
Malam Nana lagi membaringringkan dirinya dikamar yang ada dirumah kecil itu, tampa Syarif didekatnya saat ini suaminya itu lagi berbincang diluar di rumah pangung milik kakeknya itu.
Nana sedikit lelah dari tadi belum ada yang istirahat begitu juga dengan Mama Mur saat ini yang sudah dari tadai masuk ke kamarnya setelah makan malam mereka.
Nana tidak dapat memejamkan matanya saat ini Syarif belum masuk ke kamarnya itu, dia masih menunggu suaminya untuk tidur, Nana membuka novel yang ada di aplikasi ponselnya itu.
Lama juga Nana menunggu Syarif masuk tapi sang pemerannya itu tidak kunjung datang.Nana masih melanjutkan baca Novel itu sehinga matanya saat ini melayang ke mimpi indahnya.
Syarif melihat tingkah istrinya saat baru masuk hanya sebuah senyuman dan mendekat kearah istrinya itu yang tidurnya tidak lurus itu kerena kepala Nana saat ini tidak berada dibantal. Syarif kembali memperbaiki kepala istrinya itu dan menaruh ke bantal agar tidurnya nyaman.
"Kamu selalu ceroboh Sayang,tidur tidak tahu diri, lihatlah car tidur kamu ini suka asal." kata Syarif berkata pada istrinya yang sudah tertidur itu.
Setelah itu Syarif kembali keluar lagi dan melanjutkan obrolan yang dengan Papanya saat ini diruangan tamu, kerena dia masuk kekamar itu hanya mengabil ponselnya saja.
Syarif kembali duduk di depan Papanya itu setelah memberikan bentuk rumah yang akan dia beli dijakarta dan melihatkan pada Papanya itu.
"Pa lihatlah ini, rencananya aku ingin seperti ini saja rumah yang aku beli untuk keluagaku nantik, tapi belum akau beri tahu Nana. jika Diapartemaen pasti Nantik Nana tidak merasa nyaman tingal disana pa." kata Syarif pada papanya itu memintak pendapat.
"Itu bagus untuk kamu dan Nana syah, papa mendukung apa yang ingin kamu berikan pada istrinya dan keluarga kamu,jika kalian tingal diapertemen rasa papa itu juga tidak baik syah, suasana di apartemen sama tingal di rumah itu beda." kata Papanya itu.
"Itu yang selama ini aku pikiran untuk istri dan anak kami nantik pa." kata Syarif santai.
"Kamu pilih yang apa yang suka, papa hanya berharap kamu bisa membangun rumah tangga dengan baik dan bahagia dengan anak dan istrinya kamu nantik." kata Papa Syarif pada putranya itu.
"Terimakasih pa, selalu mendukung aku selama ini sehinga aku jadi orang yang bisa papa banyakan saat ini." kata Syarif kembali pada Papanya itu.
"Oh ya Nantik Papa dan Mama kamu ingin ikut kejakarta Untuk dirahturahmi dengan mertua kamu, dan juga Papa ingin bertemu paman kamu." kata Papanya itu.
__ADS_1
"Tidak masalah pa, kita bisa berangkat sama nantik, kerena juga sudah lama papa juga tidak exresing kekota." kata Syarif tersenyum pada Papanya itu.
"Istrinya kamu mana, apa menatu papa sudah tidur?" kata Papanya itu.
"Sudah pa, mungkin Nana lelah seharian berada diluar saja." kata Syarif menjawab kata Papanya itu dengan lembut.
"Papa suka dengan sifat istrinya kamu itu, dia gadis baik nak, sopan, tidak banyak tingkah dan tidak ke cicilan gitu, sifatnya sudah lebih dewasa, biasanya seumuran dengan dia pasti hanya ke cicilan dan masa bodolah semua itu ." kata Papanya itu.
"Papa baru tahu kelebihan dia, dari awal Syarif jumpa dengan dia memang seprti itu, saat itu dipesta Zhidan Pa, dia tidak sengaja menumpahkan sirup di pakaianku."senyum Syarif bercerita sama papanya, dia masih ingat saat itu Nana memintak maaf padanya dengan sopan, dan tidak marah.
"Pertemuan sangat mengesankan juga." kata Papa Syarif sedikit mengerti.
