dapat telpon dari Kak Reza," ujar Khanza menjelaskan.
Arif hanya menanggapi dengan manggut-manggut. Mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, menunjukkan pada Khanza.
"Wow .... Cantik sekali, untuk siapa?" Khanza melihat sebuah kalung yang di tunjukkan Arif padanya.
"Buat siapa ya?" canda Arif tersenyum jahil.
"Vera!" balas Khanza memalingkan mukanya, mengambil sendok dan garpu untuk menyantap makanannya.
Arif tersenyum bahagia menanggapi Khanza yang begitu manis saat cemburu. Arif beralih kebelang Khanza memasangkan kalung itu di leher Khanza.
Tubuh Khanza menegang, sendok di tangannya pun terjatuh. Jantungnya seakan melompat dari tempatnya.
Arif duduk di samping Khanza, memegang bahunya menuntun untuk menatap padanya. Menatap pada Kalung yang menepel di leher Khanza, Arif tersenyum dengan begitu manisnya.
" Makin tambah cantik," puji Arif.
Khanza menyentuh kalung di lehernya, merasa tidak percaya dengan apa sedang terjadi saat ini. Menatap kedalam mata Arif yang terlihat penuh ketulusan.
"Sudah nggak usah kaget gitu, makan yuk!" ujar Arif berbalik dan menyantap makanannya yang sudah mulai dingin.
"Te-terima kasih, Rif," ucap Khanza merasa gugup.
"Sudah, ayo makan, apa mau di suapin?"
"Eh .... Nggak!" pekik Khanza mengambil sendok dan garpu yang baru menyantap makanannya.
Aku sudah tidak bisa menahan perasaan aku lagi, aku sudah melebihi batas kagumku. Maafkan aku, Ver! aku sudah salah mencintai kekasih orang lain.
Arif dan Khanza menyantap makanannya penuh dengan keromantisan, Arif yang terus-terusan memberikan sikap hangatnya kepada Khanza membuat gadis remaja itu terbuai dengan pesonanya.
"Kita kemana lagi, Za?" Arif bertanya setelah menyapu sisa makanan di mulutnya.
"Terserah aja deh, aku ikut aja."
"Ya sudah, kita mutar dulu aja. Aku mau bayar dulu," ucap Arif berdiri.
"Sudah di bayar Kak Baruna, Rif."
"Wah, enak dong kita, kencan di traktir." Arif tertawa memperlihatkan deret giginya.
"Apa'an, sih," ucap Khanza tersenyum.
Mereka keluar dari dalam resto itu. Berkeliling dengan Khanza yang menggandeng lengan Arif mesra.
__ADS_1
*Kisah Sheryl dan Baruna ada di novel Marriage Order by viviani.