
Khanza Maidina_Seindah namanya, secantik wajahnya, sebening suaranya, selembut perangainya. Pesona gadis itu sudah menancap di hati Arif Saputra Wijaya. Getar cinta tumbuh subur, pada hati yang paling dalam. Kemana pun dia pergi, hatinya selalu berkecamuk mengingat senyuman dari paras yang menggetarkan jiwa. Hati Arif selalu berbunga jika mengingat sang kekasih tercinta.
Arif merapatkan jaket. Hembusan angin pagi, berayun membawa embun yang membasahi bumi. Seorang pelayan datang membawakan dua cangkir coklat panas. Pemandangan gunung, nampak indah dari Rooftop cafe ini. Tumbuhan yang hijau terlihat begitu alami. Menenangkan perasaan-perasaan orang yang memandangnya, apalagi di kala pagi yang sangat damai ini. Banyak pasangan tua dan muda memenuhi kursi-kursi di barisan 'Embun Coffee' yang terletak di pinggiran Ibu kota.
Arif melirik arloji hitam yang bertengger di tangannya. Lima belas menit sudah dia menunggu kekasih hati. Pagi tadi, dia menelpon Khanza, janji bertemu di 'Embun Coffee', sebuah cafe di pinggiran kota. Cafe yang letaknya di Rooftop gedung yang menjulang tinggi.
Pemuda itu, menoleh ke meja di samping. Meja di Cafe ini, sengaja di buat memanjang. Kursinya pun berderet rapi menghadap ke arah pegunungan. Meskipun tersekat kaca tebal, aroma khas pegunungan masih terasa. Pikiran Arif melayang, ia ingin menjadikan tempat ini sebagai bagian dari kenangan. Tempat ini, akan menjadi saksi cinta suci mereka, dan tempat ini juga menjadi saksi perpisahan sementara di antara mereka.
"Hai, sayang?" sapa Khanza sambil duduk di sebelah Arif.
Arif tersenyum manis, menatap wajah wanita yang mencuri hatinya itu. Walau tanpa segelintir kata cinta, tatapan sudah mewakilkan isi hatinya. Bagi Arif, menjabarkan cinta tidak 'kan pernah ada habisnya, yang terpenting, menjalani semua dengan segenap rasa cinta yang menyeruak tumbuh sampai ke dasar jiwa.
Penampilan polos Khanza, membuatnya terpesona. Hanya menggunakan baju kaos maroon, berlengan panjang menutupi tangan putihnya. Muka yang hanya menggunakan make up tipis, bahkan tanpa aksesoris. Arif melirik celana yang di pakai sang kekasih, jeans berbahan halus, dengan warna biru langit, yang tidak ada bolong-bolongnya, seperti yang di pakai pada anak remaja seusia mereka. Rambut yang di biarkannya menjuntai menambah kesan cantik dan alami pada gadis muda itu.
Masih seperti pertama bertemu, cantik dan manis. Tapi, sekarang sudah tidak cupu lagi. Wajah ini ... wajah yang akan selalu kurindu setiap waktu. Wajah yang akan selalu hadir di setiap mimpi dan khayalku.
Dengan sudut bibir yang terus melengkung membentuk senyuman tipis, sebagai pengungkap kebahagiaan. Arif mengangkat tanganya, menyampirkan helaian rambut halus yang menghalangi wajah gadis cupunya.
"Ih, Yang. Kok, lihatin Aku segitunya? apa ada yang salah sama penampilanku?" tanya Khanza, dia meneliti pakaiannya dari atas sampai bawah. Bercermin di layar handphone untuk memastikan penampilannya baik-baik saja.
__ADS_1
"Kamu selalu cantik, Za." Arif mendekatkan wajah, memberikan kecupan hangat di dahi Khanza.
Sembuarat merah muncul di kedua pipi Khanza, merona karena mendapat pujian langsung dari sang kekasih. Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, gadis itu, begitu salah tingkah.
"Ini tempat umum, yang." Khanza memukul pelan dada bidang sang kekasih.
Arif terkekeh geli. Menggeser gelas putih yang berisi minuman coklat yang sudah mulai mendingin. "Ini, sudah aku pesanin buat kamu?"
