
Setelah siap dengan itu semua Syarif kembali mengantar Nana pulang, kerena siang dia juga akan kembali kerumah sakit untuk jadwal operasi pasiennya.
Syarif tidak hentinya tersenyum senang saat ini melihat pada istrinya, kerena dia benar-benar bahagia kerena adanya cabang bayi itu saat ini di rahim istrinya.
Nana juga sangat bahagia apa yang diinginkan suaminya selama ini lagi tumbuh dan berkembang di rahimnya.
Setelah sampai dirumah Syarif langsung menghubungi keluarganya bahwa istrinya saat ini tengah hamil, Syarif tidak mau meyemuyikan kabar bahagia itu dari kedua orang tuanya, kerena Mama dan papa Syarif juga mengiginkan cucu dari mereka berdua begitu juga dengan kedua mertuanya.
Rasa yang tidak bisa Syarif ungkapkan saat ini, diri nya betul-betul bahagia.
"Sayang, terimakasih kamu sudah memberi aku harta yang tidak ternilai hari ini." kata Syarif memeluk istrinya saat ini mereka baru saja sampi dikamarnya.
"Apa kamu senang mas, aku tengah hamil anakmu sekarang?" kata Nana menatap suaminya itu dengan senyuman yang bisa Nana lihatkan padanya Syarif.
"Aku sungguh bahagia hari ini Na,aku semakin mencintai kamu." kata Syarif ingin kembali mencium bibir ranum istrinya itu.
" Jangan coba-coba mencium bibirku Mas." halang Nana pada mulut suaminya itu dengan jemarinya yang menutup mulut Syarif dengan cepat." Aku gak bisa mas, kamu mencium ku..!! " kata Nana berlari kembali kekamar mandi.
Syarif yang melihat istrinya berlari dan muntah jadi tidak tega." Sepertinya aku harus mengalah demi kamu Nak." Kata Syarif dengan lesu dan harus sabar kerena istrinya benar-benar tidak bisa diciumnya.
"Wuek..wuek..!! " Nana muntah dengan susah dikamar mandi membuat dirinya lemas kembali.
"Sayang maafkan aku, membuat kamu seperti ini." kata Syarif tidak tengah melihat istrinya selalu muntah jika dia ingin menciumnya.
"Bantu aku Mas, aku meresa lemas." kata Nana sedikit lemas dirinya mendekat pada suaminya itu dan Syarif juga mengakat tubuh kecil istrinya itu ketempat tidur.
"Kamu istirahatlah aku akan ambilkan makan untuk kamu." kata Syarif ingin beranjak ingin keluar dari kamarnya itu.
"Mas,,aku tidak mengiginkan apapun aku ingin tidur dan mencium ketek kamu sebentar saja." Regek Nana pada Syarif.
"Yang benar saja sayang, masak ingin menciun ketekku, apa gak salah keinginan bayiku??" kata Syarif super sabar saat ini melihat tingkah istrinya.
__ADS_1
Akhirnya Syarif mengikuti apa yang dimintak istrinya itu, dia berbaring di samping Nana yang lagi enak tidur sambil memeluknya dan mencium keteknya.
Syarif memperhatikan istrinya itu nyaman berada seperti itu di keteknya. "Kamu mencium ketekku tidak apa-apa Na, tapi aku ingin mencium kamu saja kamu sudah muntah." kata Syarif bicara sendiri saat melihat istrinya yang sudah tertidur itu.
Dengan lembut Syarif menaruh kepala istrinya itu pada bantal dan dirinya beransut turun dari tempat tidur itu dengan pelan, agar tidak membuat istrinya itu bangun.
Starif turun ke lantai bawah dengan penapilanya sudah rapi lagi, dia menemukan Asisten rumah tangganya itu, bik Num lagi asik melap meja makan, dikagetkan oleh Syarif.
"Ayokkk, lagi ngapa..!!! " kata Syarif mengagetkan bik Num yang asik bekerja itu.
"Aduhhh setannn..! " kata bik Num agak latah itu. "Aduh aden mau bikin bibik jantungan saja." kata bik Num pada Majikannya itu.
