
Syarif meletakan Ikan bakar yang sudah siap dibakar olehnya itu sama Mama dan papanya saat ini yang lagi duduk di tikar yang sudah terbetang cantik dibawah pohon mangga yang ribun disamping rumah kecil itu.
"Ma, ini ikan sudah siap, kita bisa makan sekarang, aku sudah tidak sabar ingin mencicipinya." kata Syarif yang sudah lapar kerena sudah masuk waktu makan siang.
"Ya sudah, disini duduk kita bisa makan bersama karang." kata Mamanya itu dengan lembut.
"Nana ayok sayang, sini duduk." kata Papanya Syarif lembut pada menantunya itu.
"Iya Pa..!! " kata Nana ikut duduk didampingi suaminya itu.
"Ayok kita coba ikan bakar dibumbu cinta dari menantu kita Ma."canda pak Wawan pada istrinya.
Nana dan Syarif hayang bingung apa maksud dari perkataan orang tuanya itu, Syarif bingung melihat istrinya.
"Bumbu cinta Pa, apa maksudnya??? " kata Syarif kembali bertanya pada Papanya itu dengan bingung.
Mama Mur hanya ketawa kecil melihat reaksi kedua orang yang lagi bingung padanya saat ini.
"Lihatlah Pa, wajah putra kamu itu seperti apa saat ini" kata Mama Mur bercanda lagi pada putranya itu.
"Ma jangan bikin aku penasaran, kok bisa kalian berdua kasih nama ikan itu dengan sebutan itu??ada Apa??" kata Syarif penasaran pada kedua orang tuanya itu.
Nana tidak bersuara kerena tidak ingin jadi ejekan oleh mertuanya itu, dia hanya diam saja dan tidak banyak menyelah kata ketiga orang itu.
Syarif juga melihat pada istrinya itu hanya diam saja,dia juga bingung juga melihat reaksi Nana setelah Papa dan mamanya sedikit mengejeknya.
"Ma, lihatlah menantu Mama sudah diam saja, apa tidak kasiahan lihatnya?", kata Syarif kembali.
"Itu memang benar Nana, bumbu cinta dari kamu akhirnya ikan nya bisa masak dengan rasa yang lebih nikmat." kata Mama itu tampa Memperhatikan wajah menantunya saat ini sudah memerah kerena ejekannya.
"Benar Kata Mama kamu Na, ikan ini masak kerena dengan siraman cinta kamu pada Syarif." timbal papa mertuanya Lagi.
"Pa, mana ada begitu." kata Nana Pelan.
__ADS_1
"Sudah ayok, kita Makan jangan kalian ganggu istriku lagi. "
Dyari mengambilkan nasi dan lauk untuk Nana dan meletakan satu ikan bakar itu didalam piring kosong dan menaruh didepan Nana saat ini.
"Ayok kita Makan, kamu bisa makan punya aku ini saja, biar gak bayak sisa, ini ikan terlalu besar jadi aku gak bisa menghabiskannya sendiri."kata Syarif mulai mengambil daging ikan yang sudah ditarok dihadapan istrinya itu,dengan memberikan pada Nana.
"Terimakasih mas, kamu sunggu perhatian ya, suami idaman." canda Nana diselah makan makan daging ikan bakar itu, walau ada mertuanya saat ini bersama mereka, Nana bisa berkata begitu kerena dia mau Kedua orang Tua suaminya itu merasa bebih senang lagi jika dia tampak lebih dekat lagi pada Syarif.
"Makanlah ini sebelum aku memakamu...!!"canda Syarif kembali.
"Apa sihhh Mas, asal bicara saja lihat itu ada papa sama Mama dengar." malu Nana mencubit pinggang istrinya itu.
"Lanjut saja Nak, angap saja kita gak ada disini." sahut Papa mertuanya itu dengan senyuman yang terkembang di bibir mereka berdua saat ini melihat Putra dan menantunya itu.
Mereka seharian benar-benar mengabiskan waktu bercada gurau dengan keluarga baru bagi Nana, hari ini Syarif juga tidak pernah bersikap cuek dan dingin padanya, Syarif betul-betul perhatian pada istrinya.
Sudah tidak terasa waktu sudah sore saja, Syarif mengajak istrinya untuk memanen jeruk dikebun tidak jauh dari rumah milik mendiang kakeknya itu,Orang tua Syarif memiliki bayak kebun buah bermacam tanaman buah yang ada di kebun itu.
