CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-62~Minta Izin.


__ADS_3

Randra baru saja sampai di depan rumah Dea, mereka terpaksa menembus hujan yang masih menyisakan gerimis karena senja sudah tiba. Sepanjang perjalanan Randra dan Dea sama-sama bungkam dalam kedinginan selepas hujan.


"Gue langsung pulang ya?" pamit Randra.


"Nggak masuk dulu, Rand?"


"Langsung pulang aja, deh. Dingin banget gue, mana baju gue basah lagi," ungkap Randra mencubit bajunya yang basah di bagian depan.


Dea melepas jaket Randra yang masih melekat di tubuhnya. "Ini jaket, lo. Lagian tadi gue suruh pakai jaket nggak mau, jadi kedingian 'kan?" cibirnya.


"Hehe, biar terlihat cool aja gitu, De. 'Kan nggak keren kalau gue biarin cewe gue kedingian sementara gue pakai jaket," celetuknya, mengambil jaket dari tangan Dea, Randra membalutkannya di badannya.


Hati Dea menghangat saat mendengar kata 'cewe gue' yang terlontar dari mulut lelaki di depannya. "So' keren banget!" sindir Dea.


"Siapa dulu, Randra!" Randra menyombongkan dirinya sendiri dengan kekehan kecil. "Sudah masuk sana. Sudah senja ini," suruh Randra.


"Lo hati-hati ya, Rand! jangan lupa kabarin gue kalau sudah sampai."


"Siap!" Randra mengangkat tangan kanan yang di tekuk, menaruhnya di dekat pelipis mata kanan.


Dea menggelengkan kepala seraya terkekeh geli, melihat kelakuan playboy tengil itu. Meninggalkan Randra berbalik untuk masuk ke dalam, di depan pagar dia berbalik dan melambaikan tangan.


Randra membalas lambaian tangan Dea di sertai tarikan sudut bibir membentuk senyum tipis, dia menghidupkan motornya bersiap pergi dari sana.


***


Malam sudah tiba, tapi matanya masih setia terjaga. Berbalas pesan dengan Khanza, Arif bersandar di headboard tempat tidur. Tersenyum, terkekeh, hingga tertawa, matanya tak lepas dari layar poncel.


Sedangkan Khanza, dengan posisi tiarap dia mengangkat sebagian kakinya ke atas, menyilangkan kedua ujung kaki itu. Khanza menelungkupkan wajahnya ke bantal di bawahnya, saat berkali-kali mendapat gombalan receh dari chat sang pacar.


"Gombal banget, sih, punya pacar," gumamnya.

__ADS_1


Khanza tiba-tiba teringat ajakan Faizal tadi sore, yang mengajaknya berkumpul dengan teman-teman geng motor besok malam. Menggigit bibir bawahnya Khanza mengetik pesan pada Arif.


Khanza: "Yang, aku boleh izin keluar nggak malam minggu. Faizal ngajakin aku jalan."


Centang berubah biru, Khanza harap was-was saat terdapat Arif sedang mengetik balasan. Saat chat Arif masuk Khanza menghela nafas lega.


Arif: "Boleh, tapi mau kemana?"


Serius di izinin ini, Arif nggak lagi ngeprank 'kan? Batin Khanza seolah tak percaya, dengan cepat dia membalas kembali pesan itu.


Khanza: "Dia mengajakin aku kumpul sama-sama anak geng motor yang kemarin, 'kan aku sudah lama nggak pernah kesana lagi. Katanya anak-anak pada kangen. Nggak papa 'kan?"


Arif: "Ya sudah, tapi hati-hati ya? jaga diri, jaga hati aku, jangan macam-macam di sana. Ingat kalau kamu sudah jadi pacar aku."


Khanza di buat melongo dengan barisan kata balasa dari Arif. Ini beneran Arif 'kan? aku lagi nggak salah chat orang 'kan? Khanza sampai mengecek nama dan Foto profile Arif.


"Bener Arif, tapi kok, aku aneh ya?" gumam Khanza sendiri. Dia merasa tidak percaya Khanza langsung menelpon kekasihnya itu.


Kenapa, Za?


