
Meletakkan makanan dan minuman di atas meja kecil, Arif bersama Khanza menikmati waktu mereka dengan saling mengobrol bersama. Jam sudah menunjukkan angka sepuluh, lewat tiga puluh menit. Tinggal beberapa jam lagi buat Arif pergi ke bandara, rasa berat pun semakin terasa melanda di hati.
"Rif, gitar kamu mana?" tanya Khanza.
"Di dalam, kenapa Za?"
"Ajarin main gitar lagi, dong?"
"Bentar, aku ambil dulu."
Mengambil benda yang terbuat dari kayu, dengan nilon atau baja sebagai pelengkapnya itu. Arif mengajak Khanza duduk di ayunan gantung bersama, menepuk tempat kosong di samping, agar gadisnya itu segera duduk di sana.
Mendaratkan bokong pada ayunan yang terbuat dari rotan. Khanza tidak pernah berhenti menarik sudut bibirnya untuk terus tersenyum manis pada sang kekasih.
"Ini pegang gitarnya?" Arif menyerahkan gitar berwarna coklat pada Khanza.
"Cantik banget yang," puji Khanza. Dengan binar mata mendamba, gadis itu mengambil gitar itu.
"Suka?" tanya Arif yang mendapat anggukan pasti dari sang kekasih. "Buat kamu," tambahnya.
"M-maksud kamu?" heran Khanza. Dia menautkan kedua alisnya, menatap serius pada Arif.
Arif menaikkan kedua kakinya di ayunan, duduk bersila dengan posisi miring. Tepat menghadap pada sang kekasih di samping. Tatapan bola mata yang teduh dia layangkan untuk orang tercintanya itu. "Ini gitar kesayangan aku, sekarang aku kasih buat orang yang paling aku sayang," kata Arif dengan penuh kelembutan, tangannya terangkat mengelus pipi sang kekasih.
Khanza memejamkan mata, saat sentuhan lembut dari sang kekasih menerpa kulit pipi. Sesaat kemudian dia merasakan benda lembut dan kenyal menyentuh bibir, tanpa membuka mata, dia tahu itu apa. Membuka mulut, Khanza tersenyum saat sang kekasih langsung memagut mesra dirinya tanpa ampun.
Dengan mata terpejam menikmati kemesraan yang tercipta, tangan Arif perlahan mengambil gitar di tangan Khanza. Meletakkan sembarangan benda itu di lantai, dia menarik sang kekasih, untuk mendekat ke pangkuannya.
__ADS_1
Tanpa penolakan dari Khanza, dia terus mengikuti alur permainan dari pemuda itu. Karena jujur, dia pun menginginkan hal yang sama, apalagi hari ini adalah waktu terakhir mereka untuk bersama.
Hening. Hanya ada suara kicau burung yang bernyayi merdu untuk sepasang kekasih berbalut rindu. Degup jantung yang beradu, sebagai tanda kalau cinta mereka menggebu-gebu. Tidak ada yang mau mengakhiri permainan, walau udara di tempat itu terasa menipis untuk di gunakan bernapas. Mengutarakan dalamnya perasaan lewat sebuah sentuhan lembut atas nama kasih sayang. Membiarkan cinta mengalun indah di antara deret gigi yang tersusun rapi. Biarkan waktu berhenti untuk mengerti bagaimana nestapanya nanti sebuah jarak yang tercipta dari perpisahaan.
Arif menarik paksa dirinya, saat mendapati Khanza sudah tersengal. Membuka mata, dia tersenyum tipis mendapati wajah sang kekasih yang terlihat kecewa. Tanpa ada yang bicara, tangannya terangkat menghapus bekas ciuman yang tersisa. Namun, tergelak saat di tepis langsung oleh Khanza.
"Kenapa, hm?" tanya Arif lembut.
"Nggak peka!" kesal Khanza, wajahnya di tekuk dengan begitu masam.
Arif yang merasa bingung, menatap pada netra mata Khanza, yang masih tidak ingin bergerak dari pangkuannya. Mengerutkan dahi, Arif mencoba menebak apa yang di mau sang kekasih. Namun, tergelak dan terpaku, di kala gadis manis itu menyerangnya lebih dulu. Apa yang bisa di lakukan selain, membalas ke agresifan sang kekasih pujaan. Membiarkan wanitanya senang, walau kenyataannya dia yang lebih senang.
