
"Hai apa yang sedang kamu pikirkan ?" Syarif melihat istrinya itu sedikit melamun.
"Gak ada apa-apa Mas, aku Baik kok." senyuman Nana pada Syarif masih memperhatikannya.
"Ayok kita Masuk kedalam!! ", Syarif membawa istrinya masuk kedalam rumah besar itu, Nana hanya bisa diam saja mengikuti langkah kaki suaminya saat ini yang ada di depannya.
Sampai diruang Santai di dalam rumah itu, Syarif dan Nana duduk dengan sopan dan sedikit bingung, saat ini entah apa yang akan dilakukan Nana.
Nana hanya banyak diam saja saat keluarga besar Syarif berda di rumah itu.
Banyak kerabat keluarga Syarif datang hari ini kerena sore ini mereka akan mengadakan shukuran sedikit untuk tanda mereka sudah memiliki menantu dan putra mereka saat ini sudah memiliki Istri.
"Nak Nana kamu Jagan bingung melihat keluaga kami sangat ramai, kerena saat ini masih ada yang belum datang semuanya."kata papa Syarif pada Nana yang diam kebingungan saat ini.
"Iya Pa, aku megerti kok. " ucap Nana pelan meyahuti kaya Papa mertuanya itu.
"Kamu juga harus tahu Na, suami kamu ini juga tidak memiliki saudara, kakak atau adik, hanya dia anak satu-satu kami, jadi mulai sekarang kamu akan kami berikan tugas." kata Papanya Syarif lagi pada menantunya itu.
"Tugas Pa!!! " bingung Syarif dan Nana serentak. " Apa tugas yang Papa akan berikan pada istri ku?" tanya Syarif bingung.
"Mudah saja Syah kamu tidak perlu bingung dan takut gitu." santai Sang Papa pada putranya.
"Jagan macam-macam pa, aku tidak tingal diam saja jika Papa berbuat salah." kata Syarif penuh ancaman pada papanya itu.
"Ma dia takut jika istrinya kita sakiti." bisik Papanya itu pelan pada istrinya saat ini.
"Kamu juga jangan selalu bikin putramu binging gitu, lihatlah menantu kita sudah tampak cemas." kata mama Mur pada suamianya itu.
Syarif juga bingun apa yang sedang direncanakan oleh kedua orang tuanya itu,Syarif juga melihat istrinya saat ini sedikit takut tersirat diwajah cantiknya kerena ucapan papanya barusan.
"Pa, bisa gak beri tahu apa yang Papa inginkan dari menantu mu. " kata Syarif juga penasaran dan ingi tahu.
"Mudah saja, istrinya kamu itu harus bisa beri kami cucu yang bayak, kami tidak mau cucu satu atau dua saja." kata Papanya itu santai.
__ADS_1
Nana kaget dengan permintaan orang tua Suaminya itu, dan Nana hanya bisa menelan ludahnya saat ini mendegar ucapan kedua mertuanya itu.
"Sayang kamu dengar tidak apa kata Papa dan Mama, kita butuh kerja keras setelah ini." bisik Syarif pada Nana yang sudah berubah merah menahan malu.
"Diamlah Mas, jangan tambah lagi dengan tingkah bodoh kamu itu." kata Nana Kesal pada Syarif .
Syarif hanya tersenyum saja saat ini melihat mungkah merah padam istrinya itu, dan meyahuti kata Papanya juga.
"Papa gak usah ragu, aku masih berusaha keras saat ini untuk bikin meyambung keturunan kita." kata Syarif santai bicara begitu pada mereka berdua saat ini.
"Baguslah jika kamu megerti, jangan ditunda-tunda, cepat lebih baik." kata Papanya itu.
"Mas apaan siah kamu ini!! " kata Nana Sangat lemas mendegar kata suaminya itu.
"Sekarang bawak istri kamu untuk istirahat dulu Syah, nanti sore kita akan menyabut tamu yang sudah Papa undang untuk acara hari ini." kata Papanya itu.
