
📖📖📖
💌"Za, kenapa kamu dekat banget sih sama itu cowo, emang dia siapa?"
Arif mengrimi Khanza pesan chat. Dia merasa sangat tidak senang dengan Faizal yang begitu dekat dengan Khanza.
Merasa tidak sabaran menunggu balasan pesan dari Khanza dia kembali mengirim spam Chat.
💌"Khanza!" mengirim 5 pesan chat yang sama.
Khanza menatap heran pada layar handphone di tangannya. mencoba membalas chat itu, dipikirnya Arif begitu aneh pagi ini begitu bertemu dengan Faizal.
💌"Dia sahabat aku sejak kecil, baru pulang kemarin dari luar kota, kamu kenal dia?"
Balas pesan Khanza, Arif ingin membalas kembali pesan Khanza tapi guru mereka sudah masuk dan memberikan tugas untuk di kerjakan berkelompok. Arif menyimpan hpnya kembali ke saku. padahal dia masih penasaran, dan masih ingin bertanya kepada Khanza.
Khanza melihat ada guru yang masuk juga langsung mengembalikan hpnya kedalam tas. Khanza yang memang selalu serius dalam belajar, karena itulah dia selalu mendapatkan prestasi yang baik di sekolah.
Satu kelompok di bagi menjadi 5 orang, dan kebetulan Khanza, Dea, Arif, Randra, dan Faizal satu kelompok. Menyatukan meja dan bangku agar bisa duduk melingkar, Faizal yang mengangkat bangku dan ingin menaruh di tempatnya tak sengaja ingin menyenggol Arif.
"Woi! hati-hati dong! punya matakan?" Arif langsung emosi.
"Maaf .... Maaf! nggak sengaja! nggak usah ngegas juga dong?" ucap Faizal mencoba meminta maaf. tapi Faizal merasa Arif terlalu berlebihan.
"Siapa yang ngegas! kalau kena gimana?"
"Sudahlah Rif, nggak kena juga!" ucap Dea menenangkan Arif.
"Iya Rif, benar kata si bar-bar," Randra ikut menimpali.
"Dasar kadal!" ucap Dea pada Randra, tidak terima di katain Randra bar-bar.
"Sudah di bantu iyain juga malah nyolot," balas Randra pada Dea.
"Siapa yang bar-bar! hah?" Dea bekacak pinggang di hadapan Randra.
"Ya, lo! Siapa lagi?" ucap Randra acuh.
Muka Dea berubah merah padam bersiap maju ingin kedepan Randra, Khanza langsung menarik Dea, dan mendudukkan Dea di bangkunya.
"Kenapa pada berantem sih?" Khanza mencoba mendamaikan semuanya.
"Tahu tu! Dea yang mulai, bar-bar banget jadi cewek!" ucap Randra.
"Kam ...." ucapan Dea di potong Khanza.
"Kalian semua sama, bisa serius nggak sih? jangan ada yang mulai!" ucap Khanza tegas memperingati mereka dengan serius.
Semuanya duduk ketempat masing-masing dengan posisi melingkar, posisi Khanza yang berseberangan dengan Arif dan di tengah antara Faizal dan juga Dea, membuat mereka sering kali beradu pandang.
Dea yang bersebelahan dengan Randra, selalu adu mulut bahkan sampai bergantian mencoret buku, Khanza berkali-kali menegur mereka. Bahkan Arif pun ikut ambil suara menegur keduanya, tapi seakan semua sudah menjadi kebiasaan. Paling berdamai sebentar, kalau ada yang mulai pasti terjadi lagi dan lagi.
__ADS_1
Faizal karena memang baru masuk, masih kurang mengerti dan selalu bertanya pada Khanza, posisi mereka yang bersebelahan membuat keduanya sangat dekat. Faizal yang sedari dulu sangat suka menggoda Khanza, entah mencubit pipi, hidung, atau menarik kepangan rambut Khanza, setelah itu pasti akan berubah tawa di antara mereka.
Ada seseorang yang hanya diam dengan emosi tertahan, sekilas terlihat seperti serius mengerjakan soal, padahal dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang menjadi tugas mereka. Sesekali dia mencuri pandang dengan seseorang di depannya, ketika mata mereka bertemu, Arif segera mengalihkan pandangannya ke buku di tangannya. Khanza yang merasa seperti Arif memperhatikannya, menjadi salah tingkah, tapi dia tidak berani mengambil kesimpulan lebih, takutnya kecewa dengan apa yang sebenarnya di harapkannya.
Kring-kring!
Bel istirahat sudah berbunyi tanda mereka harus mengumpulkan tugasnya. Randra dan Dea meskipun selalu bertengkar, tapi mengerjakan dengan serius tugas mereka. Sesekali berdiskusi dan bertanya pada Khanza jika ada yang mereka tidak mengerti, Faizal sudah pasti selesai dengan tugasnya karena sejak pertama sudah paling cerewet bertanya dengan Khanza. Tapi tidak dengan Arif, bahkan tidak ada coretan di kertasnya, Khanza yang mencoba mengerti dengan Arif, mungkin dia malu bertanya dan canggung dengan semuanya. Khanza menyuruh yang lainnya keluar lebih dulu, dan akan menyusul nanti setelah mengumpulkan tugasnya kepada guru.
"Kalian duluan aja! nanti aku menyusul," ucap Khanza.
"Oke, aku sama Faizal kekantin duluan ya, Za?" ucap Dea.
"Bye!" ucap Faizal.
Dea dan Faizal yang sudah akrab, pamit lebih dulu ke kantin, karena sejak tadi, mereka menahan lapar dan hausnya.
