CINTA SI CUPU

CINTA SI CUPU
Chapter-40~Berdua


__ADS_3

Jam istirahat sudah tiba, murid-murid sudah berhamburan keluar dari kelas mereka. Khanza masih tidak bisa bergerak dari tempat duduknya, karena Arif yang masih menggenggam erat tangan Khanza. Berkali-kali Khanza mencoba menarik tangannya. Tapi sepertinya laki-laki itu memang keras kepala dan selalu semaunya. Tatapan tajam dan muka datar yang di tunjukkan Arif, membuat atmosfer dingin di sekitar Khanza. Dia akhirnya pasrah mengingat emosi lelaki itu yang cepat sekali tersulut dengan hal-hal kecil yang menyangkut dirinya.


"Za, lo ikut ke kantin nggak?" tanya Dea.


"Lo, duluan aja ya, De. Nanti aku menyusul."


"Oh, ya sudah." Dea berjalan meninggalkan Khanza keluar.


"Dea, tunggu!" cegah Randra.


Randra menatap Arif, menganggukan sedikit kepalanya. Randra tak sengaja melihat tangan Arif yang terus memegang tangan Khanza, sekarang dia mengerti dengan sahabatnya itu. Menyusul Dea yang sudah mendahuluinya.


Sekarang hanya ada Arif dan Khanza dalam kelas itu. Bukannya melepaskan tangannya Arif malah semakin menarik Khanza mendekat kepadanya. Kilatan mata elang Arif membuat Khanza takut, sepertinya dia siap mengeluarkan semua yang tertahan sejak dari tadi.


"A-apa, Sih? kok li-lihatin aku gi-gitu?" tanya Khanza takut.


"Aku rasa kamu tau apa salah kamu?" Arif melepas tangan Khanza, dia berpaling mengambil tasnya dan memberikan buku yang tadi di ambilnya dari Khanza. Arif mengacak rambutnya frustasi, rasanya kepalanya mau pecah jika mengingat cemburunya pada Khanza.


"Hei." tegur Khanza lembut, menarik tangan Arif yang berada di kepalanya.


"Ini cuma buku, Rif."


"Tapi, kamu lebih memilih membaca buku itu dari pada lihatin aku, Za." rengeknya seperti anak kecil.


"Aku minta maaf deh, Janji nggak ulangin lagi ," bujuk Khanza.


"Sebenarnya bukan cuma itu, sih. Tadi juga di kantin si Randra...."


Belum sempat Arif menyelesaikan kalimatnya, Khanza sudah menertawakannya. Arif beranjak berdiri, dia merasa Khanza menganggap remeh kecemburuannnya. Dengan cepat Khanza menarik tangan Arif, membawany kembali duduk di tempat semula. Khanza memberikan senyum termanisnya pada lelaki yang merajuk itu. Bagi Khanza ketika mereka berdua Arif sangat berbeda. Dia seperti menemukan sosok lain dari lelaki itu. Sifatnya yang begitu kekanak-kanankan tapi bisa menghangatkan Khanza. Dia baru sadar kalau lelaki di hadapannya pencemburu bahkan pada buku yang di bacanya.


"Terus kamu pikir aku nggak cemburu lihat kamu sama Vera? Apalagi pagi tadi habis ada yang dapat ciuman, tuh," cibir Khanza. Kini malah Khanza yang menampilkan muka masamnya.


cup!


Satu kecupan manis mendarat di pipi Khanza. Khanza memegang pipinya, kini wajahnya bersemu merah. Bukan cuma Khanza yang bersemu merah, tapi pipi Arif juga ikut memerah.


"Aku pikir nggak pernah cemburu, ternyata cemburu juga," goda Arif mencolek dagu Khanza. Senyum jahilnya membuat Khanza tak kuasa menahan senyumnya.


"Iya lah. Emang cuma kamu aja, yang cinta," gumam Khanza.

__ADS_1


"Apa-apa?"


"Aku juga cemburu sayang, bukan cuma kamu aja, puas!" tegas Khanza. Arif tertawa puas mendengar penegasan Khanza, dia mencubit gemas pipi gadis yang sudah merebut cintanya itu. "I love you," ucap Arif mendekatkan dirinya.


Khanza menahan wajah Arif dengan tanganya. "Ini sekolah, nanti ada yang lihat."


"Maaf, aku lupa." Arif tersenyum cengengesan, mengingat dirinya yang lupa keadaan kalau sudah bersama Khanza.


"Rif, kapan kamu mutusin Vera?" tanya Khanza berubah serius menatap Arif.


"Kamu, maunya kapan? apa mau sekarang."


