CINTA UNTUK DOKTER TAMPAN

CINTA UNTUK DOKTER TAMPAN
Berdebat di pagi hari


__ADS_3

Setelah kembali Syarif dan Nana dari rumah Gio, namun Nana masih saja merasakan sakit di perutnya saat ini.


Syarif melihat Nana masih meringis menahan sakit akhirnya dia menampilkan obat untuk mengurangi rasa sakit pada perut istrinya itu.


"Kamu minumlah obat ini,obat ini bisa meredakan rasa sakit di perutmu Na." kata Syarif memberikan obat dan segelas air putih pada istrinya itu yang terbaring ditempat tidur saat ini.


Nana sangat susah saat ini duduk kerena manahan sakit di perutnya, akhir Syarif membantu istrinya itu untuk duduk agar meminum obatnya.


"Ini minumlah, abis ini kamu istirahat." kata Syarif sagat perhatian pada istrinya itu.


Setelah siap mengasih obat pada istrinya itu Syarif menuju kamar ganti, kerena Syarif masih memakai kemeja yang dipakainya tadi saat ke rumah Gio.


Setelah siap mengati pakaiannya Syarif ikut membaringkan tubuhnya dekat istrinya itu yang sudah tertidur.


Syarif memeluk Nana yang sudah menjadi kebiasaannya sejenak menikah dengan Nana, tidak menunggu lama Syarif juga ikut tertidur dengan memeluk istrinya itu dengan nyaman dipelukannya.


Paginya Nana terbangun lebih dulu dari Syarif saat ini mendengar mendegar Azan shubuh di mesjid.


Nana melihat Suaminya itu masih tidur nyaman dengan memeluk dirinya saat ini, Nana sedikit megudap Wajah Syarif dengan lembutt, sada rasa lain saat ini tersirat dihatinya, rasa nyaman melihat Syarif disamping ini yang memeluknya.


"Semoga kamu jadi pilihanku pertama dan terakhir Mas." ucap Nana dalam hatinya sambil sedikit tersenyum melihat wajah tampan itu.


"Apa kamu sudah puas memandang wajah tampan suami kamu ini?" tanya Syarif terganggu kerena Nana megelus pipinya saat ini.


"Kamu sudah bangun Mas?, kaget Nana dan salah tingkah kerena ketahuan oleh suaminya itu lagi memperhatikan dirinya.


"Tapi aku suka dengan cara kamu memperlakukan aku suka dalam diam!!" canda Syarif pada istrinya itu yang sudah salah tingkah.


Nana sangat malu sudah ketahuan sedang memperhatikan suaminya itu, Nana sudah merasakan suka pada Syarif, walau baru menikah.


Mereka berdua saat ini masih sama meyemuyikan perasaan keduanya,Syarif juga seperti itu kerena menaruh perasaan suka pada gadis yang masih diperlukannya itu.


" Apaan kamu Mas, pagi sudah mengangguku, ayok bangun sana sholat, entar waktu shubuh keburuh habis. " ingat Nana pada suaminaya itu.

__ADS_1


" ehhh apa perutnya kamu masih sakit?" kata Syarif baru saja ingat.


"Sudah engak Mas, Terima kasih atas obat yang kamu berikan pada ku semalam dokter tampan." canda Nana dengan senyuman yang terkembang di bibinya.


Syarif hanya terseyum saja pada istrinya itu dia tidak menjawab apa kata istrinya itu, sunggu imut istrinya pagi ini .


"Sudah jangan lihat aku saja Mas, entar kamu bisa jatuh cinta sama aku. " kata Nana entah punya keberanian dari mana dia bisa bicara begitu pada suaminya itu.


Sekali lagi Syarif mendegar Nana berani bicara yang lebih padanya dari sebelumya, Syarif hanya diam melihat istrinya itu sambil tersenyum saja.


"Baiklah, aku akan pergi sholat dulu, kamu apa mau tidur lagi?" tanya Syarif pada Nana yang masih berbaring disamping Suaminya itu.


"Tidak Mas, bentar lagi aku bangun, kerena akan bikin sarapan buat kamu Akan berangkat kerja." kata Nana lembuat.


"Jika begitu mari kita bangun, aku akan mandi dan akan kemasjid kata Syarif turun dari tempat tidur itu langsung kekamar mandi untuk mebersiakann tubuhnya.


Setelah itu dia pergi kemesjid yang tidak jauh dari apartemen dia.


Begitu juga dengan Nana juga ikut bangun saat suaminya sudah pergi, dia juga membersihkan dirinya setelah itu dia langsung kedapur untuk memasak serapan pagi untuk suami dan dirinya.


