
Faizal, Dea, Vera, dan Zia menunggu Arif dan Khanza di depan gedung bioskop. Faizal yang merasa haus pamit membeli minuman kepada tiga cewek itu.
"Gue beli minum dulu ya?" ucap Faizal.
"Baiklah!" ucap Dea.
Dea merasa canggung di tinggal bersama dua anggota geng centil, apalagi semenjak hari pertama Dea bersekolah bendera peperangan sudah mereka kibarkan.
Zia dan Vera mendang sinis pada Dea, mengabaikan Dea yang berdiri sendirian agak jauh dari mereka.
Dea mencoba berbicara kepada mereka.
"Em ... Kak Vera! Kak Zia! Ma ... maafin aku ya?" ucap Dea ragu-ragu. "Ma ... maaf kalau kemarin aku bikin masalah dengan kalian!" Dea mengatakannya dalam satu tarikan nafas.
Vera yang sedang mengobrol dengan Zia sama-sama menoleh ke arah Dea. Dea hanya tertunduk tidak berani menatap mereka berdua, Vera dan Zia saling pandang, seolah mengerti akan tatapan masing-masing.
Mereka kembali mengobrol, tanpa menghiraukan Dea dan tanpa menjawab permintaan maaf Dea. Mereka yang sebenarnya sangat tidak suka dengan Dea, tapi tidak mau membuat keributan di tempat umum, lebih memilih diam.
Dea jengkel sendiri karena merasa tidak di hiraukan.
'Sialan gua cape-cape minta maaf malah ngga di respon,'
Dea semakin di buat canggung dengan sikap acuh tak acuhnya Vera dan Zia, apalagi mereka berdua yang sesekali menatap sinis kepada Dea.
"Nih! minuman buat kalian!" Faizal menyerahkan botol air mineral kepada mereka satu-persatu.
"Terima kasih Fa!" ucap Dea.
"Thanks Ganteng!" ucap Zia genit.
"Khanza sama Arif belum balik juga?" tanya Faizal.
"Belom Fa," jawab Zia
"Ko, lama ya?" tambah Vera.
Dea hanya diam dan mengambil air mineral yang di berikan Faizal.
"Apa mereka tidak bertemu ya?" Faizal merasa sedikit cemas, karena sudah lama mereka tidak juga kembali.
"Biar aku susulin Arif dulu, kalian tunggu disni!" ucap Vera langsung berlalu tanpa menunggu jawaban yang lainnya.
Mereka hanya menatap Vera yang melengos pergi begitu saja, Faizal diam di tempat tapi mukanya menampakkan wajah khawatirnya. Terus menatap sekeliling kalau saja Khanza datang.
"Khanza, lama banget sih? ngapain aja sih dia bisa lama gini?" Dea menggerutu sendiri sambil melihat jam yang bertengger di tangannya.
__ADS_1
"Sudah masuk magrib," Faizal yang juga melihat jamnya ikut bersuara.
"Mungkin sebentar lagi mereka kembali, Fa!" ucap Zia pada Faizal, dan menatap sinis saat pandangan Zia dan Dea bertemu. Dea segera mengalihkan tatapannya dari Zia.
'Pingin gua colok tu mata,' ucap Dea dalam hati.
"Apa kita susulin aja ya?" Faizal memberikan usulan, menatap Zia dan Dea bergantian. Faizal mengerutkan dahi melihat tatapan Zia yang begitu sinisnya kepada Dea, tapi Dea yang seperti takut dan memalingkan muka.
Faizal yang tidak tahu menahu tentang Dea dan geng centil merasa heran sebab dari pertama bertemu dengan Dea, tatapan permusuhan sudah di layangkan Vera dan Zia.
Vera dan Zia sebenarnya berat hati jika harus nonton bareng dengan Khanza dan Dea, tapi karena Arif yang mengajak mereka biar bareng aja duduknya dengan Khanza dan Dea, mereka pun hanya mengikuti Arif.
Faizal dan Arif sudah sedikit akur meskipun tatapan mereka masih menyiratkan permusuhan tapi karena Khanza mereka mengesampingkan ego masing masing.
"Ayo dech Fa!" Zia menarik tangan Faizal untuk menyusul Vera, Arif, dan Khanza, Meninggalkan Dea yang masih berdiri.
"Eh! De, ayo...!" Faizal kaget karena tangannya langsung di tarik paksa Zia, meninggalkan Dea yang memberenggut kesal di buatnya. Menghentakkan kakinya menyusul Faizal dan Zia.
