
Sudah satu hari Syarif berada didaerah sumatra untuk melihat proyek yang akan dikerjakan untuk pembangunan rumah sakit, siang ini Syarif baru saja sampai di lokasi tempat pembangunan rumah sakit milik Sahabatnya itu.
Syarif sedikit tidak pokus kerena masih saja ingat istrinya yang ditinggalkan dari kemarin siang, sampai sekarang dia belum menghubunginya.
"Bagai mana keadaan kamu sekarang Na,apa tangan kamu saat ini sudah Tidak sakit lagi, maaf jika aku tidak bisa menemani kamu." Kata Syarif dengan sedikit sesal tidak bisa merawat dan bersama istrinya saat dia membutuhkannya.
Syarif duduk di bangku tempat istirahat siang Bagi pekerja, dia mulai megotak atik ponselnya mencari nama orang kepercayaan dirumah sakit milik Gio yang di ambil ahli dirinya. kerena Gio sudah meyerakan semua untuk kemajuan rumah sakit milinya itu pada Syarif sebab Gio tidak bisa menghedel rumah sakit miliknya itu .
Saat Dokter Ridwan melihat ponsel ada pagilan dari atasan tempat dia bekerja.
"Ada apa dokter kamu menghubungiku?"Tanya dokter Ridwan tahu pasti Syarif akan menanyakan istrinya.
"Apa kamu sudah melihat istri saya pagi ini dokter,bagai mana dengan keadaanya saat ini? apa tangannya sudah tidak apa-apa dokter?" kata Syarif tidak berenti bertanya pada dokter Ridwan.
"Jika bertanya itu Satu-satu dokter Syarif, bagai mana saya akan menjawab pertanyaan Anda itu." kata Ridwan juga sedikit kesal pada dokter dan atasanya.
"Kamu jawab saja dengan baik dokter Ridwan jika kamu masih ingin bekerja bersamaku." kata Syarif dengan santai tapi penuh dengan ancaman.
"Anda jika bicara selalu mengacamku, sehinga saya tidak bisa bicara lagi.Keadaan istrinya dokter sudah tidak apa-apa lagi dia sudah bisa mengerakan tanganya tidak merasa sakit lagi, dan kaki yang lecet sudah mulai lukanya mengering, jadi tidak terlalu menyulitkan dia." Jawab dokter Ridwan santai dan jelas pada Syarif.
"Baiklah dokter Ridwan, terimakasih banyak atas bantuan kamu sudah mau datang ketempat mertuaku untuk hari ini, jika begitu aku tutup dulu." kata Syarif ingin menutup panggilannya sebelum dia mematikan namun dokter Ridwan malah memanggilnya lagi.
"Tunggu dulu dokter Syarif, aku belum siap bicara Anda main matikan saja." kesalnya pada Syarif.
__ADS_1
"Ada apa lagi? ayok cepat katakan!! "
"Bagai mana besok kita akan berangkat kebali, jika anda masih disana?" kata Ridwan mengingatkan atasanya itu kerena mereka berdua harus kebali hari esok kerena besok adalah hari pembukaan rumah sakit dibali.
"Kamu berangkat sendiri saja, aku akan langsung berangkat dari sini, tidak usah menunggu ku, kita bisa bertemu di bali saja." ungkap Syarif santai dan menutup pangilanaya itu.
Saat ini Ridwan yang megerutu sendiri dirumah sakit ulah sikap Syarif padanya barusan.
"Dasar kamu dokter, jika tidak atasan ku kamu sudah saya tonjok hari ini juga, sunguh bikin aku kesal saja." Gerutuk dokter Ridwan saat ini.
Lain dirumah orang tua Nana saat ini, gadis yang cantik lagi duduk bersama kedua orang tuanya di depan TV siang ini setelah Ayah Nana baru saja siap makan siang kerena baru kembali dari tempat kerja sebagai kuli bangunan tidak jauh dari rumah mereka.