Khanza terdiam memikirkan jawaban Arif yang malah balik bertanya kepadanya. Arif beranjak beridiri setelah tak mendapat jawaban dari Khanza.


"Kemana?" tanya Khanza.


"Mau mutusin Vera."


"Eh, tunggu dulu."


"Kenapa lagi, Za. Katanya mau aku mutusin Vera, 'Kan?"


"Jangan sekarang deh, nanti aja ya?"


"Tunggu waktu yang tepat, jangan sekarang. Aku nggak mau ada permusuhan kalau kamu tiba-tiba mutusin dia."


Arif semakin tidak mengerti apa yang di pikirkan Khanza, mengusap kasar wajahnya. Arif kembali duduk menghadap Khanza.


"Terus kamu maunya gimana? aku nggak mau nyakitin kamu kalau dia selalu bersamaku, Za. Kalau kamu sakit itu sama aja aku menyakiti diriku sendiri, Za." Arif membelai lembut rambut Khanza.


Khanza memejamkan matanya merasakan sentuhan lembut dari Arif. "Kamu lupa sama yang kamu katakan kemarin? apa kamu mau aku bernasib kaya Dea, bahkan akan lebih parah."


Arif menggelengkan kepalanya. Dia tidak bisa membayangkan kalau Khanza semakin di bully hanya karena dirinya.


"Ya sudah, kita ke kantin yo! aku haus." ajak Khanza.


Arif melirik arloji di tangannya, lima belas menit lagi waktu istirahat berakhir. Dia merutuki dirinya yang lupa waktu saat bersama Khanza.


"Lima belas menit lagi, maaf ya."

__ADS_1


Arif menarik tangan Khanza untuk keluar bersamanya. Khanza melepas genggaman tangan itu, membuat Arif menatap tajam kepadanya.


"Sekolah sayang," ucap Khanza tersenyum.


"Argh! kapan bisa bebas sih!" teriak Arif frustasi, mengusap kasar wajahnya, berjalan lebih dulu meninggalkan Khanza yang menertawakannya.


Khanza menyusul lelaki itu, berjalan sedikit menjauh dari Arif. Matanya tak lepas dari lelaki penuh kharisma itu.


Sesampainya di kantin Arif menghentikan langkahnya, menatap pada Randra dan Vera yang duduk bersama. Rasanya dia begitu malas jika harus bertemu kekasihnya itu lagi. Arif berbalik cepat sebelum ada yang menyadari keberadaannya.


"Eh, kemana? nggak jadi?" tanya Khanza.


"Cari dompet dulu di mobil." Arif langsung berlari tanpa menghiraukan Khanza yang masih mengajaknya bicara.


Khanza menghembuskan nafas beratnya menatap punggung pemuda itu. Dia masuk ke dalam kantin, menghampiri Dea yang duduk sendiri dengan lamunannya.


"Hei? melamun aja nanti kesambet lho?" Khanza duduk di samping Dea. Mengedarkan pandangannya dia baru menyadari kalau ada Vera dan Randra di depan mereka.


Pantes Arif langsung pergi.


"Siapa yang ngelamun, kemana aja? kok lama banget. Pacaran dulu?" Dea langsung mendapat pelototan dari Khanza.


"Za, kamu ada hubungan apa sama Arif?" bisik Dea.


"Nanti aku cerita'in ya, De."


Dea mengangguk lemah, berbicara dengan Khanza tapi matanya terus mentap Randra. HP Khanza berbunyi, dia segera membuka pesan dan membacanya dalam hati.


Ada Vera di sana, aku males lihatnya.


Khanza tersenyum membaca pesan Arif. Membalas cepat chat dari Arif.


Males apa cemburu?


Za, jangan bikin aku kesana terus cium kamu di sana.


Iya-iya maaf. Aku percaya sama kamu.


Khanza menyimpan HP-nya, menatap Dea yang terus memperhatikan Randra. Khanza baru menyadari kalau tatapan Dea sama Randra sangat berbeda. Walau pun mereka selalu bertengkar jika bersama, tapi mata Dea selalu mencari keberadaan Randra setiap harinya.

__ADS_1


"De, lo suka sama, Randra?" tanya Khanza tanpa basa-basi.


Dea menatap pada sahabatnya itu, awalanya dia ragu untuk menceritakan perasaannya pada Khanza. Namun pada Akhirnya dia bercerita juga dari awal pertemuannya dengan Randra sampai dia bisa jatuh cinta pada pandangan pertama. (pertemuan Dea dan Randra ada di Chapter 7~Teman)


__ADS_2