
Sudah Hampir 15 menit Nana memijat suaminya itu dengan tangan yang sudah tidak kuat lagi,tenaga Nana tidak sekuat seperti tukang pijat.
"Sudah Ya, aku gak kuat lagi, tenagaku tidak bisa dipaksakan lagi mas." kata Nana lemas dan tidak melajutkan lagi.
"Ya sudah sini aku pijat kamu ya." kata Syarif duduk dari tidurnya itu dengan membalik tubuhnya pada Nana yang masih belum bisa dia dekati secepat dia mencitai Istrinya itu.
"Tidak usah mas, aku mau baringan saja di tudur , aku lelah setelah mijit tubuh kamu yang keras itu."kata Nana santai beranjak dari sofa dimana suaminya juga duduk di sana.
Sebelum sempat nana meningalkan tempat itu tangannya di tarik kembali oleh syarif sehinga posisi Nana saat ini di duduk di atas kedua paha Syarif.
Nana sudah mulai terbiasa oleh sikap syarif yang kadang suka memaksa itu, dalam beberapa hari Mereka menikah nana sudah mulai kenal dengan watak suaminya itu, apa kata suaminya itu Nana tidak boleh menolak.
"Mas apa yang kamu lakukan,aku mau baringan." kata Nana masih duduk dipaha Syarif dengan mengalunglan ketua tangannya pada leher Syarif.
"Jangan main pergi saja sayang,kamu harus menuruti apa yang sudah aku bilang barusan, biar aku pijat kamu juga." kata Syarif lagi.
Nana mulai lagi dengan salah tingkah dengan ucapan suaminya itu,kerana dia selama ini tidak pernah disentuh tubuhnya oleh laki-laki, jadi ada sedikit rasa malu juga Nana dengan suaminya itu.
"Mati aku jika mas Syarif mau pinat aku, otomatis dia akan lihat tubuhku lagi, adihhhh abagai mana cara aku nolak ya." pikiran Nana saat ini dalam diamnya.
"Haiii apa kamu pikirkan Sayang?" kata Syarif megerutkan keningnya saat melihat reaksi istrinya itu.
"Mas aku gak jadi deh dipijat, aku mau masak makan siang saja bantu Mama didapur." kata Nana Ingin pergi dari suaminya itu.
"No sayang,, kamu gak boleh pergi begitu saja metela kamu sudah membangukan sasuatu." kata Syarif saat ini, miliknya sudah tudak bisa diam didalam sana,karena Nana tidak diam berada duduk di atasnya saat ini.
"Apanya Mas?" bingung Nana.
"Yang ada di bawah bakong kamu Na, dia sudah tidak sabar, karena kamu selalu bergerak." kata Syarif Syarif sedikit menahan dirinya saat ini.
__ADS_1
Nana mulai memahami kata Suaminya itu, dan ada terasa mengajal dibawah sana, Nana mulai wajahnya memerah saat ini pada suaminya itu, sedikit Pekikan dan kaget Nana Tidak sengaja jatuh dari pankuan suanyan itu kerena Kaget, baru pertama kali merasakan milik Syarif lagi hidup kayak gitu.
"Auwww.....!!! "Pekik Nana sedikit agak kuat, namun cepat Syarif menutip mulut istrinya itu yang lagi terduduk di lantai itu.
"Jangan teriak Na, nantik mama dengar lagi,nantik aku bisa dibilang meniaya istri kata sarif santai pada Nana.
"Kamu juga ngapain pakai main hidup segala itu miliknya, bikin aku kaget saja." Repet Nana pada Syarif.
"Dia hidup kerena kamu Na, jangan salahkan aku juga, ngapain gak bisa duduk tenang di atasnya." kata Syarif tampa salah sedikit saja.
"Kamu yang maksa bokongku yang duduk di atasnya, jangan salahkan aku gitu dong." Ucapa Nana tidak mau kalah.
Persetegangan mulut sepasang suami-istri itu berlanjut Tampa mereka sadari kedua orang tua Syarif sadang guping di pintu kamar sampai kecamatan kecil mendegar perdebatan sepasang suami-istri itu.
