
Satu jam berlalu mereka berdua masih berada didalam rumah yang baru siap itu, Nana masih duduk manis di kursi meja makan yang baru saja dibelinya tadi.
Nana sedikit penasaran tentang suaminya itu bisa memiliki uang sebanyak itu, kerena rumah yang baru dibeli tidaklah murah tentu saja harga rumahnya bernilai pantastis.
Syarif memperhatikan istrinya saat ini sedikit melamun, ada yang dipikirkan oleh Nana.
"Hai, apa yang sedang kamu pikirkan? sapa Syarif saat istrinya itu sedang memikirkan sesuatu hal yang dia tidak tahu.
"Mas, mengagetkan saja." kata Nana sedikit kaget ulah suaminya itu.
"Siapa suruh melamun siang bolong kayak gini Na, entar kesambet baru rasa, apa lagi ini rumah baru, banyak setanya!! " bisik suaminya itu sangat dekat di telingahnya.
"Mas....!! Jangan becanda kamu." kata Nana sedikit merinding mendengar kata suaminya barusan.
"Apa yang lagi kamu pikirkan sih Na?" Tanya Syarif kembali pada istrinya itu.
"Tidak ada Mas, aku hanya memikirkan dari mana kamu mendapat uang sebanyak itu, sehingga kamu bisa beli rumah semewah ini??" Tanya Nana menatap suaminya itu yang tidak dapat diartikan.
Syarif menarik nafasnya dan membuang dengan pelan, dia tidak meyangkah istrinya akhirnya bertanya juga tentang kata yang baru diucapkan istrinya barusan.
Syarif kembali mendekatkan duduk disamping Nana yang lagi bingung melihatnya, Nana memperhatikan wajah dokter tampan itu sedikit tersenyum padanya.
Sebelum menjawab ucapan istrinya dia megang kedua tangan istri itu, sambil mengusap telapak tangan itu dan menciumnya.
"Aku tidak akan pernah kasih kamu nafkah dan tempat tinggal dengan cara tidak halal sayang, semua ini aku dapat dari hasil keringat aku, dari hasil pekerjaanku,aku tidak akan memberimu makan dengan duit tidak halal, aku masih tahu itu Na, jadi saat ini jangan pernah kamu akan berpikir macam-macam dengan adanya rumah ini, berpikirlah kerah yang baik,aku bekerja keras selama ini, sebelum kita bertemu dan menikah aku sudah menabung duit ini dari hasil proyek ku yang dibali sudah siap, jadi kamu jangan ragu padaku." kata Syarif lembut bicara pada istrinya saat ini.
"Maafkan aku mas, bukan bermaksud aku membat kamu tersinggung dengan ucapanku, aku hanya ingin tahu, selama ini aku tidak banyak tahu tentang pekerjaan kamu, aku hanya tahu kamu seorang dokter bedah saja." kata Nana sedikit rasa bersalah pada Syarif.
"Sekarang kamu jangan berpikir yang bukan-bukan lagi, aku mengasih kamu makan dengan uang halal bukan nyuri sayang." kata Syarif megusap pipi istrinya itu dengan lembut.
"Iya, aku tidak akan bertanya lagi, aku akan percaya pada kamu, Terimakasih mas, kamu sudah mengasih ini semua dengan jeri paya kamu, aku mintak maaf membuat kamu tersinggung dengan ucapanku." kata Nana menundukkan kepalanya didepan suaminya itu, kerena merasa bersalah.
"Angkat kepalanya, jangan seperti ini jika dihadapan ku." kata Syarif sedikit tegas pada istrinya itu.
"Iss kamu ini mas, selalu tegas kayak ini padaku." sungguh Nana pada suaminya itu kerena Nana selalu mendengar suaminya itu selalu berkata begitu padanya.
__ADS_1
"Makanya tatap orang jika bicara dengan lawan bicara kamu, buka menundukkan kepala saja." kata Syarif singkat dan santai saja melihat istrinya itu sudah merugut kerena perkataan agak tegas itu.
Syarif hanya diam saja melihat istrinya diam kerena Syarif juga tidak mau setiap dia bicara Nana selalu tidak mau bicara dengan menatap padanya.
Akhirnya Syarif mengalah juga kerena istrinya sudah merajuk ulah ucapannya barusan,Syarif mengakat tubuh kecil itu keatas meja makan itu, dia mendudukan Nana dimeja makan itu, betapa kagetnya Nana saat suaminya dengan tingkah gilanya itu.
Syarif langsung membukam bibir yang yang terlihat memanjang itu, Syarif tidak bisa melihat tingkah istrinya itu yang selalu membuatnya ingin ketawa tapi dia tidak mau melihatkan itu,Syarif sangat gemas melihat Nana sedang bertingkah seperti ini.
Lama dia menikmati bibir istrinya itu,Syarif selalu suka bermain dibibir manis istrinya itu,Nana juga menikmati ciuman suaminya itu dengan merangkul tangannya ke leher Syarif.
Tidak lama ciuman mereka disudahi oleh Syarif kerena dia tahu istrinya itu merasak sesak.
