CINTA UNTUK DOKTER TAMPAN

CINTA UNTUK DOKTER TAMPAN
Bertemu dia


__ADS_3

Tidak terasa waktu jam pulang sudah tiba, Nana siap ingin pulang, sebelum dia meningalkan toko itu dia kembali masuk keruangan Bossnya kerena Sahabatnya itu selalu berada di sana.


"Han gue ingin pulang, apa lo belum ingin pulang??" tanya Nana.


"Aku nantik saja pulangnya Na, lo duluan saja, tadi gue dimintak kirim berkas laporan Tahunan oleh kak Reza, jadi ya gue harus kirim." sahut Hanna masih sibuk mengerjakan itu.


"Sudah aku duluan ya Han, takut mas Syarif sudah nungguin gue diluar." kata Nana


"Ya sudah, lo hati-hati." senyuman Hanna pada Sahabatnya itu.


Nana turun dari lantai dua itu kembali turun ke lantai satu dimana disana sudah ada suaminya yang terseyum melihat merahnya.


"Mas, kamu sudah samapai?" kata Nana senang melihat Syarif masuk kedalam toko tempat kerjanya itu.


"Aku sudah 15 menit nungguin kamu diluar kamu gak kujung keluar, jadi aku susul saja." Santai Syarif bicara.


"Ayok kita pulang mas,tapi sebelum kita pulang kamu harus menemani aku belanja bahan dapurku sudah habis." kata Nana pada Syarif.


"Ok, tidak masalah." kata Syarif santai." ayok!! " ajaknya dan mengadeng pinggang istrinya itu.


Semua karyawan toko itu hanya tersenyum melihat kemesraan mereka berdua, kerena Dokter tampan itu benar-benar sangat meyayangi istrinya.


"Aku jadi iri lihat kaka Nana dengan suaminya, mereka memang pasanga serasi." ucap Dewi yang berdiri dikasir dengan teman seperkejanta itu.


"Semoga aku juga bisa punya suami sebaik dokter tampan kak Nana." kata Lala menyahuti kata Dewi.


Keduanya sama-sama terseyum membayangi dirinya mereka bisa memiliki suami yang tampan dan baik, perhatian seprti Dokter Syarif.


Didalam mobil Nana sedikit menyadarkan tubuhnya pada tempat duduk mobil itu, rasa lelah Nana saat ini sudah bekerja seharian sangat terasa, Syarif yang melihat istrinya tampak kelelahan dia sangat kasihan, tapi itu adalah pilihan istrinya sendiri tidak mungkin lagi dia untuk memintak istrinya berenti untuk kesekian kali.


Syarif berharap Istrinya itu bisa hamil cepat jadi Nana tidak perlu capek-capek lagi kerja, karena dirinya masih bisa membiayai istrinya dan kedua orang tua Nana, kerena hidup kedua orang tuanya tergantung pada Nana selalama ini.


Syarif membiarkan Nana istirahat sejenak menjelang mereka sampai disupermaket yang biasa mereka belanja.


Tidak lama mereka sampai Syarif melihat istrinya itu tertidur,dia tidak tega untuk membangunkan istrinya itu, beberapa menit dia menunggu istrinya terbangun.

__ADS_1


Ponselnya Syarif berbunyai membuat Nana terbangun dari tidurnya itu,Syarif mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya itu.


"Halo Idan ada apa lo ngubungin gue?"ucapnya Santai.


"Aku lagi bingung Syah, lira muntah-muntah dari pagi, apa sih obat masuk angin ?" kata Zhidan tedegar agak takut dan kebingungan.


"Lo ini begok apa sihh, lo bawak kerumah sakit prisak itu istrinya lo, mungkin saja dia lagi hamil kali kerena lo terus memasukan angin tiap malam padanya." kata Syarif tidak ada koma dan titiknya jika bicara pada pada sepupunya itu.


"Masa sih,istrinya gue hamil syah, gue baru ingat, ya sudah gue langsung bawak prisa saja deh, terimakasih lo sudah ingitin." kata Zhidan menutup panggilannya itu.


"Ahhh dasar sepupu gue gak punya aklak, main matiin saja." gerutuknya kesal pada sepupunya itu.


"Kamu kenapa Lagi mas, siapa yang telpon?"kata Nana bingung.


"Kamu sudah bangun?" tanya Syarif pada Nana.


"Sudah, ayok kita belanja dulu mas, nantik keburu malam." kata Nana turun dari mobil itu dan tidak melajukan ucapanya tadi pada suaminya itu.