Mama Mur dan Pak Wawan juga ketawa kecil saja, kerena lucu mendegar tingkah putra dan menatunya itu, kerena kedua orang tua Syarif juga megerti keadaan mereka berdua, mereka menikah kerena tidak disengaja, jadi mereka berdua memahami sepasang suami-istri itu lagi baradaptasi sebagai suami-istri.
"Sudah pa, kita makan siang saja biarkan saja mereka melajutkan, jangan ganggu mereka." kata Bunda Mur mengajak suaminya meningalkan kamar itu dan berjalan kemeja makan.
"Mas, aku lapar...!! " kata Nana sedikit pelan duduk di sampiang Syarif.
"Lapar, ayok kita makan." ajaka Syarif cepat kerena mereka juga tidak mau diam-diam seprti ini. "Ayok." Ajaka Syarif pada istrinya itu lagi.
"Ammm " Kata Nana mengangguk dan mengikuti suaminya itu dari belakang, kerena keduanya masih merasa cangung kerena kejadian barusan.
Mereka berdua berjalan kemeja makan siang ini hanya saling diam saja, Syarif duduk dengan santai disamping papanya dan Nana duduk di dekat Mama Mur.
Kedua orang tua Syarif hanya diam saja tidak. mempermasalahkan semua itu, mereka megerti saat ini putra dan menatunya itu lagi merasa cangung dan salah tingkah.
"Ayok makan Na,kamu ambilkan itu si nakal itu lauknya, jika tidak dia tidak akan berenti mengaggu kamu." kata Mama Mur keceplosan.
__ADS_1
"Ma, jangan dibahas ya, kita lagi makan." kata Pak Wawan singkat, sehinga satupun dari mereka tidak ada bicara lagi, mereka makan siang dengan diam saja.
Setelah mereka siap makan diang, Syarif duduk didepan teras dan Nana sibuk mencuci piring kotor mereka habis amakan barusan, Mama Mur sibuk mamasukan buah kedalam beberapa kantong,Nana melihat mertuanya itu lagi asik itu dia hanya tersenyim saja.
"Ma, apa ingin Nana bantu?" kata Nana berjalan kearah Mertuanya itu.
"Ehhh Na kamu sudah siap?" kata Mama Mur tidak menjawab kata mendantunya itu malah balik bertanya.
"Sudah ma." singkat Nana.
"Kamu gak usah bantu ini sudah diap, Mama mau suruh Syarif antar buah ini kerumah Pak Rt dan kerumah teman syarif,gak enak kita baru saja kembali dari kebun, antar sedikit buah ini ke tetangga." jelas Mama Mur pada Nana.
Nana hanya tersenyim saja mendegar kata Mertuanya itu dengan Santai, kerena Mama Mur benar-benar orang baik. mereka berdua keluar keteras saat ini Syarif dan Papanya lagi duduk santai diptera rumah itu.
"Syah kamu antar buah ini ketempat Pak Rt sana dan kerumah Sari juga sekalian,selagi dia masih ada di rumah, bilang Mama yang kasih untuk dia." kata Mama Mur.
"Ok..!! " kata Syarif tidak masala.
Syarif beranjak dari tempat duduknya itu, dia dian sebebatar dan kembali memutar dirinya mengarah pada Nana.
"Apa kamu mau ikut dengan Ku Na, kita jalan siang yok, dari suntuk dirumah kita jalan keujung desa ada sungai besar disana." kata Syarif megajak istrinya itu.
"Tidak usah Syah, ini masih panas." larang Mama Mur. "jika kalian mau pergi nantik sore saja pas pabasnya sudah reda." kata Mama Mur kembali.
"Sekarang pergilah kamu antar itu sendiri saja,jangan membawa menatuku siang gini." kata Pak Wawan.
"Kalian ini terlalu memanjakan dia." kesal Syarif pergi meningalkan ketiga orang itu.
Nana hanya tersenyum manis saja saat melihat wajah kesal suaminya itu,kadang Nana suka mekihat Syarif kesal padanya.
__ADS_1
*************