
Setelah Gio dan Ajeng pulang, saat ini Syarif hanya menatap istrinya itu yang berdiri di teras sambil melambaikan tangan pada Ajeng dan Gio.
Syarif senang istrinya itu bergaul cepat dengan orang yang dekat dengan nya sealama ini, jadi Syarif tidak harus capek-capek untuk menyuruh istrinya itu untuk mengenalkan pada para sahabatnya.
Nana juga seorang gadis yang mudah akrap dengan siapa saja, kerena fia sebelum bertemu dengan Syarif dia adalah gadis yang cerewet dan agak kepo, apa lagi jika dia lagi berkumpul dengan dua sahabatnya yaitu Lira dan Hanna.
"Hai Mas kenapa menatapku terus dari tadi, ada apa??" kata Nana melihat kearah suaminya itu sedikit bingung.
"Karena kamu cantik sayang, makanya aku gak bosan lihat kamu." rayu Syarif santai saja.
"Ahhh, kamu ini ada saja Mas!! " kata Nana sedikit malu.
"Ayok masuk, aku ingin peluk kamu sebentar dan ingin bermain dengannya. " kata Syarif mengusap perut istrinya itu.
"Kamu selalu begitu, ujung-ujungnya mintak jatah, ingin nengok putraku, seribu alasan. " kata Nana dengan menlanjutkan jalan kedalam lebih dulu dari suaminya itu.
"Ehhh tunggu sayang, kok aku ditingal disendirian." kata Syarif mengejar istrinya yang sudah masuk lebih dahulu darinya.
Syarif hanya tersenyum saja melihat istrinya sudah masuk kedalam rumah itu, Syarif tetap mengikuti istrinya itu.
Syarif melihat istrinya lagi dimeja makan, membantu bik Num merapikan meja makan pas makan siang mereka barusan.
"Sudah non Nana, biarkan bibik saja yang kerjakan Non bisa istirahat saja sana, itu den Syarif sudah nungguin." kata Bik Sari menujuk Syarif yang berdiri tidak jauh dari mereka berdua.
"Biarkan saja dia bik,nantik capek berdiri disitu dia akan pergi masuk kamar dengan sendirinya." kata Nana cuek pada suaminya itu.
"Sayang jangan gitu dong, masak aku ingin main dengan bayiku sebentar saja gak boleh,bik Num pasti mengerti Sayang, ayoklah bentar saja." regek Syarif pada Nana tidak ada sedikitpu rasa malu pada bik Num yang ada diantara mereka.
"Lihat itu dia bik, tingkahnya itu melebihi anak kecil jika dirumah, pusing aku lihatnya bik, lebih baik dia kerja aku senang, gak diganggunya terus." kata Nana kesal pada Syarif.
__ADS_1
"Tidak apa itu Non, itu bumbu cinta, jika gak begitu,pasti gak seru juga, ada saatnya masa kita bergurau dan bermaja dengan suami." kata bik Num santai.
"Bibik saja tahu, masak kamu pelit kali sama aku yang jarang berada dirumah sayang." kata Syarif yang masih berdiri di tempatnya.
"Apaan sih kamu Mas, jangan manja ahh, malu sama bik Num itu." kata Nana sudah tidak bisa tahan dengan regek suaminya itu.
Syarif yang geram melihat tingkah istrinya itu selalu ada jawabannya untuk lari darinya, akhirnya dia berjalan kearah istrinya lalu Syarif mendedong istrinya itu dengan kedua tanganya, Nana sangat kaget tiba-tiba saja suaminya itu mendongnya.
"Bibik kami tingal kerja sendiri ya." kata Syarif sambil membawa istrinya itu dari ruang makan itu untuk kekamar mereka yang ada di lantai dua.
Bik num hanya bisa ketawa melihat tingkah kedua majikan yang baru berumah tangga seumur jagung itu.
"Sungguh unik pasangan mereka ini, setiap hari aku harus melihat tingkah aneh mereka." kata bik num geleng-geleng kepalah sambil menyelesaikan pekerjaannya.
