CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-09~ Sakit lagi.


__ADS_3

Vera berjalan meninggalkan Arif yang masih memandangi kepergiannya. Setelah Vera memasuki kelasnya, baru lah Arif berbalik dan ingin melangkah memasuki kelasnya. Berbalik dia menabrak seseorang yang berada di belakangnya.


Buk!


Khanza terjatuh setelah di tabrak tubuh kekar Arif.


"Aduh!" rintih Khanza.


"Sory-sory! gue nggak li...." ucap Arif mengulurkan tangannya mencoba menolong. ucapannya terhenti setelah dia mengetahui kalau orang yang di tabraknya Khanza.


"Khanza!" pekik Arif.


Khanza menunduk diam. Mencoba berdiri, tetapi kakinya yang terasa sakit membuatnya meringis kesakitan. "Auu ...."


"Kaki kamu sakit Za? maaf ya? tadi aku tidak sengaja," ucap Arif berjongkok dan mengulurkan tangan membantu Khanza untuk berdiri.


"Ya ampun, Khanza! sakit ya, Za? ayo aku bantu masuk," ucap Dea.


Dea sudah berjalan lebih dahulu masuk kekelas kembali berbalik melihat temannya terjatuh. Membantu Khanza berdiri dan memapahnya masuk ke kelas tanpa perduli pada Arif yang ada di dekatnya. Khanza hanya mentap pada tangan Arif yang terulur dan mengabaikannya.


Arif mengikuti Khanza dan Dea masuk ke kelas. Arif merasa ada yang berbeda dari tatapan Khanza, tapi dia tidak mengerti dengan arti dari tatapan Khanza, tidak mau ambil pusing memikirkan sesutu yang tidak-tidak. Arif mencoba mengabaikan saja semuanya.


Khanza duduk di bangkunya dengan di papah Dea. Arif dan Randra juga sudah kembali ke bangku mereka. Arif mengeluarkan handphonenya dan mencoba mengirim pesan kepada Khanza.


πŸ’Œ"Za, Maaf ya?"


Khanza mengambil handphone di saku bajunya saat getaran terdengar dari benda pipih itu, membuka pesan dan mengernyit heran.


'Nih orang minta maaf untuk apa coba? kenapa juga mesti pakai pesan sih? kenapa nggak langsung aja?'


Khanza Memasukkan kembali handphone ke kantong bajunya, tidak berniat untuk membalas pesan Arif


"Kenapa Za? ada yang nelpon?" tanya Dea.


"Nggak, cuma ada chat dari orang iseng!" balas Khanza.


"Jangan berisik! ratu bar-bar!" ucap Randra mendorong bangku Dea dari belakang. Randra merasa teranggu dengan percakapan Dea dan Khanza.


"Dasar playboy abal-abal!" Balas Dea. Dea karena kaget dan hampir terbentur Meja akibat Randra yang mendorong bangkunya.


"Dasar CEMPRENG!" ucap Randra dengan menekan kata cempreng.


"Kadal buntung!" balas Dea.


"Astaga ... kalian ini, sama-sama jatuh cinta baru tahu rasa nanti," ucap Khanza mengeluarkan kata-kata andalannya. Hanya dengan begitu mereka akan sama-sama diam.


Khanza menghela nafas dan menggelengkan kepalanya, saat mereka sudah kembali memalingkan muka acuh dan diam.


Arif kecewa melihat Khanza menyimpan handphonenya kembali dan tidak membalas chatnya. Arif mencoba mengirim pesan kembali.


πŸ’Œ"Kenapa nggak di bales Za? kamu marah?"


Khanza kembali mengambil handphonenya yang bergetar dan melihat isi pesan Arif. Khanza ingin mengetik balasan pesannya.


"Selamat siang anak-anak!" ucap Ibu guru yang memasuki kelas.


Guru mata pelajaran hari ini sudah memasuki kelas. Khanza kembali menyimpan handphonenya. Arif menghela nafas kecewa ketika Khanza kembali menyimpan handphonenya tanpa membalas pesan darinya.


Pelajaran di mulai seperti biasanya, guru yang menjeleskan sebuah materi dan murid-murid yang mencatat nilai-nilai penting dari materi tersebut.


Tidak dengan Arif yang pikirannya entah kemana, dia sama sekali tidak memperhatikan guru yang sedang berbicara panjang lebar menjelaskan materinya.


"Arif, tolong jelaskan apa yang bisa kamu ambil dari materi hari ini!" ucap Ibu Guru.


Mendapat teguran dari guru, karena ketahuan melamun. Arif di minta menjelaskan materi yang sedang di pelajari. Arif yang hanya diam tidak bergeming.


"Arif! mana catatan kamu coba Ibu lihat?"


Arif pun tidak bisa menjawab pertanyaan dari sang guru. Dia di minta menunjukkan catatannya. Catatan yang kosong membuat Arif di hukum berdiri di depan kelasnya sampai pelajaran berakhir.

__ADS_1


"Berdiri di depan!"


"Ta ... tapi Bu!"


"Sekarang!"


Arif berjalan kedepan dan berdiri mengahadap semua murid di kelas itu. Arif mendapatkan sorakan dari teman-teman di kelasnya.


Kring-Kring-Kring!


Bel pulang sekolah sudah berbunyi, menandakan pelajaran sudah berakhir.


"Arif! silahkan duduk, lain kali jangan di ulangi lagi!"


"Siap Bu!" ucap Arif memberikan hormat pada sang Guru.


"Sudah, salin materi sama teman yang lain."


"Baik,Bu."


"Pelajaran hari ini berakhir ya anak-anak, selamat siang!" ucap Ibu Guru mengakhiri pelajarannya.


Arif meminta catatan kepada Randra. Ternyata Randra pun hanya mencatat beberapa saja.