****
Vera berjalan dengan mata menyapu kekiri dan kanan mencari keberadaan Arif, memperhatikan sekitar, tatapannya terhenti dan terdiam di tempat. Melihat dua orang yang lagi berjalan berdampingan dan bergandengan tangan seperti seorang kekasih.
Vera langsung emosi dan menghampiri dengan cepat kedua orang itu. Menarik kasar tangan Arif yang menggandeng Khanza.
Arif dan Khanza menatap kebelakang bersamaan saat tangan mereka di lepas dengan paksa oleh seseorang. Mereka menatap dengan wajah keterkejutannya melihat Vera yang berada di belakang mereka, dengan napas memburu, dada naik turun, dan muka memerah menahan amarahnya Vera siap meledakkan emosinya.
"Jelasin apa? jelasin kalau kalian SELINGKUH!" ucap Vera begitu emosi sampai tidak menyadari kalau ucapannya menarik perhatian semua orang.
Arif membulatkan matanya ketika Vera berbicara begitu keras, dan menekan kata selingkuh dengan nada begitu keras. Menatap tajam dengan orang-orang sekitar yang sedang memperhatikannya dan sudah berbisik-bisik ria menebak yang tidak-tidak.
"Sayang! apa maksud kamu? dengarin dulu penjelasan aku!" Arif berusaha menenangkan Vera, dan ingin memegang tangan Vera.
"Aku sudah lihat semuanya!" balas Vera menghempaskan tangan Arif.
"Kak Vera! tolong tenang dulu Kak! ini tidak seperti yang Kakak lihat," ucap Khanza.
"Terus seperti apa? kamu 'kan yang selalu mendekati Arif! selalu cari perhatian Arif! aku nggak menyangka kalau gadis cupu seperti kamu bisa mendekati pacar orang lain!" ucap Vera menunjuk muka Khanza, dengan penuh emosi.
Khanza membulatkan mata mendengar ucapan Vera, Khanza tak bisa berkata-kata lagi, matanya sudah merah dan sudah mengeluarkan setetes butiran bening.
"Nggak usah so polos!" ucap Vera lagi.
Arif hanya diam, menatap keduanya. Tidak mencoba melerai, atau bersuara apa pun. Dia begitu syok mendengar tuduhan Vera kepada Khanza.
Menatap Khanza dalam ingin rasanya Arif menghapus air mata yang keluar dari bola mata indah itu.
__ADS_1
"Benarkan yang! kamu selalu di rayu gadis cupu ini!" Vera berpaling menatap Arif dan menunjuk muka Khanza.
Khanza tertunduk menyembunyikan air matanya.
"Jawab yang!" bentak Vera.
"I-iya!" ucap Arif terpaksa. Menatap Khanza tidak enak hati.
Mendengar ucapan Arif Khanza mengangkat kepalanya dengan mata merah dan wajah sudah basah dengan air mata. Melayangkan sorot mata tajamnya, Khanza tidak percaya dengan apa yang sudah keluar dari mulut Arif, dia begitu kecewa mengapa Arif tega seperti itu dengannya.
Arif melihat tatapan kemarahan Khanza, dan Air mata yang membasahi wajah manis dan polos gadis cupu itu, Arif merasa begitu bersalah kenapa dia membenarkan ucapan sang kekasih.
Vera tersenyum kemenangan dan langsung menghambur memeluk Arif.
"Aku selalu percaya sama kamu," ucap Vera dalam pelukan Arif.
Arif mengangkat tangan membalas pelukan Vera, tapi matanya selalu tertuju pada Khanza.
Khanza berbalik dan langsung berlari dengan air mata yang sudah tidak bisa di bendung, hanya sakit yang begitu menusuk yang di rasa Khanza. Terus berlari tanpa melihat sekitar, sampai dia menabrak dada seseorang, hampir terpental jatuh tapi orang itu dengan cepat menarik Khanza, dan memeluknya.
Arif melepas pelukan Vera, ingin mengejar Khanza, tapi mengurungkan niatnya saat melihat Khanza menabrak seseorang, dan orang itu memeluk Khanza.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih banyak kepada semua sudah mendukung dan selalu memberikan semangat untuk saya...!!!
Mohon kritik dan sarannya ya guys, biar kedepannya bisa lebih baik lagi..
jangan lupa like, rate5, fav, dan tinggalkan jejak kalian
..
__ADS_1
😘😘😘😘😘😘💕💕💕💕😍😍😍😍😍