Syarif dengan semangat mengedong Nana naik ke lantai atas menuju kamarnya itu, sambil berteriak Nana mintak diturunkan oleh suaminya jahilnya itu.
"Diamlah Sayang jika kamu selalu seperti ini kalau jatuh jangan salahkan aku." kata Syarif santai sambil membawah tubuh istrinya itu masuk ke kamarnya.
Sampai dikamar Syarif mendudukkan Nana disofa santai mereka yang ada dikamarnya itu.
"Mas kamu ini ada saja kerjaanya bikin aku takut saja." kata Nana bicara kesal pada suaminya.
"Kenapa dengan ku memang?" Syarif balik bertanya pada Istrinya.
"Jangan lakukan lagi hal bodoh yang tadi membuatku takut saja kamu Mas." kata sungguh sangat takut saat Syarif mengedongnya menaiki tangga rumah itu.
"Nyatanya kamu baik-baik saja bukan? tidak ada masalah dengan kamu dan bayiku yang ada disini bikan?aku ingin menyentuhnya saja tapi kamu gak kasih bukan yang aneh-aneh kok yang aku pintak, hanya seperti ini saja." kata Syarif mengelus perut istrinya itu saat ini posisi dirinya duduk di lantai dia yang mendekat ke perut istrinya itu.
Nana hanya diam saja memperhatikan suami nya lagi asik megelus perut buncitnya itu dengan lembut sehinga anak yang ada didalam rahimnya itu bergerak.
__ADS_1
"Mas, kapan kamu punya waktu untuk menemani aku cek kandungan ?" kata Nana baru saja ingat kerena bulan ini dia belum ada cek kandungannya.
"Astaghfirullah sayang, aku juga sampai lupa kamu belum cek kandungan ya, nantik aku janjikan dulu dengan dokter kandungan kamu, kapan kita akan periksa, soalnya dua hari ini aku akan keluar kota." kata Syarif bicara baik pada istrinya itu.
"Ohhh gitu ya, tapi biar aku aja sendiri pergi jika mas sibuk." kata Nana pada Syarif.
"No Nana, kamu tidak akan pernah akan pergi sendiri tampa aku, kamu harus menungguku kembali." kata Syarif melarang istrinya itu pergi kerumah sakit untuk priksa kandungan sendiri saja.
Nana hanya manyun saja reaksinya saat Syarif tidak memperbolehkan diri nya pergi sendiri.
Nana juga tidak mau lagi bicara, kerena apa yang sudah dikatakan Syarif tidak akan bisa membuatnya berkutik lagi, lebih baik memilih mengikuti kata suaminya itu."
"Kenapa diam saja, ada yang membuat kamu gak senang atas ucapanku barusan?" tanya Syarif melihat istrinya hanya diam.
"Tidak, terus aku harus berkata apa lagi ayok !! kamu sudah melarang aku pergi sendiri, lebih baik aku diam saja dan mengikut kata kamu saja suamiku sayang!!"kata Nana sambil mencubit perut Syarif.
"Sakit sayang Jangan dicubit, ini saja jika mau dicubit." Canda Syarif menaruh tangan istrinya itu pada benda pusakanya.
"Itu maunya kamu mas!! " Kata Nana dengan mata melalak pada suaminya itu.
"Hahaha, kamu ini lucu sayang seperti ini, membuat aku jadi gak tahan." kata Syarif mencubit pipi berisi istrinya itu.
"Mas jangan aneh-aneh saja pikiran kamu siang-siang begini." kata Nana bicara pada Syarif yang suka asal padanya.
"Aneh-aneh kayak mana sayang, memang apa yang aku buat kekamu, aku hanya ingin memegangi anakku didalam sini saja kok."kata Syarif santai dan tersenyum pada istrinya .
Nana membiarkan saja apa mau suaminya itu, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika Syarif sudah lengket begitu, nana tidak bisa berkata lagi.
***********
__ADS_1