
Menepati janjinya, Arif mengajak Khanza ke kantin untuk makan bakso bersama. Tapi, lagi-lagi sang kekasih besikap manja, Khanza merengek minta makan bakso di luar.
"Yah, mau ya? please!" mohon Khanza pada Arif.
"Tapi nanti keburu masuk, Za."
"Bentar doang, deket kok."
"Tapi ...."
Khanza cemberut, menundukkan kepalanya lesu.
"Ya sudah. Ayo kita makan keluar," pasrah Arif.
Mata Khanza berbinar, dia sampai berteriak kegirangan, menarik tangan Arif untuk segera pergi ke warung bakso kesukaannya.
"Za, pelan-pelan. Nanti jatuh!" tegur Arif.
Khanza tidak mendengarkan ucapan Arif. Dia tetap berjalan tanpa melepas tangan kelasihnya, hampir saja dia menabrak seseorang lelaki di depannya.
"Kalau jalan lihat-lihat dong!" bentak lelaki itu, dia tidak menyadari kalau ada Arif di belakang Khanza.
"Ma-maaf," ujar Khanza.
"Maaf ... maaf! enak banget cuma minta maaf!"
"Terus mau lo, apa?" Arif tidak terima kekasihnya di bentak seperti itu, dia mencengkram kerah baju lelaki itu.
"A-Arif," lirih lelaki itu takut dan gugup, wajahnya seketika memucat.
Khanza tergelak, melihat Arif langsung emosi. Dia segera menarik paksa kekasihnya itu, agar menjauh dari sana. sebelum terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
"Awas, lo, sekali lagi bentak pacar gue!" ancam Arif, seraya menjauh mengikuti seretan tangan Khanza.
Setelah kejadian itu, mereka langsung makan di tempat yang Khanza mau. Arif menggeleng-gelengkan kepala melihat gadis di depannya sudah menghabiskan dua mangkok bakso. Bahkan kekasihnya itu masih mau minta lagi, kalau saja Arif tidak melarangnya. Mengajak Khanza kembali ke sekolah, Arif membayar semua makanan mereka.
***
Matahari sudah tenggelam di ufuk sebelah barat, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Seorang gadis cupu sudah berubah bagai ratu. Dengan rambut yang di kuncir kuda, Khanza juga mengaplikasikan make up tipis di wajahnya. Berbalut jumpsuit tanpa lengan, gadis itu menutup bahunya dengan jaket levis.
Khanza menelpon Arif sebelum turun menemui Faizal di bawah yang sudah menunggunya. Dia sekali lagi meminta izin pada kekasinya untuk keluar bersama sahabat masa kecilnya. Khanza merasa bingung dengan perubahan Arif, pasalnya kekasihnya itu seperti memberi banyak waktu untuk dia dan Faizal, padahal kemarin-kemarin dia emosi ketika melihat Khanza bersama Faizal. Menghela nafas panjang, Khanza turun dari kamarnya dengan santai.
__ADS_1
"Hai, Fa?" sapa Khanza pada sahabatnya yang menunggu di bangku tamu.
"Za, Sudah selesai?"
"Sudah, Ayo kita berangkat, nanti kemaleman."
"Ayo! kita izin dulu sama orang tua kamu," usul Faizal.
Setelah menyalami kedua orang tuanya, Khanza dan Faizal berlalu menaiki kuda besi kesayangan lelaki itu. Membelah jalanan macet ketika malam minggu tiba. Faizal tidak langsung mengajak Khanza ke tempat tongkrongan mereka, tetapi dia mengajak Khanza menikmati taman dimana mereka sering menghabiskan waktu bermain sejak dulu.
Disinilah mereka, duduk berdua di salah satu bangku yang berjejer di taman. Menikmati pohon-pohon yang di hias kerlap-kerlip lampu bagai cahaya bintang. Dengan penuh tawa dan semangat membara, mengingat kembali cerita-cerita yang telah silam yang berubah menjadi kenangan.
Khanza menghentikan tawanya, bersandar pada bahu sahabatnya. Kenangan indah itu, akan selalu menjadi warna di kehidupannya. Tersimpan dalam memory indah di hatinya. Malam ini dia ingin menghabiskan waktu kembali bersama sahabatnya, mengukir kembali kisah persahabatan abadi sampai nanti.
