CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-54~CINTA SI CUPU


__ADS_3

Satu menit, dua menit, lima menit. Pesan Khanza tak kunjung di balas Arif. "Dasar! tadi aja ngirim pesan berkali-kali, giliran di balas lama balasnya," gerutu Khanza menggigit ujung bantal.


Khanza memutuskan menelpon Arif, mencari kontak sang pacar dan menkan tombol telpon di layarnya. Namun, belum sempat memanggil, ada sebuah notif balasan di HPnya.


Maaf sayang, baru ke bales. Aku lagi makan di kantin sama Faizal, Randra, Dea. Sudah dong ngambeknya, bikin aku tambah kangen tau nggak. Nanti malam kita telpon sepuasnya ya? ini sudah jam masuk kelas.


Love you my honey.


Khanza mencium layar poncelnya berkali-kali. Perasaan bahagia setelah membaca pesan itu menjalar sampai ke dasar hati. Melupakan merajuk manjanya, kini Khanza turun ke bawah menghampiri sang Mama.


Menapaki tangga berlantai marmer, Khanza menyeret kaki perlahan. Dia memang sudah bisa beraktifitas sedia kala, tapi anjuran Dokter menyuruh banyak beristirahat menjadikannya terkurung dalam kamar. Sudah 5 jam Khanza hanya berbaring di atas ranjang, cukup membosankan baginya. Hingga dia memutuskan berjalan-jalan di rumahnya sebentar.


"Ma! Mama lagi masak apa?" tanya Khanza sembari mendatangi Mamanya di dapur.


"Khanza! kok, turun, Nak."


"Bosan, Ma. Lagian aku sudah baik-baik aja, kok, Ma."


"Ya sudah. Kamu duduk dulu sana, ini Mama buatin bubur buat kamu."


Khanza menarik kursi di meja makan, mendaratkan pantatnya di sana. Matanya terus mengikuti pergerakan sang Mama yang berkutat di dapur. Meskipun ada pembantu di rumah itu, Mama Khanza lebih suka memasak sendiri untuk keluarganya. Terkadang Khanza di minta sang Mama untuk membantunya agar Khanza kelak tidak kaku jika di hadapkan dengan peralatan memasak. Bagaimana pun kodrat seorang wanita, mereka harus bisa berada di dapur untuk suaminya.


"Za, kok, di sini, dek?" Zihan melemparkan pertanyaan saat mendapati Adik iparnya di dapur.


"Bosan Kak. Masa rebahan mulu."


"Hahaha, iya ya, Dek. Rebahan itu nggak enak kalau terus-terusan."


Zihan ikut duduk di samping Khanza saat Mama Vina memberikan bubur pada keduanya. Mama Vina meminta Zihan juga makan bubur karna di usia muda kehamilannya dia butuh banyak asupan Nutrisi. Zihan dan Khanza menyantap bubur buatan Mama Vina dengan lahap hingga tak meninggalkan sisa di mangkok mereka.


Selesai makan Khanza di minta sang Mama untuk kembali ke kamar. Awalnya Khanza merengek meminta istirahatnya di bawah saja. Namun, kala Mama Vina mengeluarkan jurus mengomel, siapa pun di rumah itu akan takut dan memilih menuruti perintah Ibunda Ratu itu. Memainkan game online dari laptopnya, Khanza merasa terhibur, melupakan sekitarnya.


"Seru juga. Sudah lama nggak ngegame," gumam Khanza.


Khanza terus berkutat dengan permainan game, sampai-sampai tak mendengar notif beberapa kali dari poncelnya. Berteriak, mengumpat dan tertawa girang di dalam kamar sendiri, hingga tanpa terasa senja sudah menyapa di luar sana.


Mendengus sebal saat batrai laptopnya lemah, Khanza mendongak menatap ke atas. Jam dinding bulat menujukkan angka enam dengan jarum panjang tepat menusuk pada angka dua belas. Sudah senja. Khanza mulai menyeret kaki turun dari pembaringan empuknya. Mengisi batrai laptop, Khanza melangkah menuju kamar mandi. Dia melupakan poncel yang sejak tadi berbunyi meminta balasan dari jari-jemari lentiknya.


