CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-18~ Nonton Bareng.


__ADS_3

Khanza diam-diam meletakkan buku di depan Arif saat semuanya lengah, Arif menatap tangan Khanza yang tanpa berbalik meletakkan bukunya.


Arif yang mengerti dengan tingkah Khanza, langsung menyalin dan ketika sudah selesai, dia mengumpul tugasnya, bejalan kedepan dan mengembalikan buku Khanza secara diam-diam juga, menatap sekilas Khanza dengan senyuman.


Khanza yang terakhir mengumpul tugasnya, mengantar tugas itu kembali keruang guru. Selang berapa lama bel jam pulang pun sudah tiba. Semua bergegas pulang karena ini hari sabtu, saatnya menyambut malam minggu dan akhir pekan.


"Za, yo kita pulang!" ajak Faizal.


"Bentar! aku beresin barang barangku dulu," balas Khanza.


"Aku ikut kalian ya? papaku katanya masih ada urusan," ucap Dea.


"Boleh De, dengan senang hati," jawab Khanza.


"Bawa Mobil!" Khanza melempar kunci mobilnya ke arah Faizal.


" Selalu saja! kebiasaan!" ucap Faizal menangkap kunci mobil Khanza, dan mencubit pipi chubby Khanza.


Mereka bertiga bersiap pergi dari sana, berjalan bersama keluar dari sekolahnya.


Arif dan Randra juga keluar hampir beriringan dengan mereka.


***


Parkiran sekolah.


''Sayang kita ke toko buku sebentar ya? ada buku yang mau aku beli," ucap Vera menghampiri Arif yang besandar di pintu mobilnya dengan mengotak-atik handphonenya.


"Gue boleh numpang kalian nggak? sekalian cari buku," Ucap Zia kepada Arif dan Vera.


"Bukannya kamu sama Ifa?" tanya Vera.


"Itu .... Ifa tadi pulang duluan katanya ada urusan," ucap Zia.


"Boleh, ko! silahkan saja," ucap Arif yang merasa tidak keberatan karena dia membawa mobil jadi bisa muat beberapa orang.


Mereka bertiga memasuki mobil Arif. Arif mengemudikan mobilnya keluar parkiran, menginjak rem mendadak karena mobil mereka hampir menabrak mobil hitam milik Khanza yang juga ingin keluar.


"Woi! nyetir pakai mata nggak sih?" Arif berteriak dan membuka kaca mobilnya.


Faizal juga membuka kaca mobil, mendapati ternyata Arif yang meneriakinya


"Lo, yang pakai mata!" balas Faizal, karena menurutnya Arif lah yang tiba-tiba ingin keluar.


Arif keluar tidak terima dengan ucapan Faizal.


"Sini lo keluar!" tantang Arif.


Faizal ingin keluar, tapi di tahan Khanza. Khanza membuka pintu keluar dari mobilnya. Khanza merasa Arif sudah kelewatan, membesarkan masalah kecil yang sebenarnya tidak perlu di permasalahkan.


"Mohon maaf ARIF! saya rasa ini tidak perlu di besar-besarkan! lagian mobil anda juga tidak LECET!" ucap Khanza sengaja menekan nama Arif dan kata Lecet, menandakan dia sudah sangat geram dengan tingkah Arif.


Arif terdiam menatap Khanza yang turun dengan muka datarnya dan berucap dengan penuh penegasan. Arif merasa bersalah dengan perlakuannya hari ini selalu membuat wanita di hadapannya marah, belum sempat Arif menjawab, Vera dan Zia ikut turun dan berdiri di samping Arif.


"Eh cupu! berani juga lo!" ucap Vera ingin menampar Khanza, tapi dengan cepat tangannya di tangkis Khanza.


Arif terkejut dengan Vera yang datang langsung ingin menampar Khanza.


Zia melihat tangan Vera di tangkis Khanza, juga ikut ingin menampar Khanza, tapi, Khanza yang memang pemegang sabuk hitam, dengan mudah menangkap tangan Zia, dan membalik tangan Zia kebelakangnya.


"Lepas!"


Zia meronta minta lepaskan, dan di lepaskan oleh Khanza. Zia mengibas-ngibaskan tangannya kesakitan, Vera dan Zia terlihat kesal dan kembali masuk ke mobil Arif dengan menghentakkan kakinya.


"Awas lo!" ancam Vera.


Dea yang ingin turun tapi di tahan Faizal, karena Faizal tau kalau Khanza bisa mengatasinya sendiri.


Arif menganga tak percaya kalau Khanza dengan mudah menangkap tangan Vera, dan Zia, bahkan tanpa sedikitpun rasa takut dari tatapannya.


Arif berbalik masuk kedalam mobilnya, tanpa sepatah kata. Arif sedikit kesal dengan Khanza yang membela Faizal. Arif menjalankan mobilnya melewati Khanza begitu saja.


Khanza kembali masuk kedalam mobilnya dengan hembusan nafasnya.


"Kamu nggak papa Za?" tanya Dea.


"Nggak papa, De!" ucap Khanza dengan memberikan senyumnya kepada Dea, agar Dea tidak khawatir.

__ADS_1


"Sudah aku bilangkan! pasti nggak papa," ucap Faizal.


"Kita langsung pulang, atau kemana dulu?" ucap Faizal.


"Kita jalan dulu, yuk!" ajak Dea semangat.


"Gimana Za?" tanya Faizal.


"Terserah aja!" jawab Khanza pasrah.


Mereka pergi membelah jalanan yang memang sangat ramai. Memikirkan mau jalan kemana.


