
Lain saat ini dengan Syarif menahan emosinya saat Sari dengan sengaja datang kerumah sakit untuk mengaggunya bekerja,Syarif mengepalkan tangan saat duduk di hadapan Gadis yang saat ini ada dihadapanya.
"Untuk apa kamu datang ke sini Sari ??" kata Syarif bicara tidak ada nada sopan dan lembutnya pada Sari .
"Ingin melihat wajah tampan kamu itu syah, kerena aku sangat merindukan kamu, jadi tidak masalah aku untuk datang kesini menemui kamu." kata Sari santai tampa ada rasa malu bicara sedikit saja pada Syarif.
"Sekarang aku sibuk pergilah, jangan ganggu aku bekerja." kata Syarif sangat tidak suka pada Sari saat ini datang menemuinya dirumah sakit.
"Aku sangat merinduhkan kamu Dyah, beri aku kesempatan untuk bisa dekat dengan kamu Syah. " kata Sari lagi.
"Kamu ini sebenarnya punya rasa malu sebagai perempuan sih , aku berulang kali memperingati kamu, aku tidak pernah suka pada kamu, jadi pergilah dari sini, aku tidak ada waktu untuk melayani kamu yang bertingkah seperti perempuan tidak benar." kata Syarif tajam pada Sari.
"Memang aku seperti itu, kerena aku gila kerena kamu sendiri membuatku seperti ini Syah, kenapa kamu tidak pernah melihat cintahku selama ini." kata Sari juga mulai emosi mendegar kata Syarif.
"Jadi jika kamu tahu aku tidak bisa melihat itu semua, berhentilah Sari untuk mengejar pria yang sudah beristri, dan juga aku tidak akan bisa membalas apa yang kamu inginkan selama ini, aku sangat mencintai istriku, pergilah dari ruangan ku sekarang." kata Syarif bangkit dari duduknya dan meningalkan Sari yang masih duduk terpaku mendengar kata Syarif,syarif baru ingin keluar kakinya baru saja saat dipintu, Sari bicara lantang padanya.
"Ingat dokter Syarif, jika aku tidak bisa untuk memiliki kamu, tidak juga dengan istri kamu, kerena aku tidak akan membiarkan kalian hidup dengan tenang dan bahagia, aku akan menghancurkan semua mimpi indah kamu dengan istri kamu." kata Sari penuh dengan ancaman.
"Coba saja jika kamu berani melakukan sesuatu pada keluagaku." Syarif berjalan mendekat pada Sari yang saat ini berdiri dan menujuk wajah cantik penuh kebusukan itu.
"Kamu tidak akan aku biarkan hidup jika sampai melakukan yang akan merusak rumah tanggaku,sampai matipun aku tidak akan pernah suka dan bisa mencintai perempuan busuk seprti kamu." kata Syarif keluar dari ringannya dan memagil Dokter Ridwan untuk meyuruh Sari keluar dari ruangannya itu.
__ADS_1
Syarif sunggu emosi dan merasa sudah tidak nyaman lagi oleh tingkah dan perbuatan Sari semakin hari semakin menjadi,dia sudah tidak bisa dibiarkan lagi.
"Ahhh sial!! " umpat Sari didalam rungan Syarif masih megepalkan tanganya."Kenapa Kamu tidak pernah mencintaiku Syah,aku harus apa. " kata Sari masih bicara sendiri dengan rasa kesalnya saat ini.
Ridwan masuk kedalam rungan itu dengan tangan berlipat duda dengan gaya santai dan cuenya dan juga terseyum sinis melihat gadis yang saat ini lagi kesal itu.
"Jika kamu selalu mengirimkan dokter Syarif, itu tidak akan pernah bisa kamu dapatkan nona, kerena sulit untuk mendapatkan hati seorang dokter syarif,cobalah kamu berpikir selama ini, sudah bertahun-tahun lamanya kamu mengejar dia,apa ada yang bisa kamu dapat darinya, buang rasa suka dan terobsesimu itu terhadap pria yang tidak mencintai kamu sama sekali, itu akan membuat kamu akan merasa sakit hati, masih banyak pria yang tampan dan baik seperti dokter Syarif yang bisa mencintai kamu." kata dokter Ridwan sagat tidak suka atas sikap Sari sebagai perempuan yang megejar laki-laki yang tidak mencintainya sama sekali.
