
Lama mereka melakukan chat di tengah malam saat itu Syarif juga belum kembali juga, mebuat Nana bingung, jika ingin tidur matanya sudah tidak mengantuk lagi, setelah perbincangannya dengan para sahabat barusan.
Nana merasa lapar akhirnya dia mencari makanan kedapur,Nana membukakan lemari penyimpanan makanan kering dan cemilan.
Didalam lemari itu tidak ada lagi stok cemilan yang tersedia untuk dimakan Nana malam ini, hanya indomi saja yang tingal di lemari.
"Iss gak ada yang dimakan lagi, jika makan nasih lagi aku sudah gak mau makannya, apa aku masak mi saja, perutku merasa lapar,dan kamu lapar ya Nak?" tanya Nana pada bayi dengan sedikit mengusap perutnya sudah besar itu.
"Baiklah kita masak Mi gorengan saja, pakek telur, biar enak kita tidur nantik, Mama Akan masak mi saja malam ini ya, besok kita belanja dulu." Nana bicara sendiri.
Akhirnya Nana memasak mi goreng yang ada dilemari dengan dua telur ceplok, Nana kemasak dengan santai, saat Nana asik memasak ditengah malam yang sudah hampir jam 12 malam.
Syarif barus saja kembali, melihat lampu di ruang makan itu masih menyalah, dia juga penasaran "Apa yang sedang dilakukan oleh bibik Num ditengah malam saat ini?" tanda tanya olehnya saat ini Syarif berpikir begitu.
Syarif berjalan kearah ruangan itu, sampai disana dia melihat istri baru saja siap dengan satu piring Mi goreng dimeja makan yang sudah siap disantap Nana.
Syarif hanya menhela nafas melihat tingkah istrinya itu, selalu ingin makan dimalam hari, pokoknya ada saja cemilan yang bisa dia makan.
Saat Nana ingin menyedok mi ke mulut, Syarif berbicara sehingga membuat istri nya kaget.
"Apa tidak ada cemilan lain lagi yang ingin kamu makan Sayang?" kata Syarif juga duduk disamping istri itu.
"Mas kamu sudah kembali?" kata Nana tidak menjawabnya kata Suaminya itu mala sebaliknya.
"Jawab dulu pertanyaan ku sayang?" kata Syarif lembut.
"Aku lapar mas, cemilan yang dilemari sudah pada habis mungkin bik Num lupa gak ingat bilang padaku." kata Nana santai.
"Mas mau makan?" kata Nana menatap suaminya itu.
__ADS_1
"Tentu saja iya sayang, aku belum sempat makan malam, kerena banyak kerjaan bertumpuk hari ini, jam operasi ku juga padat hari ini, jadi utuk prisa laporan dari rumah sakit cabang gak sempat." jelas Syarif pada istri nya.
Nana yang mendengar kata suaminya barusan dia langsung berdiri dan meyipkan cepat makanan untuk suamianya itu dengan cepat, memanaskan sayur yang sudah dingin yang dimasak oleh Bi Num.
Nana menaruh sepiring Masih putih dan lauk diatas meja makan itu, dan mengambil semangkuk sayur yang baru dipanasinya.
"Kamu cuci tangan sana dulu, aku ambil sendok dulu mas. " kata Nana ingin beranjak lagi.
"Gak usah biar aku saja kamu lanjutkan makan minya, entar dingin gak enak." kata Syarif berdiri mencuci tangan dan mengambil sendok makan untuknya.
"Mari kita makan, aku sudah kelaparan." kata Syarif juga duduk disamping istri itu dengan tersenyum.
Nana tidak bicara lagi dia makan mi dengan santai, dan juga Syarif menikmati lauk yang dimasak bik Num, semua enak kerena sudah merasa lapar kali.
"Besok kita belanja ya, kita cari cemilan untuk kamu, jika sudah habis dilemari." kata Syarif saat makan.
"Baiklah, jika itu tidak menganggu kerjaan mas." kata Nana dengan santai.
"Akun ngikut kata kamu saja Mas, yang penting ada teman aku belanja." kata Nana tidak banyak mau.