"Rif, ke kantin yuk!" ucap Randra mengajak Arif kekantin.
"Kamu, duluan aja. Aku mau menelpon seseorang dulu," ucap Arif meminta Randra pergi lebih dulu, dengan dalih ingin menelpon seseorang, Arif merasa tidak enak jika meninggalkan Khanza sendiri dengan tugas yang masih belum selesai.
Randra kekantin lebih dulu bersama teman-temannya yang lain, Khanza mengerjakan tugas Arif dengan cepat, Arif yang merasa Randra sudah pergi kembali menghampiri Khanza.
"Za, maaf ya? aku jadi ngerepotin kamu?" ucap Arif yang duduk di samping Khanza menopang dagunya.
"Nggak papa Rif, lain kali kalau nggak ngerti tanya aja ngga usah malu!" ucap Khanza tanpa menatap pada Arif, fokus pada tugas yang sedikit lagi hampir selesai.
"Bukan malu Za, tapi....?" Arif menunduk ragu melanjutkan kata-katanya, Khanza yang merasa Arif menggantung kata-katanya, mengangkat kepala menatap kepada Arif, mencoba bertanya dengan sebuah tatapan.
"Tapi aku takut mengganggu kamu sama Faizal!" mengatakan dengan cepat dalam satu tarikan nafas.
"Tertawa aja terus! senang banget 'kan ngetawain aku," ucap Arif ingin bangun dan pergi dari sana.
"Eh, ngambek!" Khanza menarik tangan Arif.
"Maaf, habisnya lucu! takut ganggu, bilang aja malu," ucap Khanza, sudah berhenti dari tawanya.
Arif berbalik tapi masih belum mau duduk kembali.
"Iya-iya memang malu. Tadi sempat mau tanya, sih! tapi kamu asik sama Faizal," ucap Arif mencoba membela diri.
Khanza kembali menarik tangan Arif untuk duduk kembali, Arif hanya pasrah di tarik dan duduk kembali.
"Lain kali, nggak usah malu, kalau untuk belajar. Meskipun ada Faizal, tanya aja! dia juga tadi bertanya banyak sama aku," ucap Khanza kembali mengerjakan tugas itu sampai selesai.
"Nah, sudah selesai! tinggal di kumpul!" ucap Khanza menarik nafasnya dan ingin berdiri dari duduknya.
Mereka di kejutkan dengan suara dari belakang mereka.
"Arif!"
Menengok bersamaan dan mendapati Vera yang ternyata di depan pintu, Arif dan Khanza saling pandang sebentar, Khanza yang mengerti tatapan Arif bergegas berdiri dan ingin membawa tugasnya keluar kelas.
"Tunggu! kalian ngapain berduaan di dalam kelas?" ucap Vera menghentikan langkah Khanza yang ingin pergi dari sana.
__ADS_1
Khanza hanya menunduk takut jika menjawab akan menambah kesalah pahaman Vera, Arif langsung mendekati Vera dan memegang tangan Vera.
"sayang kamu disini?" tanya Arif mencoba menenangkan Vera.
"Jawab dulu! kenapa kamu sama si cupu itu ...?" ucap Vera menunjuk pada Khanza.
Yang di tunjuk malah semakin menunduk.
"Sayang tenang dulu dong! nggak usah curiga gitu, tadi dia cuma bantu ngerjain tugas aku, gitu doang, ko! lagian mana mungkin aku sama si cupu, jauhlah sama kamu," ucap Arif mencoba menjelaskan pada Vera, tanpa sadar dia menyinggung perasaan Khanza yang masih berdiam diri di sana.
Khanza mendengar kata-kata Arif seperti tersambar petir di pagi buta, bola mata yang berubah panas seperti ada sesuatu yang memaksa ingin keluar dari mata indahnya, Mengerjapkan beberapa kali matanya, mencoba kuat, Khanza memilih berlalu dari dalam kelas itu.
"Permisi saya keluar dulu," ucap Khanza berlalu dengan masih mnunduk menyembunyikan mata yang mungkin sudah merah.
Vera merasa apa yang di katakan Arif memanglah benar, lagi pula mana mungkin cowo sekeren dan setampan Arif mau dengan cewe cupu seperti Khanza.
"Ayo, yang! kita ke kantin, aku laper," ajak Vera menarik tangan Arif, yang ternyata menatap kepergian Khanza.
"Percayakan sama aku?" Arif menyakinkan Vera sekali lagi.
"Iya-iya! percaya sayang," Vera tersenyum dan menarik tangan Arif ke kantin sekolah, melewati ruang guru dengan bergandengan tangan. Khanza yang keluar dari ruang guru melihat mereka berjalan melewatinya dengan bergandengan tangan, hanya menatap dengan sebuah tatapan yang sulit di artikan.
Setelah mereka menjauh Khanza pergi ke kamar mandi sekolah dan mencuci mukanya di sana. Menatap kedalam cermin dan berbicara dengan batinnya sendiri, mencoba mencari kekuatan diri agar tidak terlalu merasakan sakit.
'Nggak boleh cemburu, aku hanya kagum, dia nggak sebanding denganmu Khanza! sadar Khanza! cukup dengan mengagumi, Jangan berharap lebih.'
Khanza tersadar ketika ada sebuah pesan dari Dea yang mengatakan mereka sudah menunggu lama di kantin.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*Terimakasih yang sudah mendukung cerita saya🙏🙏🙏💕💕💕💕💕
__ADS_1
*tinggalkan like, komen, bintang lima, dan vote kalian ya guys, dukungan kalian sangat berarti buat saya😍😍😍😘😘😘😘😘😘😘😘