"Za, kamu bisa bawa mobil nggak?" tanya Dea kepada Khanza.


"Bisa ko De," jawab Khanza.


"Masih sakit, Za? kalau masih sakit biar aku antar ya?"


"Sudah mendingan, ko, De."


"Oh ... oke, kalau begitu. Kita balik yo?" Dea mengajak Khanza keluar kelas untuk menuju parkiran bersama.


"Kamu duluan aja ya De, aku masih ada urusan sebentar," tolak Khanza.


"Baiklah! aku duluan ya? bye ...." Dea pamit pulang lebih dulu.


Tanpa ada sepatah kata atau sekedar senyum, Khanza langsung berlalu pergi meninggalkan kelasnya, dengan berjalan sedikit terseok menahan kakinya yang masih agak terasa sakit.


Arif dan Randra saling pandang setelah melihat Khanza meletakkan buku catatannya.


menatap kepergian Khanza dengan penuh pertanyaan. Setelah kepergian Khanza arif mencoba melihat buku tersebut dan membukanya. Randra merebut buku di tangan Arif, membuka dan mereka paham akan maksud Khanza yang memberikan catatan untuk mereka salin kembali.


Arif ingin memanggil Khanza. Setelah dia melihat kedepan, ternyata Khanza sudah menghilang di pandangan mereka.


Menyimpan buku itu untuk mereka salin secara bergantian, mereka pergi keluar dan ingin mengejar Khanza di parkiran. Sampai di parkiran terlihat Khanza yang hampir mendekati mobilnya. Arif ingin memanggil Khanza. Mengurungkan niatnya, karena ada geng centil menghampiri mereka.


"Sayang aku pulang sama kamu ya?" Vera berucap dengan suara di buat manja.


"Hai, Rand! gue ikut lo pulang ya? bokap gue nggak bisa jemput soalnya," ucap Sofi yang mencoba mendekati Randra dengan modus minta di antar pulang.


Arif hanya membalas Vera dengan anggukan dan sebuah senyuman, sedangkan Randra yang memang suka merayu cewek cantik dengan senang hati mengiyakan ucapan Sofi.


"Ciee .... yang udah jadian ...." Tia mencuil pipi Vera, dan di ikuti teman-teman lainnya yang juga ikut bersorak, kecuali Zia yang terlihat diam dan muka yang tidak suka.


"Apaan sih!" ucap Vera dengan pipi semerah tomat menahan malu.


"Udah, yo, yang! kita balik duluan aja!" ucap Arif mengajak Vera sambil menyerahkan helm kepada Vera.


"Suit-suit! Ada yang udah ayang-ayangan guys!" ucap Randra, di sambut cie dari semuanya, Zia semakin menekuk mukanya.


Sedangkan Vera yang semakin malu dengan pipi yang semerah tomat matang. Arif cuma tersenyum menanggapi ocehan teman-temannya, apalagi melihat muka Vera yang merah membuatnya tertawa.


"Lo kenapa Zi, sakit?" tanya ifa yang melihat muka Zia sangat berbeda.


"Cuma sedikit pusing aja?" ucap Zia mencoba mencari alibi, agar teman-temannya tidak curiga.


"Eh, lo, pusing? kita balik duluan, yo!" ucap Ifa mengajak Zia pulang, karena memang mereka yang selalu berangkat bersama.

__ADS_1


Rumah Zia dan Ifa yang bersebelahan membuat mereka bersahabat dari kecil dan selalu berangkat sekolah bersama. Mereka selalu berangkat, dan pulang berasama menaiki mobil Ifa.


Zia yang berasal dari keluarga sederhana, dapat bersekolah di SMA Bhakti Bangsa pun dari sebuah beasiswa yang di dapat dari prestasinya. Zia bergabung di geng centil hanya karena bantuan dari Ifa sahabatnya, Ifa sahabat Zia yang memang dari keluarga cukup berada.


Ifa berteman dengan Zia karena memang rumah mereka bersebelahan, dan Zia yang selalu membantu dia belajar dan mengerjakan tugas-tugasnya dari semenjak Sekolah Dasar.


Ifa dan Zia pulang meninggalkan mereka yang masih asyik mengobrol dan bercanda bersama.


Arif dan Vera juga bersiap menaiki motornya mengucapkan selamat tinggal dan berlalu pergi dari Randra, Sofi, dan Tia.


"Kalian nggak balik?" tanya Tia.


"Nungguin lo dulu," jawab Sofi.


"Balik aja nggak papa! bentar lagi pasti Sony datang," ucap Tia.


"Kita tungguin! sampai Sony datang," Randra ikut bicara.


"Itu sony udah keluar, kalian balik aja!" ucap Tia menunjuk sony yang sudah keluar dari sekolah dan berjalan ke arahnya.


"Oke, kita balik dulu Tia?" Randra berpamitan kepada Tia, dan memberikan Helm kepada Sofi.


"Sip! hati-hati di jalan!" ucap Tia.


Randra mengangkat tangan membentuk O.


Tia dan Sony juga segera pulang berlalu pergi dari sekolah itu. Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang sekarang meneteskan air matanya, bersembunyi di balik mobil.


Seseorang yang sejak tadi, mendengarkan percakapan mereka dari balik sebuah mobil hitam.


Dia memasuki mobilnya, tidak untuk melajukan mobilnya. Terdiam dengan air mata yang terus menerus menetes membasahi wajah cantiknya.


.


.


.


.


.


.


.


Siapa yang sedang nangis?



*Arif dan Randra.



*Vera.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa Like, komen, dan VoteπŸ’•πŸ’•


Terimkasih yang sebesar besar nya kepada yang sudah berkenan mampir ke cerita sayaπŸ™β€β€β€β€πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜˜πŸ˜˜


__ADS_2