Sari juga tidak bisa cara banyak hari ini hatinya sangat panas mendegar ucapan Ridwan barusan, dia pergi dengan hati yang sangat kesal dari ruangan Syarif.
Dokter Ridwan yang melihat tingkah Sari hanya bisa mengelengkan kepala saja, dan dia kembali melakukan aktivitasnya sebagai dokter Ahli tulang itu.
Lain saat ini Dengan Nana dan Hanna datang ketempat orang tua Nana, kerena Hanna juga mintak libur bekerja hari ini pada Bos tampan yang itu.
"Bagai mana keadaan calon keponakan gue disini ya Na, aku ingin meyetuh perut lo yang masih rata itu, sebentar saja." mintak Hanna pada Sahabatnya itu.
"Untuk apa lo ingin menyentuh perut gue Han, itu belum bisa kalau rasakan apapun kerena belum ada pergerakan , dia masih sangat kecil saat ini." kata Nana melarang Hanna menyentuh perutnya itu.
"Sebentar saja Na, lo pelit kali jadi orang." kata Hanna dengan sewot.
"Ahhh dasar lo ini, entar menular baru rasa lo, mau lo belum nikah sudah hamil." kata Nana asal bicara.
__ADS_1
"Usss, apaan sih lo asal bicara saja, mana bisa kayak gitu, dosa Na, lo doin gue biar bikin dosa." kata Hanna sangat kesal pada Sahabatnya itu.
"Makanya jangan pegang-pegang lo lihat saja." kata Nana santai.
"Dasar pelit lo." gurutuk Hanna.
Mereka selalu begitu jika bertemu, selalu ada yang diperdebatkan, kerena itulah yang bisa membuat mereka berdua senang.
"Hai Han, bagai mana hubungan lo dengan sibos, apa masih seprti dulu? tidak ada kemajuan, apa sikap bos masih saja sama?tidak pernah bicara tentang hubungan lo berdua akan dibawak kearah mana??" Tanya Nana ingin tahu hubungan sahabatnya itu saat ini dengan bosa tempat dia bekerja.
"Jika Soal itu Na, belum ada, gue juga malas bicara gituan sama dia." kata Hanna sedikit sendu."Gue terserah saja, jika saat nantik gue ditingalkan, gue siap Na, kerena gue dan dia adalah bagaikan bumi dan langit, mungkin gue juga bukan gadis yang diinginkan dia." jelas Hanna sedikit sedih jika bicara soal hubunganya dengan bosnya itu.
"Jangan bicar seperti itu Han, sepertinya bos sangat mencintai lo, gue lihat cari cara dia perhatian terhadap lo, terlihat dia sangat menyayangi lo Han." ujar Nana pada sahabatnya itu.
"Kita Lihat saja Na, sampai mana gue bisa bertahan dengan hubungan tidak jelas ini." kata Hanna dengan rasa sedikit sedih.
"Sabar ya, kamu harus bisa bertahan Na, gue yakin kak Reza menginginkan suatu yang baik dari hubungan kalian selama ini sudah terjalin baik, tampah ada masalah selama ini kalian jalani." kata Nana mengingatkan sahabatnya itu akan selalu sabar, jangan cepat untuk mengambil keputusan.
"Gue akan bersabar Untuk sesaat Na, menunggu setahun atau dua tahun lagi gue bisa menunggunya, kerena gue juga tidak ingin menunggu hubungan yang tidak pasti, umurku sudah Hampir memasuki 24 tahun, itu tidak muda lagi, jika aku harus menunggunya." kata Hanna menjelaskan pada sahabatnya itu.
Nana juga berpikir yang sama saat ini dengan sahabatnya itu,bagi perempuan yang berumur 24 keatas itu sudah tidak bisa dibilang mudah lagi, sudah wajid untuk mereka menikah.
__ADS_1
************