"Seperti itulah Awal aku bertemu dengannya, dan pertemuan kedua aku tidak menyangkah saja dihari itu aku akan mengakhiri masa lajang aku, berubah dalam dua jam menjadi suami seseorang." cerita Syarif lagi pada papanya itu dengan senyuman diwajah tampan itu.
Mulai saat itulah Syarif merasakan sesuatu pada istrinya itu, dia mencintaimu istrinya selama perjalan satu minggu pernikahannya, begitu juga Nana, tapi Nana belum bisa mengungkapkan perasaannya pada Syarif saat ini dia masih saja ragu.
Syarif kembali masuk kekamar dan menyusul istrinya itu ketempat tidur kecil itu, membaringkan tubuhnya saat ini di samping Nana yang lagi tidur nyaman dengan memeluk guling.
Lama Syarif menatap wajah cantik istrinya itu dan tidak lupa dia mencium kening istrinya itu dengan lembut dan mengatakan sesuatu di telinga istrinya itu.
"Selamat Malam samyang, aku sangat mencintaimu, entah mengapa aku bisa secepat ini jatuh cinta padamu." ungkap Syarif pada istrinya itu yang tertidur pulas itu.
"Aku sangat beruntung memiliki istri yang cantik seperti kamu Na, tetaplah selalu bersamaku." kata Syarif kembali sambil merapikan rambut panjang istrinya itu kesamping telinga istrinya itu kerena rambut itu sedikit menutup wajah cantiknya.
"Tidurlah dengan Nyaman, aku akan tetap selalu berada disampingmu kamu, tidak akan pernah aku meningalkan kamu." kaya Syarif lembut agar istrinya itu tidak terbangun.
Setelah itu dia kembali memejamkan matanya Dengan memeluk tubuh istrinya itu, rasa nyaman selalu dirasakan Syarif saat tidur bersama istrinya itu.
__ADS_1
Pagi meyising saat ini Nana sudah terbangun kerena alaram sudah berbuyi, saat azan tiba. Nana mbagunkan Syarif tidur agar sholat shubuh, setelah itu dia beranjak kedapur untuk bukan sarapan pagi buat suaminya dan mertuanya pagi ini.
Nana dengan sigap mengerjakan itu semua tampa bantuan dari siapapun, hanya memakan waktu 40 menit saja untuk menyiapkan sarapan dangan cepat dan telaten pagi ini, kedua mertuanya baru saja keluar dari kamar, Mama Mur saat ini hanya tercengang saja sudah siap sarapan diatas meja dan teh hangat juga sudah siap.
"Pa ini semua sudah siap, apa mungkin menatu kita yang masak?" tanya Mama Mur pada Suaminya itu.
"Mungkin saja Ma, ayok kita duduk sambil menunggu ini mereka Keluar kamar.
"Seperti putra kita tidak salah pilih Istri." kata Mama Mur senang.
Dikamar Saat ini Nana menungguin suaminya itu keluar dari kamar mandi setelah dia baru siap mandi pagi ini setelah meyiapkan sarapan untuk mereka semua.
Syarif keluar dangan handuk saja, membuat Nana memalingkan wajahnya dari suaminya itu, dia masih belum juga bisa melihat tubuh suaminya walau sudah berkali-kali dilihatnya Namun Nana tetap Ada rasa malu.
"Hai kenapa Begitu Sayang,tidak melihatku, apa masih Malu kamu Na?Tanya Syarif pada istri nya itu.
"Diamlah Mas, cepat pakai pakaiannya, papa dan Mama sudah nunguin kita dimeja makan." kata Nana masih tidak melihat suaminya itu.
"Lihat dulu aku Na,ayoklah sayang...!! " kata Syarif mulai usil. lagi pada istrinya itu dipagi hari.
"Mas Jangan Macam-macam ya, aku lempar pakai bantal ini, jangan mendekat." kata Nana sudah meneluk bantal saat ini.
"Santai Saja Kenapa sihh Na, bentar lagi kamu akan melihat semua yang ada di tubuhku ini, juga aset berharga aku ini." kata Syarif menujuk asetnya itu dengan santai.
"Dasar mesum kamu Mas." kata Nana Agak pelan tidak melihat pada suaminya itu. "dasar suami mesum. " umpat Nana sambil Menundukkan kepala nya dan dengan rasa malu pada Suaminya itu.
Syarif hanya cecekitan ketawa kecil melihat wajah istrinya itu sudah memerah kerena ulahnya saat ini.
__ADS_1
*********