"Terima kasih, Rif." Khanza mengangkat cangkir putih di hadapannya, menyesap perlahan minuman yang terbuat dari campuran coklat batang dan susu bubuk. Di seduh menggunakan air panas serta sedikit gula sebagai pemanisnya. "Manis, kaya kamu," celetuknya, menggoda sang kekasih.
"Pintar gombal sekarang, ya?" Arif menggelitik pinggang gadis itu.
"Aa ... mpun!" pekik Khanza sembari tertawa lepas di sana.
"Kamu, sih?" dengus Khanza. Namun, di detik berikutnya, mereka malah tertawa lepas bersama.
"Sudah, ah. Sakit perutku." Khanza menekan perutnya yang terasa nyeri karena kebanyakan tertawa.
Hening dalam sejenak.
__ADS_1
Masihkah dia bisa tertawa? saat nanti aku tiada?
"Ehem." Arif berdehem menetralkan suasan. Merubah serius air mukanya. Sekarang di sudut Cafe itu, dengan tangan bergetar dia menggenggam tangan sang kekasih. Membawa gadis itu agar berhadapan dengannya, Arif mencoba menyalurkan perasaan yang berkecamuk di hati. Menatap dalam pada netra bening yang juga menatap lurus pada manik matanya. Jantung Lelaki itu siap melompat dari tempat. Berkali-kali ia melap keringat dingin yang mengucur di dahi, kening, dan leher.
"K-kamu k-kenapa?" tanya Khanza gugup. Jujur saja, gadis itu juga merasakan hal yang sama. Gelisah ketika mengingat hari ini pertemuan terakhir mereka.
"K-khanza," panggil Arif lembut penuh lirihan. Dia bahkan menunduk, tak berani lagi, menatap wajah gadis yang akan di rindukannya. Menghela napas terdalam. Dia mencoba mengutarakan semua yang tertahan sejak tadi, tujuan awalnya mengajak sang kekasih bertemu di tempat ini.
"M-maaf ...." Arif menjeda kalimatnya. "Maaf, jika aku harus pergi dulu." Meneguk air liurnya untuk membasahi keringkongan yang terasa mencekat.
"M-maaf 'kan aku, Za? Jika harus membuat kita merasakan perpisahan sementara waktu. Aku harap kamu mengerti, kenapa semua ini harus terjadi. Percayalah? kepergianku akan kembali padamu yang sudah menjadi pemilik hati ini." Arif mencoba tegar, padahal dia sendiri sedang menahan sesak karena harus berpisah dalam kurun waktu yang lumayan lama bagi insan yang sedang di mabuk cinta.
Khanza menatap sayu pada lelaki di hadapannya. Sudut mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Meskipun dia tahu hari ini adalah hari terakhir kekasihnya berada disini, tetap saja perasaan terluka itu ada, ketika kita harus tidak bersama dengan orang yang sangat di cinta.
"Aku pasti selalu merindukan kamu, di setiap tarikan nafasku, Rif," jujur Khanza. Baginya, jangankan nanti berpisah, bahkan ketika sang kekasih berdiri di hadapannya pun, dia rindu.
Arif merengkuh Khanza kedalam pelukannya. Mencium pucuk kepala sang kekasih berkali-kali. "Aku akan membawamu, di setiap detak jantungku, Za. Aku akan selalu mengingat wajahmu di setiap kedipan mataku," ungkap Arif penuh keyakinan dan penegasan.
Sudut mata Khanza dan Arif sontak sama-sama mengeluarkan butiran bening. Merasa teraharu, sedih, sekaligus bahagia. Angin yang berhembus halus menghantarkan kesejukan yang begitu syahdu, menjadi pelengkap kemesraan mereka di sudut cafe yang terletak di rooftop gedung itu. Mempererat pelukan, mereka tak peduli pada orang-orang yang berada di sekitar. Yang pasti, saat ini. Sepasang kekasih itu, hanya ingin melepas perasaan yang menggebu-gebu. Menikmati detik-detik waktu sebelum berpisah untuk sementara waktu.
__ADS_1
"I love you, sayang," jujur Arif dari hati yang terdalam.
"I love you, too, sayang," balas Khanza dengan sepenuh perasaan.