***
Suasana malam gelap mencekam, di langit muncul kilatan cahaya menyilaukan. Suara petir menggelegar memecah pendengaran, hujan kembali melanda setelah sempat reda di kala senja menyapa. Arif mengistirahatkan tubuhnya, berbaring di atas tempat empuk di kamar. Mengotak-atik handphone, Arif berselancar di sosial media instragram. Mengernyit heran saat mendapati beberapa foto sang kekasih dengan Faizal di pajang di beranda lelaki itu. Arif membaca caption-caption yang di tulis di bawahnya.
Foto pertama saat Khanza dan Faizal masih memakai seragam SD.
'Hal terindah dalam persahabatan adalah ketika kalian bisa saling memahami, saling mendukung dan saling mempercayai.'
'Kita dulu adalah orang asing. Namun, seiring jalan pertemuan, menjadi dekat satu sama lain. Sekarang kita adalah sahabat, semoga selalu bersama walau nanti dalam sebuah kenangan.'
"Apa maksudnya kenangan?" gumam Arif menautkan alisnya, kembali menggeser dan membaca captionnya.
Foto ketiga ketika Faizal dan Khanza berada di bandara.
__ADS_1
'Perpisahan bukan akhir dari segalanya karena masih banyak kenangan yang tercipta.'
Foto ke empat ketika Khanza dan Faizal berseragam SMA, dengan Khanza yang bersandar di pundaknya.
'Terimakasih untukmu yang sudah mau menjadi sahabat untukku, menemaniku dalam tawa dan menghiburku di kala terluka, semoga persahabatan kita akan kekal selamanya walau nanti terpisah dalam alam yang berbeda.'
Selesai sudah Arif melihat semua foto dengan caption-caption itu. "Apa maksudnya, sih, Faizal pajang kaya ginian?" gumam Arif, bertanya sendiri.
Arif ingin menutup laman instagramnya. Namun, unggahan terbaru yang di upload Faizal membuatnya membelakak kaget sampai-sampai dia , menganga tidak percaya.
Foto Arif, Khanza, Randra, Dea, Adit dan Faizal terpajang di sana dengan caption.
'Terima kasih kalian sudah menjadi bagian dari tawaku, terima kasih karena kalian sudah mau berteman denganku. Tawa kalian akan selalu 'ku ingat dalam tidurku'
Foto itu di ambil kemarin waktu mereka selesai main basket. Sebuah Foto selfi dari HP Faizal. Arif ingat waktu itu tiba-tiba saja Faizal mengajak mereka berfoto. Perasaan Arif menjadi tidak enak, temannya itu semakin bertingkah aneh akhir-akhir ini.
"Ini anak salah makan apa ya?" gumam Arif semakin bingung. Sementara Arif masih sibuk dengan kebingungannya muncul lagi foto terakhir yang di upload temannya itu. Sekali ini bukan lagi bingung yang di rasa, tapi Arif syok di buatnya. Mata Arif membulat sempurna dengan caption tertulis di sana.
'Buat cowok egois, emosian, bisanya cuma marah\-marah, tapi untung lo ganteng, hehehe. Jaga dia bro, jangan sakitin dia. Gue titip dia sama lo, semoga cinta kalian abadi selamanya. Gue pamit bersama kenangan singkat persahabatan kita di sekolah, namun itu begitu berarti buat diri gue pribadi. Semoga kalian selalu mengingat gue dalam kenangan indah hidup kalian.'
Arif menyambar jaket dan kunci mobilnya, bergegas pergi menyusul Khanza dan Faizal. Perasaannya semakin tidak enak, karena hujan turun semakin deras. Dengan panik Arif terus menelpon Khanza dan Faizal bergantian, tapi telponnya tak kunjung mendapat jawaban dari keduanya.
__ADS_1
"Argghh!" Arif meremas HPnya, dia benar-benar cemas saat ini. Ucapan-ucapan Faizal dari kemarin terus terngiang di telingannya, caption-caption itu, semakin membuat perasaannya tidak karuan. Di tengah hujan deras, Arif terus melajukan mobilnya mencari Faizal dan Khanza.