"Tapi ... kita masih pakai seragam sekolah!" ucap Dea.


"Ganti dulu deh! aku bawa ini!" ucap Khanza menyerahkan baju ganti yang memang selalu di bawanya di mobilnya.


"Nanti deh, pas sudah sampai."


"Memang kita mau kemana?" tanya Faizal.


"Nonton yuk?" ajak Dea.


"Boleh! Tapi baju kamu, Fa?" ucap Khanza.


"Tenang aja! aku bawa jaket ko!" jawab Faizal.


"Jadi kita nonton ni?" tanya Dea.


"Iya bawel!" jawab Khanza dan Faizal bersamaan.


Khanza dan Dea mengganti bajunya di kamar mandi tempat mereka akan nonton bareng.



*Khanza



*Dea


***


Arif menurut saja apa kemauan dua gadis cantik yang bersamanya, berjalan untuk membeli tiket, setelah sampai disana, mereka bertiga bertemu Faizal, Dea, dan Khanza.


Faizal, Dea dan Khanza mengantri untuk membeli tiket, dan ternyata Arif, Vera, juga Zia berada disana.


"Eh ada si Faizal, benarkan tadi namanya Faizal?" ucap Vera menyapa Faizal.


"Benar! kamu yang tadi pagi? kalau nggak salah, Verakan namanya?" ucap Faizal.


"Masih ingat ternyata," balas Vera lagi.


" Pasti ingatlah, mana mungkin lupa sama cewe secantik kamu," Faizal memuji Vera di depan semuanya.


"Ehem ...! " Arif langsung berdehem karena tidak suka kalau sang pacar di puji lelaki lain di depannya apalagi yang memuji rivalnya sendiri.


Vera tersenyum kikuk, takut kalau Arif akan marah. Khanza menarik Faizal dan membisikkan sesuatu padanya, posisi Khanza yang begitu dekat dengan Faizal, bahkan sekilas seperti berciuman, membuat Arif semakin panas.


"Maju sana! antriannya sudah jalan," ucap Arif menghentikan adegan bisik-bisik tetangga Khanza dan Faizal.


"Maaf, Rif! aku nggak tau Vera pacar kamu," ucap Faizal meminta maaf kepada Arif karena telah lancang, memuji pacar orang.


"Sudahlah!" balas Arif.


Faizal melangkah maju mengikuti antian pembelian tiket.


"Kita, Nonton bareng aja! tempat duduknya kayanya satu deret," ucap Faizal.


"Iya juga ya!" ucap Zia.


Setelah mereka berhasil mendapatkan tiketnya, dan sebelum masuk kedalam bioskop Zia, Vera, dan Dea izin membeli popcorn dan minuman dulu.


"Za, aku beli popcorn dulu ya?" ucap Dea.


"Iya, De! banyakin ya!" ucap Khanza tertawa cengengesan menampilkan deret giginya.


Arif menatap dalam pada gadis manis yang tertawa itu.

__ADS_1


"Aku, sama Zia juga beli popcorn deh!" ucap Vera pada Arif.


"Eh, iya!" jawab Arif kembali menatap Vera.


Vera dan Zia berjalam bersama, tapi Dea sengaja berjalan lebih jauh, karena tidak mau kalau ada keributan di tempat keramaian ini.


Faizal, Khanza dan Arif menunggu di depan pintu masuk bioskop, Faizal tiba-tiba pamit ke toilet.


"Za, aku tinggal ke toilet sebentar ya!" ucap Faizal langsung pergi.


"Jangan lama!" teriak Khanza yang di balas Faizal dengan tangan membentuk O.


Tinggallah Arif dan Khanza. Khanza menjadi canggung. Berjalan ingin menjauh tapi, tangannya sudah di tarik Arif.


"Mau kemana Za?" tanya Arif.


"Itu.... ma-mau ...." belum sempat menyelesaikan kalimatnya tapi sudah di potong Arif.


"Jangan kemana-mana," memotong jawaban Khanza, dan menarik tangan Khanza untuk mendekat padanya.


Khanza merasa tidak enak, ingin melepaskan tangannya dari Arif. tapi Arif malah semakin menariknya mendekat.


"Rif, Lepasin nanti ada yang lihat!" ucap Khanza masih berontak berusaha melepas tangannya.


Arif tak menanggapi ucapan Khanza, dia menggenggam erat tangan Khanza. Khanza di tariknya agar lebih dekat di sampingnya.


"Ihhh! ngapain, sih, dekat-dekat sama cewe cupu kaya aku! " ucap Khanza sudah kesal karena Arif tidak mau melepas tangannya.


Arif langsung menoleh ke samping mendengar Khanza berkata seperti menyindirnya dengan ucapannya tadi di sekolah.


"Ma ...." Arif ingin berucap pada Khanza, melihat Faizal yang sudah kembali dari arah toilet, membuat Arif melepaskan tangan Khanza, dan berbalik ke posisinya.


Khanza menatap tangannya yang di lepas Arif.


"Cowok kamu datang!" ucap Arif acuh dengan muka datarnya, tanpa memandang pada Khanza.


Khanza menengok ke belakang dan melihat Faizal yang sudah berjalan mendekat di belakangnya. Vera, Zia, dan Dea, juga sudah kembali.


Mereka memasuki gedung bioskop dan menempati tempat duduknya.


.


.


.


.


.


.



*Arif.



*Vera.



*Faizal.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like, komen, Fav, bintang 5, dan vote ya guys🙏🙏🙏😘😘😘💕💕💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2