
Setelah semua sahabat Zhidan pada pulang kerumah masing-masing,tinggalah Syarif dan sepupunya itu yang tingal duduk di teras rumah saat ini.
Syarif masih saja betah duduk di kursi santai di teras itu, dan melihat malam yang penuh bintang.
Zhidan yang melihat ikut duduk kembali dengan Syarif.
"Belum tidur lo Idan, kasihan tu Lira nungguin." kata Syarif pada Saudaranya itu.
"Biarkan saja, palingan nyari keluar bentar lagi jika ague gak masuk." santai Zhidan pada sepupunya itu.
"Tega lo ya biarkan istri sendirian."
"Apa ubahnya Sya sama lo,Nana lo tingal tidur sendirian dikamar,lo masih saja enak duduk diluar." sahut Zhidan santai.
"Bentar lagi gue masuk."kata Syarif masih saja melihat kearah lagit yang dihiyasi bintang.
Zhidan hanya tersenyum saja pada Saudara Sepupunya itu, kerena Dia dan Sepupunya tidak jauh berbeda.
"Apa lo Terima pernikahan ini Sya?" kata Zhidan tiba-tiba bertanya tentang pernikahan yang tidak pernah diduga Syarif menikahi Nana tampa sengaja dihari itu.
"Kenapa Io nanya itu sama gue, apa lo meragukan gue sama Istri gue Idan? lo gak usah takut tentang ini, gue tidak akan serius dengan pernikahan ini." senyum Syarif pada Sepupunya itu.
"Gue sebagai saudara lo, hanya saja gue takut lo tidak menerima Gadis baik seperti Nana jadi istrinya lo Sya,gue juga berpikir lo akan main-main sama Pernikahan ini. " jawab Zhidan Seadanya.
"Gue Terima Pernikahan ini dari awal Idan,Karena Orang tua Nana sendiri yang memintak Gue untuk menjaga dan menikahi putri mereka, jadi gue gak bisa disia-siakan kepercayaan orang tua Nana pada gue."
"Baguslah jika pikiran lo sampai kesana, jadi gue gak bayak bikiran ningalkan lo disini." ungkap Zhidan santai.
Mereka berdua sama-sama tersenyum puas dan senang, kerena mereka sama-sama legah.
Tidak lama Lira keluar nyariin Zhidan Yang masih sibuk bicara dengan saudara sepupunya itu.
"Kak, apa kalian masih mau berbicara didini? kerena ini sudah malam kak?, kak Zhidan apa juga gak mau tidur? aku masuk kamar duluan ya jika masih lama." kata Lira hendak pergi meningalkan dua pria tampan itu.
"Dek mau kemana kamu? tungguin dulu sayang." kata Zhidan menahan tangan istri nya itu.
__ADS_1
"Ya masuk kamarlah, kamu masih lama kak, aku sudah ngatuk banget soalnya." kata Lira Santai.
"Ya sudah Aku ikut kamu dehh, biar aku temanin kamu tidur." kata Zhidan Dengan tingkah bodohnya itu di hadapan Syarif.
"Alah bucin lo?" kata Syarif kesal.
"Lo cemburu, buruan masuk peluk juga tu Istrinya lo sana." ejek Zhidan dengan senyuman jahilnya itu.
"Kak jangan gitu dehhh, kasihan kak Syarif belum dapat lampu hijau dari Nana." cubit Lira pada Zhidan.
"Baru rasa lo bukan, emang enak kenak cubit istri." balas Syarif melihat Lira mencubit pinggang suaminya itu dengan geram.
"Ahhhh dasar lo Sya!! Sayang Jagan dicubit kenapa sihh, sakit tahu!! ,jika mau cubit sayang kita dikamar aja." bisik Zhidan pelan ditelinga istrinya itu.
Akhirnya Syarif duluan masuk kedalam dari sepasang suami-istri itu, kerena kedua manusia itu sudah tidak waras lagi jika bicara, dunia milik mereka berdua.
"Ya sudah sana masuk lo berdua, tuntaskan itu yang belum tersalurkan itu. " ejek Syarif sambil berjalan duluan masuk dari mereka berdua.
"Alah bilang aja lo cemburu Sya." kata Zhidan masih saja manasin Syarif.
Sampai dikamar Syarif melihat Nana masih saja Nyaman dengan tidurnya saat ini.