Mereka berdua masuk kedalam supermarket itu dengan Syarif membawa troli untuk barang belanjaan istrinya.


"Mas kita masak rendang hari ini ya, aku lagi ingin masak daging, kamu gak masalah kan??" kata Nana tahu suaminya itu tidak suka namanya daging.


"Terserah kamu samyang, itu selerah kamu, aku tidak suka itu, jadi kamu jangan ikut juga yang tidak aku makan dan apa yang tidak aku suka." kata Syarif juga mengerti apa yang diinginkan istrinya itu.


"Baiklah aku ambil setengah kilo daging saja, hanya aku yang makan." kata Nana tersenyum pada suaminya.


"Kamu juga ingat Ibuk, kamu sekalian belanjain untuk mereka Na, biar tidak ada lagi yang dipikirkan ibuk dan ayah, duit yang kita beri bisa disimpan oleh ibuk." ucap Syarif pada istrinya itu.


"Tapi kamu gak apa-apa mas dengan itu semua?" kata Nana tidak percaya pada Perkataan suaminya.


"Tidak, mereka juga orang tuaku jadi Jagan kamu merasa jika aku terbeban oleh orang tua kamu, tidak sayang." kata Syarif biacars pada istrinya itu.


"Makasihh mas." kata Nanan senang mendegar itu semua dari mulut suaminya itu.


Nana kembali melakukan mencari kebutuhan untuk rumah tangganya dan kebutuhan orang tuanya.

__ADS_1


Setelah dapat itu Nana meyudahi semua belanjanya dan mengajak Syarif untuk kekasir membayar belajaan itu.


Sebelum mereka sampai dikasir, nama Syarif dipanggil oleh seorang, dan itu adalah Sari juga belanja di sana.


"Syarif!! " pangil seseorang.


Syarif memutar dirinya kerah dimana suara itu, namun tidak ada exresi apapun yang Syarif lihat kan pada gadis itu,dia hanya diam dan acuh saja, Syarif tahu gadis yang dihadapanya itu menyukainya.


"Sari, kamu juga lagi belanja? kata Syarif sekedar bertanya pada Sari.


"Iya kebetulan kita bertemu lagi." kata Sari sangat senang melihat pria yang disukainya itu.


" Jika begitu kami duluan ya, kami sudah siap belanja, kamu silakan lanjutkan belanjanya." kata Syarif santai." Ayok sayang kita bayar dulu belanjaan kamu." kata Syarif membantu istrinya yang diam saja melihat dirinya.


Nana hanya diam saja memperhatikan tingkah suaminya itu, selalu dingin dengan orang lain, tidak seperti saat sersama dirinya Syarif yang suka usil padanya dan juga sangat cerewet, tapi tidak dengan saat ini dia tanpak dingin dan santai saja saat bertemu teman sekolahnya.


Nana membiarkan saja mungkin saja sifat suaminya mamang seperti itu, hanya dengan orang tertentu saja dia bisa bicara nanyak.


Setelah itu mereka meningalkan supermarket itu siap dari membayar belanjaan mereka,sampai dirumah Mereka langsung mandi dan Syarif ikut membantu kerjaan Istrinya didapur kerena dia juga tahu istrinya juga sangat lelah.


Dengan senang sore ini Dyarif membantu istrinya memasak,kerena dia sudah terbiasa melakukan itu, jadi dia tidak terlalu susah melakuksn itu semua.


"Mas kamu bisa juga masak, aku gak nyangka kamu bisa." kata Nana melihat suaminya itu lagi mengaduk rendang yang diinginkan nya.


Nana juga tidak lupa membuatkan syarif lauk untuk makan malam mereka hari ini, kerena jika ikan suaminya itu rata-rata mau.


Setelah siap dengan masak mereka berdua duduk santai dirungan tv, sambil menunggu waktu maghrib masuk, begitu juga Nana duduk sambil menyadarkan kepalanya dibahu suaminya.


"Apa kamu bahagia menikah denganku Na?" kata Syarif pada Nana, kerena baru ini dia bertanya pada istrinya itu selama mereka menikah.


Nana nenatap bingung melihat suaminya itu, dia tidak menjawab langsung perkataan suaminya itu, kerena Nana tahu suaminya juga tahu jawaban darinya.


Apakah harus aku jawab mas?" kata Nana masih menyadarkan tubuhnya pada suaminya itu.


"Tentu saja, kamu harus menjawab karena aku ingin mendegar apa jawaban kamu." kata Syarif lembut dengan megusap pipi istrinya itu dengan lembut.

__ADS_1


*************


__ADS_2