CINTA UNTUK DOKTER TAMPAN

CINTA UNTUK DOKTER TAMPAN
Nasehat seorang Papa


__ADS_3

"Na, apa kamu sudah memikirkan kata Papa dan Mama tadi ?" Tanya Syarif dengan tiba-tiba.


Nana kembali Kaget mendegar kata suaminya itu, kenapa dia malah bertahan lagi saat ini, Nana dibuat salah tingkah lagi kerena Pertayaan yang dilontarkan oleh Syarif padanya.


"Kenapa Kamu diam ?" Bingung Syarif melihat istrinya itu.


"Hmmm Mas,aku tidak mau kamu salah mengartikan ini, kerena aku diam kamu merasa aku tidak mau menjadi ibu dari anak-anak kamu kelak,aku saat ini belum memikirkan tentang itu, tapi kita lihat saja nantik. " kata Nana agak berbisik di telinga Suaminya itu." Aku saat ini masih belum bersih, jadi kamu harus sabar menunggu." kata Nana jujur dan sudah memberi lampu hijau pada Suaminya itu, tandan dia akan mau meneruskan keturunan dari suaminya itu.


Senyuman Syarif kembali terlihat dari wajah tampan itu setelah bisikan istrinya itu lembut terdengar di telinganya.


"Benarkah itu Na?"


"Iya...!! " singkat Nana menjawab.


"Terimakasih ya, kamu mau menjadi istri dan akan meneruskan apa yang sudah diinginkan oleh para orang tua kita ." Peluk Syarif saat ini kerena senang mendegar kata dari istrinya itu.


Syarif sangat berharap mereka tidak akan terpisahkan sampai menua nantik, sepanjang hayat nya dia tetap bersama dengan Nana dan Anak-anaknya kelak.


Syarif akan memulai kehidupan barunya mulai saat ini mencintai dan menyayangi istri dan keluarganya dari apapun yang akan menghalangi untuk kebahagiaan keluarganya.


Siang ini Syarif dan Nana beristirahat hanya sambil bercerita dikamar milik suaminya itu, mereka menghabiskan waktu dengan canda gurauan kerena hari ini tidak disangka Nana suaminya akan mengutarakan perasaan secepat ini padanya.


Hari ini Syarif betul-betul sangat senang sudah ada lampu hijau dari istrinya itu, berakti dia tidak akan menunggu lama berpuasa lagi.


Saat ini Syarif hanya tersenyum senang melihat dan menatap pada istrinya itu yang lagi duduk tersandar pada tubuhnya dengan kepala berada didada Syarif, jemari tangan Syarif juga mengusap rambut panjang istrinya itu dengan sentuhan lembut dari dokter tampan itu.

__ADS_1


Akhirnya Nana tidak bisa menahan kantuk matanya ,Nana tertidur dalam pelukkan suaminya itu dengan Nyaman.


Syarif mendegar dengkuran istrinya dia hanya bisa menghela napas panjangnya saat ini, Syarif memindahkan Nana tidur ditempat tidur saat itu juga agar istrinya itu lebih nyaman lagi berada diatas ranjang empuk itu.


"Kamu tidak tahu tempat jika tidur Sayang, bikin aku geram saja melihat kamu seperti ini, wajah kamu ini sangat megemaskan." ungkap Syarif bicara pada istrinya yang tertidur itu dan megusap pipi mulus itu dan Syarif mengecup kening istrinya itu dengan rasa sayangnya pada Nana.


Setelah itu Syarif meningan Nana yang tidur itu dan keluar dari kamar miliknya itu, Syarif berjalan keluar mencari Mamanya saat ini.


Saat Syarif berjalan keluar Mamanya lebih dulu memangil putranya itu.


"Syah kamu mau kemana lagi?" kata Mama Mur pada putranya itu.


"Aku tidak akan kemana-mana Ma, aku cari mama." kata Syarif kembali.


"Ada apa kamu mencari Mama Nak, bukankah tadi kamu sudah memeluk Mama, apa tidak cukup dengan pelukan itu?" canda Mamanya itu pada Putranya.


"Isss dasar ini Anak, tidak Malu orang seramai ini Masih saja peluk mama." repet Mama Mur pada Syarif yang masih tidak melepaskan pelukananya itu pada Mamanya.


"Terimakasih ya Ma, kalian berdua bisa menerima pernikahan kami yang tidak pernah terduga Ma, aku sangat bahagia Mamaku bisa menerima istri aku dengan baik dirumah ini untuk pertama kali dia datang sebagai menantu Mama." ungkap Syarif pada Mamanya itu.