"Baiklah Pa-ma kita kekamar dulu." kata Syarif mengajak istrinya itu masuk kedalam kamar Syarif waktu lajang.
"Kamu istrahatlah Na, nantik sore kita akan menunggu tamu yang datang acara nantik. " kata Syarif santai duduk di bangku kerjanya itu.
"Mas, apa kamu bekerja disini juga.??" tanya Nana lagi pada Syarif.
"Apapun megenai kerjaan Na, aku hanya disini mengerjakan tidak ada lain tempat."jawab Syarif singkat saja.
" Ooooh. "
Lalu Nana Duduk disofa yang ada tidak jauh dari tempat kerja Syarif dan Nana mempehatikan isi kamar itu unik juga, termasuk mewah juga, didepan Nana duduk ada ranjang yang cukup besar, dan sebelah kiri Nana ada kamar mandi.
"Apa yang sedang kamu lihat Na?" tanya Syarif melihat istri itu lagi memperhatikan isi seluruh kamarnya itu.
"Hmm, aku tidak menyangka Mas orangnya rapi juga ya, bukan jakarta saja kamu seperti itu tapi disni kamu juga begitu, aku suka dengan ini semua, enak dilihat. " ucap Nana polos.
Syarif hanya duduk diam saja di meja kerjanya itu sedikit melayangkan senyuman mendegar istri itu bicara.
__ADS_1
Syarif berjalan ketempat istri itu dan duduk disamping Nana saat ini dengan santai disofa yang ada didalam kamar itu.
"Kamu suka dengan ini semua Na?" kata Syarif mengulangi kata istri nya itu.
" Hmmm...!! "jawaban Nana dangan deheman dan angukan saja.
"Jika sama orangnya bangai bana? apa kamu juga menyukai orangnya ?"kata Syarif menatap istri itu penuh makna.
"Hmmmm,, jika untuk sekarang aku belum tahu dengan perasaan aku ini entah suka atau cinta sama kamu Mas, aku belum bisa pastikan saat ini, jika begitu kamu harus bersabar." jawab polos Nana dan singkatnya..
"Jika Aku mencintai kamu bagai Mana?"'Tanya Syarif kembali.
"Jika kamu lebih dulu mencintaiku, aku sangat bersyukur keren suamiku sudah jatuh cinta padaku. " senyum Nana sambil megengam tangan suaminya itu.
"Apa kamu mau jadi istri aku seutuhnya?" Kata Syarif lagi dengan serius.
"Hmmmmm!! "Angukan Nana menjawab kata suaminya bahwa dia mau menjadi istri sebenarnya.
"Aku mencintaimu Na, aku tidak tahu perasaan ini pada kamu secepat ini, aku sangat berterimakasih kamu mau menemani aku seumur hidupku kelak." Ungkap Syarif saat ini sangat senang Kerena istri saat ini tidak menolaknya.
Syarif juga sangat bahagia Nana sudah mau menjadi istri seutuhnya untuknya, dia akan menjadikan Nana istri satu-satu dihatinya sampai seumur hidupnya.
"Aku akan tetap bersama Mas, sepanjang hidupku, duka dan suka, susah dan senang kita akan tetap selalu bersama Mas, kerena aku sudah mulai nyaman berada disisi kamu." kata Nana jujur pada Syarif saat ini.
Syarif sangat senang mendegar kata istrinya itu saat ini, kerena Nana baru ini berani bicara seperti ini padanya langsung, biasanya tidak Nana selalu banyak diam dan malu bicara padanya.
" Aku senang mendegar ini dari bibir manis ini!! " kata Syarif mengusap bibir Nana dengan lembut.
Nana hanya tersenyum saja saat ini Syarif selalu lembut dan perhatiannya kepadanya selama Nana menikah Syarif tidak pernah megacuhkannya, Syarif selalu melihatkan rasa perhatian itu padanya.
"Na, apa kamu sudah memikirkan kata Papa dan Mama tadi ?" Tanya Syarif dengan tiba-tiba.
***********
__ADS_1