Hahaha! ada-ada aja kamu, yang.


Kamu beneran izinin?


Iya, Za!


Serius!


Iya Khanza sayang. Atau nggak jadi nih!


Eh, jangan-jangan! Makasih ya, yang. Sudah izinin aku jalan sama sahabat aku.

__ADS_1


Hm! tapi ingat ja–


Akuj janji, nggak macam-macam, jaga diri juga hatiku selalu buat kamu. Love you sayangku.


Khanza langsung menutup telponnya karena malu, dia tidak habis pikir kalau dia berani mengucapkan kata cinta lebih dulu pada Arif. Pipinya sampai memunculkan rona merah, membayangkan Arif yang kaget dengan kata cintanya.


Di saat Khanza meminta izin, Arif hanya tersenyum menanggapinya karena Faizal terlebih dulu menelpon meminta izin untuk mengajak kekasihnya itu keluar. Awalnya Arif sempat emosi dengan Faizal, tapi setelah mendengar bujuk rayu dari sahabat kekasihnya itu, Arif melunak. Dia sadar, bagaimana pun Khanza dan Faizal sudah bersama sejak dulu, sangat jahat jika dia datang dengan cinta tapi merusak persahabatan mereka. Lagi pula sekarang hubungannya dengan Faizal sangat baik, sejauh ini Arif merasa Faizal tidak mungkin merebut Khanza darinya. Apa salahnya jika dia membiarkan Khanza tetap bisa tetap bebas bersama dengan teman-temannya.


Arif tergelak mendengar kata terakhir yang di ucapakan Khanza.


"Dia bener bilang 'Love you' 'kan?" gumam Arif memandang layar HPnya yang sudah terputus panggilannya dengan Khanza.


"Semoga, gue nggak salah dengar," ujarnya pada dirinya sendiri.


Meletakkan handphone di nakas, Arif merebahkan dirinya di bantal. Siap bermimpi indah bersama kekasih pujaan hati.


***


Faizal yang terbangun, menatap kembali pada layar laptopnya yang sudah mati.


"Ketiduran gue, ini laptop pasti mati." Bangun dari tempat tidur Faizal mengisi batrai laptopnya.


Mengecek handphone, Faizal teringat kalau tadi dia ingin menghubungi Arif. Tanpa ragu, dia menelpon dan meminta izin untuk mengajak Khanza jalan. Faizal bernafas lega, ternyata Arif sudah banyak berubah tidak sekeras kepala saat pertama kali mereka berjumpa.


Ternyata cinta itu hebat juga bisa mengubah seorang cowo rese kaya dia. Semoga gue nggak salah ikhlasin Khanza buat lo, bro.


Faizal tersenyum menatap walpaper handphonenya, dimana terpasang foto dia dengan Khanza yang di ambil sewaktu Khanza belum menjalin hubungan dengan Arif.


"Salah gue, Za. Nggak berani mengungkapkan perasaan gue sama lo, sekarang gue harus terima kalau lo sudah bersama orang yang lo cinta," lirih Faizal mengusap foto itu. "Jika nanti gue pergi, semoga Arif bisa gantiin gue buat jaga lo," gumamnya pelan.


Seberapa kuat pun kita mencoba ikhlas melepas orang yang istimewa, rasa sakit tetap akan terasa menusuk ke dalam hati. Namun, seberapa sakit rasa yang kita alami, kita tetap harus menerima dan menjalani. Menyerahkan semua pada jalan takdir hanya itu yang bisa kita lakukan untuk memperkuat diri. Membuka kembali pola kunci handphonenya, Faizal mengganti walpapernya dengan fotonya sendiri. Dia juga harus bisa menghargai Arif sebagai kekasih Khanza, wajar jika seseorang cemburu dan emosi saat kekasih mereka bersama orang lain walaupun itu sahabatnya sendiri.

__ADS_1


Mendengus kasar, Faizal keluar kamar untuk mengisi perutnya yang terasa lapar.


"Gue sampai ngelewatin jam makan malam lagi," gerutunya. "Bakalan makan sendiri ini pasti," keluh Faizal saat tidak mendapati lagi keluarganya di dapur.


__ADS_2