Tidak lama Syarif dudah sampai di apartemennya kembali dia masuk ruanga masak itu sudah ada hidangan dan segelas kopi yang baru saja dibikin oleh istrinya itu.


Syarif tidak melihat istrinya itu berada di sekitar dapur, membuat Syarif sedikit megerutkan keningnya sambil berpikir, kemana istrinya saat ini.


"Ke nama dia? apa dia dikamar ?" kata Syarif mencari istrinya itu kekamar tapi tidak melihat batang hidung gadis kecil itu.


Syarif menganti pakaiannya terlebih dahulu baru setelah itu dia berjalan keluar lagi dari kamarnya untuk mencari keberadaan istrinya.


Sudah lama Syarif melihat sekeling ruangan yang ada di apartemen itu, tapi tidak melihat istrinya.


"Kemana dia?" kata Syarif sedikit kawatir, " kemana dia pagi-pagi kayak gini, pergi juga tidak memberi tahu aku. " heran Syarif.


Tidak lama Nana baru menogol dari samping pintu yang keluar balkon apartemennya itu, Syarif hanya menghela Nafas saja kerena melihat istrinya itu.

__ADS_1


"Kamu ngapain disana Na?" kata Syarif agak kawatir sedikit pada istrinya itu.


"Aku baru saja siap nyuci pakaian Mas,jadi aku baru jemur nya disamping." jelas Nana lembut pada Suaminya itu.


"Jika kamu masih sakit tidak usah megerjakan kerjaan rumah seperti ini, nantik sudah ada orang yang datang untuk membersikan seluruh ruangan ini Na. "kata Syarif perhatian pada Nana.


"Tidak apa Mas, sambil olah raga pagi kok." kata Nana santai.


"Mulai besok kamu tidak boleh megerjakan apapun, hanya masak saja kamu aku perbolehkan, kerena aku suka kamu yang masak buat aku." kata Syarif dengan lantang melarang istrinya itu megerjakan pekerjaan rumah selain masak.


"Lohhh kok gitu sih Mas, aku masih sangup megerjakan itu semua, kenapa harus nyewa orang untuk membersihkan apartemen yang tidak terlalu besar ini Mas." protes Nana pada suaminya saat ini yang masih duduk di meja makan tampa menyentuh sarapan yang dimasak istrinya.


Syarif sedikit tidak mau Nana terlalu lelah dan direpotkan dengan kerjaan rumah, dia juga harus bekerja, jadi itu alasan Syarif untuk melarang Nana tidak melakukan bayak kerjaan di apartemennya itu.


"Sudah jangan lihat aku terus makan itu masih gorengnya." kata Nana mengabilkan nasih goreng itu kedalam piring suaminya itu dan menarok telur dadar kedalam piring itu. "Makanlah Mas,jangan selalu marah terus nanti tambah tua lo kamu Mas." ejek Istrinya itu.


Kerena ejekan istrinya itu Syarif membulatkan matanya kerena bari ini Nana berani seprti ini berkata padanya.


"Kamu sudah berani padaku Na!! apa kamu tidak takut lagi dan malu lagi padaku?" tanya Syarif.


"Jadi maunya apa dong Mas, aku begini salah, kamu yang bilang padaku jika aku harus membiasakan diriku pada kamu agar aku tidak malu padamu." protes Nana pada suaminya itu.


"Baiklah jika begitu, mari kita sarapan dulu, perutku sudah sangat lapar Na, jika kamu terus mengoceh tidak jelas itu." santai Syarif pada istrinya itu.


"Issss kamu ini bikin akau kesal pagi-pagi Mas." kata Nana aneh melihat tingkah suaminya itu, kadang lembut, kadang santai saja dan juga cuet dingin seprti es.


"Makanlah jangan bicara lagi." kata Syarif pada Nana yang bingung melihatnya saat ini.


Nana tidak banyak bicara lagi dia mulai meyendok nasih goreng itu ke mulutnya dengan santai dan hanya diam saja sampai mereka siap dengan sarapan pagi kereka.


Setelah itu Syarif bersiap untuk kerumah sakit dia masuk kedalam kamar untuk menanti pakaian, Syarif melihat sudah ada pakaian yang sudah disiapkan oleh Nana.


"Rupanya saat ini kamu sudah mulai menjadi istri yang baik Na, aku suka.!! " senyuman Syarif terkembang dibibirnya saat ini kerena ada sedikit perhatian istrinya itu untuknya.

__ADS_1


**********


__ADS_2