"Jangan merugut seperti ini lagi aku gak bisa lihat kamu seperti ini, selalu tersenyumlah Sayang saat kamu berada bersamaku, kerena aku tidak suka." kata Syarif bicara biar istrinya itu tahu dia sangat menyayanginya.
"Siapa yang menurut Mas, perasaan kamu kali." selah Nana santai.
"Kamu sudah pandai meyelah kataku ya." senyuman Syarif melihat istrinya itu tampak lucu dengan mungkah yang memerah itu.
"Sekarang kita pulang, ini sudah sangat sore."Ajak Syarif pada Nana yang masih duduk diatas meja itu.
"Ok.
Syarif tidak banyak bicara dia langsung mendedong istrinya itu keluar dari dalam rumahnya, sampai dipintu Syarif menurunkan istrinya itu untuk menutup pintu.
"Kamu berdiri sebentar disini nyoya dokter tampan." canda Syarif pada istrinya itu.
"Kamu ini ada saja Mas." senyum Nana pada Suaminya itu bertingkah lucu padanya.
Syarif mencuci kembali rumah itu kerena sudah siap dengan semuanya, tingal mereka tempati saja rumah itu.
"Ayok kita pulang keapertemen. "kata Syarif merangkul istrinya itu untuk ke mobilnya, mereka akhirnya kembali kepertemen Syarif kembali.
Dalam perjalanan mereka berdua tidak banyak berbicara, tapi Nana baru ingat hari ini ibunya meyuruh dia untuk datang kerumah orang tuanya itu.
"Mas, aku baru ingat, semalam ibuk suruh aku untuk datang kerumah,kita kesana saja sebentar ya Mas." kata Nana mengajak suaminya itu untuk berkunjung kerumah orang tuanya itu, kerena sudah satu minggu dia tidak datang kerumah orang tuanya kerena Syarif selalu sibuk belakangan ini.
__ADS_1
"Baiklah, tidak masalah karena kita sudah satu minggu ini tidak kesana, kita mampir dilu ditoko kue, kita beli buah tangan dulu untuk mereka." kata Syarif santai dengan melanjutkan mobilnya di jalan sedikit tidak banyak kendaraan itu.
Syarif berenti di sebuah toko kue yang mengarah ke jalan rumah mertuanya itu, mereka berdua turun untuk mencari makanan yang akan dibawa untuk orang tua istrinya itu, dengan santai Syarif berjalan dibelakang Nana sambil memperhatikan bermacam kue di ada di rak kue.
"Sayang kayak ini enak deh, ambil ini saja untuk kita bawak untuk ibuk dan ayah, kerena ini enak." kata Syarif memintak karyawan untuk mebukus kue itu.
Nana juga setuju saja dengan pilihan suaminya itu,Nana juga mengambil juga kue yang di sukai oleh suaminya itu untuk mereka makan pas dirumah orang tuanya itu.
Saat bersamaan mereka ingin membayar belajaan mereka dikasir Nana menabrak seseorang yang tidak dikenalnya, Nana hampir saja jatuh kerena kakinya sedikit tersandung oleh kaki meja yang dekat dengannya, tubuhnya sedikit oleng dan tidak sengaja megenai seorang gadis.
"Auwww ."pekik Nana hampir jatuh itu.
"Sayang..!! Syarif dengan singap menangkap tumbuh istrinya itu. " Kamu jika jalan itu ligat-lihat, lihat ampir saja kamu jatuh." kata Syarif membantu istrinya itu meluruskan diri yang ada di dekapannya.
"Maafkan aku mas aku tidak sengaja meyandung kaki meja itu." kata Nana pada Syarif.
"Sudah, tidak apa." kata Syarif tidak memperpanjang masalah itu.
Nana baru sadar dia juga saat dia ingin jatuh dia tidak sengaja mengenai orang lain,Nana baru melihat orang sedang melihat mereka berdua.
"Maafkan saya mbak, saya tidak sengaja." kata Nana pada wanita yang ada dihadapanya itu,tapi Nana pernah bertemu dengan gadis itu dia tidak ingat.
"Syah.." sapa Sari pada Syarif baru saja melihat kearahnya.
"Kamu sari." kata Syarif sedikit kaget melihat sari saat ini. "Maafkan istrinya aku sudah megenai kamu." kata Syarif tidak terlalu suka dengan sari.
"Tidak apa Syah." kata Sari santai tapi hatinya sudah sangat panas melihat kemesraan sepasang suami-istri itu.
Syarif hanya santai saja membawa belanjaannya kearah kasir untuk dibayar, dia tidak memperdulikan Sari lagi,Syarif dengan santai pergi dari toko kue itu berjalan merangkul pinggang istrinya didepan Sari, agar Sari tahu diri bahwa di sudah menikah, agar dia tidak berharap banyak padanya.
Sampai didalam mobil Syarif tidak banyak bicara dia hanya diam saja dan sifat dinginnya kembali dilihatkan pada istrinya yang kebingungan melihatnya.
"Kenapa lagi dia itu?? Tanya Nana dalam hati dan rasa pemasarannya melihat tingkah suaminya itu berubah.
***********
__ADS_1