Syarif melihat wajah teduh dan cantik itu tidur seperti itu dia hanya tersenyum saja,Berlahan Syarif menyusul naik keatas ranjang itu, dan mendekat pada istrinya itu.
Jemari lentiknya itu mulai menepikan rambut panjang istrinya itu yang sedikit menutupi wajah cantik itu.
"Semoga saja kita bisa saling mencintai Na, aku saat ini sudah merasa suka dengan kamu, aku mulai nyaman dengan kamu, semoga saja apa yang aku rasakan saat ini kamu bisa juga merasa hal sama denganku." kata Syarif sambil mengusap pipi mulus istrinya itu.
"Jangan pernah kamu serasa keberatan kerena pernikahan ini yang tidak kita duga."kata Syarif lagi sambil menatap istrinya itu tidur dengan nyenyak dan nyaman.
Berlahan Syarif mendaratkan ciuman di kening istrinya itu denga rasa sayang yang mulai dirasakannya saat ini, walau saat ini Nana belum tahu perasaan suaminya itu padanya.
Lama kelamaan Akhirnya Syarif ikut tertidur disamping istrinya itu, dengan memeluk tubuh kecil Nana dalam pelukannya sampai pagi.
Keesokan paginya sepasang suami-istri itu tidur kesiangan,sampai mereka melewatkan Sholat Shubuh mereka pagi ini, Nana yang Terbangun duluan kerena Cahaya matahari pagi sudah menatang matanya saat ini.
__ADS_1
Saatnya Nana bangun, dia masih didalam pelukan suaminya itu, Nana tidak bisa bicara apapun saat ini, kerena ini malam kedua bagi mereka tidur bersama sambil berpelukan seprti apa yang baru disadari oleh Nana.
"Astaghfirullah Mas Syarif!! " teriak Nana sudah sangat kesiangan.
"Kenapa sihh Dek, kamu teriak sepagi in? " kata Syarif saat ini masih saja dengan mata terpejam.
"Mas bukak dulu itu matanya, Jagan peluk aku terus, lihat itu mata hari sudah nongol, kita sudah kelewatan sholat Shubuh Mas!! " repet Nana pada Syarif.
"Ya sudah jika sudah lewat sayang,jangan ribut lagi, ayok tidur lagi." ajakannya pada Istrinya itu denga santai.
"Kamu ini, jika bicara seenak jidat saja Mas, apa kamu ingin bikin aku malu pada Bibik dan Paman kamu, kita ini dirumah Kak Zhidan bukan di apartemen Mas." kata Nana lagi.
"Terus apa mau sih Na,jika mau bangun sana dulu, aku bentar lagi nyusul."kata Syarif melepaskan pelukannya pada Istri kecilnya itu.
Nana langsung turun dari tempat tidur itu dan langsung kekamar mandi dan memberikan tubuhnya sebelum keluar dari kamar itu.
Sebelum Keluar Dari kamar itu, Nana melihat Syarif masih saja betah dengan tidur nya itu.
"Ahhh dasar tukang Molor kamu Mas, Mas ayok bangun!!, apa pagi ini kamu tidak akan Kerja Mas?" kata Nana membangunkan Syarif dengan mengoyang pundak suaminya.
"Hari ini aku tidak ada jadwal operasi Na, bentar lagi ya aku bangun." kata Syarif memegang tangan istrinya yang berada dipundak Suaminya itu.
Degan sigap Syarif menarik tubuh kecil istrinta itu, sehinga Nana jatuh ditubuh Syarif pas didada bidang milik suaminya.
"Mas apa yang kamu lakukan." kata Nana yang ingin turun dari tubuh suaminya itu, denga cepat Syarif menahan tubuh istrinya jangan sampai turun dari tubuhnya.
"Jangan pernah berharap bisa turun dari tubuhku, jika kamu mau aman." ancam Syarif menatap wajah cantik istrinya itu pas dihadapan diwajahnya saat ini.
"Apa yang ingin kamu lakukan padaku Mas, jangan macam-macam ya." elak Nana sedikit gugup saat ini, kerena posisinya saat ini dengan Syarif benar-benar sangat deket dan dadanya mereka sama-sama menempel.
"Muaaaaahh, satu kecupan pagi hari mendarat di bibir cantik itu.
"Masssss!! Malu Nana saat ini.
***************
__ADS_1