Syarif kembali menghabiskan makanan dan tidak bicara lagi, saat ini mereka berdua makan dengan keheningan sampai siap.
" Apa kamu mau nambah Mas, jika ingin aku akan mengambilkannya lagi?" kata Nana melihat suaminya makan dengan lahap.
"Tidak sayang, ini sudah buat aku keyang." kata Syarif menolak kerena porsi pertama tadi sangat banyak.
"Ya sudah kamu bisa naik keatas duluan aku bereskan ini sebentar,kamu mandi sana, setelah itu kita bisa istirahat." kata Nana mengerti saat ini pasti suaminya sangat lelah seharian bekerja dan disambung lagi dengan lembur malamnya.
Syarif naik ke lantai dua untuk ke kamar dan sampai dikamar dia tindak menunda waktu dia langsung membersihkan dirinya dan telah itu dia menunggu istrinya yang masih dibawah.
__ADS_1
Syaris sudah hampir setengah jam dikamar namun Nana tidak juga masuk kedalam kamarnya, Syarif juga heran kenapa sampai saat ini Nana tidak juga naik.
Syaris sedikit cemas dengan istrinya itu dia akhirnya meyusul kembali istrinya ke lantai bawah apa yang lagi dikerjakan oleh istri kecilnya itu.
Syarif langsung kedapur mencari istrinya namain tidak ada Nana disana.
"Kemana dia, sudah malam gini masih juga ngelayap, apa yang sedang dikerjakan nya lagi." kata Syarif dengan heran mencari keberadaan istrinya itu.
Syarif kembali berjalan keruangan santai mereka mungkin saja Nana masih disana lagi nonton, tapi tidak ada juga di ruangan itu, saat Syarif ingin melangkah lagi ingin keruangan tamu, terlihat lampau kamar tamu menyalah Syarif berjalan kearah kamar itu, dia melihat istrinya sudah terbaring enak dikamar itu.
Dengan sabar Syarif melihat tingkah istrinya itu, ada saja ulah yang dibuat oleh ibu hamil itu, bisanya dia tidur dikamar tamu setelah meyuruh Syarif untuk membersihkan tubuhnya, tapi Nana malah ke mana-mana.
"Hai sayang kamu ngapain tidur disini ?" kata Syarif mendudukkan pantanya di samping istrinya itu.
"Mmmm, aku sudah ngatuk mas, seperti aku nyaman tidur disini, kata Nana sudah menahan kantuknya itu.
"Kita tidur dikamar kita ya, biar aku gendong naik keatas?" kata Syarif kembali.
"Untuk malam ini biarkan aku tidur disini saja mas, jika kamu mau tidur dikamar silakan sendiri saja." kata Nana masih bisa mendengar kata suaminya itu.
"Mana bisa gitu, ya sudah tidurlah aku akan menemani kamu disini, mana bisa aku tidur tidak memeluk kamu." Kata Syarif membanringkan tubuhnya disamping istri yang sudah tidak sadar lagi.
Syarif mulai meyetuh perut buncit istrinya itu, dan dengan lembut mengusapnya, setiap malam Syarif selalu melakukan hal itu.
Ada rasa beda menyentuh perut istri yang tidak rata itu lagi, Syarif juga senang melakukan setiap malam kerena kadang bayinya yang ada didalam rahim istrinya kadang begerak saat tangannya mengelus lebut perut Nana.
Syarif tersenyum melihat wajah istrinya yang lagi tidur nyenyak itu dengan cantik.
"Saat seperti ini aku semakin cinta sama kamu sayang, apa lagi nantik kita sudah memiliki anak,aku sudah menjadi ayah dan dirimu menjadi ibu untuknya,sayang dan cinta aku sama kalian berdua semakin besar." kata Syarif masih saja tangannya tidak bisa diam diperut istrinya itu.
__ADS_1
Sambil mengusap- ngusap perut istrinya akhirnya Syarif juga tertidur dengan memeluk istrinya itu dengan nyaman dirinya tubuhnya mereka pada Istrinya.
***********