Bolehkan aku menikmatinya? Bolehkan aku hari ini manja dengannya? bukankah dia milikku sepenuhnya? entah mengapa aku takut hari ini, takut jika dia lama tidak kembali. Takut jika ini pertemuan terakhir kami. Arif jika kau mendengar isi hatiku, rasanya aku tak sanggup untuk berpisah denganmu.
Lagi-lagi Arif menarik paksa dirinya, membuat sang kekasih marah dan menekuk muka. Khanza mencebik kesal, bibir bawahnya dia majukan. Menyoroti Arif dengan mata tajam dan wajah asam, gadis itu menggeser dirinya dari pangkuan sang kekasih. Ingin berdiri untuk pergi, tapi dengan cepat Arif menahannya.
"Mau kemana?" tanya Arif masih dengan kelembutannya.
"Sini dulu, jangan marah ya?" Arif menarik tangan Khanza, menyuruhnya duduk kembali di ayunan.
Khanza duduk kembali di samping Arif, dengan air muka datar. Melengos membuang muka tidak ingin menatap sang kekasih yang terus tersenyum manis kepadanya.
"Kalau mau lanjut, sekalian di dalam kamar aja," bisik Arif menggoda sang kekasih.
Tubuh Khanza menegang, matanya membelalak dengan sempurna, replek dia menyikut kencang dada pemuda itu.
Bug!
"Aduh!" ringis Arif, memegang dadanya yang terasa lumayan nyeri. Namun, setelahnya dia tergelak teratawa lepas sendiri.
__ADS_1
"Jangan macam-macam!" ancam Khanza melototkan matanya. Membuat Arif semakin mengencangkan tawanya.
"Makanya, jangan buat aku khilaf, dong," celetuk Arif dengan kekehan di belakangnya.
Khanza menyengir kuda, dengan rona merah di wajahnya. Melirik gitar yang tadi di letakkan Arif di lantai, gadis itu kembali mengambilnya. "Ini beneran buat aku, yang?" tanyanya.
"Hm." Arif mengangguk. "Coba lihat ini." menunjuk tulisan kecil yang sengaja di taruh di dekat senarnya.
"Arif, Khanza," gumam Khanza membaca tulisan itu. Semburat merah kembali tercetak di kedua pipi chubbynya.
"Suka nggak?" tanyanya.
"Terima kasih, yang." Mata Khanza mulai berkaca-kaca.
"Sebentar, ada lagi." Arif bangkit berdiri, masuk ke dalam kamar. Sesaat dia kembali dengan membawa kotak kecil di tangan.
Membuka kotak itu, yang ternyata berisi jam couple berwarna hitam. Arif mengambil tangan kiri sang kekasih, melepas jam putih yang sudah terpasang di sana. "Ini buat aku." kekeh Arif menyimpan jam Khanza. Mengambil jam couple yang lebih kecil, Arif memasangkannya di tangan Khanza. "Cantik, pas di tangan," puji Arif. Mengecup punggung tangan gadis cupunya itu.
"Biar aku pasangin juga buat kamu," pinta Khanza. Mengambil jam satunya, gadis itu menarik tangan Arif. Melingkarkan jam hitam pada tangan lelaki itu, Khanza sambil berujar, "Pakai terus jamnya ya? biar setiap waktu, kamu ingat terus sama aku di sana." Setetes cairan bening, jatuh pada tangan sang kekasih.
Arif menangkup pipi Khanza, segera menghentikan aliran air mata gadis itu. "Mana mungkin aku bisa lupa sama kamu. Namamu selalu kubawa, di setiap tarikan nafasku, Za. Mengingat wajahmu di setiap kedipan mataku. Aku pasti akan selalu merindukan kamu, di sana." Mendekatkan wajah, Arif menyatukan kepala mereka.
"Kamu juga selalu ada dalam setiap detak jantungku, Rif. Semoga Bunda cepat sembuh ya? biar kamu cepat kembali."
Arif mengangguk, "Jaga diri baik-baik ya? ingat jangan macam-macam, lho," acam Arif.
Sama-sama menarik diri, Khanza menjawab mantap peringatan sang kekasih. "Siap bos. Kamu juga ya? Awas lho, kalau macam-macam," dia balik mengancam Arif.
"Tenang, aja. Ini hatinya di tinggal di sini, Kok." Arif menunjuk kalung pemberiannya yang masih menempel di leher Khanza.
__ADS_1
(kasih kalung di chapter-30)
Menghabiskan sisa waktu berdua, mereka mengisi momen dengan romantis ala Arif dan Khanza.