"Itu sudah jodoh kamu Syah, Kamu dan Nana sudah suranatan untuk bersama, jika pertemuan kamu itu beda cara dari teman- teman kamu, Dengan cara seperti itulah Tuhan mempertemukan kamu,dengan menolong seorang gadis cantik akhirnya dia jadi istrinya kamu." jelas Mama Syarif juga senang saat ini, putranya bisa menikah dengan gadis cantik dan baik seperti Nana.


"Makasih Ma, aku sayang Mama." kata Syarif kembali.


"Nana kamu tingal sendiri Saja dikamar Syah?" Mama Mur tidak melihat menantunya itu.

__ADS_1


"Dia lagi tidur Ma, biarkan dia istirahat mungkin lelah kerena perjalanan ke sini." kata Syarif santai.


Mama Mur hanya terseyum saja melihat tingkah putranya itu, selama ini Syarif sangat dekat dengan Mamanya itu, Syarif selalu bercerita apapun yang terjadi padanya, begitu juga dengan dia bisa menikah dengan istrinya itu, baru tiga hari lalu dia bicara pada Kedua orang tuanya itu saat dia diluar kota baru Syarif bercerita pada Mama Mur apa yang saat ini sudah terjadi dengannya.


Tapi Mamanya tidak terlalu masalah jika anaknya menikah dengan siapa, yang penting bagi Mama Mur gadis itu baik, bisa menerima Putranya dengan apapun kekurangan dan kelebihan putranya.


"Kalian ini selalu seperti ini, kamu sudah punya istri Syah masih saja manja sama Mama kamu. " kata Pak Wawan baru saja datang dari luar.


"Pa, diam dulu kenapa sih, aku sudah sangat merindukan kekasihku ini, sudah hampir setahun aku tidak kembali kesini kerena aku sangat sibuk dengan kerjaanku saat ini." kata Syarif melepas pelukan yang pada Mama Mur saat ini lagi duduk di ruang tengah rumah itu.


"Jangan sampai kamu mengabaikan keluarga kamu Syah jika sibuk bekerja, apa lagi isterinya kamu." kata Papanya itu.


"Tidak akan Pa, untuk dia aku selalu meluangkan waktuku, walau hanya sebentar aku dirumah." kata Syarif santai.


"Jaga istrinya kamu dengan baik, papa dapat lihat istrinya kamu itu gadis baik, jadi jangan pernah kamu kecewakan menantu papa." kata Pak Wawan menasehati putranya Satu-satunya itu.


"Sekarang Apa paman kamu baik-baik saja di jakarta Syah? Papa sudah sangat merindukan mereka juga saat ini sudah setahun lebih mereka tidak kembali kesini semenjak kejadian menimpa adik kamu itu, papa sangat sedih saat mendegar kabar mentari koma saat itu, rasa ada yang hilang pada diri papa, kerena adik kamu itu selalu bermain disni waktu kecilnya, dia sudah seperti putri kandungku sendiri."


"Papa Jagan khawatirkan tentang mereka lagi, mereka semua sudah senang dan mentari sudah hidup bahagia dengan suaminya saat ini, zaki juga sangat mencintai adikku itu." jelas Syarif menjelaskan pada Papanya saat ini sangat merindukan Keluarga deketnya itu.


"Shukurlah,akhirnya dia menemukan kebahagian, papa takut dia akan menjalankan hidup dengan tidak bersuami dan membesarkan anaknya tampa seorang suami, jika saat itu Zaki tidak mau bertangung jawab apa yang sudah dilakukan pada adik kamu itu."kata Papa Wawan mengingat nasib mentari.


"Sekarang mereka sudah hidup bahagia Pa, jadi tidak ada yang perlu papa takutkan lagi, aku dan Zhidan juga tidak akan diam saja." kata Syarif menjelaskan pada Papanya itu.


"Sekarang papa ingin kamu bisa menjaga istrinya kamu dengan baik, jangan pernah kamu sakiti dia,ingat jika Mama kamu seorang wanita Nak." kata Papanya lagi.

__ADS_1


Aku akan mengingat kata papa selalu, Terimakasih sudah megerti aku Pa-ma." kata Syarif sangat bangga memiliki orang tua seperti mereka berdua, megerti akan apa keinginannya.


***********


__ADS_2