CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-83~Dua Hati Satu Cinta


__ADS_3

Matahari sudah melewati meridian langit, yang artinya sudah mencapai titik tertinggi di atas cakrawala. Sinar membakar itu sudah berada di posisi titik kulminasi, menandakan kalau sekarang sudah masuk waktu tengah hari. Namun, rasa gerah sepertinya tidak mengusik keakraban dua keluarga di kediaman Khanza. Gelak tawa pecah dalam ruang tengah, mengambarkan kebahagiaan yang kini sedang tumpah ruah.


Pulang dari bandara, Arif beserta kedua orang tuanya langsung bertandang ke rumah Khanza. Menjalin hubungan baik, antara dua buah keluarga. Semua ini sudah di rencanakan Arif dan Zay jauh-jauh hari. Namun, tanpa sepengetahuan dari Khanza.


Khanza duduk dengan gelisah di samping Arif. Sejak tadi dia hanya diam dengan senyum mengembang, sesekali melirik sang kekasih di samping yang asik mengobrol dengan sang Kakak. Sedangkan empat orang paruh baya itu juga larut dalam obrolan mereka. Zihan yang sudah hamil tua, izin pamit istirahat ke kamar.


Ngobrol aja terus, aku di cuekin dari tadi. Nggak tau apa, aku itu kangen.


Khanza menghela nafas kasar, hingga mengeluarkan suara. Membuat Arif mengalihkan tatapannya pada Khanza.


"Kenapa?" tanya Arif lembut.


"Kita kebelakang, yuk!" Khanza berbisik pada Arif.


"Sudah kangen ya?" goda Arif sembari mencubit gemas hidung sang kekasih.


"Ayah, Bunda, Om, Tante, Kak Zay, Arif permisi kebelakang dulu ya sama Khanza."


"Yang baru ketemu maunya berduan terus," celetuk Zay menggoda pasangan muda itu.


"Kaya kamu, nggak pernah muda aja, Zay," balas sang Papa.


"Sudah kangen katanya, Kak," sahut Arif.


"Bukannya kamu yang kangen, Rif," sindir Ayah Arif.


"Dua-duanya, sih, kayanya Om!" seru Zay.


Sontak semuanya terkekeh dengan gelengan kepala. Khanza hanya menunduk, menyembunyikan rasa panas di seluruh wajahnya.


"Sudah sana .... Kasian lo, Rif. Anak Tante, nangis terus tiap pagi." Mama Khanza melirik sang Anak yang sudah menunduk menyembunyikan rasa malunya.


"Ayo!" Arif menggenggam lembut tangan Khanza. Sekali lagi dia izin permisi pada semua orang di sana.


"Rif, Anak Bunda jangan di apa-apain, lo!" seru sang Bunda memperingati.


"Siap Bund," Jawab Arif dengan senyum mengembangnya. Menarik tangan sang kekasih, pemud itu mengajak Khanza segera berlalu dari sana. Meninggalkan dua keluarga yang sudah memberikan restu pacaran pada mereka dengan syarat selalu di pantau kebebasannya.


***


Khanza menghempaskan tangan Arif saat sudah mendekati gazebo di halaman belakang rumah. Air muka gadis itu, berubah datar dan dingin. Sangat nampak guratan emosi yang siap meledak.


"Kenapa?" ujar Arif, memegang lembut bahu Khanza, dia memutar tubuh gadis itu agar menghadap kepadanya.


"Kamu jahat, Rif. Tega!" Khanza memukul-mukul dada lelaki itu dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


"Maaf." Arif menarik gadis itu kedalam pelukannya. "Aku Kangen kamu, Za. Aku sangat merindukan kamu di sana."


"Bohong! kamu nggak pernah kabarin aku sama sekali. Kamu nggak ingat aku 'kan? kamu di sana senang-senang sama cewe la–"


Arif membungkam Khanza dengan bibirnya. Menyalurkan semua kata yang tidak bisa di ungkap hanya lewat omongan semata. Biar detak jantung mereka yang berbicara mewakilkan semua rasa yang meminta di lepas selama satu bulan terpisah lamanya. Setelah merasa Khanza tenang, Arif melepas tautan bibir mereka. "Kita duduk di sana yuk!" Menarik Khanza ke gazebo, Arif dan Khanza duduk menjuntai di tepi bangunan yang terbuat dari kayu itu.




Menyandarkan kepala pada bahu sang kekasih, Khanza menggenggam erat tangan Arif. "Jangan pergi lagi ya?" pinta Khanza.


"Iya, sayang. 'Kan kamu dengar sendiri tadi, Ayah sudah selesai tugas di luar kota. Artinya kami akan kembali berkumpul di rumah," jelas Arif.


Khanza mengangguk pelan. "Kamu kenapa nggak hubungin aku selama sebulan, sih, Rif?" Mengangkat kepala, Khanza memutar tubuhnya, berhadapan dengan sang kekasih, dia menatap dalam pada netra mata coklat Arif.