"Pak Jika tidak sanggup lagi kerja bapak tidak usah kerja, ibu masih bisa cari uang dengan jualan diwarung, bapak bisa bantu ibuk saja diwarung." kata Ibunya Nana pada Ayahnya kerena saat ini ibunya Nana juga jualan sarapan pagi didepan rumahnya.
"Maafkan Nana ya Yah tidak bisa bantu Kalian saat ini, kerena Nana tidak. bisa masuk kerja mungkin gaji Nana juga tidak banyak bulan ini." kata Nana sedikit sedih saat mendegar Ayah dan ibuknya berbicara begitu padanya.
"Kamu Jagan sedih nak, Ayah sangat berterimakasih pada kamu, sudah mau menikah sama Nak Syarif sehinga dia bisa membayarkan hutang kita pada lentenir itu, kamu juga bisa terbebas dari tua bangka itu." kata Ayahnya tidak mau membuat putrinya itu terbeban lagi kerena masalah kekuaganya.
"Aku iklas yah menjalankan pernikah ini dengan Mas Syarif, dan juga Mas Syarif sudah menerima Nana dan pernikahan kami ini, kami akan memulai dari awal." Kata Nana sedikit ada rasa bahagia bisa menikah dengan suaminya yang baik seprti Syarif.
"Semoga saja pernikahan kamu dengan Nak Syarif tidak ada halangan kamu bisa bahagia bersama dia." kata Ibuknya.
"Nana juga berharap besar padanya buk, apa yang ibu bilang itu semuanya bisa terjadi kerena Nana juga sudah mulai nyaman bersama Mas Syarif." Jujur Nana pada kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Ibu dan Ayah ingin lihat kamu bahagia Nak, kerena Nak Syarif itu pemuda yang baik untuk kamu." senyum kedua orang tuanya pada Nana hari terlihat senang setelah apa yang baru di segar dari putrinya langsung.
Nana juga berharap semoga perasaannya saat ini bisa terbalas oleh suaminya, kerena dia sudah mulai suka pada Syarif.
Nana tidak dapat meyimpan rasa suka pada Syarif yang baru saja menikahinya beberapa hari, namun seorang Syarif sudah bisa masuk kedalam hatinya.
Rasa cinta dan sayang pada pria tampan itu dalam beberapa hari ini sudah bisah membuatnya nyaman, apa lagi saat ini Syarif pergi untuk beberapa hari merasa ada sutu yang hilang pada dirinya saat ini.
Selama Syarif didekatnya, selalu ada rasa perhatian suaminya itu, terkadang selalu membuat jantungnya s berdetak kencang jika suaminya selalu bersama.
Tapi dalam dua hari ini Syarif jauh darinya, membuatnya merasa sepi tidak ada canda dan gurauan dari seorang Syarif yang kadang usil dan bersikap acuh padanya, itu yang membuat Nana meresa kehilangan saat ini tampa ada suamianya itu.
Lain saat ini juga dengan Syarif yang berada diluar kota, dia baru saja sampai di penginapannya, Syarif sedikit lelah kerena sudah seharian ditempat proyek yang baru jalan itu.
Dengan rasa lelah saat ini Syarif membaringkan tubuhnya diatas tempat yang selalu membuat orang nyaman jika berada di atas tempat empuk itu.
Hari bayangan istrinya selalu menganggu pikiranya baru dua hari ini dia meninggal Nana dijakarta bersama orang tuanya tapi hati tetap merasa tidak tenang.
"Kenapa dengan diriku saat ini aku jauh darinya,aku selalu merindukan dia."kata Syarif bicara sendiri sambil memikirkan istrinya.
"Aku sudah sangat merindukan kamu Na, mungkin aku sudah mencintai kamu, sehinga membuat aku seprti ini?" tanya hati Syarif sendiri pada dirinya.
Syarif hanya tersenyum saat ini setelah apa yang baru dipikirkan saat ini tentang diri istrinya yang baru dua hari ditingal.
__ADS_1
***********