Nana dengan senang hati hari ini menemani Syarif dan mertuanya itu panen Buah jeruk uang jarang selama ini dia jumpai, dijakarta tidak pernah Nana memetik lansung jeruk dikebun.
Setelah sampai dikebun itu Nana berjalan tidak sampai memakan waktu 15 menit, Nana melihat buah jeruk yang bergatungann dipohonnya langsung membuatnya ingin cepat memetik jeruk itu.
"Mas ayok kita petik jeruknya, sepertinya sangat megiyurkan, apa lagi buahnya besar dan sangat mengodah." Celetuk Nana suka asal.
Pas Nana lagi bicara pada Syarif saat itu juga ponsel yang ada ditangannya berbunyi, rupa Hanna yang vc.
"Ada apa Han?" ucap Nana dengan lesu"Kamu ini menganggu saja Han, tidak bisa melihat senang..!! lemas nya pada Sahabatnya itu.
"Kamu kapan kembali Na,aku sudah sangat kesepian tampa kamu disini. " kata Hanna juga lagi mayun itu terlihat layar ponselnya itu.
"Kamu kayak gak ada Bos tampan saja, minta itu bos pujaan hati kamu yang temani, lihat Aku sekarang, suamiku sudah beberapa hari menghabiskan waktu bersamaku." ejek Nana santai pada Sahabatnya.
"Aihh mentang-mentang lo sama dokter tampan itu, awas aja lo nantik ya." kata Hanna Kesal.
__ADS_1
"Maka sekali-sekali kamu ajak itu kak Reza jalan, jangan sibuk kerja aja." kata Nana pada Hanna.
"'Ya kayak mana lagi Na, aku hanya gini aja gak ada perubahan yang, dia lagi sibuk keluar kota dan luar negri sama bosnya, jadi aku bisa apa." lemas Hanna lagi.
"Sudah Jagan sedih gitu, entar kita libur sama setelah aku sampai sana nantik palingan dua hari lagi kami berdua kembali." kata Nana sambil mengambil jeruk dipohonnya itu.
"Kamu lagi ngapain sih Na, itu kok kayak dikebun jeruk sih?" kata Hanna melihat sahabatnya itu lagi dikebun jeruk.
"Aku lagi panen jeruk Han, dikebun milik mertuaku, entar aku bawakan untuk kamu, sampai ketemu nanti Bay." kata Nana menutup panggilannya itu.
Nana langsung berjalan dimana saat ini Syarif yang lagi asik memanen buah jeruk itu bersama Papanya.
"Sudah siap ?" kata Syarif melihat istrinya sudah berdiri sampingnya.
"Sudah, Hanna cuma nanya Aku kapan kembali saja Kok, gak ada Yang lain." jawab Nana santai.
"Apa Mau coba ini gak? syarif memberikan jeruk yang sudah di kupasnya itu.
"Ya Maulah Mas, itu dari bagian perhatian dari kamu, hari ini aku lebih senang lihat kamu seperti ini. " kata Nana tidak ada rasa segan lagi padan Suaminya itu dan dia langsung mengambil jeruk yang didikupas Syarif itu juga mencoba memakan jeruk itu."Enak mas, manis ini gak asam mas." katanya lagi.
"Ya sudah nantik kita bawak lebih kejakarja,jika kamu memang suka jeruk dari desa sini." kata Syarif dengan lembut bicara pada Nana.
"Nantik papa akan kirim setiap minggu jika setiap panen kebun kita." sambung Papa maertuanya itu.
"Ahhh jangan Pa, itu akan merepotkan papa Saja, gak usah...!! " kata Nana cepat melarang apa kata Papa mertuanya itu.
"Tidak masalah asalkan menantu papa senang." kata Papa mertuanya Nana lagi dengan senang hati.
"Biarkan saja Sayang apa yang inginkan papa, jangan melarangnya." bisik Syarif lembut di telinga Syarif.
"Ya sudah...!! " kata Nana Tidak mau meneruskan katanya lagi.
Syarif hanya Tersenyum saja melihat istrinya itu tampak senang walau dua hari mereka di desanya tapi Syarif bisa membuat Istrinya terhibur, kerena kedua orang tuanya sangat perhatian dan meyayangi istrinya seperti dia sendiri.
__ADS_1
***********