***


Sudah lama Arif tak menyentuh gitar di kamarnya, semenjak sibuk berurusan dengan 'Cinta Si Cupu' pemuda itu hanya sibuk dengan cemburunya pada Khanza. Mengambil gitar dan membawa ke balkon kamarnya. Berteman secangkir kopi hitam dan makanan ringan di atas meja, Arif menikmati pemandangan gerimis di sore hari menjelang senja. Arif sengaja menata balkonnya senyaman mungkin. Meletakkan dua kursi yang mengapit meja kecil di tengahnya, serta beberapa tanaman hias sengaja di tempel di pagar pembatas balkon. Pemuda itu mendudukkan diri di sebuah ayunan gantung terbuat dari rotan yang bercat hitam. Meraup udara sebanyak mungkin Arif mulai memetik senar gitar dan melantunkan bait demi bait lagu dari Last Child. Lirik demi lirik lagu Bukti cukup mewakilkan hati dari seorang Arif Saputra Wijaya.

__ADS_1


***


Memenangkan hatiku bukanlah


Satu hal yang mudah


Kau berhasil membuat


'Ku tak bisa hidup tanpamu


Menjaga cinta itu bukanlah


Satu hal yang mudah


Namun sedetik pun tak pernah


Kau berpaling dariku


Beruntungnya aku


Dimiliki kamu


Kamu adalah bukti


Kau jadi harmoni saat kubernyanyi


Tetang terang dan gelapnya hidup ini


Kaulah bentuk terindah


Dari baiknya tuhan padaku


Waktu tak mengusaikan cantikmu


Kau wanita terhebat bagiku


Tolong kau camkan itu


Meruntuhkan egoku bukanlah


Satu hal yang mudah

__ADS_1


Dengan kasih lembut kau pecahkan


Kerasnya hatiku


Beruntungnya aku


Dimiliki kamu


Membawakan lagu dengan penuh penghayatan, membayangkan wajah sang kekasih cupu yang mampu meruntuhkan egonya. Slide kenangannya bersama Khanza berputar dalam ingatan, betapa sabar dan hebatnya kekuatan dari cinta yang bertahan di tengah emosi yang membara. Kasih lembut dari seorang gadis cupu mampu memenangkan kerasnya hati seorang Arif. Kini poros hidupnya terfokus pada pujaan hati, berjanji pada diri untuk terus menjaga Khanza sepenuh hati. Berusaha memberikan yang terbaik untuk kekasih hati.


Kau lah bentuk terindah


Dari baiknya tuhan padaku


Waktu tak mengusaikan cantikmu


Kau wanita terhebat bagiku


tolong kau camkan itu


Maafkan aku, Za. Jika selama ini masih belum bisa memberikan yang terbaik untukmu. Maafkan aku, jika selama ini masih melukiskan perih dalam hatimu. Aku berjanji, Za, setelah ini akan selalu menjagamu. Love you gadis cupuku.


***


Ketika piringan matahari perlahan hilang dari cakrawala. Semburat cahaya merah(syafak) mulai pudar berganti gelapnya malam. Gerimis masih setia menemani langit senja. Arif menghentikan getaran sinar gitar di pelukan, menyelesaikan lantunan merdu yang keluar dari bibir indahnya.


Menyandarkan gitar di samping ayunan, Arif berpindah ke kursi di pojok. Menyesap kopi yang mulai dingin, Arif merogoh saku celana hitam selutut miliknya. Mengecek handphone kalau saja ada pesan balasan dari kekasih tercinta.


Senyum mengembang dari bibir lelaki tampan dengan balutan kaos polos berlengan pendek, otot biseps menyembul dari dua tangan kekarnya. Apalagi yang bisa membuatnya tersenyum selain mendapat balasan pesan dari Khanza. Melangkah masuk ke dalam kamar dengan mata dan tangan fokus pada layar poncel, Arif hampir saja terjerembab ke lantai, tersandung ujung karpet di kamarnya. Melempar tubuh secara terlentang di atas kasur, Arif tersenyum-senyum sendiri berbalas pesan dengan sang kekasih.


Khanza mampu mengobarak-abrik dunianya. Tertawa saat hubungan mereka baik-baik saja, emosi ketika cemburu melanda, bisa juga menitikkan air mata di kala melihat terbaring tidak berdaya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Ikuti terus cerita Arif dan Khanza.


__ADS_2