"Bik aku titip Nana ya, dia lagi tidur, kerena dia masih lemas abis muntah, aku mau berangkat kerja siang ini aku ada operasi jadi aku gak bisa meningalkan kerjaanku." kata Syarif.
"Non Nana Muntah lagi, apa Non...??? belum samapai bik Num menjawab kata Majikan itu Syarif sudah menyahuti perkataan bik Num kembali.
"Bibik akan punya cucu. " Singkat Syarif bicara pada bik Num.
"Bibik gak mau bilang sama aku, dilarang oleh nya bukan??" kata Syarif tersenyum pada pembantu rumah tangganya itu.
"Maafkan den, Non Nana yang memintak bibik begitu, jangan Marah ya den." kata Bik Num merasa salah.
"Sudah Bik Jangan takut, aku akan menambah gaji bik Num bulan ini kerena sudah menjaga istriku dengan baik." kata Syarif masih suasana hati lagi senang.
"Benaran Itu Den, terimakasih ya den." kata Bik Num senang.
"Sudah aku pergi dulu bik, nanti Nana bangun bilang aku sudah berangkat, dan tolong bibik siapkan makan siang untuk nya ." kata Syarif sebelum pergi.
Syarif meningalkan rumahnya untuk kerumah sakit kembali hari ini, setelah seharian Syarif bergelut dengan pekerjaanya itu,Syarif baru saja keluar dari ruangan operasi dan berjalan ingin kerunganya untuk beristirahat.
Pas belum samapai diruangannya dokter Ridwan baru saja keluar dari life ingin keruangan atasannya itu.
__ADS_1
"Ahhh dokter kamu sudah siap dengan operasi hari ini?" kata Ridwan pada Syarif.
"Sudah baru saja." santai Syarif berjalan kembali ingin keruangannya.
Ridwan juga mengikuti atasanya itu kedalam ruanganya, sampai didalam Ridwan memberikan amplop pada Syarif.
"Lihatlah ini Dok, aku sudah menemukan apa yang dokter inginkan." kata Ridwan santai duduk di hadapan Syarif.
"Baguslah kamu lebih cepat dari apa yang aku banyangkan." kata Syarif selalu ketus pada asistennya itu.
"Anda jangan selalu menilaiku dengan pikiran rendah yang ada dibenak dokter, aku masih mampuh bekerja dengan cepat." balas Ridwa tidak mau kalah dengan atasnya itu, mereka selalu seperti itu pas lagi santai ingin selalu berdebat terus.
Syarif melihat poto asli itu bukan dia yang bersama Sari tapi orang lain yang bersama gadis itu,Syarif tersenyum sinis melihat poto itu.
"Aku memintak kamu untuk mengirim orang untuk mengawasi perempuan ini, aku tidak mau dia berbuat lebih dari ini pada istriku,saat ini istriku lagi hamil jangan sampai dia melakukan yang bisa berbuat membahayakan istriku dan bayi yang sedang berkembang di rahim istriku." kata Dokter Syarif pada Orang kepercayaannya itu.
"Baiklah aku akan secepatnya menyuruh orang untuk mengawasi wanita ini." kata Dokter Ridwan dengan gaya santainya itu.
"Bulan ini aku akan menambah gaji kamu lebih dari biasanya, kerena kamu sudah bekerja dengan baik."kata Syarif tersenyum pada dokter Ridwan.
"Itu harus dokter, jika tidak mana bisa aku mengerjakan ini." candanya pada Atasnya itu.
"Kamu boleh keluar sekarang, aku ingin pulang,dan jangan lupa kamu kirim laporan dari rumah sakit diluar kota, dan bagai mana dengan proyek kita yang ada di Kalimantan??" kata Syarif.
"Kancar, tidak ada halangan sampai saat ini." kata dokter Ridwan santai.
"Kamu boleh pergi." kata Syarif juga ingin pulang.
Mereka berdua Sama-sama keluar dari ruangan Syarif dan berpisah di life, Syarif langsung turun kebawah untuk pulang sedangakan dokter Ridwan kembali dengan tungasnya.
***********
__ADS_1