Arif tersenyum tipis, mengelus lembut pipi sang kekasih. "Aku sibuk merawat Bunda sama bantuin Ayah, Za," terangnya. "Tapi aku selalu pantau kamu tiap hari, kok!"


"Masa, sih?"


"Iya, Aku selalu minta, di kirimin Kak Zay vidio kamu tiap pagi. Ngomong-ngomong berdiri di balkon, hayo ngapain?" ledek Arif sambil mencolek hidung mancung sang kekasih.


"Pantas Kak Zay selalu masuk tiba-tiba tiap pagi," terwang Khanza. "Ternyata kalian sekongkol ya?" Khanza mencubit gemas perut sang kekasih. "Kamu jahat! kenapa nggak langsung hubungin aku aja, sih?" gerutu Khanza masih menyiksa sang Arif.


"Ish, kalian memang benar-benar ya?! tega lihat aku nangis tiap pagi kayak gitu," omel Khanza. Melipat tangan di dada dia melengos membuang muka.


"Puk-puk-puk! kasian pacar aku. Kangen ya, Za?" Arif menepuk pelan pucuk kepala Khanza. Memegang dagu lancip gadis itu, dia memaksa sang kekasih, untuk kembali memalingkan wajah menatapnya.


"Iya lah," sahut Khanza dengan ketus. Dia masih kesal pada Arif.


"Sini peluk." Arif merentangkan kedua tangannya.


Khanza tidak bergeming, menatap pada lelaki tampan dengan balutan kaos hitam serta jaket hitam yang masih enggan dia lepaskan.


Arif mengangkat dagu dan mengedipkan mata, mencoba menggoda sang kekasih agar segera menghambur kepelukannya.


Detik berikutnya, gadis manis itu menubruk dada Arif dengan kencang. "Aku sayang kamu, Rif."


"Aku lebih sayang kamu, Za." Mempererat pelukannya, Arif seakan tidak ingin lagi melepas sang kekasih. Memejamkan mata dia mengingat betapa menderitanya gadis itu di dalam setiap vidio yang di kirimkan Zay setiap pagi. Dia berjanji setelah hari ini, tidak akan membiarkan jarak menyiksa hati mereka lagi.


Khanza melonggarkan pelukannya, mendorong pelan bahu sang kekasih. "Rif?" panggilanya pelan.


"Kenapa, hm?" Arif menautkan alis tebalnya, menatap bingung pada sang kekasih.


"Boleh minta itu, nggak?" ungkapnya ragu.

__ADS_1


"Minta apa? kalau aku bisa turutin apa aja Bo–"


Tanpa menunggu Arif menyelesaikan kalimatnya, Khanza sudah membungkam bibir tebal sang kekasih. Tanpa perduli apa tanggapan, Arif nanti tentangnya. Yang jelas dia hanya ingin menyalurkan rasa yang bergelora di dalam di dadanya. Rasa rindu yang sebulan telah tumbuh subur di dalam jiwa raga.


Arif sesaat terpaku dengan pagutan mesra yang di berikan gadis cupunya. Namun, sesegera mungkin dia membalas semua yang di lakukan Khanza. Menyanyikan lagu cinta lewat decapan yang keluar mengisi keheningan di tengah hari yang panas menggelora. Rasa membakar matahari tak sebanding dengan panasnya penyatuan antara dua benda kenyal yang sudah lama tidak di jamah pemiliknya. Biarkan degup jantung yang bersahutan mengungkap dua hati satu rasa cinta di antara mereka.


Dengan nafas terengah-engah, Khanza dan Arif saling melepas tautan bibir. Menyatukan kening, mereka menatap lurus, saling menenggelamkan dalam netra bening yang gelap akan gairah.


"I love you, Arif saputra Wijaya," ungkap Khanza dengan suara serak dan nafas yang tersendat-sendat


"I love you too, Khanza meidina." Arif kembali medekap erat sang kekasih, menyuarakan cinta yang semakin tumbuh karena adanya rindu yang tercipta ketika mereka lama tidak bersama.


Rindu ...


Di setiap detik, rasa itu menyerangku.


Di setiap Detak jantung, dia hadir bersamaku.


Di setiap hembusan nafas, dia mengingatkanku tentang dirimu.


Namun, Jarak memaksa kita untuk setia menanti setiap waktu.


Berharap rasa cinta itu semakin tumbuh, jika di pupuk dengan sesuatu yang bernama RINDU.


Kini dua hati bertemu dalam satu rasa cinta yang mengebu-gebu.


Arif💖Khanza.


END ....


.


.


.


.


.


.


Tak tau mau menulis apa di coretan terakhir ini.


✍️ Terima kasih untuk semua yang sudah mendukung novel ini sampai sini. Baik dari pembaca atau para Author yang selalu mendukung saya sampai sejauh ini.

__ADS_1


__ADS_2